99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 10


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 welcome back to season 3 of 99 Cinta Untukmu. Dont forget to leave Like 👍 and Comments 😘...


...*Happy Reading*...


Cecilia kembali ke rumahnya dan langsung di sambut oleh Rangga. Ia merasa terkejut karena Rangga ternyata sudah pulang dari kantornya.


"Mas? Kau sudah pulang?"


"Hu'um, aku sengaja ingin membuat kejutan untukmu."


"Untukku?" Cecil mengernyit heran.


"Sayang, apa kau lupa? Hari ini adalah hari jadi pernikahan kita..."


"Eh?"


Bagaimana aku bisa lupa? Apa aku terlalu memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan Rangga?


"Maaf, aku lupa. Aku terlalu sibuk di kafe sampai-sampai..."


"Sudahlah. Ayo ikut!"


Rangga menggenggam tangan Cecil dan membawanya ke teras belakang rumah mereka.


Sebuah makan malam romantis telah Rangga siapkan. Cecil menangis haru karena mendapat kejutan yang sangat berarti.


"Selamat hari jadi pernikahan yang ke dua, sayang..." ucap Rangga memberikan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian.


Cecil menutup mulutnya tak percaya. Ia makin terharu dan malah menangis.


Rangga segera mendekap Cecilia dalam pelukannya.


"Kenapa malah menangis? Bukankah ini adalah hari yang bahagia?" ucap Rangga lagi.


Cecil mengangguk dalam dekapan Rangga. Meski ia ingin tersenyum bahagia, namun hatinya mengatakan hal lain. Hatinya sesak mendapat perlakuan manis dari Rangga.


Apa kamu akan tetap bersikap manis begini, Mas jika kau tahu aku tidak bisa memberimu seorang anak pun? Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa sikapmu padaku, Mas. Aku harus bagaimana?


.


.


.


.


Makan malam tadi sungguhlah romantis. Aku tidak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria. Seorang suami yang nampak sangat mencintai istrinya.


Apakah semuanya akan bertahan tetap manis jika sang suami tahu mengenai kondisi istrinya?


Malam ini aku tak kuasa untuk memejamkan mata. Kupandangi wajah suamiku yang amat tenang saat tertidur. Aku juga ingin bisa tidur dengan tenang seperti itu.


Tapi kini rasanya tak bisa. Aku tidak bisa tidur dengan tenang setelah hari ini. Ketakutan akan kehilangan semua perhatian manis darimu, akan terus menghantuiku. Aku harus bagaimana, Mas?

__ADS_1


.


.


.


Dulu saat aku gundah, aku bicara dengan Umi Isma, tapi sekarang, rasanya sudah tidak mungkin. Umi adalah ibu mertuaku, tidak mungkin aku membicarakan masalahku dan Rangga pada ibunya. Itu pasti terdengar sangat konyol. Lalu kuputuskan untuk mendengar pendapat dari sahabat yang tidak akan menghakimiku dengan kasar.


"Cecil!!!" Amel melambaikan tangan padaku.


Sudah ada Nadine juga disana.


"Hai, Cil..." Kami bercipika-cipiki.


"Mau pesan apa, Cil?" tanya Amel.


"Hmm, yang biasa saja."


Kami bertemu di kafe Chocolatte Lover. Mungkin aku butuh sedikit sentuhan coklat.


"Kabar Rangga baik-baik saja kan?" tanya Nadine.


"Rangga baik."


"Ada apa dengan wajahmu, Cil?" tanya Nadine lagi.


"Dengar, aku minta bertemu kalian karena... Karena kalian adalah teman-teman yang baik. Kalian tidak menghakimiku secara sepihak."


"Apa maksudmu?" Tanya Amel.


"Ini..." Aku mengeluarkan kertas hasil lab dari klinik Thania dan kusodorkan pada Amel.


Mereka berdua membacanya bergantian.


"A-apa maksud dari hasil lab ini, Cil?" tanya Nadine.


"Aku... Divonis tidak akan bisa memiliki anak lagi."


"Hah?! Apa?!" pekik mereka bersamaan.


Ya, aku tahu semua memang membingungkan dan mendadak.


"Ce-cecil, kau serius?" Nadine merasa tak percaya.


"Tentu saja. Bahkan itu sejak 10 tahun lalu, setelah aku melahirkan Tasya." Kini aku bicara dengan datar.


Ya, air mataku serasa telah habis. Aku tak perlu menangis lagi.


Amel meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kau bisa berbagi dengan kami, jangan menyimpannya sendiri." ucap Amel yang diangguki oleh Nadine.


"Iya, aku tahu aku bisa mengandalkan kalian."


"Lalu, apa Rangga sudah tahu masalah ini?" tanya Nadine.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Aku tidak akan sanggup memberitahunya."


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Amel.


"Aku minta kalian jangan marah dengan keputusanku ini."


Amel dan Nadine semakin mendekat ke arahku. Mereka sangat ingin tahu apa yang akan kukatakan.


"Aku... Aku...Ingin mencarikan istri muda untuk Rangga.."


"HAH?!"


Aku tahu pasti mereka akan bereaksi seperti ini. Kedua sahabatku. Kalian yang terbaik.


.


.


.


.


Sementara itu, disebuah kamar asrama yang tidak terlalu besar, Nayla sedang membereskan tas suaminya yang baru saja pulang dari kantor.


"Tumben, Mas pulang cepat?"


"Iya, nanti malam ada acara makan malam dengan klien. Jadi, Wendy memperbolehkan aku pulang lebih dulu, dan mempersiapkan diri. Tolong siapkan baju ganti untukku ya. Aku akan mandi dulu."


"Iya, Mas."


Setelah banyak hal menimpanya dan Alvian, Nayla kini mulai menata kembali hidupnya. Meski kadang ia merasa, masih ada yang aneh dengan Alvian.


Nayla tahu, Alvian tidak lagi sosok yang ia kenal dulu saat ia masih remaja. Banyak yang berubah dari sikap dan sifat pria itu.


Nayla membereskan tas kerja Alvian. Ia menemukan satu bungkus roti kesukaan Alvian. Suaminya memang selalu menyimpan makanan di dalam tasnya kalau-kalau merasa lapar di saat sibuk dan tak sempat makan nasi. Nayla yang selalu mengingatkan hal itu.


Kemudian dilihatnya bungkus roti itu karena merasa seperti tak asing.


"Maria's Bakery?" gumam Nayla.


"Ini 'kan..." Nayla tak berani melanjutkan kalimatnya. Sudah jelas itu adalah toko roti milik Cecilia.


Nayla menatap pintu kamar mandi dan memandangi bungkus roti yang ada di tangannya.


"Mungkinkah Mas Alvian... Bertemu lagi dengan Mbak Cecil?"


#Bersambung...


"Seseorang akan menjadi lebih kuat setelah banyak mengalami cobaan dan ujian dalam hidupnya...


Maka jangan menyerah pada keadaan dan teruslah berjuang. Hari yang indah akan segera menantimu..."


27.06.21

__ADS_1


__ADS_2