
-Rangga PoV-
Aku melirik jam tanganku, dan ini sudah pukul sepuluh malam saat aku tiba di rumah. Papa pasti sudah tidur, pikirku. Namun sebuah suara mengagetkanku ketika aku mulai memasuki ruang keluarga dan hendak naik ke atas menuju kamarku.
"Kamu sudah pulang Rangga." itu suara Papa. Dia belum tidur rupanya.
Aku menghentikan langkahku dan menghadap ke arah Papa. "Papa belum tidur?"
"Kamu melewatkan makan malam. Dari mana saja kamu?"
"Aku... "
"Pah, Rangga pasti lelah, biarkan dia istirahat dulu saja. Besok baru bicara lagi." Tante Sandra datang membelaku.
"Tante tidak perlu membelaku. Jika Papa ingin bicara sekarang. Mari bicara!"
"Lancang sekali kau Rangga!! Gara-gara wanita itu kamu jadi berubah seperti ini."
"Jangan bawa-bawa Cecilia kedalam masalah ini. Keluarga kita memang sudah biasa seperti ini kan? Papa selalu menuntutku untuk melakukan semua keinginan Papa. Memaksaku untuk menjadi apa yang Papa inginkan. Soal perusahaan dan juga Nadine. Dan selama itu pula aku tidak pernah membantah Papa. Tapi sekarang---Aku tidak akan diam lagi. Aku akan melakukan apa yang menurutku benar. Aku mencintai Cecilia. Dan aku akan memperjuangkan cinta kami."
Tak ada gunanya berdebat dengan Papa. Setelah mengutarakan semua keinginanku, aku meninggalkan Papa dan Tante Sandra yang tertegun melihatku berani membantah kemauannya.
...💟...
-Cecilia PoV-
Entah kenapa aku merasa khawatir pada Rangga. Dua kali dia kabur dari Papanya. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman antara dia dan Pak Presdir. Amel bilang selama ini hubungan mereka tak sebaik yang diberitakan. Huuufffftttt, aku jadi merasa bersalah.
Hari ini aku berangkat ke kantor lebih awal. Aku ingin menemui Rangga dahulu. Aku menunggunya di tempat parkir kantor.
Tak lama kemudian aku melihat mobilnya memasuki parkiran. Aku menghampirinya yang baru turun dari mobil.
"Selamat pagi, Pak Rangga." sapaku
"Pagi. Lho Cecil? Apa yang kau lakukan disini?"
"Umm, begini. Ada yang mau saya bicarakan." Aku melirik Danny.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu, Kak Rangga, Bu Cecil." Dannypun pergi meninggalkan kami, namun dia berbalik dan menatapku.
"Umm, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri memanggil Bu Cecil dengan panggilan Mbak Cecil. Iya kan, Mbak?"
Aku tertawa kecil. "Iya terserah kamu saja, Dan." Lalu Dannypun benar-benar tenggelam di balik tembok-tembok pembatas tempat parkir.
"Bagaimana?" tanyaku tanpa basa basi.
"Bagaimana apanya?" Rangga mengernyitkan dahi.
"Jangan pura-pura, Rangga."
"Aku tidak pura-pura. Kamu tiba-tiba bertanya bagaimana."
Aku mencubit perut Rangga. Dia tidak tahan geli jika kucubit perut ratanya.
"Aw!!! Sakit, Cil."
"Sakit atau geli?" Aku terus menggodanya.
"Dua-duanya. Baiklah cukup! Kamu mau bicara soal apa?"
__ADS_1
"Kamu kabur dua kali di acara penting Papamu. Bagaimana aku tidak bertanya-tanya?"
"Bukankah kemarin aku sudah ceritakan semuanya? Lagipula hubunganku dengan Papa tidak sebaik yang kamu kira. Kami sudah biasa berdebat. Jadi kamu tenang saja."
"Justru itu. Aku tidak mau hubunganmu dengan Pak Presdir bertambah buruk gara-gara aku."
"Cecil--- Aku kan sudah bilang, kamu jangan cemas. Semua akan baik-baik saja. Oke?" Rangga memelukku.
Bersamamu membuatku tenang, Rangga. Terima kasih karena sudah hadir dihidupku. Andai saja dulu aku tak menilaimu dengan buruk, mungkin aku akan memilih untuk jadi istrimu dari pada jadi istri Mas Alvian.
Ya ampun!!! Apa sih yang ada dipikiranmu, Cecil? Sekarang saja Pak Presdir belum tentu setuju denganmu, apalagi dulu. Jangan berharap lebih, Cil. Begini saja, sudah cukup bagiku.
.
.
Saat sedang makan siang bersama Amel dan Hana, aku mendapat panggilan telepon dari seseorang. Aku terkejut karena dia mengetahui nomer ponselku. Si penelepon meminta untuk bertemu denganku setelah jam pulang kantor.
Aku mengiyakan. Dia adalah Ibu Presdir. Dia ingin bertemu denganku. Ada apa ini? Hatiku berdebar cukup kencang. Semoga bukan sesuatu yang buruk.
Ibu Presdir memberikanku sebuah alamat resto bintang lima. Iya juga sih, sekelas ibu Presdir tidak akan menemui seseorang ditempat sembarangan.
Sepulang kerja aku menuju ke alamat yang ibu Presdir berikan. Perjalanan hanya menempuh sekitar lima belas menit dari kantorku.
Sesampainya disana, Aku melihat sekeliling resto. Sepi. Tidak banyak orang yang datang kesini. Aku bertemu dengan asisten ibu Presdir, Vivi.
"Silahkan lewat sini." Vivi memanduku.
Aku menganggukkan kepala.
Ternyata sebuah ruangan pribadi. Vivi melapor pada Ibu Presdir jika aku sudah datang. Lalu mempersilahkan aku masuk.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan canggung. Santai saja. Saya tidak akan melakukan apapun kepadamu."
"Eh?" Apa Ibu Presdir menyadari ekspresi wajahku yang teramat tegang? Mungkin sama seperti seorang gadis yang bertemu dengan calon ibu mertuanya untuk pertama kali.
"Maaf ya tiba-tiba saya meminta kamu datang. Kamu pasti terkejut."
"Tidak apa-apa, Bu."
"Langsung saja Cecil. Begini--- Kamu tahu kan jika saya bukanlah ibu kandung Rangga?"
"Hah? I-iya Bu, saya tahu."
"Meski saya hanya ibu sambung Rangga, tapi saya menganggap Rangga seperti anak saya sendiri. Saya menyayangi Rangga. Walaupun Rangga tidak pernah menganggap saya sebagai ibunya. Saat saya mendengar tentang kamu, saya ikut merasa bahagia, karena Rangga akhirnya menemukan cintanya. Dia bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan orang lain. Dia selalu bersikap dingin pada wanita manapun."
Aku mendengarkan cerita ibu Presdir dengan seksama.
"Cecil, meskipun Pak Presdir belum menyetujui hubungan kalian, saya minta kamu jangan menyerah dulu. Saya tahu bukan hal mudah menghadapi suami saya, tapi---jika kamu percaya dengan kekuatan cinta kalian, saya yakin beliau juga akan luluh."
Ibu Presdir menggenggam tanganku. Aku melihat ketulusan di matanya.
"Berjanjilah jika kamu tidak akan meninggalkan Rangga walau apapun yang terjadi."
Ibu Presdir menatapku lekat. Ini--- Sebuah permintaan yang cukup berat untukku. Tapi, aku akan berusaha.
"Iya, Bu. Saya janji."
__ADS_1
Ada secercah senyum di wajah Ibu Presdir. Senang rasanya mengetahui ada seseorang yang mendukungku di tengah perjuangan ini.
...💟...
-Rangga PoV-
Aku menunggu Cecil di teras depan rumahnya. Tadi Amel bilang Cecil pulang dengan terburu-buru. Dia tidak bilang apapun pada Amel. Hanya mengatakan dia ada urusan diluar. Aku jadi khawatir. Berkali-kali aku menghubungi ponselnya namun tidak diangkat. Aku takut terjadi sesuatu padanya.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mobil Cecilia memasuki halaman rumah. Aku bergegas berdiri dan berlari ke arahnya. Dia terkejut melihatku ada di rumahnya.
"Rangga? Kenapa kamu ada disini?" tanyanya heran.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
"Iya aku tidak apa-apa. Ada apa Rangga?"
Aku langsung memeluknya. "Terima kasih karena kamu baik-baik saja. Terima kasih."
"Rangga, apa yang terjadi dengamu?"
Aku membenarkan posisi berdiriku. Aku tidak mau terlihat mengkhawatirkannya.
"Dari mana saja kamu? Amel bilang kamu pergi terburu-buru." Nada bicaraku kubuat tegas.
"Ooh itu? Aku bertemu dengan seseorang. Kau menungguku sedari tadi? Kenapa tidak masuk? Bukankah Ibu sudah pulang?"
"Bertemu seseorang? Siapa?"
"Coba kamu tebak."
"Mana aku tahu, Cil."
"Ibu Presdir---" Bisiknya di telingaku.
"Ibu Presdir? Maksudmu---Tante Sandra?"
"Iya!" Cecil mengangguk mantap.
"Ada urusan apa bertemu dengannya?" Langsung malas aku jika berhubungan dengan Tante Sandra.
"Kenapa wajahmu? Rangga dengarkan aku dulu. Apa yang kamu pikirkan tentang Ibu Presdir itu semua tidak benar. Dia bukan orang seperti itu."
"Maksud kamu?"
"Dia tidak sejahat yang kamu pikirkan, Rangga. Dia malah mendukung hubungan kita."
"Omong kosong macam apa itu Cil?"
"Aku tahu kamu tidak menyukainya, karena kamu merasa dia merebut posisi mama kamu. Tapi... Cobalah lihat dari sisi yang lain. Dia menyayangi kamu, Ga. Dan dia ingin kita berjuang untuk mendapatkan restu Pak Presdir."
"Tidak, Cil. Dia pasti hanya pura-pura. Aku tahu benar siapa dia."
"Cobalah untuk membuka dirimu dengannya. Aku mohon, demi aku. Ya?"
Sial. Kenapa Cecil harus membela wanita itu? Aku masih tidak percaya dengannya. Aku yakin dia pasti merencanakan sesuatu.
...💟💟💟...
Bersambung,,,
__ADS_1