
... πππ...
"Umi... Coba lihat siapa yang datang..." Ucap Farid pada Isma.
"Siapa, Bah?" Isma membetulkan letak jilbabnya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Rangga??!!" Isma sangat terkejut sekaligus senang. Dengan cepat diraihnya tubuh Rangga dan dipeluknya.
Di tangkupkan kedua tangannya kedalam wajah Rangga, lalu diciuminya, pipi, kening, bahkan rambutnya.
Kerinduan akan sosok putranya selama dua puluh tahun terbayar sudah. Isma menangis haru.
"Putraku... Putraku kembali..." Dipeluknya dengan erat putra kecilnya yang kini sudah jadi pria dewasa yang tampan.
"Ma... Aku bukan anak kecil lagi..." Rangga meraih tangan Isma.
"Bagiku, kamu tetap putra kecil mama..." Isma tersenyum bahagia. Tangis harunya memenuhi seisi ruangan.
Setelah beberapa lama, Isma mengusap air matanya dan duduk berdampingan dengan putranya. Terus ditatapnya dengan lekat putra semata wayangnya itu.
"Ja-jangan menatapku seperti itu, Ma. Aku... Jadi malu..."
"Maaf. Mama terlalu senang karena kamu datang menemui Mama."
"Maaf karena kemarin aku malah pergi saatΒ melihat Mama."
"Tidak apa, Nak. Mama mengerti perasaanmu. Kamu pasti kecewa dan marah."
"Ma, aku sudah tahu semuanya dari Tante Sandra. Bisakah aku juga mengetahuinya dari Mama? Apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun lalu..."
Isma terdiam. Ia tidak mau membuka lembaran lamanya yang sudah ia tutup. Tapi, putranya ingin mengetahui kebenarannya.
"Rangga, sebaiknya kamu jangan memaksa Mamamu," ucap Farid.
"Tidak apa, Bah. Rangga berhak tahu." Balas Isma.
"Aku tidak akan pergi lagi dari Mama ataupun Papa. Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Aku ingin memperbaiki semua ini."
"Baiklah. Mama akan ceritakan semua padamu."
Isma menghela nafas.
"Kakekmu, Adnan Jaya, memiliki hutang budi dengan keluarga Mama. Mereka berhutang nyawa pada keluarga Mama. Karena menyelamatkan kakekmu, ayah Mama meninggal. Dan sebagai balas budi terhadap keluarga Mama, kakek Andnan menjodohkan Mama dengan Papa kamu.
Mama tahu jika saat itu Papa kamu sudah memiliki kekasih, yaitu Sandra. Karena pernikahan Mama dan Papa, hubungan mereka putus. Dan mama tidak tahu kemana perginya Sandra.
Meski kami menikah tanpa adanya cinta, tapi mama beruntung bisa memiliki kamu. Dan papamu sangat bahagia begitu tahu saat mama mengandung anak laki-laki.
Mama pikir seiring berjalannya waktu, papa kamu bisa mencintai mama karena ada kamu diantara kami." Isma menghentikan ceritanya.
"Apa mama mencintai papa?"
"Iya, nak. Mama mulai mencintai papamu karena sikapnya yang begitu perhatian saat mama mengandungmu.
Tapi, mama tidak habis pikir, setelah kamu lahir, papamu membuat sebuah perjanjian yang menyatakan jika salah satu dari kami ingin mengakhiri pernikahan ini, maka dia tidak berhak atas hak asuhmu.
Mama setuju untuk menandatanganinya. Karena mama pikir, mama tidak akan pernah menginginkan hubungan ini berakhir.
Hingga saat kamu berusia 12 tahun, papamu tiba-tiba membawa Sandra kedalam rumah kami. Mama sudah tahu tentang pernikahan mereka yang sembunyi-sembunyi. Tapi mama tidak menyangka jika Sandra akan masuk kedalam rumah keluarga kami.
Kakekmu sangat syok dan akhirnya meninggal dunia. Sandra terus meminta maaf pada mama. Mama sangat membencinya saat itu. Hingga membuat papamu murka dan berniat menceraikan mama.
__ADS_1
Mama pikir, akan lebih baik jika mama menyudahi pernikahan ini. Maka mama setuju untuk berpisah. Maafkan mama karena saat itu mama egois. Harusnya mama bisa bertahan demi kamu. Maafkan mama, Rangga. Mama egois... Tidak memikirkan bagaimana perasaan kamu." Isma terisak setelah menyudahi ceritanya.
"Apa Mama sudah memaafkan Papa dan Tante Sandra?"
Isma mengangguk. "Mama sudah mengikhlaskan semuanya. Mama sudah hidup tenang sekarang."
Rangga terdiam. Ingatannya kembali ke hari itu. Hari dimana mamanya meninggalkannya.
.
.
.
"Ma!!! Mama mau kemana?" tanya Rangga kecil dengan diiringi tangis melihat mamanya membawa barang-barangnya.
"Maafkan mama, nak. Mama harus pergi. Kamu tinggallah bersama papa, dan tante Sandra." Ucap mamanya sebelum pergi.
"Tidak!!! Mama!!! Jangan tinggalkan aku!!!" Rangga kecil meronta namun Adi Jaya memegangi lengannya.
Sementara Sandra terisak dengan perut buncitnya.
"Biarkan mamamu pergi! Dia memang ingin meninggalkanmu!!" Berkali-kali Adi Jaya meyakinkan Rangga kecil bahwa mamanya pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
Rangga mengalami pergolakan batin yang hebat untuk bisa menerima kenyataan tentang orang tuanya. Meski banyak kesakitan telah dialami Mamanya, namun kini Rangga bisa melihat jika Mamanya sudah mendapat kebahagiaan dengan seseorang yang tulus mencintainya.
Rangga membatin ketika melihat kasih sayang yang diberikan Farid kepada Mamanya.
Mungkin inilah takdir untuk mereka semua. Takdir yang harus Rangga terima dengan lapang dada.
"Sejak kapan Mama mengenal Cecilia?" Tanya Rangga saat sedang membantu Isma memasak didapur.
"Eh? Cecilia? Dia datang kemari saat dulu sedang ada masalah dengan mantan suaminya. Dia bercerita banyak pada Umi, lalu dia jadi sering kemari untuk mengikuti kajian saat Umi sedang di Jakarta. Kisah hidupnya agak mirip dengan kisah hidup Umi. Maka dari itu, Umi bersedia menolongnya."
"Umi?" Dahi Rangga berkerut.
"Ah, maaf. Mama terbiasa mengucap kata Umi untuk diri Mama."
"Tidak apa. Aku suka kok. Umi... Aku juga akan memanggil Umi, boleh 'kan?"
"Tentu saja. Umi itu 'kan sama saja dengan ibu atau mama."
"Ah begitu ya. Hahaha." Rangga memaksakan tawanya sambil menggaruk tengkuknya. "Sepertinya aku harus belajar lebih dalam tentang agama, Umi."
"Boleh, sangat boleh. Tidak ada kata terlambat untuk belajar."
"Rangga, perkenalkan, ini Rosida. Dia adalah adik tiri kamu." Farid datang dengan membawa seorang gadis berhijab, Rosida.
"Oh, hai." sapa Rangga.
"Senang mendengar aku kini memiliki saudara," jawab Ros datar.
"Dia?" tanya Rangga dengan menunjuk ke arah Rosida.
__ADS_1
"Dia putri Abah Farid," jawab Umi Isma cepat.
"Oh, begitu. Aku kira dia anak Umi juga."
"Apa maksudmu? Aku memang anak Umi kok. Iya 'kan, Umi?" Ledek Ros pada Rangga dengan bergelayut manja di lengan Isma.
Kemudian mereka berempat pun tertawa.
...***...
"Senang bisa melihat Umi tertawa bahagia seperti tadi." Ungkap Ros saat berjalan berkeliling komplek masjid bersama Rangga.
"Terima kasih karena sudah menjaga Umi dengan baik. Aku senang karena ternyata dia bertemu dengan orang baik seperti kalian."
"Aku juga berterimakasih. Karena Umi, aku bisa memiliki seorang Ibu."
"Berapa usiamu? Apa kamu sudah menikah?"
"Eh, kenapa memangnya? Aku belum mau menikah. Lebih tepatnya, belum ada yang cocok menurut Abah dan Umi untukku."
"Apa mereka pemilih?"
"Umm, menurutmu begitu? Mas Rangga?"
"Cih, mimpi apa aku semalam. Sekarang aku memiliki dua adik perempuan yang akan bermanja-manja pada kakak tampannya ini sepanjang hari."
"Dih, jangan terlalu percaya diri ya. Aku bukan anak manja."
"Kelihatannya memang bukan sih. Kamu bahkan lebih galak. Itu mungkin penyebab kamu susah jodoh, hahaha."
"Sialan! Apa kamu bilang?" Ros memukul lengan Rangga.
"Aduh! Sakit tahu!"
"Syukurin! Jangan pernah meremehkan anak perempuan."
"Aku tidak meremehkanmu. Oh ya, besok ada waktu? Akan kukenalkan dengan adikku, Sheila."
"Si anak manja?"
"Dia baru berusia 20 tahun. Jangan menyebutnya begitu."
"Oh ya? Berarti aku lebih tua 5 tahun darinya. Jadi, jangan macam-macam denganku."
"Dih, kamu memang garang."
Ros mengepalkan tangannya kembali ke arah Rangga.
"Aku akan minta ijin pada Umi dan Abah dulu. Besok akan aku kabari lagi. Ah, Aku sudah terlambat. Ada kajian baca Alqur'an. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Senang bertemu denganmu, Mas Rangga..." Ros mengedipkan sebelah matanya pada Rangga.
Rangga tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Oke. Selamat belajar, Adikku sayang..." Rangga melambaikan tangan pada adik barunya yang mulai berlari menjauhinya.
Kamu benar, Cil. Dengan memaafkan, hati kita jadi lebih tenang. Rasa sakit yang pernah kurasa, mulai pudar perlahan. Meski aku tak bisa mengulang waktu yang hilang bersama Mama, tapi kini aku akan membuat kenangan yang lebih indah dengannya. Terima kasih, Cecilia... Karena sudah hadir di hidupku.
...πππ...
...Bersambung........
*Sekedar info: orang2 tua jaman dulu kan memang kebanyakan menikah karena dijodohkan. dan meski tidak saling cinta, tapi mereka memiliki anak. Nah kisah Anna dan Adi, kuambil dari kisah adiknya nenekku, yg menikah karena dijodohkan dan tanpa cinta, tapi memiliki satu anak, cowok, yg sekarang kupanggil Om. tapi rumah tangga mereka akhirnya kandas karena memang tak ada cinta. dan akhirnya kini mereka sudah memiliki pasangan masing2 dan hidup bahagia.
__ADS_1
#Jangan lupa tinggalkan jejak kalian π£π£
terima kasih ππ