
"Bagaimana baju-bajunya? Kamu suka yang mana?"
"Aku suka semuanya, Jim." Mata Nayla berbinar.
"Ini koleksi baju hamil terbaruku."
Nayla melihat bandrol harga di baju pilihannya. Dia terkejut melihat harganya.
"Ini terlalu mahal, Jim. Aku tidak bisa membelinya."
"Kenapa? Bukankah Alvian memberimu credit card yang bisa kamu pakai kapanpun kamu mau?"
"Yang kemarin 'kan aku sudah memakainya. Aku tidak enak hati jika memakainya lagi."
"Kenapa merasa tak enak hati? Cecil sudah biasa melakukan itu. Dia bahkan memiliki baju hamil edisi terbatas rancanganku."
"Tapi aku bukan Mbak Cecil. Aku bukan sosialita seperti dia." Nayla menunduk.
"Sosialita? Hahaha." Jimmy tertawa.
"Asal kamu tahu, Cecilia juga berasal dari kalangan bawah seperti kita. Ayahnya hanya seorang buruh di AJ Foods, lalu ibunya? Dia memiliki toko roti kecil-kecilan. Cecil hanya beruntung saja, makanya dia bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Di tambah lagi dia bekerja di AJ Foods setelah lulus, dan punya karir yang bagus. Lalu menikah dengan selebriti macam Alvian. Semua hanya tentang keberuntungan saja, Nay. Dan sekarang, kamu beruntung. Karena jadi istri Alvian."
Nayla terdiam.
"Bagaimana tentang Alvian? Apa dia masih mengigau soal Cecil?"
"Masih, Jim. Meski tidak begitu sering."
"Ini aneh. Pasti ada sesuatu yang terus membuatnya ingat pada Cecil. Apa barang-barang Cecil masih ada yang tertinggal disana?"
"Hu'um, masih. Semua tertata rapi di kamar utama."
"Aku punya ide, Nay. Sini aku beritahu!"
Nayla agak terkejut. "Kamu yakin, Jim?"
"Iya! Sekarang cepat kirimkan pesan pada Alvian. Ajak dia makan siang bersama."
Nayla menuruti saran dari Jimmy.
---Mas ... apa kamu sedang sibuk? Kita makan siang bersama. Bagaimana?!---
"Sudah kukirim."
"Oke. Kita tunggu jawaban dari Alvian."
Tak lama kemudian, Alvian membalas pesan dari Nayla.
----Oke. Nanti aku jemput kamu di rumah---
Nayla sangat gembira karena Alvian menyetujui untuk makan siang berdua. Sudah lama mereka tak pernah pergi berdua.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Jim. Terima kasih banyak atas semuanya. Kamu memang teman yang baik."
"Iya Nay. Sama-sama. Jangan sungkan cerita padaku jika ada masalah."
Nayla pun meninggalkan butik Jimmy setelah membayar semua baju yang dipilihnya.
Lolly mendatangi ruangan bosnya. Dilihatnya bosnya sedang tersenyum puas penuh makna.
"Ada sesuatu yang membahagiakan Bos?"
"Tentu saja. Sebentar lagi 'kan kita akan mengadakan acara lelang untuk amal. Kau tahu, barang-barang siapa yang akan ikut lelang tahun ini?"
"Siapa Bos?"
"Cecilia. Ternyata dia tidak membawa semua barang-barangnya dari rumah itu."
__ADS_1
"Tapi sekarang kita tidak tahu dia ada dimana, Bos."
"Justru itu adalah keuntungan kita. Nayla akan mengurus semuanya."
"Jadi Bos akan melakukan lelang tanpa meminta ijin dari Cecilia?"
"Kita tidak perlu ijin darinya, karena dia sendiri yang meninggalkan barang miliknya."
"Tapi bos ... Bukankah Cecilia adalah sahabat baik Bos? Kenapa Bos melakukan ini padanya?"
"Lolly... Dengarkan aku, orang-orang seperti kita harus pintar memilih orang yang akan menopang kehidupan kita. Saat ini yang bisa menguntungkan kita adalah Nayla, bukan Cecilia."
"Jadi, Bos akan berpihak pada Nayla?"
"Kita tidak memihak siapapun. Kita hanya ... memanfaatkan situasi yang ada demi keuntungan kita. Itulah caraku bertahan hidup di industri ini."
Sementara itu,
"Ada tagihan baru lagi di Credit Cardmu, Al." Shasha mendatangi Alvian di ruang kerjanya.
"Umm, benarkah?"
"Baru saja Nayla bertransaksi di butik Jimmy. Ini aneh! Akhir-akhir ini Nayla jadi suka berbelanja. Belanja baju pula! Seperti bukan Nayla yang biasanya kukenal." Selidik Shasha.
"Ya sudah, biarkan saja. Mungkin bawaan bayi kali. Aku ada janji makan siang bersama Nayla. Aku pergi dulu, ya!"
"Tunggu, Al!!! Aku belum selesai bicara!"
"Apa lagi Sha? Kau bayar saja semua tagihan Nayla dengan uangku. Beres 'kan?"
Alvian tak mempedulikan Shasha dan memilih pergi.
Beberapa waktu lalu, Jimmy mendatangi Alvian di kantornya. Mereka berbincang empat mata tanpa diketahui oleh Shasha.
"Nayla datang ke butikku." terang Jimmy.
"Oh ya? Tumben dia mau belanja baju."
"Dia kesana bukan untuk membeli baju, Al. Dia mencari Cecilia. Kau tahu kenapa? Karena setiap malam kau masih mengigau memanggil-manggil nama Cecilia." Ungkap Jimmy dengan nada yang mulai tinggi.
Alvian tak berkata apapun.
"Istrimu adalah Nayla. Kenapa masih memikirkan Cecilia? Kau harus ingat, Nayla sedang hamil besar. Dengan kondisinya yang begitu dia rela datang ke teman-teman dekat Cecil, hanya untuk bertanya apa kita tahu keberadaan Cecil sekarang. Semua orang punya masa lalu, tapi bukan berarti kita terus hidup dengan kenangan masa lalu. Kau harus move on, Al... Kau harus memikirkan Nayla dan bayi yang ada dikandungannya."
"Sorry, Jim. Aku tahu aku salah."
"Kalau begitu perbaikilah! Kau sudah kehilangan Cecil karena keegoisanmu. Jangan sampai kau juga kehilangan Nayla."
Alvian sedang memperbaiki hidupnya. Memperbaiki hubungannya dengan Nayla. Ia sudah menyakiti Nayla. Ia sadar betul, jika ternyata ia sudah menyakiti dua wanita sekaligus.
Maafkan aku, Nayla... Maafkan aku...
Suasana makan siang terasa hangat. Nayla makan dengan lahapnya. Ia menikmati makan siangnya bersama Alvian.
"Terima kasih, Mas. Karena bersedia makan siang denganku."
"Tidak perlu berterimakasih. Jika kamu butuh apapun, tinggal beritahu aku."
"Iya, Mas. Umm, begini ..." Nayla ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa, Nay?"
"Aku ... ingin pindah ke kamar utama? Apakah boleh?"
Alvian terkejut. Kamar utama adalah kamar Alvian dan Cecil. Disana masih tersimpan barang-barang Cecil yang tak dibawanya.
"Tidak boleh ya?" Nayla menunduk.
__ADS_1
"Ah, bu-bukan begitu, Nay. Jika kamu ingin pindah kesana ... baiklah. Kamu bisa pindah. Akan kusuruh Neneng untuk membereskan barang-barang disana."
"Benarkah? Aku boleh pindah ke kamar utama?" Nayla sangat gembira.
"Aku akan mengurus semuanya, Mas. Kamu tidak perlu khawatir." Sekali lagi Nayla tersenyum sangat lebar.
Alvian hanya tersenyum simpul. Ia ingin memperbaiki semuanya. Mungkin inilah saatnya. Saat untuknya melupakan Cecilia. Dan mencoba kisah baru dengan Nayla.
Ketika kita masih memiliki seseorang di samping kita, kadang kita tak peduli padanya. Menganggap seakan dia tak berarti apa-apa.
Namun saat akhirnya orang itu pergi dari hidup kita, betapa menyesalnya kita karena sudah kehilangan orang yang berharga.
Mungkin, Alvian masih harus belajar tentang hidup. Tentang cinta, dan juga kehilangan. Waktulah yang akan menyembuhkan luka.
Hari itu Nayla membereskan kamar utama yang sudah lama kosong tak dihuni. Kamarnya luas. Dengan tempat tidur besar dan lemari pakaian besar pula. Barang-barang Cecil masih ada dikamar itu.
Beberapa diantaranya adalah baju, tas, sepatu, perhiasan, dan hal kecil pribadi lainnya seperti sisir rambut, bros, dan teman-temannya.
Nayla memindahkan semua barang-barang itu ke gudang. Termasuk foto pernikahan Cecil dan Alvian.
Jimmy datang menawarkan kembali hal yang pernah mereka bicarakan di butik beberapa waktu lalu. Nayla menyetujuinya. Ia akan mengikuti lelang amal yang diadakan oleh butik Jimmy.
Barang yang berlabel Jimmy Choo, tak bersisa lagi di rumah itu. Jimmy mengambil semuanya untuk acara lelang.
"Bos yakin akan melakukan ini? Bukankah ini termasuk melanggar hukum, Bos?" Untuk kesekian kalinya Lolly mengingatkan Jimmy. Ia tak mau bosnya jadi orang jahat yang mengkhianati sahabatnya sendiri.
"Kau tenang saja. Semua bisa di atur. Kau ikuti saja perintah dariku. Paham?!"
"Baik, Bos!"
Sore itu Ismail begitu gugup menghadapi hari. Seharian ia tak bisa berhenti tersenyum karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Cecil.
Ia bersiap untuk menjemput Cecil di bandara. Kakinya terasa lemas. Apa yang akan dilakukannya saat bertemu Cecil kembali?
Ismail celingukan mencari keberadaan Cecil. Ia mendapat pesan dari Cecil jika pesawatnya sudah mendarat. Namun ia belum berhasil menemukan sosok Cecil.
"Ismail ... " Sebuah suara yang sudah lama tak didengarnya selama beberapa bulan tiba-tiba mengagetkan Ismail.
Ismail membalikkan badan untuk melihat si pemilik suara. Satu hal sudah terlintas dipikirannya ketika ia melihat sosok didepannya. Ia ingin memeluknya. Memeluk sosok itu dengan erat.
Namun betapa ia tak bisa melangkahkan kakinya menuju sosok yang dirindukannya, karena sosok itu sudah berubah.
Tergambar jelas Ismail terperangah dengan penampilan Cecil sekarang. Ia sudah mengenakan hijab. Tak mungkin Ismail tiba-tiba memeluknya. Bahkan menyentuhnya pun sekarang tak bisa.
"Ismail ... Kamu baik-baik saja?" Cecilia mulai panik karena melihat Ismail bergeming sedari tadi. Ia sadar jika Ismail pasti syok melihat penampilannya yang sekarang.
"I-iya aku baik-baik saja." jawab Ismail dengan terbata.
"Ini aku ... Cecilia ..." Cecil tersenyum manis.
Senyum itu masih sama. Seperti dulu.
"Iya aku tahu kamu Cecilia. Hanya saja ... "
"Aku tetap Cecilia yang dulu. Dan aku juga menepati janjiku. Kamu orang pertama yang aku kabari saat aku kembali."
"Hehe, iya... Aku ikut senang. Karena kamu akhirnya kembali. Ayo kita pulang!"
"Ayo!"
Mereka berjalan bersama.
"Kamu belum memberitahu Ibu 'kan jika aku datang hari ini?"
"Belum. Aku akan membuat kejutan untuk Ibu."
"Bagaimana kabar ibu? Dia baik saja 'kan?"
__ADS_1
"Kabar Ibu baik. Jangan takut. Ibu juga merindukanmu. Dia pasti memaafkanmu."
"Huufftt, semoga saja ... "