99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 – Bagian 22


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta


Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.


*Happy Reading*


Pagi itu Rangga sudah bersiap menata pakaiannya kedalam tas koper.


Cecilia yang penasaran pun akhirnya bertanya pada suaminya itu.


“Mas, kamu mau kemana?”


Sudah beberapa hari ini komunikasi mereka memang sedang buruk.


Tidak banyak yang diucapkan oleh keduanya. Pernikahan mereka sedang diuji. Dan


tiap ujian pasti tidak akan melebihi kemampuan manusia itu sendiri. Tergantung


bagaimana kita menyikapinya.


“Aku… akan ke Jogjakarta. Ada pekerjaan disana. Maaf aku baru


memberitahumu.” Jawab Rangga yang baru kali ini bicara panjang pada Cecilia.


“Apa perlu aku temani?”


“Tidak. Bukankah kamu harus mengurus kafe dan toko roti.”


“Hmm, baiklah. Kamu hati-hati ya disana. Jangan lupa mengabariku


jika sudah tiba disana.”


“Pasti.” Jawab Rangga singkat kemudian mengecup kening Cecil lama.


Kegiatan yang rasanya sudah lama tidak Rangga lakukan.


Cecil merasa berat melepas kepergian suaminya. Ini adalah pertama


kalinya Rangga pergi tanpa ditemani olehnya.


“Aku pergi. Kamu hati-hati ya di rumah.” Pamit Rangga sebelum


akhirnya benar-benar tak terlihat lagi oleh mata Cecilia.


-Jogjakarta-


Rangga tiba di kota berjuluk kota pelajar ini dan langsung memesan


taksi menuju kediaman ibunya. Rangga memandangi kota yang dulu dijadikan Cecil


sebagai tempat pelariannya hingga menemukan cinta yang sesungguhnya kepada Sang


Ilahi.

__ADS_1


Isma amat gembira melihat kedatangan putra tunggalnya itu. Ia menyambut


Rangga dengan memeluknya lama. Terlihat Rosida juga sangat gembira dengan


kedatangan Rangga. Ia tak berhenti tersenyum pria idaman hatinya tiba-tiba


datang kesana.


Isma menyiapkan satu kamar untuk Rangga beristirahat. Ya, Rangga


kemari bukan untuk bekerja. Itu hanya alasannya saja pada Cecil. Ia ingin


menenangkan diri sama seperti dulu saat Cecil datang kemari. Isma tahu ada yang


tidak beres dengan putranya itu. Namun ia enggan bertanya hingga Rangga sendiri


yang akan bercerita padanya.


Hingga malam pun tiba, Rangga mengikuti berbagai kajian yang


diadakan di pondok pesantren itu. ternyata hatinya lebih tenang meski beberapa


hari lalu ia baru saja mendapati kenyataan pahit tentang dirinya.


Usai makan malam, Rangga berkumpul bersama Isma dan Farid, tak lupa


Ros juga ikut bergabung. Ros sangat bahagia karena mengira Rangga datang ingin


menemui dirinya dan mengatakan bersedia menikahinya.


mengawali.


Tampak raut wajah serius menghiasi wajah Isma dan Farid. Sementara


Ros, ia malah senyam-senyum tidak jelas.


“Sebelumnya aku minta maaf karena harus mengatakan ini…” lanjut


Rangga.


Seketika senyum di wajah Ros kian menghilang.


“Ada apa, nak? Apa terjadi sesuatu dengan Khumaira?” Tanya Isma.


“Bukan, Umi.” Rangga menyerahkan sebuah kertas pada ibunya.


Isma membuka kertas itu yang berisi hasil lab pemeriksaan Rangga


beberapa hari lalu. Isma menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia


baca.


“Apa maksudnya ini, nak?” Tanya Isma dengan bibir bergetar. Karena

__ADS_1


mengetahui istrinya begitu syok setelah membaca kertas dari Rangga, Farid pun


merebut kertas itu dari tangan Isma dan membacanya.


Farid menatap Rangga tidak percaya. “Apa ini benar?” Tanya Farid.


Rangga mengangguk. “Iya, abah, umi. Aku benar-benar minta maaf


pada kalian. Aku… tidak bisa menikahi Ros…”


Ros amat terkejut dengan pernyataan Rangga. Ia tidak terima jika


kakak tirinya itu akan menolak dirinya. Memang sejak awal ia juga tahu jika


Rangga tidak akan mau melakukan rencana Cecil, namun kedatangan Rangga yang


tiba-tiba membuat Ros merasa jika masih ada sedikit harapan untuknya bisa


bersama dengan Rangga.


“Kenapa, Mas? Kenapa Mas menolak Ros?” Tanya Ros dengan terisak.


“Ros…” Isma berusaha menenangkan putri tirinya itu.


“Karena meski kita menikah, aku tetap tidak akan bisa memiliki


keturunan. Bukan hanya Cecil yang tidak bisa memiliki keturunan, tapi aku juga…”


ungkap Rangga dengan berkaca-kaca. Ia langsung bersimpuh di kaki Isma. Ia menangis


disana. Kesedihannya tidak bisa lagi ia bendung.


“A-apa?!” Ros merasa tubuhnya melemas. Ia pun juga membaca kertas


di tangan Farid. “Ini… tidak mungkin…”


“Maafkan aku, Umi… Maafkan aku… Aku benar-benar suami yang


buruk. Aku bahkan sudah menyakiti Cecilia… Maafkan aku…” Rangga menangis


meraung-raung di kaki Isma.


Isma membawa Rangga untuk duduk di sampingnya. Dan memeluk


putra semata wayangnya itu.


“Bersabarlah, nak. Allah sedang menguji kalian. Kalian harus


kuat ya!” ucap Isma sambil mengusap-usap punggung Rangga yang bergetar karena


tangisnya.


Ros mematung tidak percaya jika hal seperti ini akan

__ADS_1


terjadi. Ia pun memilih untuk pergi meninggalkan kamar orang tuanya.


#bersambung….


__ADS_2