
...Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 welcome back to season 3 of 99 Cinta Untukmu. Dont forget to leave Like 👍 and Comments 😘...
...*Happy Reading*...
Aku tahu mereka akan bereaksi begini. Mereka masih mematung mendengar apa yang ingin kulakukan. Pasti mereka juga sangat terkejut. Ayolah, bicara! Kalian adalah sahabat terbaikku. Aku ingin mendengar pendapat kalian.
Amel dan Nadine hanya memandang ke arahku dan masih terdiam. Hingga beberapa menit berlalu...
"Umm, Cil..."
Amel akhirnya angkat suara.
"Sebaiknya kau periksakan lagi kondisimu, bila perlu hingga ke luar negeri. Siapa tahu saja diagnosa Thania ada yang salah. Iya kan? Itu sudah 10 tahun yang lalu. Mungkin sekarang hasilnya akan berbeda. Kita harus melakukan segala cara, dengan cara tradisional dan herbal juga." jelas Amel panjang lebar.
"Thania juga dokter terbaik, Mel. Dia juga lulusan dari luar negeri. Aku percaya padanya."
"Tapi kau harus mencoba segala cara, Cil. Bukan dengan cara seperti ini. Kau sudah pernah merasakan rasanya berbagi suami, bagaimana bisa kau ingin jatuh ke lubang yang sama kedua kalinya?" Amel nampak frustasi. Ia masih berusaha membujukku.
"Cil... Aku mengenal Rangga jauh sebelum kau mengenalnya. Dia sangat mencintaimu. Dan aku yakin dia tidak akan setuju dengan idemu ini!" Kini Nadine juga ikut bersuara.
"Aku harus mencobanya 'kan? Jadi, kumohon kalian juga membantuku..."
"Tidak, tidak. Aku tidak akan membantumu!" ucap Amel dengan menggeleng cepat.
"Iya, aku juga. Aku yakin Rangga tidak akan pernah mau melakukan poligami." Nadine ikut menimpali.
"Tapi dulu dan sekarang keadaannya berbeda. Dulu aku memang terpaksa menerima Mas Alvian untuk menikah lagi. Tapi sekarang... Aku sendiri yang akan mencarikan calon istri untuk Rangga."
"TIDAK!!!" Dan mereka makin kompak menolak.
Aaah, aku masih belum menemukan titik terang. Entah kenapa aku sudah tak meneteskan air mata saat aku menceritakan semuanya pada mereka. Apakah aku sudah mati rasa? Atau aku sudah tak mau terus-terusan bersedih?
Tuhan memberikan cobaan pasti bersamaan dengan jawaban dan solusi. Aku yakin itu. Kita hanya harus menerima jawaban itu meski hasilnya memang menyakitkan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Pukul sepuluh malam, Alvian pulang ke kamar asrama miliknya. Ia terkejut karena mendapati Nayla masih terjaga dan menunggunya.
"Nay? Kau belum tidur?"
"Belum, Mas. Aku sengaja menunggumu. Aku menunggu Alif tertidur karena tidak mau dia mendengar percakapan kita."
Alvian mengerutkan keningnya. "Ada apa, Nay? Sepertinya sangat serius."
"Apa ini, Mas?" Nayla menunjukkan sebungkus roti lapis yang ia ambil dari tas kerja Alvian.
"Itu... Roti lapis, kenapa?"
"Dimana kau membelinya?"
"Bukankah di kemasannya terdapat nama toko rotinya?" Alvian menjawab seakan tanpa dosa.
"Ada apa denganmu, Nay?"
"Mas! Apa kau benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu? Toko roti itu adalah milik Mbak Cecil. Jadi, selama ini kau menemuinya secara diam-diam? Dengan dalih kau membeli roti di tempatnya. Begitu, Mas?"
"Nay, apa yang kau bicarakan sangat tidak masuk akal. Aku hanya membeli roti dan tak ada maksud apapun. Aku lelah! Aku ingin beristirahat. Kau hanya cemburu tanpa alasan yang jelas!"
Alvian tak ingin berdebat dengan Nayla dan memilih untuk masuk ke kamar.
"Mas!!! Aku belum selesai bicara!" Nayla menghentakkan kakinya dengan tangan yang mengepal kuat.
.
.
.
__ADS_1
.
Cecil masih termenung di meja kerjanya sambil memperhatikan para pelanggan yang berlalu lalang. Ia meneliti satu persatu pelanggan terutama pelanggan wanita.
"Kira-kira wanita seperti apa yang cocok dijadikan istri untuk Rangga?" gumam Cecil bermonolog.
"Aku lebih suka wanita yang memakai hijab juga sepertiku. Kurasa akhlak dan pribadinya pasti lebih baik."
Karena sibuk dengan lamunannya sendiri, Cecil tak mendengar jika sedari tadi Rani memanggil dirinya.
"Bu Cecil...! Bu...!!" Panggil Rani dengan mengeraskan suaranya.
"Eh, Rani? Ada apa?"
"Umm, anu, bu... Ada yang mencari Bu Cecil..."
"Siapa?"
"Itu...."
Rani menunjuk ke arah sesosok wanita yang sedang memilih beberapa aneka cake.
Nayla? Mau apa dia datang kemari?
"Baik, saya akan segera menemuinya."
Cecilia segera keluar dari ruang kerjanya yang berkaca transparan. Ia berjalan menghampiri Nayla.
"Hai, Nayla... Apa kabar?" sapa Cecilia ramah.
Nayla menatap Cecilia dengan tatapan tak biasa.
"Mbak Cecil, bisa kita bicara?"
#Bersambung...
"Jika aku bisa mengulang waktu,
__ADS_1
aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya sebelum aku bertemu denganmu..."
29.06.21