
Semoga harimu menyenangkan.
Jangan lupa tersenyum.
Tetap semangat !!!
Salam Hangat,
R
Itu adalah kalimat yang tertulis di kartu ucapan yang ada pada buket bunga di meja kerja milik Cecilia. Seseorang mengirimkannya.
Cecilia berpikir sejenak. Siapa yang mengirimnya? Rangga? Cecil menggelengkan kepalanya.
"Pak Rangga tidak akan melakukan hal seperti ini. Pasti ada orang lain." pikirnya.
Saat sedang mengevaluasi kinerja bawahannya, Cecilia melihat Radit melintas dihadapannya.
"Radit?! Jangan-jangan bunga itu dari dia?" batin Cecilia. Terburu-buru dia lalu mengejar Radit.
"Radit!!! Tunggu!!" panggilnya.
"Oh, Cecil. Ada apa? Kau berlari mengejarku?"
"Iya. Aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak dengar." ucap Cecil sambil terengah.
"Maaf. Aku sedang membaca berita di ponselku. Ada apa mencariku?"
"Umm, begini. Apa kau----? Apa kau mengirim sesuatu ke ruanganku?"
"Sesuatu? Sesuatu apa?"
"Semacam---buket bunga misalnya?"
Radit berpikir sejenak. "Oh? Bunga? Kenapa dengan bunganya?" Radit menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi kau yang mengirimnya?"
Cecilia tersenyum. "Terima kasih. Itu membuatku kembali bersemangat untuk bekerja."
"APA???!!! Dia yang kirim bunga? Yang benar saja!!" Rangga mendengar percakapan Radit dan Cecil, dan tidak terima dengan pengakuan Radit.
Rangga menghampiri Radit dan Cecilia. "Hei, anak magang!!! Berani sekali kau mengaku jika bunga itu pemberian darimu! Kau pikir siapa dirimu? Saya yang sudah mengirimnya untuk Cecilia!!" Rangga menarik kerah baju Radit.
"Pak Rangga! Apa yang bapak lakukan? Lepaskan Radit, Pak! Tidak enak jika dilihat oleh orang lain." Cecilia mencoba menengahi.
Rangga melepaskan tangannya dari kemeja Radit.
"Jadi sebenarnya siapa yang mengirim bunga itu?" Cecilia bertanya dengan menatap kedua pria didepannya.
"Tentu saja saya! Apa yang kau pikirkan Cecil? Kenapa kau malah berterimakasih pada pria urakan ini?"
"Saya bukan pria urakan!!! Asal bapak tahu saja, saya ini mantan kekasih Cecil. Jadi wajar jika saya mengirim bunga padanya!"
"Tapi bunga itu bukan pemberianmu!! Itu dari saya!!!"
"Sudahlah! Orang macam ini tidak perlu kita ladeni. Ayo, Cil. Kita pergi dari sini." Radit melenggang pergi dengan meraih tangan Cecilia. Rangga hanya bergeming melihat kepergian Cecil dan Radit.
...***...
"Kenapa kau bersikap begitu didepan Pak Rangga? Bagaimana kalau penyamaranmu terbongkar?"
Radit terdiam. Dia memandang Cecil.
"Mudah untuk Pak Rangfa untuk melacak identitasmu. Dia pasti punya banyak koneksi. Siapa yang tak tahu Hang Construction? Bagaimana jika Pak Rangga tahu soal itu?"
"I-iya maaf, Cil. Aku khilaf. Karena sikapnya sangat menyebalkan."
"Lalu soal bunga? Apa kau juga berbohong? Bukan kau yang mengirimnya kan?"
"Soal itu----Aku minta maaf, Cil. Tolong maafkan aku." Radit merajuk di depan Cecil.
"Lalu soal hubungan kita di masa lalu? Kenapa kau memberitahu soal kita pada Pak Rangga?"
"Eh, soal itu---Aku juga minta maaf, Cil. Aku tidak sengaja."
__ADS_1
Cecil menghela nafas. "Bagaimana jika nanti orang-orang bergosip soal kita?"
"Ka-kamu tenang saja. Tidak akan ada yang percaya soal hubungan kita."
"Hah? Maksudnya?"
"Aku sudah cerita pada Hana dan Amel. Tapi, mereka tidak percaya padaku." Radit tertunduk lesu.
"Apa?!" Cecilia menahan tawa.
"Tertawalah sepuasmu! Tidak perlu ditahan!" gerutu Radit.
"Maaf." Cecil tersenyum kecil. Kemudian tertawa lepas. Lalu menepuk pundak Radit.
"Ha ha ha ha" Raditpun ikut tertawa.
...***...
"Saya minta maaf, Pak. Karena sudah salah mengira jika Radit yang mengirim bunga itu." Cecilia merasa harus meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi hari ini.
"Ya sudah. Tidak apa-apa. Lagipula, itu hanya bunga." Rangga terlihat masih marah pada Cecil.
"Tidak, pak. Saya sangat berterimakasih. Bunga itu---- Memberikan semangat untuk saya." Cecil tersenyum.
"Benarkah? Kau serius?" Rangga meringis bahagia.
"iya. Itu memberikan energi positif buat saya."
"Ehm, Cecil. Bisa tidak, kita.... Bicara dengan bahasa yang santai saja." ungkap Rangga sedikit gemetar.
"Maksud bapak?"
"Jika tidak ada orang lain, jangan panggil saya bapak. Panggil saja Rangga."
"Eh?"
"Saya ingin lebih dekat denganmu." Rangga tersenyum kikuk.
Cecilia hanya terdiam.
...*****...
"Kau kenapa? Akhir-akhir ini selera makanmu menurun." Tanya Ibu Maria saat sedang menata piring di meja untuk makan malam.
"Benarkah?"
"Kau pikir ibu tidak memperhatikanmu? Makanmu sedikit. Padahal pekerjaanmu banyak. Tambahlah porsi makanmu, agar tidak sakit. Perbanyaklah makan buah juga." Ibu Maria menyodorkan buah apel ke arah Cecil.
"Aku sedang diet, Bu. Aku tidak makan terlalu banyak."
"Badanmu sudah kurus, tidak perlu diet. Lagipula untuk siapa kau diet? Kau tidak punya suami."
"Ibu!!! Aku ini putri ibu, kenapa malah mengejekku?"
"Hmm, atau jangan-jangan? Kau sedang jatuh cinta ya? Ayo mengaku!!! Biasanya orang yang sedang jatuh cinta, dia jadi tak doyan makan."
"Ibu!!!"
"Siapa yang sedang jatuh cinta, Bu? Ibu? Atau?" Ismail langsung bergabung tanpa berbasa-basi. Dia melirik Cecilia dan menggodanya.
"Kau sedang jatuh cinta? Cepat sekali kau dapat pria pengganti. Bukankah baru kemarin kau menangis dan konsultasi ke Dokter Diana."
"Apa katamu?! Berhenti mengusiliku!" Cecil mengarahkan tinjunya ke arah Ismail.
"Sudah-sudah. Ayo makan. Nanti makanannya dingin."
"Iya, Bu." sahut mereka berdua bersamaan.
Dan malampun berakhir dengan canda tawa mereka bertiga.
...***...
Kafe AJ Foods,
"APA???!!!"
__ADS_1
"Sssttt!!! Jangan berteriak, Amel!!!" Cecilia menutup mulut Amel.
"Apa kau serius? Pak Rangga menyatakan cinta padamu?" Amel berbisik sekarang.
Cecilia menganggukkan kepala. "Sekarang bagaimana? Aku harus bagaimana?"
Amel berpikir sejenak. "Aku rasa kau harus kasih kesempatan padanya."
"Hah? Maksudmu?"
"Kau harus menerima perasaan Pak Rangga."
"Apa kau sudah gila? Dia sudah dijodohkan dengan Nadine!"
"Apa masalahnya? Mereka dijodohkan, bukan Rangga yang menginginkan perjodohan itu."
"Tapi aku tidak mau disebut merebut jodoh orang."
"Mereka bahkan belum menikah, Cil. Kau tidak perlu cemas sampai kesana."
"Jadi?"
"Kau harus memberi Pak Rangga kesempatan."
Cecilia tersenyum kikuk.
"Lalu bagaimana perasaanmu terhadap Pak Rangga? Apa kau juga menyukainya?" tanya Amel penuh selidik
"Aku? Entahlah. Aku hanya merasa aneh tiba-tiba Pak Rangga menyatakan perasaannya padaku. Lagipula, masa Iddahku belum selesai."
"Kalau menurutku, sebaiknya kalian pendekatan dulu saja. Kau tidak pernah tahu sifat Rangga yang sebenarnya karena dia selalu menutupinya."
Cecilia mendengarkan dengan seksama.
"Kau tahu Bu Presdir? Bu Sandra?"
"Iya. Aku pernah melihatnya beberapa kali."
"Kau juga tahu bukan, jika Bu Sandra bukanlah ibu kandung Rangga?"
"Aku pernah mendengarnya begitu."
"Apa kau bisa membayangkan kehidupan Rangga yang selalu dituntut untuk selalu tampil sempurna di depan semua orang? Dia pasti tertekan. Tapi dia selalu menutupinya, dengan bersikap dingin dan angkuh didepan orang lain. Padahal hatinya sangat rapuh."
"Aku rasa aku sudah salah sangka terhadapnya."
"Jadi, kau mau membuka hatimu untuknya? Cobalah mengenal dia lebih dekat. Setelah masa iddahmu selesai, kau bisa putuskan apakah akan menerimanya atau tidak."
Cecilia menatap Amel. Ada sedikit keraguan dimatanya. Namun tak bisa ia pungkiri, jika dia mulai tertarik tentang Rangga.
.
.
.
.
Beberapa waktu lalu,
"Kamu bisa kan bantu saya untuk meyakinkan Cecil? Kamu adalah teman dekatnya."
"Bapak yakin dengan perasaan bapak?"
"Coba tanya pada hatimu, apa kamu percaya pada saya, atau tidak?"
"Saya---tidak ingin Cecilia terluka lagi, Pak. Dia sudah pernah gagal berumah tangga, jadi...."
"Saya tahu kamu peduli pada Cecil. Tapi ijinkan saya untuk mencobanya. Jika dia tidak bisa membuka hatinya untuk saya, maka saya akan mundur. Bagaimana?"
Amel setuju. Dia akan membantu Rangga untuk meyakinkan Cecil. Akankah Amel berhasil membujuk Cecil?
...*****...
To be continued.......
__ADS_1