
"Kalian berdua, cepat masuk dan jelaskan semuanya pada ibu!!"
Suara Maria terdengar sangat marah mengetahui jika anak dan menantunya ternyata sedang ada masalah yang cukup serius.
Alvian dan Cecilia duduk berdampingan di ruang tamu. Maria duduk di depan mereka berdua dan menatap dengan tajam.
"Jadi kalian tak ada yang mau bicara? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Cecilia hanya diam tertunduk.
"Cecil... Apa yang terjadi? Kenapa kau pergi membawa tas besar? Apa benar yang dikatakan laki-laki tadi? Kalau kau pergi dari rumah?"
Cecilia tetap terdiam.
"Jawab Cecil! Ibu tanya sama kau!!"
"Maaf, Bu. Tapi Cecil belum bisa ceritakan yang sebenarnya. Demi Tuhan Cecil tak ada hubungan apapun dengan Pak Rangga. Kamu juga harus percaya, Mas. Ini tak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan semuanya."
"Kalau begitu jelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia mengantarkanmu kesini? Jadi semalam kamu menginap di rumahnya?" Alvian langsung mencecar Cecil dengan pertanyaan.
"Mas... Aku minta maaf. Aku memang menginap dirumah Pak Rangga. Tapi aku dan dia----tidak terjadi apapun diantara kami, Mas. Tolong percaya padaku. Ini tak seperti yang ada dipikiran kamu."
Alvian mengalihkan pandangannya. Terdiam sejenak, dan kembali menatap Cecil.
"Kamu meminta tolong padanya? Atau kamu datang sendiri ke rumah dia? Cepat jelaskan!"
"Tidak seperti itu. Aku tidak minta tolong padanya. Dan juga tidak datang sendiri ke rumahnya."
"Lalu bagaimana bisa kamu bersama dengannya?"
"A-aku... Aku juga tidak sadar Mas waktu itu. Aku tidak tahu jika Pak Rangga adalah orang yang menolongku." Cecilia menampakkan muka memelas.
"Ya sudah. Lupakan saja! Sekarang, kamu ikut aku pulang ke rumah. Ini sudah malam." Alvian tak mau memperpanjang perdebatan di depan ibu mertuanya.
Cecilia terkejut. "Ti-tidak, Mas. Aku ingin menenangkan diri dulu. Aku mau tinggal di rumah ibu untuk sementara."
"Jangan membantah! Apa kamu pikir tindakan kamu ini benar? Kita akan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Jangan seperti ini, Cil."
"Ibu rasa sebaiknya Cecil tinggal disini dulu. Biarkan dia menenangkan diri. Ibu tidak membelanya. Tapi dari pada kalian malah bertengkar di rumah, ada baiknya kalian saling introspeksi diri. Jangan saling menyalahkan begini." Maria ikut menengahi.
Dan akhirnya Alvian memutuskan untuk mengalah dan mengijinkan Cecilia untuk tinggal sementara bersama ibunya.
...***...
Sesampainya dirumah, Alvian di sambut oleh Nayla yang heran dengan wajah Alvian yang memar. Nayla langsung mengambil kotak obat.
Nayla bertanya apa yang terjadi? Kenapa wajah Alvian bisa memar seperti bekas pukulan? Apa Alvian sudah ke rumah ibu mertuanya? Apa Alvian sudah bertemu dengan Cecilia atau belum?
Namun Alvian tak menanggapi pertanyaan Nayla, malah terus mengumpat tentang Cecilia dan Rangga.
"Sialan! Dia pergi dari rumah ini dan malah pergi ke rumah bos nya. Aku tidak habis pikir, apa sih yang ada di otaknya. Dia pikir dia siapa, mau mempermainkan aku seperti ini."
Alvian tak sadar kalau ada seseorang yang mendengarkan semua umpatan yang di katakan olehnya.
"Apa yang kamu bilang tadi? Istri kamu pergi dari rumah?" Suara Arif mengagetkan Alvian dan Nayla.
Arif dan Sari memang sering berkunjung ke rumah Alvian. Sekedar bersilaturahmi ataupun saat ada acara bisnis di Jakarta.
"Ma-Mas Arif...?!" Alvian sangat terkejut dan bingung. Dia berbisik pada Nayla. "Kenapa kamu tidak bilang kalau Mas Arif datang?"
Nayla hanya menjawab dengan gelengan kepala dan tetap diam.
"Ini sudah hampir larut malam, dan istri kamu belum juga pulang. Jadi benar kalau dia pergi dari rumah?" Arif melanjutkan.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan semuanya, Mas." Bela Alvian.
"Sudah waktunya istirahat. Kita bahas masalah ini besok pagi saja." Arif berlalu dari hadapan Alvian dan Nayla.
.
.
Keesokan harinya, usai sarapan pagi, Arif meminta Alvian dan Nayla untuk berkumpul diruang keluarga. Arif menanyakan kembali perihal kepergian Cecilia. Sudah sangat jelas dari semalam Cecil tidak muncul di rumah.
Arif sangat murka mengetahui kenyataan kalau Cecil memang pergi dari rumah.
"Tidak ada dalam sejarah keluarga kita, seorang istri pergi dari rumah suaminya meskipun ke rumah ibunya sendiri, dan tanpa ijin dari suami seperti yang dilakukan oleh istrimu itu. Itu sama saja dia sudah merendahkan kamu sebagai suaminya."
"Mas... Aku bisa jelaskan semuanya. Cecil tidak seperti itu."
"Kenapa kamu masih membela dia? Sudah jelas-jelas dia itu salah. Sebaiknya kalian berpisah saja!"
Bagaikan tersambar petir di pagi hari, Alvian tak sangka kalau kakaknya akan berkata seperti itu.
"Pak, jangan bicara begitu. Setiap rumah tangga pasti punya masalah. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, Pak" Sari mencoba menenangkan suaminya.
"Aku tidak terima dengan apa yang dilakukan Cecil. Ini sudah keterlaluan, Bu. Meninggalkan rumah tanpa ijin suami, itu bukan sikap dari menantu di keluarga kita. Mas minta, kamu ceraikan Cecilia. Dia tidak pantas jadi istri kamu lagi."
"Tidak, Mas. Aku tidak akan melakukan hal itu. Kami pasti bisa memperbaiki semuanya. Aku janji, Mas."
Tanpa menghiraukan pembelaan Alvian, Arif pergi meninggalkan ruang keluarga. Matanya memerah karena amarah yang tak terbendung lagi.
Dari awal Arif memang tidak menyukai Cecilia. Terlebih, dulu Alvian dan Cecil berbeda keyakinan. Namun pada akhirnya Cecilia mantap mengikuti keyakinan Alvian dengan menjadi muallaf.
Arif tetap tidak bisa menerima itu. Dia berpikir kalau Cecilia berpindah keyakinan hanya karena ingin mendapatkan cinta Alvian saja, bukan karena dari hati.
Tak bisa dipungkiri kalau Cecilia adalah salah satu dari jutaan penggemar Alvian. Dan pastinya suatu keajaiban bisa berjodoh dengan orang yang di idolakan. Jadi, Arif hanya menganggap Cecilia sebagai fans berat yang mencoba mendapat perhatian dari sang idola.
...***...
Selama ini, Cecil tak pernah sangat dekat dengan ibunya. Terlebih, ibunya selalu tak menyukai apa yang jadi keputusan Cecil. Mulai dari kuliah di luar negeri, memutuskan pindah keyakinan, dan menikahi seorang selebriti.
Berbeda dengan ayahnya, yang selalu mendukung setiap keinginan Cecil, asalkan itu adalah hal baik.
"Nayla hamil, Bu" Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Cecilia ketika sedang makan malam dengan ibunya.
Ibunya yang akan menyuapkan nasi ke mulut, sontak menjatuhkan kembali sendok kedalam piring.
"Sudah ibu duga, perempuan itu pasti akan merebut segalanya dari kau. Dari awal kan ibu tidak pernah setuju kau mengijinkan Alvian untuk menikahi perempuan itu. Sekarang terbukti, apa yang ibu khawatirkan akhirnya terjadi juga."
Maria tak bisa terima dengan yang terjadi pada putrinya. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Aku masih belum tahu, Bu. Tapi untuk saat ini, aku ingin disini dulu. Sama ibu. Boleh kan, Bu?"
"Kau ini putri ibu. Bagaimanapun ibu akan membela kau."
Cecilia tersenyum. Dan meraih tangan ibunya lalu menciumnya.
"Terima kasih, bu. Terima kasih karena mau membela Cecil di saat begini."
...***...
*Cecilia PoV*
Aku kembali ke rutinitasku dikantor setelah beberapa hari mengambil cuti. Beberapa pekerjaan jadi tertunda dan sekarang jadi menumpuk. Aku harus cepat menyelesaikan semuanya. Meskipun Pak Rangga sekarang bersikap baik padaku, bukan berarti aku akan memanfaatkan ini untuk berleha-leha dalam bekerja. Aku harus tetap menunjukkan kinerja yang baik didepan Pak Rangga.
Dipikir bagaimanapun, sikap Pak Rangga padaku memang agak aneh. Awal kami bertemu, dia sama sekali tak peduli padaku. Selalu menindasku dengan pekerjaan yang berat. Membuatku ingin menyerah bekerja di AJ Foods yang sangat aku cintai.
__ADS_1
Tapi sekarang, sikapnya mulai melunak. Tidak seperti dulu yang ingin ini itu terlihat sempurna. Ditambah lagi kejadian waktu dia menolongku, dan membelaku didepan mas Alvian.
Aku jadi malu sendiri saat mengingat itu.
"Fokus Cecil, fokus!! Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Masalahmu dengan Mas Alvian saja belum selesai. Kamu harus bisa memperbaiki semuanya. Jangan sampai Mas Alvian terus-terusan marah padaku. Aku tahu ini tidak semudah yang kubayangkan. Tapi aku ingin kamu juga bisa mengerti, Mas. Tolong mengerti aku!!" Gumam Cecilia di tengah kesibukannya mengetik laporan.
Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat sekilas nama yang tertera diponsel. Aku ragu untuk mengangkatnya. Ada perasaan tak enak saat tahu siapa yang menghubungiku. Namun akan sangat aneh kalau aku tak mengangkat telepon darinya. Aku berpikir sejenak. Baiklah, aku harus angkat panggilan ini.
"Halo, Mas..."
.
.
"Kamu kelihatan baik-baik saja." Mas Arif memulai pembicaraan. Ya, orang yang meneleponku tadi adalah Mas Arif. Dia memintaku untuk bertemu di cafe dekat kantorku.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja." kujawab sekenanya dulu. Karena aku masih belum mengerti. Apa maksud Mas Arif meminta bertemu denganku.
"Cecil, saya tidak suka berbasa-basi. Jadi saya akan langsung bicara kepadamu."
Aku mengangguk. Ada rasa cemas dihatiku. Apa yang akan Mas Arif katakan padaku.
"Apa kamu bahagia menikah dengan adikku, Alvian?"
"Hah? Kenapa Mas bertanya begitu?"
"Saya hanya bertanya. Kamu tinggal jawab saja."
"A-aku... "
"Kalau kamu bahagia, kamu tidak akan sampai hati pergi dari rumah suamimu. Itu artinya kamu tidak bahagia tinggal bersama suami kamu."
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya... "
"Kalian berpisah saja!"
"Apa? Berpisah? Maksud Mas?"
"Kenapa kamu terkejut? Saya sudah tahu semuanya dari pengacara Alvian. Kamu sudah pernah menggugat cerai Alvian bukan? Meski kamu sudah mencabut gugatannya, tetap saja itu membuktikan kalau kamu memang berniat berpisah dengan Alvian."
"Bu-bukan seperti itu, Mas." Suaraku mulai bergetar. Aku tahu aku tidak akan mampu menghadapi Mas Arif. Dia terlalu menakutkan untuk dilawan.
"Tetapi, sekarang bukan kamu yang akan menceraikan Alvian. Melainkan Alvianlah yang akan menceraikan kamu."
Aku merasakan mataku mulai panas. Aku tidak pernah menyangka kalau Mas Arif akan berkata seperti ini padaku. Dia memang tidak menyukaiku. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya mengatur hidupku dan juga Mas Alvian.
Air mataku mulai mengalir. Aku sendiri tidak tahu, semua terjadi begitu tiba-tiba. Aku harus berusaha tenang. Dan menjawab Mas Arif dengan sopan. Bagaimanapun dia adalah kakak iparku.
Aku menyeka air mataku. "Maaf, Mas. Masalah antara aku dan Mas Alvian, biar kami sendiri saja yang selesaikan."
"Bagaimana kalian akan menyelesaikannya? Dengan cara kabur dari rumah seperti ini?"
"Aku tahu Mas adalah kakak Mas Alvian. Tapi bukan berarti Mas berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga kami. Sudah cukup Mas! Kamu selalu mempengaruhi Mas Alvian." Aku mulai menaikkan nada bicaraku. Rasanya benar-benar sudah tak bisa kutahan lagi.
"Terserah kamu mau bicara apa. Tapi yang jelas, kamu tidak bisa kembali pada Alvian setelah kamu meninggalkannya."
"................." Aku tak bisa menyuarakan suara hatiku lagi.
"Saya rasa sudah cukup pembicaraan kita hari ini. Kamu tunggu saja surat gugatan cerai dari pengacara Alvian. Saya permisi."
Mas Arif pergi meninggalkanku. Aku menghela nafas panjang. Air mataku kembali mengalir. Ya Tuhan, ujian apa lagi ini?
...💟💟💟...
__ADS_1
...Tobe continued.......