
Keesokan harinya,
"Ini hari minggu. Kenapa rapi sekali? Apa kau mau pergi?" tanya ibu saat kami sedang sarapan pagi.
"Aku mau ke makam Tasya, Bu. Sudah lama aku tidak kesana."
Ibu menghela nafas. "Benar. Sudah sangat lama rasanya. Andai dia masih ada, bagaimana perasaannya saat tahu kalau orang tuanya sudah berpisah? Apa kau pernah membayangkan itu? Saat orang tua memikirkan egonya sendiri, yang akan tersakiti adalah anak. Beruntung Tasya tidak harus merasakan luka karena orang tuanya berpisah."
"Ibu?" Aku meraih tangan ibuku. Mataku berkaca-kaca.
"Habiskan sarapanmu! Dan pergilah menemui Tasya."
Aku mengangguk. "Setelah itu aku akan ke makam ayah."
"Kau selalu bercerita apapun pada ayahmu. Entah apa yang dia rasakan kalau tahu pernikahanmu berakhir berantakan karena wanita lain."
"Ibu, jangan terus menyalahkan Nayla. Ini semua adalah keputusanku sendiri."
"Tetap saja Ibu tidak bisa memaafkan Alvian dan si pelakor itu."
Aku beranjak dari kursiku dan memeluk ibu.
"Sudah Bu, Aku sudah baik-baik saja."
Aku menghapus air mata ibu. Rasanya sangat bersalah membuat orang yang kita sayangi jadi bersedih begini. Tapi aku harus tetap tegar. Aku tidak boleh terlihat lemah didepan ibu. Mulai sekarang, aku akan hidup untukmu, Ibu.
...💟...
Aku sudah mengunjungi makam Tasya dan Ayahku. Ada perasaan lega setelah mencurahkan sesak di dada di depan makam Ayah. Meskipun dia tak bisa mendengarku.
Aku melajukan mobilku menuju toko roti milik ibuku. Aku memutuskan untuk belajar mengelola toko roti juga seperti ibu.
Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Bima. Dia ingin bertemu denganku.
Baiklah, agenda ke toko roti aku tunda dulu sampai urusan dengan Bima selesai.
Bima memintaku bertemu di kedai teh langganannya. Dia bilang menu teh hijaunya sangat enak.
"Hai, Bim." Aku melambai pada Bima yang telah lebih dulu sampai disana.
"Hai. Silakan duduk. Kau suka teh hijau? Aku pesankan untukmu."
__ADS_1
"Berikan menu terbaik di kedai ini." Aku tersenyum.
"Bagaimana kabarmu, Cil? Tubuhmu terlihat lebih segar dari biasanya."
"Sialan kau! Bilang saja jika tubuhku bertambah gemuk."
"Tidak, Cil! Bukan begitu maksudku. Tapi aku lebih suka kau dengan tubuh agak besar seperti ini."
Aku tertawa dan memukul Bima dengan buku menu.
"Oh ya, aku sampai lupa. Ini berkas terakhir dari sisa perceraianmu." Bima menyerahkan amplop coklat pada Cecil.
"Apa ini?"
"Itu berkas persetujuan harta gono gini milikmu dan Alvian. Disana sudah tertulis lengkap, harta apa saja yang kalian miliki selama kalian menikah. Semuanya sudah diuangkan dan sudah di transfer ke rekeningmu. Ada tanda buktinya ada didalam amplop."
Aku membaca berkas-berkas ditanganku. Dan aku terkejut melihat satu berkas yang berisikan nominal sejumlah uang.
"Apa kau serius? Ini? Jumlahnya sangat banyak, Bim."
"Aku serius. Kamu adalah janda kaya sekarang." Bima tertawa.
"Apa katamu?" Aku memukul Bima lagi.
"Aku masih waras, Bim. Aku tidak suka dengan pria muda."
"Kalau begitu kau lebih suka dengan pria tua dan kaya raya?" Bima tertawa sangat puas.
"Enough, Bim. Kau mengajakku bertemu hanya untuk mengejekku saja? Tidak ada wanita yang ingin menjadi janda meski di beri uang yang sangat banyak. Kebahagiaan itu tidak hanya diukur dari materi."
Bima terperangah. "Kau menjadi sangat bijak setelah melalui berbagai cobaan."
Teh pesananku akhirnya datang. Aku langsung menyeruputnya. "Enak. Aku beri nilai----bintang tiga."
Bima mengerucutkan bibirnya."Bukan bintang lima?"
"Kau pikir aku sedang naik ojek online? Yang harus kuberi bintang lima." ledekku sambil tertawa.
"Oh ya, Shasha bilang kemarin kau bertemu dengan Alvian."
Aku terkejut. Lalu mengangguk. "Iya benar. Jadi Shasha cerita padamu?"
__ADS_1
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mengambil berkas ini dipengadilan."
"Ah, begitu. Menurutku----kalian sangat cocok. Kenapa tidak coba membuka hati masing-masing? Setelah itu kalian menikah."
Bima tersedak. "Uhuk-uhuk."
Aku menepuk punggungnya pelan. "Hati-hati meminum tehmu."
"Ini semua salahmu. Kenapa membahas soal pernikahan?"
Aku mengangkat bahu. "Tidak ada salahnya jika kau menikah. Menikah itu akan menyempurnakan sebagian agamamu. Lagipula kalian cocok. Akan kudukung!" Aku menyunggingkan senyum lebarku.
Bima meneguk teh di cangkirnya kembali, lalu meletakkannya.
"Begini ya, Menurutku, Marriage is simple thing, but it's difficult. Simpelnya adalah----begitu saja. Menikah itu simpel. Kawin itu mudah."
"Nikah, Bim, nikah. Bukan kawin!"
"Terserah apa katamu, Cil! Tapi untuk sekarang aku belum memikirkan tentang pernikahan.
"Umm, mungkin karena kau setiap hari mengurus perceraian orang lain, jadi kau takut untuk memulai suatu hubungan. Kau takut jika nanti menikah, pernikahanmu berakhir dengan perceraian. Menjadi pengacara perceraian, pasti membuatmu mengalami trauma."
Bima menghela nafas. "Entahlah, Cil."
"Tapi, tidak semua perceraian itu buruk."
"Apa ada perceraian yang baik?"
"Ada. Contohnya aku dan Mas Alvian. Kami berpisah untuk kebaikan."
"Kebaikan siapa?"
"Kebaikan keluarga kita. Aku tidak mau jadi orang ketiga diantara mas Alvian dan Nayla."
"Berhenti menyebut dirimu pelakor, Cil. Kau bukan pelakor. Nayla juga bukan pelakor. Kalian hanya dipertemukan takdir di waktu yang berbeda. Saat Alvian merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, dia bertemu Nayla. Tapi saat dia patah hati, dia bertemu denganmu untuk mengobati lukanya. Kau adalah cinta sejati Alvian, Cil."
Raut wajahku berubah saat mendengar kata demi kata dari Bima. Mungkin yang dia katakan benar.
Tapi sekarang semua sudah berubah. Takdirku sudah berubah. Aku bukan lagi cinta sejati Mas Alvian.
Dan kami akan menempuh jalan kami masing-masing.
__ADS_1
...💟💟💟...
(bersambung)