99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Peringatan!


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Kabar mengenai Rangga yang sedang mencari ibu kandungnya akhirnya terdengar juga ke telinga Adi Jaya. Ia meminta Hendi untuk mengatur pertemuan dengan Raditya.


Adi Jaya tidak menginginkan Rangga bertemu lagi dengan ibunya. Ia akan melakukan apapun untuk menghentikan pencarian ini.


"Cepat hentikan pencarian terhadap Anna!" Perintah Adi Jaya pada Radit.


Raditya hanya tersenyum sinis.


"Apa alasannya Om memintaku untuk menghentikan pencarian ini? Rangga hanya ingin bertemu ibu kandungnya. Apa itu aneh?"


"Raditya... Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan dan hadapi. Om hanya tidak mau kamu terluka. Terlebih lagi, Om dan Papa kamu adalah teman baik."


"Aku dan Rangga juga berteman baik. Lalu dimana masalahnya?"


"Baiklah. Sekali lagi Om tegaskan, hentikan semua ini dan kembalilah pada kehidupanmu sendiri. Jangan mencampuri urusan orang lain. Atau kamu akan menyesali semuanya."


"Tenang saja, Om! Aku tidak akan menyesali apapun. Dan aku juga akan menegaskan satu hal pada Om. Rangga yang memintaku untuk mencari ibunya, jadi aku tidak akan berhenti sampai Rangga sendiri yang memintaku berhenti. Jika tidak ada lagi yang ingin Om bicarakan, aku permisi!" Raditpun meninggalkan Adi Jaya yang masih dalam keadaan kesal dan mengepalkan tangannya.


"Hendi!!! Anak itu sudah melewati batas. Atur pertemuan dengan Tony Hanggawan. Anak itu harus tahu bagaimana cara berbisnis yang benar. Di dalam bisnis, tak ada pertemanan yang abadi..."


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan!"


...***...


Meski sudah beberapa hari berlalu, Danny masih merasa tidak enak hati pada Cecilia karena sikap yang dilakukan Sheila.


Ia memutuskan untuk datang menemui Cecilia di kafenya usai pulang kerja.


"Aku kemari karena ingin meminta maaf pada Bu Cecil atas kejadian tempo hari. Aku tidak tahu jika Sheila akan melakukan hal seperti itu. Dia memang anak yang manja, tapi aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu pada ibu."


"Tidak apa, Dan. Aku mengerti. Dia hanya ingin melindungi kakaknya."


"Tapi tetap saja, itu tidak dibenarkan. Aku malu pada diriku sendiri. Aku mengenalnya sejak dia masih kecil. Aku juga seperti kakak baginya. Harusnya aku bisa mencegahnya. Sekali lagi maafkan aku, Bu."


"Aku sudah melupakannya. Jadi jangan meminta maaf lagi. Tapi... Ada sesuatu yang ingin aku tahu. Apa maksudnya dia berkata jika Rangga hampir meninggal? Apa terjadi sesuatu padanya?"


"Eh? Bu Cecil tidak tahu?"


Cecilia menggeleng. Danny tampak ragu apakah harus memberitahu Cecil atau tidak.


Kejadian mengenai Rangga yang overdosis hingga dirawat dirumah sakit. Itu sudah lama berlalu. Apa perlu menceritakan kembali cerita itu?


"Katakan padaku, Danny. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Itu.... Tentang...."

__ADS_1


.


.


.


Cecilia berlarian di komplek Masjid Al Iman untuk mencari keberadaan Umi Isma. Seorang penjaga masjid mengatakan kalau Umi Isma dan Abah Farid tinggal di rumah dekat masjid.


Dan akhirnya Cecilia menemukan rumah itu. Ia mengetuk pintu rumah. Umi Isma muncul dari balik pintu.


"Khumaira?" Umi Isma terkejut.


Cecilia mengatur nafasnya. Ada raut kekecewaan di wajahnya. Ia kecewa karena orang yang dia percaya tega menyembunyikan hal ini darinya.


Air mata Cecilia mulai mengalir. Bagaimana bisa Umi Isma yang sangat dia hormati, tidak memberitahukan apapun soal Rangga yang hampir meninggal karena overdosis, dan itu karena dirinya.


"Maafkan Umi, Khumaira. Umi tidak memberitahumu karena Umi takut kamu akan merasa bersalah. Keadaan kamu sudah membaik saat itu. Kami tidak mau kamu kembali terpuruk."


"Tolong mengerti posisi kami, Khumaira. Umimu juga sangat khawatir pada Rangga. Dia juga merasa bersalah. Tapi untunglah Rangga bisa menghadapi semua ini dengan baik. Dia jauh lebih baik sekarang, jadi jangan membahasnya lagi. Dan kamu, jangan merasa bersalah atas apa yang menimpa Rangga."


Cecilia menghapus air matanya, kemudian mengangguk. "Terima kasih, Umi, Abah. Karena aku memiliki kalian, aku jadi pribadi yang tidak kehilangan arah." Cecilia memeluk Umi Isma.


...***...


Suasana makan malam di kediaman Adi Jaya terasa sunyi. Meskipun dihari biasa juga hanya Rangga seorang yang makan di rumah. Namun kali ini situasi masih tegang antara Sandra dan Rangga setelah kejadian beberapa hari lalu.


"Pa, boleh 'kan kalau Sheila pindah kuliah disini?" Sheila memulai perbincangan ringan.


"Kamu yakin mau pindah kemari? Sudah bicara dengan kakakmu?" Jawab Adi Jaya sambil melirik ke arah Rangga.


"Sudah. Iya 'kan Kak? Kakak kasih ijin 'kan?"


"Aku bilang akan mempertimbangkannya, bukan mengijinkan," jawab Rangga datar.


"Kalau kamu pindah kesini, nanti tidak ada lagi teman-teman bule yang tampan seperti disana."


"Papa... Aku tetap suka pria lokal kok!"


"Haha, kalau begitu kakakmu pasti akan mengabulkannya."


"Jika Papa bilang begitu, akan aku urus semuanya."


"Benarkah Kak? Terima kasih banyak kakakku yang tampan..." Mata Sheila berbinar.


"Rangga... Usai makan malam temui Papa di ruang kerja. Ada yang ingin Papa bicarakan."


"Baik, Pa."

__ADS_1


.


.


.


-Ruang Kerja Adi Jaya-


Adi Jaya sedang duduk di depan meja kerjanya sambil memeriksa pekerjaan di layar laptopnya. Rangga sedari tadi sudah berdiri berhadapan dengannya, namun belum ada pembicaraan yang terjadi. Seusai mematikan laptop, barulah Adi Jaya memulai pembicaraan.


"Rangga... Papa tidak akan mengulang pembicaraan ini, jadi dengarkan baik-baik. Papa punya satu permintaan yang harus kamu penuhi."


Rangga menatap tajam ke arah Papanya. "Apa itu, Pa?"


"Berhenti mencari keberadaan mama kamu. Sudah dua puluh tahun lebih, jadi percuma saja kamu mencarinya."


Rangga mengepalkan tangannya.


"Ini demi kebaikanmu, Nak! Kamu harus memikirkan bagaimana perasaan Tante Sandra. Dia yang selama ini merawat kamu."


"Tapi dia membohongiku, Pa! Aku tidak bisa menerima itu!"


"Papa tahu. Tapi dia melakukan itu demi kebaikanmu. Percayalah!" Adi Jaya berusaha tak menaikkan nada suaranya.


"Kenapa Papa ingin aku menghentikan pencarian mama? Apa Papa tahu sesuatu soal keberadaan mama? Atau sebenarnya Papa yang berusaha menjauhkan aku dari mama?"


"Rangga!!! Jaga bicaramu! Kita sudahi pembicaraan ini. Papa harap kamu bisa memenuhi permintaan Papa. Papa tidak mau jika kamu sampai terluka." Adi Jaya berjalan keluar dari ruang kerjanya.


"Tenang saja. Aku tidak akan terluka. Karena aku mencari kebenaran disini."


Adi Jaya terhenti dan berbalik arah menghadap Rangga.


"Kebenaran yang sudah lama terkubur, biarkan saja tetap terkubur. Pikirkanlah tentang orang-orang yang menyayangimu. Jangan bersikap egois Rangga!"


Rangga mengepalkan tangannya dan berjalan melewati Adi Jaya menuju kamarnya.


"Aku tidak akan menghentikan pencarian mama. Aku pasti akan menemukannya. Papa lihat saja nanti!" Ucap Rangga tegas.


Dan Adi Jayapun hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat kegigihan putranya itu. Inilah hal yang ditakuti olehnya selama bertahun-tahun.


Hal dimana putranya berbalik arah dan menyerangnya dari belakang. Ia tak mau menyakiti putranya. Tapi jika memang harus, ia harus bersiap untuk melakukannya.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Bersambung,,,


Thank U for leaving like, comment and Vote πŸ™πŸ™

__ADS_1


Hope you enjoy this storyπŸ’žπŸ’ž


__ADS_2