
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Keesokan harinya, Cecil bangun dan menemui Ros di kamar
tamu. Ros juga sudah bangun dan ingin membantu Cecil untuk memasak sarapan. Mereka
berdua memasak bersama di dapur. Namun secara tiba-tiba Cecil undur diri untuk
kembali ke kamar dengan alasan memanggil Rangga.
Saat akan menuju kamarnya, Cecil melihat Rangga keluar dari
dalam kamar mereka. Ia segera bersembunyi agar Rangga tidak melihatnya. Sesuai dugaan
Cecil, Rangga menuju dapur untuk menemui Cecil.
Rangga justru bertemu Rosida yang sedang memasak.
“Lho, Ros? Kau ada disini? Mana Cecil?” Tanya Rangga.
“Bukankah tadi Mbak Cecil memanggil Mas Rangga ke kamar?”
“Hmm, tidak. Aku tidak melihat Cecil. Kau masak apa? Baunya sangat
harum. Mas jadi lapar…”
Cecil melihat interaksi antara Rangga dan Ros dari kejauhan.
Ia tersenyum.
“Mereka terlihat cocok. Semoga mereka akan semakin dekat
setelah ini.” Gumam Cecil.
Rangga menyicip makanan yang dimasak oleh Ros.
“Hmm, ini enak, Ros. Kau pandai memasak juga.”
“Hehe, terima kasih, Mas.”
Tiba-tiba bunyi ponsel menginterupsi kegiatan memasak mereka.
“Ros, ponselmu berbunyi. Kau angkatlah dulu. Biar aku yang melanjutkan memasak.” ucap Rangga.
“Ah, iya. Tolong ya, Mas.”
Ros meraih ponselnya dan agak menjauh dari dapur. Sebuah panggilan dari Isma.
“Assalamu’alaikum, Umi.”
“Wa’alaikumsalam. Kamu
sedang apa, Nduk?”
“Ros sedang membuat sarapan, Umi.”
“Ooh, begitu. Bersama Sandra?”
“Ros, ini sudah matang, apa dimatikan saja kompornya?”
teriak Rangga.
“Nduk, itu suara siapa?” Tanya Isma.
“Itu suara Mas Rangga, Umi. Ros semalam menginap di rumah Mas
Rangga dan Mbak Cecil.”
“Astaghfirullah, Ros. Tidak
__ADS_1
baik kamu menginap di rumah pasangan suami istri, meskipun itu kakakmu sendiri.
Takut ada fitnah, nduk.”
“Maaf, Umi. Kemarin Ros hanya berniat berkunjung ke rumah
Mbak Cecil, tapi ternyata kemalaman untuk pulang, jadi Mbak Cecil menawarkan
Ros untuk menginap. Tapi tenang saja , Umi. Ros tetap menutup aurat Ros di
depan Mas Rangga kok.” jelas Ros panjang lebar.
“Ya sudah. Sebaiknya jangan
diulangi lagi ya. Setelah ini kau harus segera pulang.”
“Iya, Umi. Maaf. Ros tidak akan mengulanginya lagi.”
Setelah panggilan berakhir, Ros beralih menatap Rangga yang nampak
sedang menyiapkan makanan diatas meja makan. Entah kenapa ada rasa tak biasa
yang dirasakan oleh Ros.
“Mas Rangga pria yang sangat baik. Dia juga sangat mencintai
Mbak Cecil. Sungguh membuat iri.” Gumam Ros.
Cecilia akhirnya turun dan menemui Rangga. Cecil memanggil
Ros yang masih mematung. Mereka bertiga sarapan bersama. Ros tampak
memperhatikan sikap manis yang ditunjukkan Rangga kepada Cecil. Ia hanya tersenyum
kecil melihat kebersamaan mereka.
Ros berangkat ke kantor bersama dengan Rangga. Selama perjalanan,
Ros memperhatikan wajah Rangga dari samping. Meski hanya mencuri pandang, namun
“Ada apa, Adikku? Apa kau merasa jika kakakmu ini sangat
tampan? Haha.”
“Dih, apaan sih? Jangan terlalu percaya diri deh.”
“Nah itu baru adikku. Sedari tadi kau hanya diam, seperti
bukan Ros adikku saja.”
Adik? Benar. Mas Rangga
hanya menganggapku sebagai adiknya. Astaghfirullah, Ros. Apa sih yang kau
pikirkan? Mas Rangga adalah kakakku. Dan akan selalu begitu.
“Aku ingin memiliki suami seperti Mas Rangga…” Entah kenapa
kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ros.
Rangga tertawa renyah. “Hmm, baiklah. Aku akan carikan pria
sepertiku. Tapi apa kau tahu, aku adalah pria yang dingin. Kau tanya saja pada
Cecil. Dia bahkan sangat membenciku saat pertama kali bertemu denganku.”
“Tapi Mas Rangga adalah pria yang baik dan sangat mencintai
istrinya. Aku juga ingin dicintai seperti itu…”
Rangga tersenyum melirik ke arah Ros. “Insha Allah, Ros. Kau
pasti akan mendapatkan cinta dari pria seperti itu…”
Ada secercah senyum terukir di bibir Ros.
__ADS_1
,
,
,
,
Cecilia sedang membersihkan meja- meja di kafe karena kafe
akan segera tutup. Hari ini semua terasa cepat. Cecilia sangat fokus hingga
tidak melihat seseorang yang sudah berdiri di depannya.
“Umi? Umi sedang ada di Jakarta?” Cecilia cukup kaget dengan
kedatangan ibu mertuanya itu.
“Iya, kebetulan Abah sedang ada urusan di Jakarta.”
“Silahkan duduk, Umi.”
Entah kenapa Cecil merasa jika atmosfer yang dibawa Isma
sangat berbeda dari biasanya. Cecil membuatkan secangkir teh untuk ibu
mertuanya.
“Silahkan diminum, Umi.” Ucap Cecil.
“Terima kasih.”
“Kenapa Umi tidak menghubungiku lebih dulu? Aku bisa
menjemput Umi dan Abah di bandara.”
“Tidak perlu. Kau sudah sangat sibuk di kafe, Umi tidak mau
merepotkanmu.”
Cecil menyesap tehnya perlahan. Ia merasa ada yang tidak
beres dengan kedatangan Isma yang tiba-tiba.
“Khumaira…”
“Iya, Umi.”
“Apa maksudmu meminta Ros menginap di rumahmu?”
“Eh?”
“Umi tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Sebaiknya
katakan yang sejujurnya pada Umi.”
Cecil meremas gamisnya. Ia merasa sudah terciduk bahkan
sebelum memulai.
“Kau sendiri tahu, bukan, tidak baik jika ada wanita lain
yang masuk kedalam rumah tangga seseorang, meski dia adalah saudara orang itu
sendiri. Jadi, katakan yang sebenarnya pada Umi. Umi akan mendengar semua
ceritamu…”
#bersambung…
“pernah dengar kalimat ini?
Seorang tamu tidak akan bisa masuk ke dalam rumah seseorang,
jika tuan rumahnya tidak mengijinkan…”
__ADS_1