99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 – Bagian 15


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta


Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.


*Happy Reading*


Keesokan harinya, Cecil bangun dan menemui Ros di kamar


tamu. Ros juga sudah bangun dan ingin membantu Cecil untuk memasak sarapan. Mereka


berdua memasak bersama di dapur. Namun secara tiba-tiba Cecil undur diri untuk


kembali ke kamar dengan alasan memanggil Rangga.


Saat akan menuju kamarnya, Cecil melihat Rangga keluar dari


dalam kamar mereka. Ia segera bersembunyi agar Rangga tidak melihatnya. Sesuai dugaan


Cecil, Rangga menuju dapur untuk menemui Cecil.


Rangga justru bertemu Rosida yang sedang memasak.


“Lho, Ros? Kau ada disini? Mana Cecil?” Tanya Rangga.


“Bukankah tadi Mbak Cecil memanggil Mas Rangga ke kamar?”


“Hmm, tidak. Aku tidak melihat Cecil. Kau masak apa? Baunya sangat


harum. Mas jadi lapar…”


Cecil melihat interaksi antara Rangga dan Ros dari kejauhan.


Ia tersenyum.


“Mereka terlihat cocok. Semoga mereka akan semakin dekat


setelah ini.” Gumam Cecil.


Rangga menyicip makanan yang dimasak oleh Ros.


“Hmm, ini enak, Ros. Kau pandai memasak juga.”


“Hehe, terima kasih, Mas.”


Tiba-tiba bunyi ponsel menginterupsi kegiatan memasak mereka.


“Ros, ponselmu berbunyi. Kau angkatlah dulu. Biar aku yang melanjutkan memasak.” ucap Rangga.


“Ah, iya. Tolong ya, Mas.”


 


Ros meraih ponselnya dan agak menjauh dari dapur. Sebuah panggilan dari Isma.


“Assalamu’alaikum, Umi.”


“Wa’alaikumsalam. Kamu


sedang apa, Nduk?”


“Ros sedang membuat sarapan, Umi.”


“Ooh, begitu. Bersama Sandra?”


“Ros, ini sudah matang, apa dimatikan saja kompornya?”


teriak Rangga.


“Nduk, itu suara siapa?” Tanya Isma.


“Itu suara Mas Rangga, Umi. Ros semalam menginap di rumah Mas


Rangga dan Mbak Cecil.”


“Astaghfirullah, Ros. Tidak

__ADS_1


baik kamu menginap di rumah pasangan suami istri, meskipun itu kakakmu sendiri.


Takut ada fitnah, nduk.”


“Maaf, Umi. Kemarin Ros hanya berniat berkunjung ke rumah


Mbak Cecil, tapi ternyata kemalaman untuk pulang, jadi Mbak Cecil menawarkan


Ros untuk menginap. Tapi tenang saja , Umi. Ros tetap menutup aurat Ros di


depan Mas Rangga kok.” jelas Ros panjang lebar.


“Ya sudah. Sebaiknya jangan


diulangi lagi ya. Setelah ini kau harus segera pulang.”


“Iya, Umi. Maaf. Ros tidak akan mengulanginya lagi.”


Setelah panggilan berakhir, Ros beralih menatap Rangga yang nampak


sedang menyiapkan makanan diatas meja makan. Entah kenapa ada rasa tak biasa


yang dirasakan oleh Ros.


“Mas Rangga pria yang sangat baik. Dia juga sangat mencintai


Mbak Cecil. Sungguh membuat iri.” Gumam Ros.


Cecilia akhirnya turun dan menemui Rangga. Cecil memanggil


Ros yang masih mematung. Mereka bertiga sarapan bersama. Ros tampak


memperhatikan sikap manis yang ditunjukkan Rangga kepada Cecil. Ia hanya tersenyum


kecil melihat kebersamaan mereka.


Ros berangkat ke kantor bersama dengan Rangga. Selama perjalanan,


Ros memperhatikan wajah Rangga dari samping. Meski hanya mencuri pandang, namun


“Ada apa, Adikku? Apa kau merasa jika kakakmu ini sangat


tampan? Haha.”


“Dih, apaan sih? Jangan terlalu percaya diri deh.”


“Nah itu baru adikku. Sedari tadi kau hanya diam, seperti


bukan Ros adikku saja.”


Adik? Benar. Mas Rangga


hanya menganggapku sebagai adiknya. Astaghfirullah, Ros. Apa sih yang kau


pikirkan? Mas Rangga adalah kakakku. Dan akan selalu begitu.


“Aku ingin memiliki suami seperti Mas Rangga…” Entah kenapa


kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ros.


Rangga tertawa renyah. “Hmm, baiklah. Aku akan carikan pria


sepertiku. Tapi apa kau tahu, aku adalah pria yang dingin. Kau tanya saja pada


Cecil. Dia bahkan sangat membenciku saat pertama kali bertemu denganku.”


“Tapi Mas Rangga adalah pria yang baik dan sangat mencintai


istrinya. Aku juga ingin dicintai seperti itu…”


Rangga tersenyum melirik ke arah Ros. “Insha Allah, Ros. Kau


pasti akan mendapatkan cinta dari pria seperti itu…”


Ada secercah senyum terukir di bibir Ros.

__ADS_1


,


,


,


,


Cecilia sedang membersihkan meja- meja di kafe karena kafe


akan segera tutup. Hari ini semua terasa cepat. Cecilia sangat fokus hingga


tidak melihat seseorang yang sudah berdiri di depannya.


“Umi? Umi sedang ada di Jakarta?” Cecilia cukup kaget dengan


kedatangan ibu mertuanya itu.


“Iya, kebetulan Abah sedang ada urusan di Jakarta.”


“Silahkan duduk, Umi.”


Entah kenapa Cecil merasa jika atmosfer yang dibawa Isma


sangat berbeda dari biasanya. Cecil membuatkan secangkir teh untuk ibu


mertuanya.


“Silahkan diminum, Umi.” Ucap Cecil.


“Terima kasih.”


“Kenapa Umi tidak menghubungiku lebih dulu? Aku bisa


menjemput Umi dan Abah di bandara.”


“Tidak perlu. Kau sudah sangat sibuk di kafe, Umi tidak mau


merepotkanmu.”


Cecil menyesap tehnya perlahan. Ia merasa ada yang tidak


beres dengan kedatangan Isma yang tiba-tiba.


“Khumaira…”


“Iya, Umi.”


“Apa maksudmu meminta Ros menginap di rumahmu?”


“Eh?”


“Umi tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Sebaiknya


katakan yang sejujurnya pada Umi.”


Cecil meremas gamisnya. Ia merasa sudah terciduk bahkan


sebelum memulai.


“Kau sendiri tahu, bukan, tidak baik jika ada wanita lain


yang masuk kedalam rumah tangga seseorang, meski dia adalah saudara orang itu


sendiri. Jadi, katakan yang sebenarnya pada Umi. Umi akan mendengar semua


ceritamu…”


#bersambung…


“pernah dengar kalimat ini?


Seorang tamu tidak akan bisa masuk ke dalam rumah seseorang,


jika tuan rumahnya tidak mengijinkan…”

__ADS_1


__ADS_2