
Satu minggu sudah aku berada dirumah ini. Rumah ibuku, bukan rumah milikku dan Mas Alvian. Aku mencoba menenangkan diri. Menerima kenyataan bahwa sekarang statusku sudah berubah. Cerai hidup. Atau orang-orang lebih familiar menyebutnya dengan kata "janda".
Apa salahnya dengan status itu? Itu bukan aib yang memalukan. Aku meyakinkan diriku kalau semua akan baik-baik saja. Lagipula tidak ada yang tahu soal perceraianku dengan Mas Alvian. Aku yakin Shasha sudah mengurus semuanya dengan baik. Tapi, apa aku bisa menyembunyikan semua ini selamanya?
Rasanya, tidak mungkin.
.
.
"Kau yakin mau berangkat kerja?" Tanya ibu padaku saat aku bersiap menuju kantor.
"Iya, Bu. Lagipula waktu cutiku sudah berakhir. Aku tidak enak dengan Pak Rangga kalau harus menambah cuti. Bagaimana jika dia curiga?"
"Ya sudah. Kau hati-hati ya." Ibu membingkai wajahku dengan kedua tangannya. "Mulai sekarang, bersemangatlah. Ada ibu bersamamu. Ceritakan semua pada ibu, jangan menyembunyikan apapun dari ibu."
"Iya, Bu. Maafkan aku karena selalu membuatmu bersedih."
Aku memeluk ibu. Ada rasa nyaman tak terkira saat aku memeluknya. Benar. Ibu adalah peraduan terakhir bagi seorang anak.
Aku janji, aku akan menjadi anak yang lebih baik lagi untukmu, ibu.
Aku janji tidak akan membuatmu bersedih lagi.
...***...
Gedung AJ Foods
Ada apa ini? Kenapa semua orang melihat ke arahku? Aku tidak masuk kerja selama satu minggu. Apa aneh jika aku kembali bekerja?
Atau mungkin terjadi sesuatu disini? Tak usah dihiraukan. Mungkin mereka hanya bergosip karena aku terlalu lama tidak masuk kerja.
Baru saja aku akan masuk ke ruanganku, namun langsung dicegat oleh Amel. Dia berlari ke arahku. Dan nafasnya terengah.
"Ada apa, Mel? Kenapa berlarian di dalam kantor?"
"Gawat, Cil. Gawat!"
"Apanya yang gawat?"
"Ini!" Amel menunjukkan sesuatu di ponselnya. Akun gosip?
"Berita soal perceraianmu dan Alvian. Apa itu benar?"
__ADS_1
DEG.
Jantungku serasa akan berhenti saja. Aku tahu aku tidak mungkin bersembunyi selamanya dari kejadian ini. Tapi kenapa harus sekarang? Kenapa secepat ini? Kenapa orang-orang sangat suka jika membicarakan masalah orang lain?
Apa yang harus aku katakan pada Amel? Berita itu memang benar. Tapi aku belum bisa mengatakannya sekarang. Aku tidak sanggup mengakuinya.
.
.
.
Kehebohan dikantor AJ Foods karena ulah akun gosip yang memposting foto dokumen perceraianku dan Mas Alvian, sudah terdengar ke seluruh bagian perusahaan.
Ditambah lagi tiba-tiba banyak wartawan berdatangan mencariku untuk meminta klarifikasi.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menemui mereka? Keadaan sudah tidak nyaman ditambah lagi Nadine yang merasa ini bisa mencoreng citra perusahaan, terus mendesak Pak Rangga agar bertindak tegas padaku.
"Ini akan merusak citra perusahaan, Rangga. Kau harus cepat ambil tindakan! Minta Cecilia agar menemui wartawan di luar, supaya mereka cepat pergi dari sini." Ucap Nadine saat Pak Rangga meminta para manajer berkumpul di ruang rapat, termasuk juga aku.
Aku hanya diam mendengar ucapan Nadine.
"Hei, kau! Cepat jelaskan pada kami! Apa benar yang diberitakan oleh akun gosip itu?" Nadine mulai mencecarku.
"Tolong, Nadine! Jangan memojokkan Cecilia! Bisa saja berita itu adalah bohong. Mereka hanya ingin mencari sensasi."
Aku terkejut karena ternyata Pak Rangga membelaku.
"Tidak mungkin mereka mengeluarkan berita tanpa ada bukti. Buktinya disana tertulis nama Cecilia dan nama suaminya. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaanku! Apa benar kau sudah bercerai dengan suamimu?" Nadine tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Saya hanya akan menjawab jika Pak Rangga sebagai atasan saya disini, meminta saya untuk menjawabnya." Jawabku tegas meski dengan suara bergetar.
Pak Rangga menatapku. Sepertinya dia ingin melindungiku. Tapi, entahlah. Aku juga bingung dengan maksud tatapannya itu.
Manajer yang lain ikut menyetujui usulan dari Nadine. Mereka ikut mendesakku agar menjawab pertanyaan dari Nadine.
Pak Rangga... Saat ini aku benar-benar butuh pertolonganmu. Aku mohon bersikaplah dengan bijak untuk menyelesaikan masalah ini. Aku mohon...
Tatapan matanya sungguh berbeda dengan yang biasa kulihat. Aku melihat Pak Rangga juga bingung harus melakukan apa.
Ya Tuhan! Semoga dia tidak membuat masalah ini semakin rumit.
"Baiklah."
__ADS_1
DEG. Akhirnya Pak Rangga bicara.
"Cecilia, saya minta maaf. Sebaiknya---jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi. Saya janji saya akan melindungi kamu jika kamu berkata jujur."
"Saya---saya---memang sudah berpisah dengan suami saya." Jawabku menundukkan kepala.
Semua orang di ruang rapat berbisik keras membicarakanku.
"Tenang semuanya!!" Pak Rangga menengahi.
"Cecil, jadi apa yang ditulis oleh akun gosip itu adalah benar?"
"Iya, Pak. Semua itu benar. Tapi saya janji, semua ini tidak akan mempengaruhi kinerja saya di AJ Foods."
"Apa kau bilang? Tidak pengaruh? Coba lihat semua wartawan itu? Mereka menunggumu di depan kantor. Kau pikir ini tidak mempengaruhi reputasi AJ Foods? Kau yang bermasalah, kenapa perusahaan jadi kena imbasnya?" Nadine selalu punya cara untuk memojokkanku.
Kalimat Nadine membuat para manajer semakin tak bisa mengontrol emosi mereka.
"Tenang semuanya! Saya perintahkan kalian untuk tidak keluar kantor hingga para wartawan itu pergi. Saya yang akan mengurusnya. Dan kamu Cecil, jangan temui wartawan itu. Kau mengerti?!"
"Tapi, Rangga--?"
"Hentikan Nadine! Biar aku yang mengurusnya! Kalian tidak usah ikut campur dalam urusan ini!" Mata Pak Rangga menunjukkan amarah, kemudian meninggalkan ruang rapat.
Nadine berjalan ke arahku. Dia menyilangkan tangannya sambil berbisik padaku.
"Apa kau puas sekarang? Kau selalu saja membuat masalah! Entah itu dulu maupun sekarang. Aku ucapkan selamat untukmu. Karena kau berhasil membuat Rangga berpihak padamu."
Nadine melenggang pergi setelah mengatakan semua hal itu padaku. Dan para manajer juga ikut keluar dari ruang rapat. Mereka menatapku dengan sinis. Mereka pasti membenciku.
Tuhan, cobaan apa lagi ini?
Aku tak bisa menahan air mataku. Buliran bening itu terus mengalir di pipiku tanpa kusuruh.
Baru saja aku mencoba menenangkan hatiku, namun sekarang hatiku mulai rapuh kembali.
Amel mendatangiku yang masih duduk di ruang rapat. Matanya sudah ikut berkaca-kaca melihatku yang berurai air mata.
"Cecil----" Amel memelukku dengan erat. Aku menangis dalam dekapannya. Saat ini aku butuh seorang teman yang bisa mengerti situasiku.
Tangisku makin kencang dan pilu. Hingga aku tak menyadari ada sepasang mata yang ikut terharu mendengar tangisanku.
...***...
__ADS_1
(bersambung)