99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 08


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 welcome back to season 3. Dont forget to leave Like 👍 and Comments 😘


...*Happy Reading*...


.


.


One month after honeymoon, (satu bulan setelah bulan madu)


Cecilia masih mematung di dalam kamar mandi dan memandangi testpack yang dipegangnya. Hatinya bergemuruh saat mengetahui hasil dari alat tersebut.


"Satu garis lagi? Tidak mungkin!" Cecilia menutup mulutnya tak percaya. Ia membuang alat tes kehamilan itu ke sembarang arah.


Cecil duduk tersungkur dan menangis. Ia memeluk kedua lutut kakinya dengan punggung bergetar hebat karena tangisannya.


Ia tak kuasa untuk keluar dari kamar mandi. Ia tak punya nyali untuk melihat wajah suaminya. Hatinya begitu sesak menghadapi kenyataan yang selalu ia dapati.


Berkali-kali bahkan sebelum mereka pergi berbulan madu, ia selalu rajin mengecek apakah ia hamil atau tidak. Namun kenyataan pahit selalu ia dapatkan, bahkan setelah mereka pergi berbulan madu.


Tok tok tok


"Sayang... Kau masih didalam? Ayo turun, kita sarapan dulu..." teriak Rangga dari luar kamar mandi.


"Iya Mas, sebentar." Cecil segera menghapus air matanya dan membasuh muka. Ia tak mau Rangga tahu jika dirinya telah menangis.


Cecil mengatur nafasnya sebelum dia keluar dari kamar mandi. Ia tak mendapati sosok Rangga di dalam kamar. Itu berarti Rangga telah turun ke meja makan. Cecil segera bergegas menuju kesana.


Rangga sudah duduk di meja makan dan tersenyum pada Cecilia.


"Sayang, apa kau sakit?" tanya Rangga.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan saja."


"Jangan terlalu sibuk mencari uang. Aku masih sanggup menghidupi kita berdua bahkan dengan sepuluh anak." Rangga tertawa renyah.


DEG.


Kalimat Rangga membuat Cecil speechless. Tak bisa menanggapi apapun. Ia hanya tersenyum getir lalu mengambilkan sarapan untuk Rangga.

__ADS_1


.


.


.


.


Dan disinilah aku, menatap bangunan serba putih yang cukup megah. Beberapa tahun aku tidak kemari, ternyata Thania berhasil membangun kliniknya makin bertambah maju.


Aku turun dari mobil dan berjalan memasuki bangunan yang bertuliskan Klinik Ibu dan Anak Dokter Thania. Begitu masuk aku disambut oleh seorang pria berseragam satpam dan menanyakan apa keperluanku.


Pria berseragam itu mengarahkanku pada resepsionis klinik tersebut. Aku mendaftar sebagai pasien Thania, lalu petugas itu memintaku untuk menunggu di ruang tunggu.


Berkali-kali aku mengatur nafasku. Aku sangat takut jika apa yang aku lakukan ini akan menyakiti diriku, atau bahkan Rangga. Aku hanya ingin mengecek kesehatanku saja. Sebagai seorang wanita bersuami, tentu wajar jika aku memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Aku hanya takut jika mimpi yang selama ini kuinginkan tidak bisa terwujud. Ketakutan itu makin besar setelah tadi pagi lagi-lagi aku hanya melihat satu garis di alat itu.


"Nyonya Khumaira Wijaya." suara seorang perawat membuyarkan lamunanku.


"Iya,"


Aku mengangguk paham. Aku mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Kulihat Thania menyambutku ramah dan agak terkejut.


"Ya ampun! Jadi itu kau, Cecil? Kupikir hanya pasienku."


"Tentu saja aku adalah pasienmu." Aku memeluk Thania.


"Kau mengganti nama di kartu identitasmu ya?"


"Iya, sudah lama kok. Tapi orang-orang masih memanggilku Cecilia."


Aku dan Thania tertawa bersama.


"Ada perlu apa kau datang kesini?"


"Tentu saja memeriksakan kandunganku."

__ADS_1


"Eh?" Thania nampak bingung.


"Umm, maksudku, semacam mengecek rahimku apakah...sehat atau..." Aku mulai bingung mengutarakan niatku.


"Cecil..."


Thania menggenggam kedua tanganku. Ada apa ini? Aku mulai tak mengerti. Kenapa wajah Thania berubah sedih begitu?


"A-ada apa, Than?" Aku menguatkan hatiku untuk bertanya pada Thania.


"Sebelumnya aku minta maaf. Tapi..."


Aku berusaha menatap Thania dengan masih tenang. Karena aku memang tak mengerti apa maksud ekspresinya itu.


"Ummm, apakah Alvian tidak memberitahumu?" tanya Thania dengan ragu.


Aku tahu Thania berusaha untuk menguatkan aku. Aku tahu itu, makanya dia... Dia tak bisa langsung berterus terang padaku.


Aku segera menarik tanganku yang di genggam oleh Thania. Aku keluar dari ruang periksa dengan langkah gontai dan sempoyongan. Thania berusaha memapahku, namun aku menepis tangannya.


Aku tetap berjalan menuju tempat parkir dimana mobilku berada. Aku duduk lama di dalam mobil. Aku mengatur nafasku yang terasa mulai sesak.


Aku meraih tasku dan mencari sesuatu disana. Kartu nama. Kartu nama Mas Alvian yang pernah ia berikan padaku.


Ketemu! Aku mengambil ponselku dan menekan satu persatu nomor ponsel Alvian dengan tangan gemetar. Apa yang harus kulakukan?


Aku hanya memikirkan satu hal. Aku harus bicara dengan Mas Alvian sekarang juga.


"Halo...." suara di seberang sana yang pastinya adalah Mas Alvian.


"Halo, Mas... Ini aku..."


"Cecilia?" ucapnya terdengar sangat bahagia.


"Iya. Ini aku, Cecilia."


"Ada apa, Cil? Akhirnya kau menghubungiku juga."


"Bisa kita bertemu?"

__ADS_1


#bersambung...


__ADS_2