
Kuingin marah, melampiaskan
Tapi kuhanyalah sendiri disini
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku
Kecewa.....
(Bunga Citra Lestari : Kecewa)
...💟💟💟...
Raditya memarkirkan mobilnya asal di jalan dekat kediaman Rangga. Ia tak mendapat tempat untuk parkir, karena sudah ada beberapa mobil yang terparkir didepan rumah Rangga. Entah mobil milik siapa saja yang ramai memenuhi halaman kediaman keluarga Adi Jaya.
Radit segera berlari masuk ke rumah Rangga. Ia mendapati situasi yang tak mengenakkan disana. Nampak wajah semua orang terlihat tegang.
Cecilia, Isma atau Anna, dan Farid duduk berdampingan. Adi Jaya dan Sandra duduk berseberangan dengan mereka. Lalu beberapa orang seperti pengawal berdiri mengelilingi mereka.
"Sudah kuperingatkan jangan pernah muncul di hadapan Rangga. Ini akibatnya jika kamu berusaha menemuinya. Dan kamu!" Adi Jaya menunjuk ke arah Cecil.
"Kamu tidak menepati janjimu untuk tidak menemui Rangga lagi. Apa ini rencanamu, Anna? Kamu sudah mengenal wanita ini sejak lama? Kalian merencanakan ini untuk menghancurkanku, huh?"
"Sudah cukup, Adi! Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Anna dan Cecilia lagi." Farid mulai angkat bicara.
"Ini bukan urusanmu!"
"Anna adalah istriku. Jadi aku berhak melindunginya."
"Baiklah. Terserah kalian saja! Tapi kalian harus ingat, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rangga, aku tidak akan memaafkan kalian semua!!!" Suara Adi Jaya menggelegar diseluruh ruangan.
"Rangga akan baik-baik saja. Aku tahu itu, Mas. Dia tidak akan berbuat gegabah. Aku tahu bagaimana putraku." Anna mencoba tetap tenang meski hatinya sangat cemas.
"Putramu? Benarkah kamu tahu seperti apa putramu? Kamu sudah meninggalkannya dua puluh tahun lalu, apa kamu pikir kamu pantas jadi ibunya sekarang? Rangga pernah hampir mati karena melakukan hal bodoh. Dan itu karena wanita disana." Sekali lagi Adi Jaya menunjuk Cecilia sebagai penyebab masalah dalam hidup Rangga.
Raditya merasa berada disituasi bagai dalam sebuah sinetron. Dimana semua orang beradu argumen tanpa ada penyelesaian yang pasti.
Anna semakin beringsut panik setelah mendengar gertakan Adi Jaya. Cecilia memeluknya makin erat.
"Hentikan semua ini! Perdebatan kalian tidak akan membuat Rangga ditemukan." Raditya mulai ikut berdebat.
"Kamu!!! Kamu yang membuat semua ini jadi begini!!" Adi Jaya berteriak pada Radit. Ia memegangi dadanya yang kian sakit.
"Maafkan aku, Om. Aku tidak tahu jika akan jadi begini. Aku akan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Aku akan mencari Rangga."
Cecilia menatap Radit. Cecil tahu jika Radit pasti bisa menemukan Rangga.
Tiba-tiba ponsel Radit berdering. Panggilan dari Rangga. Radit mengangkatnya.
"Halo, Ga. Kamu dimana?"
"................"
"Oke, aku kesana sekarang! Jangan bertindak bodoh!" Radit menyudahi panggilan.
__ADS_1
"Aku akan kesana menjemput Rangga. Kalian tenang saja. Aku akan membawa pulang Rangga dengan keadaan selamat."
Raditya melangkah keluar. Beberapa orang mengikutinya dari belakang. "Kalian mau apa?"
"Mereka akan menjaga Rangga," jawab Adi Jaya.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengurus masalah ini. Tolong Om jangan ikut campur. Atau Rangga akan kabur lagi."
Adi Jaya berpikir sejenak. "Baiklah. Biarkan dia pergi sendiri."
Raditya berpamitan dengan melirik ke arah Cecil. Cecil percaya Rangga pasti baik-baik saja.
...***...
Raditya menempuh perjalanan cukup jauh untuk menemui Rangga. Ini seperti perjalanan menemui seorang kekasih. Tiba-tiba saja Radit membayangkan hal yang tidak-tidak.
Sesampainya ditujuan yang diberitahukan Rangga, Radit turun dari mobilnya dan berkeliling.
Berkali-kali Radit mengumpat. Rangga kabur ke tempat yang tak diduganya. Pantai.
Setelah menyusuri tepi pantai, Radit menemukan Rangga yang sedang duduk di sebuah batu besar di tepi pantai.
Dasar gila! Umpat Radit entah sudah keberapa kali.
"Kalau mau kabur, carilah tempat yang mengerikan sedikit. Ini terlalu romantis, Ga. Kamu memintaku datang kesini seolah-olah aku ini..."
"Apa? Pacarku?"
"Dih, menjijikkan sekali! Kamu masih waras 'kan?"
"Tentu saja aku masih waras. Makanya aku lebih memilihmu untuk menjemputku daripada anak buah Papa."
"Aku tinggalkan mobilku dijalanan tadi. Aku sudah menghubungi Danny untuk mengambilnya."
"Ckckck, baguslah. Dari pada kamu mati di jalanan. Aku akan lebih repot. Papamu pasti akan membunuhku."
Rangga hanya diam.
"Kenapa kamu kabur? Bukankah kamu ingin bertemu dengan Tante Anna?"
"Entahlah. Aku juga bingung kenapa aku malah pergi."
"Kamu kecewa dengan Cecil? Dia sudah tahu masalah ini tapi tidak pernah mengatakannya padamu?"
Rangga kembali diam.
"Aku juga baru tahu jika selama ini Cecil tinggal di tempat Tante Anna. Tapi... Cecil bilang dia juga baru tahu kalau Tante Anna adalah Mamamu. Dia mengenalnya sebagai Umi Isma bukan Anna."
"Lalu?"
"Tak ada gunanya kamu pergi. Om Adi malah mengintimidasi Tante Anna dan Cecil. Sebaiknya kamu kembali. Jangan sampai Om Adi mencelakai mereka."
Rangga berpikir sejenak.
"Baiklah, aku akan ikut kamu pulang."
__ADS_1
Radit bernafas lega.
"Kau tahu, aku sudah jauh-jauh datang kemari, tentu saja kamu harus ikut pulang denganku. Ayo jalan!" Radit menyeret kerah baju Rangga.
.
.
Hari sudah gelap ketika mereka sampai di kediaman Rangga. Namun mobil yang sedari siang terparkir disana masih tetap ditempatnya. Itu artinya Cecilia kemungkinan masih ada di dalam rumah Rangga.
Bisa saja Adi Jaya tak mengijinkan mereka pulang hingga Rangga ditemukan kembali.
Rangga memasuki rumah diikuti dengan Raditya. Dan ternyata Danny juga ada disana bersama Sheila.
"Kak Rangga...!!!" Sheila berjingkat gembira menghampiri Rangga dan memeluknya.
"Kakak dari mana saja? Kami semua khawatir dengan kakak."
"Aku baik-baik saja. Jangan cemas!"
Rangga menoleh ke arah Cecilia dan Anna. Ada raut kekecewaan di matanya. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya kembali.
"Syukurlah kamu sudah kembali," ucap Adi Jaya gembira sambil menepuk pundak Rangga.
"Aku lelah. Aku mau istirahat. Jadi sebaiknya kalian semua pergi dari sini!"
Rangga berjalan meninggalkan kerumunan orang yang sedari tadi menunggunya. Dengan mudahnya ia pergi tanpa beban.
"Kalian dengar sendiri 'kan? Sebaiknya kamu pulang, Anna. Jangan mengganggunya dulu. Kita sudah tahu kalau dia baik-baik saja."
Farid mengajak Anna dan Cecilia pulang. Sudah sedari siang mereka menguras hati mereka untuk mendengar kabar dari Rangga.
"Aku yang akan mengantar Cecilia pulang," ucap Radit.
"Tolong jaga dia Nak Radit," pinta Anna.
"Umi juga setelah ini istirahat. Rangga hanya butuh waktu. Aku yakin Rangga pasti bisa memaafkan Umi," tutup Cecilia dengan memeluk Anna.
Cecilia naik ke mobil Radit. Di sepanjang perjalanan suasana terasa sunyi.
Radit sesekali melirik Cecilia. Bingung apa yang harus dia bicarakan lebih dulu. Membahas soal Rangga, rasanya tak mungkin. Membahas soal Anna, juga tak mungkin.
"Kamu sudah makan?" Celetuk Cecilia memecah keheningan.
"Eh? Aku? Belum. Kamu sendiri?"
"Mana bisa aku makan disaat semua orang cemas tentang kondisi Rangga. Kamu bahkan tidak mengabariku jika Rangga baik-baik saja."
"Maaf. Aku tak sempat mengabarimu. Apa kita makan dulu saja? Aku juga lapar, hehe."
"Hu'um. Kita cari warung pinggir jalan saja. Nasi goreng atau mie goreng."
"Oke!"
...💟💟💟...
__ADS_1
bersambung lagi dulu....
Terima kasih utk kalian yg sudah mengikuti kisah Cecilia hingga kini 🙏