
...πππ...
"Ibu sudah dengar tentang kau dan Ismail."
"Ibu ... "
"Baguslah kau tidak menerima lamarannya. Sudah ibu katakan dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik darimu."
"Iya, Bu."
Entah kenapa kata-kata ibu sangat menohok hatiku. Meski apa yang ibu katakan memang benar.
Hubunganku dengan Ismail, masih berjalan seperti biasa. Dia sudah berjanji akan berlapang dada atas apapun keputusanku. Dan ia menepati janjinya itu.
Sungguh seorang pria idaman. Tapi hatiku ... Tidak pernah menyebut namanya.
Hari-hariku kini kuhabiskan di toko roti milik ibu. Aku tak punya pekerjaan sekarang. Aku harus memutar otak agar aku tidak bosan setiap harinya.
"Ibu, aku rasa kita perlu berinovasi."
"Inovasi apa?"
"Toko roti ibu. Aku rasa kita perlu membuat suatu perubahan. Seperti ... Membuat kafe misalnya."
"Kafe? Bukankah butuh biaya besar untuk membangun sebuah kafe?"
"Ibu tak perlu khawatir soal itu." Aku tersenyum. "Bagaimana Ismail? Apa kau setuju? Kau adalah pelanggan tetap toko roti kami, berikan saranmu!"
Ismail yang saat ini sedang memilih beberapa roti di etalase, ikut menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa itu ide yang bagus," sahut Ismail.
"Bagaimana, Bu?"
"Mau bangun dimana kafenya? Membeli tanah akan memakan biaya besar juga."
"Tidak perlu, kita hanya merenovasi toko saja. Lagipula lahan disini masih luas. Aku rasa cukup jika kita membangun disini saja."
"Kau temui saja temanmu yang arsitek itu," usul Ismail.
"Maksudmu Radit?"
"Apa kau punya teman arsitek lain?"
Aku meringis. "Baiklah."
.
.
Aku menelepon Radit dan memintanya menemuiku di sebuah kedai kopi. Setelah kejadian di kantor polisi waktu itu, aku belum bertemu lagi dengannya.
Aku tahu dia sibuk. Dia mengurus perusahaan besar sekarang. Dan tak pernah kusangka dia akan melakukan apa yang diinginkan oleh Papanya.
Aku menceritakan ide tentang pengembangan toko roti Ibu pada Radit. Dia menyukai konsep yang aku buat bersama Ismail. Dia bersedia membantuku.
Saat sedang asyik mengobrol dengan Radit, ponselku berbunyi. Dan itu dari ibu.
__ADS_1
Aku bergegas pergi karena ibu memintaku untuk segera pulang. Aku berpamitan pada Radit.
Apa yang sebenarnya terjadi? Suara ibu terlihat sangat serius. Huft, dan memang ibuku selalu berkata dengan keras.
Aku menyetir dengan hati-hati. Disaat gentingpun, otak kita harus tetap dingin.
Sesampainya di rumah, kulihat Ibu bersama dengan Mbak Sari duduk di teras.
Mbak Sari menghampiriku dan langsung memelukku. Ia menangis. Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu lagi dengan keluarga Mas Alvian?
Mbak Sari bilang, ia pergi dari rumah. Ia ingin menenangkan diri. Dan ia tidak tahu lagi akan menuju kemana.
Hanya aku saja yang ada di pikirannya. Ia bilang butuh tempat untuk menginap sementara.
Baiklah, aku tidak berani bertanya lebih lanjut soal permasalahan Mbak Sari. Aku akan menunggu hingga dia mau membuka diri. Untuk saat ini, aku harus membantunya. Karena selama ini, dia juga selalu membelaku.
Namun, ada perlawanan dari ibu. Aku tahu itu. Ibu tidak akan setuju aku menolong Mbak Sari.
Aku meminta Mbak Sari untuk istirahat di kamarku, sementara aku berbicara dengan ibu.
"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa kau mengijinkan dia tinggal disini? Dia bukan siapa-siapa kamu lagi."
"Mbak Sari sedang kesulitan, bu. Jadi kita harus membantunya. Meskipun dia bukan lagi kakak iparku."
"Ibu tidak mengerti jalan pikiranmu. Ibu hanya ingin kau hidup tenang tanpa harus berurusan dengan keluarga Alvian lagi."
"Aku tahu, bu. Tapi selama ini Mbak Sari selalu membantuku dan membelaku. Aku tidak tega melihat dia sedih seperti ini."
"Kau ini! Kenapa tidak pernah mendengarkan ibumu?!"
"Maafkan aku, bu. Aku tidak bermaksud membantah ibu. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar, dan aku melakukannya atas dasar kemanusiaan."
"Ibu!!! Sudah cukup! Apapun yang ibu katakan, aku akan tetap menolong Mbak Sari! Dia akan tinggal sementara disini!"
Aku merasa tak perlu melanjutkan perdebatan ini dengan Ibu. Itu akan menambah dosaku saja. Kuputuskan untuk menghirup udara malam yang segar di taman dekat rumah. Tempat favoritku untuk merenung dan menatap langit.
Ada suara sepeda motor mendekat ke arahku. Itu adalah Ismail. Ternyata dia sudah lebih dulu melihatku.
"Kamu ada disini? Aku boleh bergabung?" Tanya Ismail dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
"Boleh. Silahkan duduk."
"Ada apa? Apa kamu bertengkar lagi dengan Ibu?"
"Hah? Kamu tahu dari mana kalau aku bertengkar dengan ibu?"
"Jadi benar? Padahal aku hanya asal menebak saja. Memangnya ada masalah apa?"
"Mbak Sari... Kakak ipar Mas Alvian. Dia datang dan meminta bantuanku. Sepertinya dia sedang ada masalah. Dia pergi dari rumah dan butuh tempat untuk tinggal sementara. Tapi... Ibu tidak setuju."
"Karena itu kalian bertengkar?"
"Iya..."
"Huuufffttt, kenapa kamu tidak bisa lepas dari keluarga Alvian? Ikatan takdir kalian... Rasanya begitu kuat. Kemarin Nayla, kemudian sekarang kakak ipar..."
"Heh? Apa maksudmu? Apa kamu juga tidak suka aku membantu Mbak Sari?"
__ADS_1
"Bu-bukan begitu. Hanya saja...." Ismail tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Aku tidak tahu apa yang ada dibenaknya.
"Saat ini, aku butuh dukungan. Dan aku ingin, kamu mendukung keputusanku."
"Cecil... Apa tidak bisa kamu melepas ikatan takdirmu dengan Alvian?"
"Eh?"
Entah apa yang dibicarakan Ismail. Mendadak dia menjadi sangat serius. Dia menatapku dengan tajam. Apa maksud dari perkatannya barusan?
"Lepaskan ikatan itu, Cil... Dan cobalah lihat takdir lain di sekelilingmu. Bisakah kamu lakukan itu?"
Aku terdiam. Ismail menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Apa dia... Sedang mengutarakan isi hatinya?
Tatapan Ismail padaku saat ini ... aku tidak bisa mengartikannya.
"Ma-maaf, Cil. Lupakan saja. Mungkin aku sedang lelah karena pekerjaan. Sebaiknya aku pulang. Permisi..."
Ismail menaiki sepeda motornya dan melaju di kegelapan malam.
Aku hanya menatap kepergian Ismail.
"Apa yang dia rasakan sekarang? Apa aku terlalu menyakitinya? Maafkan aku, Ismail. Aku sungguh meminta maaf."
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Ismail langsung membersihkan diri. Mandi dan berganti baju.
Di tatapnya lekat-lekat dirinya sendiri didepan cermin. Dalam wajah tampannya terlukis kegalauan yang dalam.
Apa yang sudah kulakukan? Apa yang aku harapkan? Tidak seharusnya aku bicara begitu pada Cecil. Aku sudah melewati batas. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku padanya. Aku adalah temannya. Dan selamanya akan selalu begitu. Di dalam hatinya, aku hanyalah seorang teman. Jadi jangan meminta lebih atau kamu akan kehilangan dia...
...πππ...
Bersambung,,,,,
*Cecil itu memang keras kepala, dan selalu melakukan apa yg dia pikir benar.
ya sudah, kita tunggu kejutan apa yg dibawa Sari ke dalam kehidupan Cecil kali ini ππ apakah hal baik atau... hal buruk?π°
...πππ...
jangan lupa tinggalkan jejak πΎπΎ
__ADS_1
terima kasih ππ