99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Hari (tak) Tenang


__ADS_3

Ada yang bilang, cinta punya masanya.


Masa dimana cinta akhirnya kandas,


Masa dimana cinta akan kadaluwarsa


Aku tidak percaya semua itu


Namun sekarang. . .


Cintaku mulai habis. . . .


...💗💗💗💗💗💗💗💗💗...


Satu hari sebelum hari persidangan.


"Cil, jangan melamun!" Suara Amel membuyarkan Cecil yang memang sedang melamun.


"Amel!!! Jangan mengagetkanku!"


"Maaf. Lagipula apa yang kau pikirkan sampai tak mendengar aku mengetuk pintu sedari tadi?"


"Maaf juga karena tak mendengar suara ketukan di pintu. Ada perlu apa kau kemari?"


"Tidak ada yang penting. Aku hanya ingin tahu keadaanmu saja. Akhir-akhir ini kau banyak melamun. Apa kau ada masalah?"


"Tidak ada, Mel. Aku hanya lelah karena pekerjaan. Kau kan tahu bagaimana sifat Pak Rangga. Dia selalu menindasku."


"Apa kau bilang? Pak Rangga tidak akan melakukan hal semacam itu! Kau terlalu berlebihan, Cil!"


"Kau adalah penggemarnya. Tentu saja kau akan membelanya."


"Tapi sejak kedatangan Pak Rangga kesini, saham AJ Foods meningkat drastis. Itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa."


"Itu memang benar. Tapi jika dia bisa mengubah sifatnya sedikit saja, itu akan membuatku merasa lebih baik."


"Kau ini!" Amel memukul Cecil pelan dengan map yang ada di depannya.


"Oya, Cil. Apa kau sudah kenal dengan Bu Nadine sebelumnya? Aku merasa kalau dia tidak menyukaimu. Dia selalu menyudutkanmu saat di ruang rapat."

__ADS_1


DEG.


"Apa? Menyudutkanku? Ah, itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak merasa begitu. Mungkin cara bicaranya memang seperti itu. Jadi terkesan jika dia menindasku."


Cecil berusaha bersikap senormal mungkin di depan Amel. Ia tak mau Amel sampai curiga dan mencari tahu tentang hubungannya dan Nadine di masa lalu.


...💗💗💗...


Di perjalanan pulang dari kantor, Cecil tidak bisa fokus mengemudikan mobilnya. Banyak hal melintas di pikirannya.


Besok adalah hari persidangan. Apakah aku benar-benar bisa menghadapinya?


Cecilia menghentikan mobilnya. Cukup lama dia menundukkan kepalanya di depan kemudi. Hingga akhirnya suara adzan maghrib berkumandang.


Cecilia menengadahkan kepalanya, memandang kubah masjid yang bersinar terang.


Ya! Saat ini yang dia butuhkan adalah mengadu pada Tuhan. Hanya Dialah yang akan mendengarkan semua curhatan hambaNya.


Cecilia memarkirkan mobilnya di pelataran masjid. Lalu dia turun, melepas sepatunya dan mengambil air wudhu. Cecilia mengikuti sholat berjamaah di masjid.


Usai sholat berjamaah, Cecilia masih diam terpaku dalam mukenanya. Dia hanya diam. Namun air mata tiba-tiba mengalir dipipinya. Dia yang awalnya menangis dalam hening, lama kelamaan menangis terisak dan sesenggukan. Hingga membuat seorang wanita paruh baya yang mendengar tangis Cecilia menghampirinya.


"Maaf, jika saya membuat ibu terganggu dengan suara tangisan saya." Cecil meminta maaf.


"Tidak apa-apa Nak. Ini adalah rumah Allah. Semua orang boleh mengadu disini, boleh berkeluh kesah disini. Kalau boleh Umi tau, apa yang membuatmu menangis seperti itu?"


Lalu mereka pun berkenalan. Wanita itu bernama Umi Isma. Dia seorang ustadzah. Entah apa yang dirasakan Cecilia, namun dia percaya jika Umi Isma adalah orang yang tepat untuk diajak bicara tentang masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Cecilia menceritakan semua masalah rumah tangganya pada Umi Isma.


"Nak, menjadi orang tua tunggal tidak semudah yang kita pikirkan. Semua harus dipikirkan matang-matang. Jangan hanya karena emosi, kamu mengorbankan perasaan anak kamu. Memang, perasaan wanita yang sudah tersakiti, tidak gampang untuk disembuhkan. Tapi perasaan seorang anak korban perceraian, jauh lebih tersakiti. Umi bukan mau menggurui, Umi hanya memberikan saran saja. Tanyakan pada hati kecil kamu yang paling dalam. Apa yang sebenarnya kamu inginkan. Jangan hanya berlandaskan emosi sesaat." Umi Isma memeluk Cecilia.


"Tapi, jika kamu memang sudah berserah diri pada Allah dan sudah memiliki jawaban atas keputusan kamu. Maka kamu harus menerima segala konsekuensi dari apa yang kamu ambil. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari. Ingat itu Nak!"


Setiap kalimat yang keluar dari bibir Umi Isma, sangat menyentuh hati Cecilia. Seperti dia sudah pernah merasakan hidup di posisi Cecilia.


Dan setelah sholat isya, Cecilia berpamitan. Dia juga dikenalkan dengan suami Umi Isma, yang bernama Abah Farid.


...💗...


Cecilia melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Untuk mencairkan suasana, Cecil menyalakan radio. Saat sedang mencari-cari frekuensi yang memutar lagu yang enak didengar, muncul sebuah iklan tentang sebuah cafe yang menyediakan hidangan serba coklat. Cecilia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh si penyiar.

__ADS_1


Hai guys, buat kalian pecinta hidangan rasa coklat, dari minuman, makanan, cake dan lain-lain. Silahkan datang ke cafe Chocolatte Lover di jalan Kapten Sudibyo 54 Jakarta. Dijamin!! Kamu tidak akan menyesal. Karena apa, karena hidangan yang berasa coklat itu bisa menenangkan pikiran dan hati kita yang sedang galau. So, buruan datang yaaa. Chocolatte Lover buka dari jam 5 sore hingga jam 11 malam guys. Ditunggu kedatangannya yaaa.


Seketika itu juga Cecil memutar balik arah mobilnya menuju cafe Chocolatte Lover. Saat ini dia butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya.


Dari kejauhan, cafe itu sangat mencolok. Karena dipenuhi lampu-lampu gantung hiasan yang indah. Konsep interior cafenya sangat menarik. Dan bisa dibilang sangat cocok untuk orang yang sedang ingin menenangkan diri. Di tiap meja dikelilingi oleh bunga-bunga, yang bisa dijadikan sebagai aromatherapi untuk hati yang sedang gundah.


Setelah memesan, Cecilia duduk di meja paling ujung. Dia ingin menyendiri. Tak butuh waktu lama, hidangan yang dia pesan sudah mendarat di meja. Cecilia mulai meminum minuman coklatnya. Dan benar saja, rasa coklatnya membuat hati tenang.


Menatap keramaian lampu-lampu kota, membuat Cecilia terbuai. Ada rasa damai yang dia rasakan. Semakin tenang hingga akhirnya Cecil meneteskan air mata kembali. Sejenak dia ingat apa yang akan dihadapinya esok hari. Cecil menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya. Dia menangis.


Lalu tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki seseorang menghampirinya. Cecil tahu ada seseorang yang berdiri di samping mejanya. Namun, orang itu tidak berkata apapun. Hingga akhirnya Cecil menengadahkan wajahnya ke atas dan terkejut melihat siapa sosok yang berdiri di depannya. Orang itu mengulurkan tangannya, dan menawarkan sapu tangan pada Cecil.


"Pak Rangga?"


Cecilia terdiam menatap Rangga. Perasaannya bercampur aduk antara kaget dan malu.


"Ini, ambillah!" Sekali lagi Rangga menawarkan sapu tangannya.


Cecilia ragu untuk mengambilnya. Lalu diapun akhirnya menghapus sendiri air matanya dengan tangan.


"Apa yang bapak lakukan disini?"


Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Cecilia.


"Saya datang kesini setiap hari." Jawab Rangga datar. "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau datang kesini hanya untuk menangis?"


DEG. Cecil merasa terpojok dengan pertanyaan Rangga. Apakah harus ia jawab atau----?


"Tak apa jika kau tidak mau menjawabnya. Saya boleh duduk disini?" Tanya Rangga dengan menunjuk kursi di depan Cecilia.


"Silahkan!"


"Saya kenal baik dengan pemilik cafe ini. Makanya saya sering datang kesini. Kau sendiri? Apa ini pertama kalinya datang kesini?"


Cecil mengangguk. Ia tidak banyak bicara di depan Rangga. Hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan dan gelengan kepala saja.


Apa ini? Apa benar ini adalah Rangga yang kukenal? Kenapa dia sangat berbeda dengan Rangga yang kukenal di kantor? Apa dia berusaha menutupi sesuatu? Ah, entahlah. Yang jelas, ini adalah pertama kalinya Pak Rangga bersikap baik padaku.


...💗💗💗...

__ADS_1


Bersambung,,,,


__ADS_2