
...💟💟💟...
Cecilia di bawa ke rumah sakit terdekat. Ke empat sahabatnya dan juga Ismail menunggu dengan setia di depan ruangan IGD.
"Ada apa dengan Cecil? Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Atau jangan-jangan Jimmy melakukan sesuatu padanya?" Amel tak henti-hentinya bertanya.
"Tidak. Jimmy tidak melakukan apapun pada Cecil," jawab Ismail.
"Apa kau yakin?" Radit ikut menimpali.
"Iya. Ada kamera pengawas di ruangan itu."
Radit menatap Ismail dengan curiga.
"Jadi ... Yang menghubungi Cecil adalah kau? Pak Polisi?"
"Iya. Aku yang menghubunginya."
"Jadi selama ini kau sudah tahu jika Cecil sudah kembali ke Jakarta?" Radit mulai kesal karena Ismail tahu lebij banyak tentang Cecil dibanding dirinya.
"Iya. Aku sudah tahu." Ismail tetap menjawab dengan tenang.
"Radit, apa yang kau lakukan? Kenapa bertanya begitu pada Pak Polisi?" Nadine menengahi.
"Ada hubungan apa kau dengan Cecilia? Kenapa kau bisa lebih dulu tahu kepulangan Cecil dari pada kita, sahabatnya? Padahal aku sudah berusaha datang menjemputnya dan membujuknya untuk kembali tapi dia menolak." Radit terus mencecar Ismail.
"Aku adalah temannya. Itu saja. Aku banyak mendengar cerita tentang kalian dari Cecilia. Kalian adalah teman-teman yang baik."
"Oh ya? Cerita apa saja Cecil tentang kita?"
"Sudahlah, Dit. Cecil sedang sakit. Kenapa malah cari ribut sih?" Amel ikut melerai. "Yang penting Cecil sudah kembali."
"Semoga Bu Cecil baik-baik saja." akhirnya Hana ikut bicara.
"Keluarga Cecilia Wijaya!" panggil seorang dokter.
"IYA!!" mereka berlima menjawab serentak. Dan membuat sang dokter mengernyitkan dahi.
"Bagaimana keadaan Cecilia, Dok?" Tanya Radit tak sabar.
"Kondisinya normal, tidak ada yang salah. Pasien hanya menderita kelelahan dan juga stress. Saya sudah memberinya vitamin dari infus. Setelah infusnya habis, dia sudah boleh pulang. Emm, dan sebaiknya tidak perlu banyak orang yang menemaninya. Cukup satu orang saja. Kalau begitu, saya permisi."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Dok."
"Kau sudah dengar sendiri, 'kan? Dokter bilang jangan terlalu banyak orang yang menemaninya. Ayo! Kita pergi dari sini. Biar Ismail saja yang menemani Cecilia," ucap Amel pada Radit sambil menarik tangan Radit agar segera pergi.
"Aku ingin tetap disini, Mel. Kenapa bukan dia saja yang pergi?" tolak Radit.
"Kau ini!!! Apa telingamu tuli? Dokter bilang hanya satu orang saja yang menemani! Biarkan Ismail saja yang tinggal disini. Lagipula aku lebih percaya dengan Pak Polisi daripada denganmu. Ayo!" Tanpa mempedulikan lagi Radit yang meronta, Amel dan Nadine menarik tangan Radit sembari berpamitan pada Ismail.
Ismail hanya tersenyum melihat tingkah sahabat Cecilia.
"Kau beruntung, Cil. Karena memiliki sahabat seperti mereka." gumam Ismail.
...***...
"Kau sudah dengar berita hari ini?"
"Iya, aku sudah membacanya."
"Jadi benar jika Jimmy melelang semua barang-barang milik Cecil? Dan kau diam saja? Apa Nayla terlibat?" Tanya Shasha beruntun.
Alvian memijat kepalanya pelan. "Entahlah. Aku tidak bertanya pada Nayla. Dia memang pindah ke kamar utama, dan memindahkan semua barang-barang Cecil ke gudang."
"Teman-teman Cecilia ada di kantor polisi. Kau tidak membantu mereka?"
Jadi, Alvian masih belum tahu jika Cecilia sudah kembali? Batin Shasha.
Alvian berlalu dari hadapan Shasha. Ia merebahkan tubuhnya di sofa di ruang kerjanya. Karir Alvian masih belum membaik. Ditambah masalah yang terus datang bertubi-tubi setelah kepergian Cecil.
Shasha merasa iba pada sahabatnya itu. Namun ia tahu tak baik mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Cukup kemarin ia sudah menasehati Alvian tentang lebih memperhatikan Nayla.
Namun entah kenapa, hatinya malah jadi tak enak hati setelah tahu apa yang Nayla lakukan dengan barang-barang milik Cecil bersama Jimmy. Meski ia masih tak yakin, jika Nayla yang melakukan ini semua. Shasha yakin jika Jimmy yang telah meracuni pikiran Nayla.
"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Untuk sementara kau selesaikan dulu masalah pribadimu. Aku tidak bisa memaksamu bekerja jika pikiranmu tidak fokus."
Alvian membuka mata. "Terima kasih, Sha. Aku pergi dulu ya."
...***...
Ismail memandangi wajah Cecilia yang masih tak sadarkan diri. Ia merasa sedih melihat kondisi Cecil.
Ingin rasanya menggenggam tangannya, dan membelai kepalanya. Tapi itu tak mungkin Ismail lakukan. Cecilia telah berhijab sekarang. Bukan suatu hal yang pantas menyentuh Cecilia tanpa ijin, apalagi ia bukan siapa-siapa. Mereka hanya berteman.
__ADS_1
"Sepertinya dia terlalu banyak pikiran. Setelah ini, tolong jaga supaya dia tetap menjaga kondisi tubuhnya. Setelah dia siuman dan sudah merasa baik, dia boleh pulang," ucap seorang perawat setelah memeriksa kondisi Cecil.
"Terima kasih, suster," jawab Ismail dengan memberi sedikit senyuman di wajah tampannya.
Tak berapa lama, Cecilia mulai menggeliat. Ia mulai membuka matanya perlahan. Ismail setia menunggu Cecil membuka lebar matanya.
Cecilia berkedip. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ini bukan di kantor polisi lagi, pikirnya.
"Ismail... " sapanya pelan.
"Iya. Apa kau baik-baik saja?"
"Hu'um. Apa yang terjadi denganku?"
"Kamu pingsan di kantor polisi. Lalu kami membawamu kemari. Semua temanmu sudah pulang."
"Terima kasih. Apa kau memberitahu ibuku?"
"Tidak. Dia pasti akan khawatir. Lagipula kau boleh pulang kalau kondisimu sudah membaik."
"Cil ... Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi ... Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak pikiran. Maaf, aku harus bicara begini karena aku... Sudah mendengar semua percakapanmu dengan Jimmy tadi."
Cecilia menatap Ismail. "Memang sudah saatnya semua terbongkar."
"Kasus Ivana Lee yang terjadi lima tahun lalu, sudah di tutup sebagai kasus bunuh diri. Jadi ... tolong jangan menyalahkan dirimu lagi. Ini semua bukan salah kamu."
"Tapi dia bunuh diri karena kami, Ismail. Karena aku ..." buliran bening mulai membasahi kembali wajah Cecil.
"Tidak, Cil. Itu tidak benar. Dia sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
Cecilia menangis tersedu. "Apa kau tahu apa yang dikatakan ibunya padaku? Dia bilang, aku sudah menutup tubuhku dengan hijab, lalu apakah hatiku juga kututupi hijab? Aku merasa sangat malu padanya, Ismail..." suara tangisan Cecil semakin keras.
"Cil, tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia, semuanya butuh proses untuk menjadi baik. Tapi, tidak ada juga orang yang seratus persen jahat. Kamu kembali karena ingin menata ulang hidupmu. Maka lakukanlah. Jangan memikirkan hal lain lagi. Pikirkan tentang ibumu..."
Cecil menyeka air matanya. Yang dikatakan Ismail benar. Tak seharusnya ia jadi lemah begini. Ia harus kuat, tegar, demi ibunya.
"Terima kasih, Ismail. Maaf jika aku merepotkanmu..."
"Sama-sama. Tidak perlu sungkan padaku."
...💟💟💟...
__ADS_1
...bersambung...