
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Aku mematung melihat pemandangan didepanku. Namun secercah
senyum terukir di bibirku. Aku bahagia melihat kebersamaan kakak beradik ini
yang tidak ada hubungan darah sama sekali diantara mereka. Aku larut dalam
lamunan dan impianku. Impianku untuk membuat suamiku bahagia dengan hadirnya
buah hati diantara kami.
“Mbak Maira?” suara itu membuyarkan lamunanku.
“Eh? Ros? Umi memintaku untuk memanggilmu dan Mas Rangga
bergabung sarapan bersama.”
“Oh, oke. Aku kesana ya.”
Ros meninggalkan aku dan Rangga. Aku tersenyum ketika
Rangga menghampiriku.
“Sayang…” sapa Rangga dengan memelukku. Dia memang selalu
manis.
“Ayo sarapan dulu! Hari ini kau pasti akan disibukkan
dengan banyak meeting.” Ucapku membelai wajah Rangga.
“Ayo!” Rangga merangkul bahuku dan kami menuju meja
makan.
Selama sarapan, kami terdiam dan tak boleh ada yang
bicara. Usai sarapan kami berkumpul di ruang keluarga untuk bercengkerama
sejenak sebelum disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
“Oh ya, Ros, apa kau akan tinggal di apartemen yang dekat
dengan kantor atau…” belum sempat Adi Jaya melanjutkan kalimatnya, Sheila lebih
dulu menyambar.
“Jangan, Pa. Kak Ros tinggal disini saja bersama kita. Bagaimana
Kak? Kamu mau kan tinggal disini saja. Ya ya?” dengan gaya memelasnya, Sheila
membujuk Ros.
Kurasa Ros akan setuju. Ayo Ros, setujui saja. Aku sangat
berharap Ros bisa tinggal disini.
“Hmm, baiklah. Karena adik manjaku ini selalu merajuk,
jadi… aku akan tinggal disini bersamanya.” Jawab Ros. Aku tersenyum lega.
“Yeay, asyik. Meski aku mendapatkan saudara perempuan di
usiaku yang sudah 22 tahun, aku tetap senang. Terima kasih, Kak Ros…”
“Jangan memanggilku begitu. Itu mengingatkanku pada Upin
dan Ipin.”
__ADS_1
Terdengar gelak tawa di seluruh ruang keluarga. Baiklah,
misiku akan dimulai. Aku akan mulai menyusun rencana.
.
.
.
.
.
Aku berjalan hendak menuju kekamar untuk menyiapkan
keperluan Rangga berangkat ke kantor, namun secara tidak sengaja aku mendengar
percakapan antara Rangga dan Umi Isma.
“Nak, Umi titip adikmu ya. Umi dan Abah sengaja
memintanya bekerja di kantormu karena agar dia bisa menemukan jodohnya. Usianya
sudah hampir 27 tahun, tapi dia sama sekali belum mau menikah.”
“Bukankah Umi dan Abah yang mempersulitnya?”
“Apa Ros bilang begitu padamu?”
“Ya dia pernah bercerita begitu.”
Ada raut kesedihan dalam wajah Umi Isma. “Umi dan Abah
tidak pernah menuntut menantu yang sempurna. Yang penting pria itu baik,
keluarganya baik, punya pekerjaan yang halal, dan juga ilmu agamanya bagus.”
menuntut yang seperti itu. Insha Allah, pria-pria di kantorku itu baik dan
pekerjaannya halal. Aku akan mencari manajer yang masih lajang diperusahaan.”
“Ingat, nak. Jangan sampai terkesan menjodohkannya, nanti
pasti Ros tidak menyetujuinya.”
“Iya, Umi. Tenang saja.”
Aku menerawang jauh. Jadi, Umi dan Abah ingin mencarikan
jodoh untuk Rosida. Ini seperti kebetulan yang indah. Maafkan aku, Rangga. Aku harus
melakukan ini. Aku tidak mau kau terus berharap padaku, sementara aku tidak
akan bisa memberimu keturunan.
Usai menyiapkan keperluan Rangga, aku mengantarnya hingga
ke depan rumah. Aku melihat Ros juga sedang menunggu taksi.
“Ros, kamu sedang apa?”
“Aku sedang menunggu taksi, Mbak.”
“Heh? Kenapa memakai taksi, ikut saja dengan Mas Rangga. Tidak
apa ‘kan, Mas, Ros ikut denganmu? Lagipula kantor kalian ‘kan sama. Uangnya bisa
kamu simpan, Ros.” Ucapku.
“Hmm, iya, Ros. Naiklah. Kita berangkat bersama saja.”
Karena merasa tidak enak dengan tawaranku, akhirnya Ros
__ADS_1
setuju. Mereka pun berangkat satu mobil. Aku menghela nafas. Semoga ini jadi
awal yang baik untuk kalian.
Aku kembali masuk ke dalam rumah dan menemui para orang
tua yang masih bercengkerama di ruang keluarga, bersama Sheila yang terlihat
sibuk memegang gawainya.
“Rangga sudah berangkat, sayang?” Tanya Mama Sandra
padaku.
“Iya, Ma.”
“Apa kau juga akan bersiap untuk ke kafe?” tanyanya lagi.
“Iya, Ma. Aku akan berangkat ke kafe. Kalau begitu, aku
permisi dulu ya, Ma, Pa, Umi, Abah, dan adikku yang cantik, Sheila.”
Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Aku kembali
melangkah menuju kamarku. Namun langkahku kembali terhenti,
“Cecilia memang wanita yang sempurna untuk Rangga… Kita
harus banyak bersyukur karena Rangga memiliki Cecil.” Itu adalah Mama Sandra. Aku
senang karena dia selalu memujiku.
“Kau benar, Sandra, putra kita memiliki istri yang
sempurna.” Timpal Umi Isma.
“Benar, Mbak Anna. Kita memang beruntung.”
“Tapi… kenapa Kak Cecil belum hamil juga? Mereka sudah
menikah selama dua tahun, tapi belum ada tanda-tanda jika Kak Cecil hamil.” Itu
adalah suara Sheila.
Aku merasa tersentil mendengar kalimat dari Sheila.
“Hush, jangan bicara begitu. Anak itu rejeki dari Tuhan. Kita
tidak bisa menentukan kapan rejeki itu akan hadir.” Mama Sandra melerai Sheila.
Aku segera mempercepat langkahku. Entah kenapa air mataku
lolos begitu saja tanpa kuminta. Ya Allah, kuatkan hatiku…
#bersambung…
“hei apa kau pernah
dengar suatu pepatah?”
“apa?”
“Tuhan senantiasa
memberi cobaan pada orang-orang beriman. Karena mereka akan kuat dan bisa
menemukan jalan keluar atas segala masalahnya.”
“benarkah?”
“benar. Maka dari
itu, tegarlah! Kau akan kuat menghadapi ini semua. Insha Allah…”
__ADS_1