
Usai makan malam Cecil menarik tangan Alvian menuju ke kamar. Dan dia mulai menginterogasi Alvian. Alvian mengatakan jika dia benar-benar tidak memberitahu Nayla soal makanan kesukaannya. Alvian mencoba menenangkan Cecil.
"Cil, kamu tidak kalah. Ini bukan sebuah pertandingan. Kalaupun Nayla tahu soal makanan kesukaanku, biarkan saja. Aku akan tetap bersamamu." Alvian menatap wajah istrinya yang sedang kesal.
"Sayang, sudahlah. Jangan marah! Kau tidak lelah selalu cemberut begini?"
"Kenapa tidak ada yang mengaku? Siapa yang membocorkan hal ini pada Nayla?"
"Tidak ada yang membocorkan, Cil. Bisa saja Nayla hanya menebak-nebak. Dan kebetulan tebakannya benar."
Cecil berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Ya sudah, tersenyumlah sayangku! Kamu bertambah cantik jika tersenyum."
"Kau selalu pintar menggombal!"
"Tidak! Aku serius!"
Cecil mencium bibir Alvian sekilas, lalu bergegas ke tempat tidur dan menarik selimut.
"Oh, jadi sekarang kau berani memulai? Aku tidak akan membuatmu tenang malam ini." Alvian menyusul Cecil ke tempat tidur. Dan memeluknya dari belakang.
"Kyaaa!!! Apa yang kau lakukan, Mas? Ini sudah malam."
"Tidak bisa begitu, Cecilia! Kau sudah membangunkan singa yang tertidur. Sekarang kau harus menerima balasannya."
"Mas, tidurlah! Besok kita harus berangkat lebih awal."
"Tidak mau!" Alvian mengubah posisi Cecilia sehingga mereka berdua saling berhadapan.
Cecil menatap wajah suaminya. "Mas?"
"Hmm?"
"Apa kita bisa memperbaiki semuanya? Meski ada Nayla diantara kita?"
Alvian menarik nafas. "Kenapa? Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu. Aku hanya bingung. Disatu sisi, aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi aku juga sadar, jika kau memiliki tanggung jawab lain selain aku dan Tasya. Aku---?"
"Ssstt!!" Alvian mengarahkan telunjuknya ke bibir Cecil. "Kamu berpikir terlalu jauh Cil. Sebaiknya kita jalani saja apa yang ada sekarang. Ya?" Alvian membelai rambut Cecil. Mata mereka saling bertatapan.
"Love you..." bisik Alvian lirih. Lalu membetulkan posisinya untuk mencium Cecil, namun Cecil menolak.
"Ini sudah malam. Mari kita tidur!" Cecil menyeringai.
"Oke, kita tidur tapi setelah ini ya!" Alvian langsung membungkam bibir mungil Cecil dengan bibirnya.
...💟...
__ADS_1
*Di Perjalanan menuju Kantor AJ Foods
"Danny, tolong mampir ke apartemen Nadine. Dia meneleponku dan memintaku menjemputnya. Mobilnya sedang di bengkel." Perintah Rangga.
"Oke bos!" Timpal Danny. "Tidak biasanya kakak mau mengikuti keinginan Bu Nadine. Bukankah kakak malas jika harus berurusan dengannya?"
Rangga memukul Danny dengan koran yang sedang dibacanya. "Dia meminta tolong padaku, tidak mungkin aku menolaknya. Lagipula dia tinggal sendiri disini, keluarganya tinggal di luar kota. Sebaiknya kondisikan otakmu untuk tidak berpikir yang macam-macam."
"Aduh! Maaf, Kak! Tapi aku benar tidak berpikir macam-macam. Aku senang karena kakak sudah kembali menjadi kakak yang dulu."
Rangga kembali mengarahkan koran ke arah Danny, namun diurungkannya karena Danny memohon ampun.
.
.
*Gedung AJ Foods
"Tunggu, tunggu!!!!" suara Cecilia membuat orang yang ada didalam lift segera menekan tombol 'hold'.
Bukannya langsung masuk lift, Cecil justru mematung di depan pintu lift.
Dia bingung antara ingin masuk atau tidak karena didalam lift ada 3 orang yang tidak asing baginya. Danny, Rangga dan Nadine.
"Saya naik lift berikutnya saja." Ucap Cecil dengan kikuk.
Danny akan segera menekan tombol 'close' namun di cegah oleh Rangga.
Lalu Cecil masuk melewati Rangga dan Nadine yang berdiri di depan. Tangan kanan Nadine tak sedikitpun lepas bergelayut di lengan kiri Rangga.
Danny menyapa Cecil lirih dengan lambaian tangan.
Suasana canggung terjadi. Tidak ada satupun yang bicara. Hanya terlihat Nadine yang sesekali bersandar manja di bahu Rangga. Cecil hanya menatap mereka.
.
.
*Ruangan Rangga
"Dan, tolong keluar sebentar. Saya ingin bicara dengan Bu Nadine." titah Rangga untuk kesekian kalinya di hari ini.
"Baik, Pak!"
Rangga baru bicara setelah pintu benar-benar sudah tertutup.
"Ada apa Rangga? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Nadine dengan manja dan tangannya yang mengelus dada Rangga.
Rangga langsung menepisnya.
__ADS_1
"Tolong jangan begini! Aku minta padamu, saat di kantor, jangan bersikap seperti tadi. Apalagi saat ada orang kantor. Aku tidak mau di cap tak profesional, sementara aku sendiri menginginkan pegawaiku bekerja dengan profesional. Jadi... mulai sekarang kita harus bersikap layaknya rekan kerja saja."
Raut wajah Nadine berubah.
"Apa maksudmu? Bukankah selama ini kita biasa melakukan itu? Dan semua orang kantor juga sudah tahu, aku ini calon istrimu. Mengapa baru sekarang kamu mempermasalahkan ini? Kamu sudah berubah, Rangga!"
"Aku tidak berubah, Nad. Aku hanya tidak mau jika orang-orang berpikir aku tidak profesional di kantor. Itu saja! Tolong mengerti!"
Nadine menghela nafas. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia tak suka dengan pernyataan Rangga.
"Sekarang sudah masuk jam kerja, sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu. Dan jangan lupa laporan bagian pemasaran untuk minggu ini."
Nadine pergi dengan wajah kecewa dan marah.
Danny masuk ke ruangan Rangga setelah melihat Nadine pergi.
"Apa yang kakak lakukan padanya? Mengapa wajahnya berubah suram begitu?"
"Aku tidak melakukan apapun padanya! Mana jadwalku untuk hari ini? Aku sudah membuang waktuku dengan meladeninya!" Jawab Rangga dingin.
...***...
Cecil memutuskan untuk kembali ke kantor Bima setelah jam kantor selesai. Dia sudah membuat keputusan. Keputusan yang menurutnya terbaik untuk saat ini.
"Kebetulan sekali aku sedang tidak sibuk. Kita bisa bicara disini. Ads kabar apa hari ini? Sepertinya ada kabar bagus!" sambut Bima dengan senyuman di wajahnya.
"Aku---masih ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat atau tidak. Tapi, aku rasa ini yang harus kulakukan saat ini."
Bima mendengarkan Cecil dengan seksama.
"Aku---ingin mencabut gugatan ceraiku, Bim."
Bima begitu senang mendengar kalimat Cecil. Dia langsung memeluk Cecil.
"Kamu serius, Cil? Tidak bohong?"
Cecil mengangguk. "Iya Bim. Aku serius..."
"Syukurlah. Jadi perjuangan Alvian selama ini tidak sia-sia. Apa yang dia lakukan hingga kau mau berbaikan lagi dengannya?" Goda Bima.
"Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikiran aneh! Dia hanya bilang ingin memperbaiki semuanya. Dan setelah kuperhatikan, sepertinya dia serius ingin memperbaiki hubungan kami. Jadi, aku harus memberinya kesempatan. Benar kan?" Jawab Cecil sambil tersenyum.
"Aku senang mendengarnya. Apa kau tahu aku sangat tertekan memikirkan perceraian kalian? Terasa berat mengurus perceraian sahabatku sendiri. Kini aku bisa bernafas lega karena kalian membatalkan perceraian kalian." Bima meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Maaf ya! Jika selama ini aku membuatmu tertekan. Bagaimana kalau kutraktir makan? Semoga bisa membuatmu lebih baik dari sebelumnya."Ajak Cecil.
Mata Bima langsung berbinar gembira. "Oke!!!"
...💟💟💟...
__ADS_1
tobe continued------