99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 13


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta


Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.


*Happy Reading*


Aku mematung melihat pemandangan didepanku. Namun secercah


senyum terukir di bibirku. Aku bahagia melihat kebersamaan kakak beradik ini


yang tidak ada hubungan darah sama sekali diantara mereka. Aku larut dalam


lamunan dan impianku. Impianku untuk membuat suamiku bahagia dengan hadirnya


buah hati diantara kami.


“Mbak Maira?” suara itu membuyarkan lamunanku.


“Eh? Ros? Umi memintaku untuk memanggilmu dan Mas Rangga


bergabung sarapan bersama.”


“Oh, oke. Aku kesana ya.”


Ros meninggalkan aku dan Rangga. Aku tersenyum ketika


Rangga menghampiriku.


“Sayang…” sapa Rangga dengan memelukku. Dia memang selalu


manis.


“Ayo sarapan dulu! Hari ini kau pasti akan disibukkan


dengan banyak meeting.” Ucapku membelai wajah Rangga.


“Ayo!” Rangga merangkul bahuku dan kami menuju meja


makan.


Selama sarapan, kami terdiam dan tak boleh ada yang


bicara. Usai sarapan kami berkumpul di ruang keluarga untuk bercengkerama


sejenak sebelum disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


“Oh ya, Ros, apa kau akan tinggal di apartemen yang dekat


dengan kantor atau…” belum sempat Adi Jaya melanjutkan kalimatnya, Sheila lebih


dulu menyambar.


“Jangan, Pa. Kak Ros tinggal disini saja bersama kita. Bagaimana


Kak? Kamu mau kan tinggal disini saja. Ya ya?” dengan gaya memelasnya, Sheila


membujuk Ros.


Kurasa Ros akan setuju. Ayo Ros, setujui saja. Aku sangat


berharap Ros bisa tinggal disini.


“Hmm, baiklah. Karena adik manjaku ini selalu merajuk,


jadi… aku akan tinggal disini bersamanya.” Jawab Ros. Aku tersenyum lega.


“Yeay, asyik. Meski aku mendapatkan saudara perempuan di


usiaku yang sudah 22 tahun, aku tetap senang. Terima kasih, Kak Ros…”


“Jangan memanggilku begitu. Itu mengingatkanku pada Upin


dan Ipin.”

__ADS_1


Terdengar gelak tawa di seluruh ruang keluarga. Baiklah,


misiku akan dimulai. Aku akan mulai menyusun rencana.


.


.


.


.


.


Aku berjalan hendak menuju kekamar untuk menyiapkan


keperluan Rangga berangkat ke kantor, namun secara tidak sengaja aku mendengar


percakapan antara Rangga dan Umi Isma.


“Nak, Umi titip adikmu ya. Umi dan Abah sengaja


memintanya bekerja di kantormu karena agar dia bisa menemukan jodohnya. Usianya


sudah hampir 27 tahun, tapi dia sama sekali belum mau menikah.”


“Bukankah Umi dan Abah yang mempersulitnya?”


“Apa Ros bilang begitu padamu?”


“Ya dia pernah bercerita begitu.”


Ada raut kesedihan dalam wajah Umi Isma. “Umi dan Abah


tidak pernah menuntut menantu yang sempurna. Yang penting pria itu baik,


keluarganya baik, punya pekerjaan yang halal, dan juga ilmu agamanya bagus.”


menuntut yang seperti itu. Insha Allah, pria-pria di kantorku itu baik dan


pekerjaannya halal. Aku akan mencari manajer yang masih lajang diperusahaan.”


“Ingat, nak. Jangan sampai terkesan menjodohkannya, nanti


pasti Ros tidak menyetujuinya.”


“Iya, Umi. Tenang saja.”


Aku menerawang jauh. Jadi, Umi dan Abah ingin mencarikan


jodoh untuk Rosida. Ini seperti kebetulan yang indah. Maafkan aku, Rangga. Aku harus


melakukan ini. Aku tidak mau kau terus berharap padaku, sementara aku tidak


akan bisa memberimu keturunan.


Usai menyiapkan keperluan Rangga, aku mengantarnya hingga


ke depan rumah. Aku melihat Ros juga sedang menunggu taksi.


“Ros, kamu sedang apa?”


“Aku sedang menunggu taksi, Mbak.”


“Heh? Kenapa memakai taksi, ikut saja dengan Mas Rangga. Tidak


apa ‘kan, Mas, Ros ikut denganmu? Lagipula kantor kalian ‘kan sama. Uangnya bisa


kamu simpan, Ros.” Ucapku.


“Hmm, iya, Ros. Naiklah. Kita berangkat bersama saja.”


Karena merasa tidak enak dengan tawaranku, akhirnya Ros

__ADS_1


setuju. Mereka pun berangkat satu mobil. Aku menghela nafas. Semoga ini jadi


awal yang baik untuk kalian.


Aku kembali masuk ke dalam rumah dan menemui para orang


tua yang masih bercengkerama di ruang keluarga, bersama Sheila yang terlihat


sibuk memegang gawainya.


“Rangga sudah berangkat, sayang?” Tanya Mama Sandra


padaku.


“Iya, Ma.”


“Apa kau juga akan bersiap untuk ke kafe?” tanyanya lagi.


“Iya, Ma. Aku akan berangkat ke kafe. Kalau begitu, aku


permisi dulu ya, Ma, Pa, Umi, Abah, dan adikku yang cantik, Sheila.”


Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Aku kembali


melangkah menuju kamarku. Namun langkahku kembali terhenti,


“Cecilia memang wanita yang sempurna untuk Rangga… Kita


harus banyak bersyukur karena Rangga memiliki Cecil.” Itu adalah Mama Sandra. Aku


senang karena dia selalu memujiku.


“Kau benar, Sandra, putra kita memiliki istri yang


sempurna.” Timpal Umi Isma.


“Benar, Mbak Anna. Kita memang beruntung.”


“Tapi… kenapa Kak Cecil belum hamil juga? Mereka sudah


menikah selama dua tahun, tapi belum ada tanda-tanda jika Kak Cecil hamil.” Itu


adalah suara Sheila.


Aku merasa tersentil mendengar kalimat dari Sheila.


“Hush, jangan bicara begitu. Anak itu rejeki dari Tuhan. Kita


tidak bisa menentukan kapan rejeki itu akan hadir.” Mama Sandra melerai Sheila.


Aku segera mempercepat langkahku. Entah kenapa air mataku


lolos begitu saja tanpa kuminta. Ya Allah, kuatkan hatiku…


#bersambung…


“hei apa kau pernah


dengar suatu pepatah?”


“apa?”


“Tuhan senantiasa


memberi cobaan pada orang-orang beriman. Karena mereka akan kuat dan bisa


menemukan jalan keluar atas segala masalahnya.”


“benarkah?”


“benar. Maka dari


itu, tegarlah! Kau akan kuat menghadapi ini semua. Insha Allah…”

__ADS_1


__ADS_2