
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Aku cukup terkejut karena Umi Isma datang secara tiba-tiba.
Mungkin karena perasaannya sebagai seorang ibu begitu kuat, makanya dia bisa
langsung merasa jika ada yang tidak beres dengan diriku atau Rangga.
Aku menunggu seluruh karyawan kafe pulang terlebihi dahulu, baru
aku bisa bercerita pada Umi Isma. Selama ini ia selalu mendengar keluh kesahku.
Aku yakin aku bisa percaya padanya. Tapi, aku masih tidak yakin jika ia akan
mendukungku kali ini.
Umi Isma menatapku dengan tatapan yang berbeda. Ia tahu jika
aku menyembunyikan sesuatu darinya. Dan aku tidak mungkin bisa lari darinya.
Aku menghela nafas sebelum aku mulai bicara. “Maaf jika aku
harus bicara begini, Umi. Tapi, aku ingin Umi mendukungku kali ini.”
“Ada apa sebenarnya, Khumaira? Umi bisa merasakan ada yang
tidak beres saat kau meminta Ros menginap dirumahmu dan Rangga.”
“Umi… Aku… ingin menjodohkan Rangga dengan Ros…”
“Astaghfirullahaladzim. Apa Umi tidak salah dengar,
Khumaira? Apa yang kau bicarakan ini?”
“Umi… aku… Aku divonis jika tidak akan bisa memberikan
keturunan untuk Rangga… ”
Air mataku sudah luruh deras mengalir ke pipiku. “Aku tidak
bisa menjadi istri yang sempurna untuk Rangga, Umi… Maafkan aku…”
“Khumaira…”
“Aku tahu ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi
bukankah Umi dan Abah sedang mencarikan jodoh untuk Ros. Aku rasa… Ros cocok
menjadi istri Rangga…”
“Khumaira…”
“Aku tidak tahu cara lain selain ini, Umi. Kumohon bicarakan
ini dengan Abah dan…”
“Khumaira… Apa kau pikir Rangga mau melakukan semua ini? Ini
bukanlah perkara yang mudah, Nak. Dan kamu? Apa kamu bersedia mengalami hal
__ADS_1
yang sama untuk kedua kalinya?”
“Aku sudah memikirkannya, Umi. Aku akan mencoba untuk
ikhlas. Ini demi keluarga besar kita, Umi. Rangga harus memiliki keturunan dari
darah dagingnya sendiri.”
Aku berusaha tegar. Sesakit apapun itu. Aku menyeka air
mataku. Umi Isma mendekatiku dan memelukku. Aku yakin Umi Isma dan Abah Farid
adalah orang yang bijak. Mereka bisa memberikan solusi dari masalah kami ini.
Umi Isma masih belum memberikan jawabannya. Tentu saja ini
adalah masalah yang serius. Ia tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah.
Bahkan untukku pun, semuanya terasa sulit. Setelah aku bicara dengan Umi Isma,
aku harus bicara dengan Ros. Aku yakin dia akan mengerti posisiku.
.
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu. Aku masih merasa baik-baik saja
usai menemui Umi Isma. Meski beliau belum memberikan jawaban apapun. Tapi aku
Hubunganku dan Rangga masih seperti biasa. Dia semakin sibuk
di kantor. Tentu saja dia memiliki banyak waktu bersama Ros. Ros adalah
bawahannya. Hari ini aku berencana bicara pada Ros. Semoga saja dia bisa
mengerti maksudku.
Kami membuat janji temu di kafe Chocolatte Lover. Entah kenapa
tempat itu selalu menjadi favoritku selama bertahun-tahun. Aku duduk menunggu
Ros datang. Aku tahu jika dia pasti sibuk. Tapi tidak ada waktu lagi. Aku sudah
bicara dengan Umi Isma, aku juga harus segera bicara pada Ros.
“Ros…!” aku melambaikan tangan ketika Ros memasuki area
kafe.
Ia duduk berhadapan denganku. Aku menyambutnya dengan
senyuman di bibirku.
“Aku sudah pesankan menu favorit disini. Aku yakin kau akan
menyukainya.”
“Terima kasih, Mbak.”
__ADS_1
Tak lama pesanan kami datang. Kami menikmati makan malam
dalam diam. Ros terlihat menyukai menu yang kupesankan.
“Bagaimana? Kau menyukainya?” tanyaku.
“Hu’um, ini enak sekali, Mbak. Mbak pasti sering datang
kesini bersama Mas Rangga ya?” tanyanya.
“Ah, tidak juga.”
“Suasananya juga sangat romantis.” Ucapnya lagi.
“Bagaimana pekerjaanmu? Apa Rangga mempersulitmu?”
“Haha, dia adalah bosnya. Jadi terserah dia saja mau
melakukan apa.”
“Ahaha, benar juga ya.”
“Mbak tenang saja. Kakakku tidak sekejam itu kok.”
“Benarkah? Dulu dia sangatlah kejam padaku. Dia bahkan sudah
membuat bawahanku mengundurkan diri karena sifatnya yang sok perfeksionis.”
“Benarkah? Kurasa tidak, Mbak. Mas Rangga sudah banyak
berubah. Dia sangat baik, dan juga mengagumkan.” Ucap Ros dengan mata berbinar.
Sepertinya ia sangat mengagumi Rangga.
“Ros, apa kau menyukai pria seperti Rangga?”
“Eh? Kenapa Mbak bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu saja. Tipe pria seperti apa yang kau
sukai. Ayolah jawab!” pintaku sambil sedikit merajuk. Aku harus memposisikan
diri sebagai temannya, bukan kakak iparnya.
Ros tersipu malu. Wajahnya mulai merona. Kurasa aku tahu apa
jawabannya.
“Iya, Mbak. Aku menyukai pria seperti Mas Rangga…”
DEG.
Entah kenapa mendengarnya langsung dari Ros, membuat hatiku
senang dan juga sedih sekaligus. Itu berarti aku harus siap kehilangan lagi.
#bersambung…
“Jangan berani memulai sesuatu jika kau sendiri tidak tahu
__ADS_1
apakah kau sanggup melanjutkannya atau tidak”