99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Pengorbanan?


__ADS_3

...💟💟💟...


-La Rosa Bar-


Danny memutuskan untuk masuk ke dalam bar untuk melihat keadaan Rangga. Ia berharap bisa menghentikan Rangga agar tidak mabuk seperti kemarin.


Danny terkejut karena terjadi keributan di dalam bar. Ia mendekati kerumunan itu. Dan melihat Rangga sedang memukuli seorang pria. Ia segera menghampiri Rangga dan menghentikannya.


"Kak Rangga!!! Berhenti Kak! Berhenti!! Kakak bisa membunuhnya. Herman!!! Tolong kemari!"


Suasana menjadi sangat kacau hingga pihak bar memutuskan untuk memanggil polisi agar menghentikan keributan di bar tersebut.


Beberapa orang di bawa ke kantor polisi untuk diamankan, termasuk Rangga. Danny dan Herman mendampinginya selama di kantor polisi.


Satu persatu orang di interogasi untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dan orang yang terluka akibat dipukuli Rangga sudah di rawat di rumah sakit.


Danny menelepon Nadine untuk datang ke kantor polisi. Saat ini Rangga belum bisa ditemui siapapun karena sedang di interogasi.


Ismail mengambil alih tugas interogasi agar bisa bicara empat mata dengan Rangga. Ia tahu kenapa Rangga sampai melakukan hal ini.


"Ini minumlah dulu!" Ismail menyodorkan sebotol air mineral pada Rangga.


Keadaan Rangga sangat kacau dengan rambut acak-acakan dan beberapa luka lebam akibat pukulan di dekat pipi dan pelipisnya.


"Terima kasih. Jadi kau yang bertugas untuk menanyaiku?"


"Rangga ... aku tahu kenapa kau melakukan ini. Ini karena Cecilia 'kan? Kekasih korban yang kau pukuli, dia bernama Cecilia juga. Kau memukulinya karena kau pikir dia adalah Cecilia mantan kekasihmu. Benar begitu, 'kan?"


Rangga memalingkan wajahnya dan tak menjawab Ismail.


"Tapi kau tenang saja. Tunanganmu sudah menyelesaikan semuanya. Sepertinya mereka memang sengaja ingin memerasmu. Dengan memanfaatkan situasimu."


"Jadi, mereka yang akan dipenjara? Karena menipuku?"


"Tidak. Tunanganmu melakukan pertukaran yang bagus. Kau selamat dari penjara, mereka juga selamat. Bersiaplah, sebentar lagi kau bebas dari sini. Dan ... jangan pernah berurusan dengan polisi lagi. Jangan sampai pengorbanan yang dilakukan Cecilia jadi sia-sia karena ulahmu."


Rangga menatap Ismail dingin. "Pengorbanan?"


"Cecilia pergi untuk kebaikanmu. Kebaikan orang-orang yang dia sayangi. Jadi jangan membuatnya terlihat buruk karena ulah kotormu ini."

__ADS_1


"Meninggalkan orang yang dia cintai adalah pengorbanan? Pengorbanan macam apa itu? Jika dia ingin pergi maka pergi saja! Aku tidak mengira dia menyerah begitu cepat."


"Rangga!!!" Ismail mulai naik pitam.


"Apa?! Jangan pernah berteriak padaku seperti itu!!" Rangga mengangkat kerah baju Ismail.


Ismail menepis kedua tangan Rangga yang mencengkeramnya. "Aku beri tahu satu hal padamu. Dari awal, harusnya kau tahu, jika hubungan kalian tidak akan pernah bisa berhasil. Jadi, menyerahlah. Dan mulai hidupmu yang baru." Ismail melangkah keluar dari ruang interogasi.


"Tunggu!!" Rangga menghentikan langkah Ismail.


Ismail membalikkan badannya.


"Apa kau tahu dimana Cecilia?"


Ismail tersenyum sinis. "Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya padamu." Ismail melanjutkan langkahnya dan melambaikan tangan pada Rangga.


...***...


Beberapa hari kemudian,


Rangga tidak lagi datang ke bar di malam hari. Ia lebih sering mengurung diri di kamar setelah pulang kerja.


"Mengorbankan perasaan sendiri lalu pergi meninggalkan orang yang dicintai.  Apa itu yang disebut pengorbanan? Kenapa dia harus mengorbankan perasaannya demi orang lain? Kenapa Cecil? Apa benar kau mencintaiku? Apa kau tulus mencintaiku? Kau adalah cinta pertamaku, tapi kenapa harus berakhir seperti ini? Kenapa Tuhan?!"


Rangga menelan beberapa pil penenang. Ya, dia banyak mengkonsumsi obat penenang agar dia bisa terlihat baik-baik saja. Ia benar-benar putus asa. Ia baru merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tapi kisah cintanya berakhir dengan tidak baik. Ia tak bisa menerima semua ini.


Rangga semakin menggila hingga akhirnya dia ditemukan over dosis di dalam ruang kerjanya. Seluruh karyawan terlihat panik. Mereka memanggil petugas medis. Entah dari mana sumbernya, para wartawan beramai-ramai datang untuk meliput kejadian itu.


Rangga sudah tak sadarkan diri. Amel yang menemukannya pertama kali. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Rangga. Dari dalam mulutnya keluar busa berwarna putih.


Amel sangat panik. Dia berteriak memangil Danny. Dan beberapa orang datang termasuk juga Nadine. Nadine hanya bisa terpaku melihat keadaan Rangga.


Beberapa kali Amel memanggilnya namun Nadine bergeming. Yang didengarnya hanyalah segelintir kalimat Amel yang menyalahkannya atas apa yang terjadi pada Rangga.


"Puas kau sekarang?! Ini 'kan yang kau inginkan? Kau sudah membuat Cecil pergi, dan sekarang kau membuat Rangga sekarat. Ini semua karena egomu!!!"


Raut wajah Nadine jadi pucat pasi melihat keadaan Rangga yang hampir meninggal. Ia tak kuasa melihatnya. Ia melangkah mundur perlahan. Para wartawan mengelilinginya untuk meminta keterangan darinya. Ia tak menghiraukan para wartawan dan memilih pergi meninggalkan kantor AJ Foods.


...💟...

__ADS_1


Di tengah malam, saat sebagian orang terlelap dalam tidurnya, ada beberapa orang di pondok pesantren yang sengaja terbangun untuk bermunajat di sepertiga malam terakhir. Tak terkecuali Rosida. Sedari kecil ia di ajarkan oleh Abahnya untuk selalu menunaikan sholat Tahajud di tengah malam. Seusai sholat, biasanya ia membaca ayat-ayat suci Alqur'an sampai terdengar adzan subuh.


Cecilia masih terlelap dalam tidurnya. Seharian ini dia masih terdiam dan memandangi langit dari balik jendela kamarnya. Dan malam ini dia akhirnya tertidur pulas. Biasanya hampir tiap malam dia hanya menangis. Mungkin dia sudah lelah untuk menangis. Sudah cukup semua air mata yang dia tumpahkan hanya karena patah hati.


Terdengar sayup-sayup lantunan ayat-ayat suci di telinganya. Suaranya terdengar sangat merdu. Cecil menikmatinya meski matanya terpejam. Lama kelamaan terasa syahdu hingga ia pun memutuskan untuk bangun dan mendengarkan dengan seksama.


Rosida masih tidak sadar jika teman sekamarnya sudah terbangun dan duduk di tepi tempat tidur. Ia masih terus melantunkan ayat-ayat Allah dengan merdu. Ia pun akhirnya menyadari jika Cecilia sudah terbangun.


"Eh, Khumaira? Maaf ya kalau suaraku membuatmu terbangun."


"Tidak, Ros. Tidak apa-apa. Justru aku merasa nyaman mendengar suaramu mengaji."


"Benarkah?"


"He'em. Benar Ros. Apa kau ... bisa mengajariku mengaji juga? Aku ini seorang muallaf, dan belum banyak belajar soal mengaji."


"Jika kau ingin belajar, akan kusampaikan pada Umi. Ilmuku masih jauh dibanding Umi dan Abah."


"Oh begitu. Baiklah."


"Usai sholat Subuh, kita temui Umi dan belajar Alqur'an bersama."


Cecilia tersenyum. Dia harus mulai terbiasa untuk mendengar nama Khumaira di telinganya.


Umi Isma memberikan nama itu untuknya, yang memiliki makna seorang perempuan yang pipinya kemerahan atau merona. Cecilia memiliki senyum yang cantik, hingga saat tersenyum wajahnya terlihat merona bak bunga mawar. Itu sebabnya Umi Isma menamainya begitu.


Dari sini, kehidupan Cecil mulai berubah. Dia belajar banyak tentang ilmu agama di pondok pesantren Alhikmah ini. Ditemani Rosida yang usianya lima tahun lebih muda darinya. Mereka mulai jadi teman dekat.


Senyum yang beberapa waktu lalu jarang tersungging di bibirnya, sekarang jadi lebih sering di perlihatkannya.


"Umi Isma dulu pernah berkata padaku. Kita mungkin akan menemukan cinta dan juga kehilangan cinta disaat yang bersamaan. Namun, saat kita kehilangan satu cinta dalam hidup. Janganlah bersedih. Karena percayalah, Allah punya 99 cinta yang sangat besar untuk kita. Dan aku percaya itu... Sekarang aku sudah menemukan cinta... Cinta pada Illahi, yang lebih besar dari cinta apapun... "


...💟💟💟...


-----------bersambung------------


*tetap semangat ya Cecilia...


Lalu bagaimana nasib Rangga yg Overdosis? Jangan ditiru ya temans. Semenderita apapun kita, jangan pernah berpikir utk mengakhiri hidup. Apalagi hanya karna patah hati.😉

__ADS_1


__ADS_2