
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Pagi itu Rangga sudah bersiap menata pakaiannya kedalam tas koper.
Cecilia yang penasaran pun akhirnya bertanya pada suaminya itu.
“Mas, kamu mau kemana?”
Sudah beberapa hari ini komunikasi mereka memang sedang buruk.
Tidak banyak yang diucapkan oleh keduanya. Pernikahan mereka sedang diuji. Dan
tiap ujian pasti tidak akan melebihi kemampuan manusia itu sendiri. Tergantung
bagaimana kita menyikapinya.
“Aku… akan ke Jogjakarta. Ada pekerjaan disana. Maaf aku baru
memberitahumu.” Jawab Rangga yang baru kali ini bicara panjang pada Cecilia.
“Apa perlu aku temani?”
“Tidak. Bukankah kamu harus mengurus kafe dan toko roti.”
“Hmm, baiklah. Kamu hati-hati ya disana. Jangan lupa mengabariku
jika sudah tiba disana.”
“Pasti.” Jawab Rangga singkat kemudian mengecup kening Cecil lama.
Kegiatan yang rasanya sudah lama tidak Rangga lakukan.
Cecil merasa berat melepas kepergian suaminya. Ini adalah pertama
kalinya Rangga pergi tanpa ditemani olehnya.
“Aku pergi. Kamu hati-hati ya di rumah.” Pamit Rangga sebelum
akhirnya benar-benar tak terlihat lagi oleh mata Cecilia.
-Jogjakarta-
Rangga tiba di kota berjuluk kota pelajar ini dan langsung memesan
taksi menuju kediaman ibunya. Rangga memandangi kota yang dulu dijadikan Cecil
sebagai tempat pelariannya hingga menemukan cinta yang sesungguhnya kepada Sang
Ilahi.
__ADS_1
Isma amat gembira melihat kedatangan putra tunggalnya itu. Ia menyambut
Rangga dengan memeluknya lama. Terlihat Rosida juga sangat gembira dengan
kedatangan Rangga. Ia tak berhenti tersenyum pria idaman hatinya tiba-tiba
datang kesana.
Isma menyiapkan satu kamar untuk Rangga beristirahat. Ya, Rangga
kemari bukan untuk bekerja. Itu hanya alasannya saja pada Cecil. Ia ingin
menenangkan diri sama seperti dulu saat Cecil datang kemari. Isma tahu ada yang
tidak beres dengan putranya itu. Namun ia enggan bertanya hingga Rangga sendiri
yang akan bercerita padanya.
Hingga malam pun tiba, Rangga mengikuti berbagai kajian yang
diadakan di pondok pesantren itu. ternyata hatinya lebih tenang meski beberapa
hari lalu ia baru saja mendapati kenyataan pahit tentang dirinya.
Usai makan malam, Rangga berkumpul bersama Isma dan Farid, tak lupa
Ros juga ikut bergabung. Ros sangat bahagia karena mengira Rangga datang ingin
menemui dirinya dan mengatakan bersedia menikahinya.
mengawali.
Tampak raut wajah serius menghiasi wajah Isma dan Farid. Sementara
Ros, ia malah senyam-senyum tidak jelas.
“Sebelumnya aku minta maaf karena harus mengatakan ini…” lanjut
Rangga.
Seketika senyum di wajah Ros kian menghilang.
“Ada apa, nak? Apa terjadi sesuatu dengan Khumaira?” Tanya Isma.
“Bukan, Umi.” Rangga menyerahkan sebuah kertas pada ibunya.
Isma membuka kertas itu yang berisi hasil lab pemeriksaan Rangga
beberapa hari lalu. Isma menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia
baca.
“Apa maksudnya ini, nak?” Tanya Isma dengan bibir bergetar. Karena
__ADS_1
mengetahui istrinya begitu syok setelah membaca kertas dari Rangga, Farid pun
merebut kertas itu dari tangan Isma dan membacanya.
Farid menatap Rangga tidak percaya. “Apa ini benar?” Tanya Farid.
Rangga mengangguk. “Iya, abah, umi. Aku benar-benar minta maaf
pada kalian. Aku… tidak bisa menikahi Ros…”
Ros amat terkejut dengan pernyataan Rangga. Ia tidak terima jika
kakak tirinya itu akan menolak dirinya. Memang sejak awal ia juga tahu jika
Rangga tidak akan mau melakukan rencana Cecil, namun kedatangan Rangga yang
tiba-tiba membuat Ros merasa jika masih ada sedikit harapan untuknya bisa
bersama dengan Rangga.
“Kenapa, Mas? Kenapa Mas menolak Ros?” Tanya Ros dengan terisak.
“Ros…” Isma berusaha menenangkan putri tirinya itu.
“Karena meski kita menikah, aku tetap tidak akan bisa memiliki
keturunan. Bukan hanya Cecil yang tidak bisa memiliki keturunan, tapi aku juga…”
ungkap Rangga dengan berkaca-kaca. Ia langsung bersimpuh di kaki Isma. Ia menangis
disana. Kesedihannya tidak bisa lagi ia bendung.
“A-apa?!” Ros merasa tubuhnya melemas. Ia pun juga membaca kertas
di tangan Farid. “Ini… tidak mungkin…”
“Maafkan aku, Umi… Maafkan aku… Aku benar-benar suami yang
buruk. Aku bahkan sudah menyakiti Cecilia… Maafkan aku…” Rangga menangis
meraung-raung di kaki Isma.
Isma membawa Rangga untuk duduk di sampingnya. Dan memeluk
putra semata wayangnya itu.
“Bersabarlah, nak. Allah sedang menguji kalian. Kalian harus
kuat ya!” ucap Isma sambil mengusap-usap punggung Rangga yang bergetar karena
tangisnya.
Ros mematung tidak percaya jika hal seperti ini akan
__ADS_1
terjadi. Ia pun memilih untuk pergi meninggalkan kamar orang tuanya.
#bersambung….