
Assalamu'alaikum....
Sebelum menuju ke epilog, author ingin mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian yang sudah berkenan membaca karya saya. Maaf apabila masih banyak kekurangan disana sini.
Tidak menyangka kalau aku bisa membuat cerita sepanjang ini. Karena sebenarnya aku tidak begitu suka membuat cerita yg terlalu panjang (bisa tengok karyaku di lapak sebelah, hanya ada sekitar 30 part saja)
Sekali lagi kuucapkan terima kasih utk kalian yg sudah like, komen, vote or lainnya. Semua itu adalah semangat buatku.
Semoga apa yg tertulis disini bisa kita jadikan pelajaran. Ambil yg baik2nya saja, dan jangan meniru yg buruknyaπ.
Setelah ini aku akan fokus ke karya sebelah yg kemarin2 ku anaktirikan, huhuhu "Goodbye Mr.Playboy", dan akan membuat karya baru yg lainnya juga.
Dukung terus karya2 anak bangsa ya! Karena kalau bukan kita yg saling mendukung, siapa lagi?
Dan ingat, jangan sampai ada plagiarisme diantara kita π
Wassalamu'alaikum,
Salam sayang,
-sadromanceauthor-
...πππ...
Satu bulan kemudian,
Apa kalian punya impian? Tiap orang pasti memilikinya. Entah impian yang kecil sampai impian yang besar dan sulit untuk mendapatkannya. Begitu juga dengan suamiku, Rangga. Dia memiliki impian yang simpel sebenarnya. Hanya saja, butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya bisa terwujud. Dan hari ini, aku akan mewujudkannya.
.
.
.
"Hmm, baunya harum sekali, Kak. Masak apa?"
"Masak kesukaan kakak kamu, Shei. Oh ya, kakak kamu sudah bangun atau belum? Coba kamu cek ke kamarnya."
"Siap kakak ipar..." Sheila menghambur naik ke kamar Rangga.
"Kak!!! Kak Rangga, bangun Kak!!"
Rangga menggeliat di tempat tidur.
"Ada apa, Shei? Pagi-pagi sudah berisik saja. Seperti Danny."
"Ini sudah siang, Kak! Cepatlah bangun! Di tunggu Kak Cecil dibawah."
Sheilapun melenggang pergi dari kamar Rangga.
Cecilia masih asyik memasak saat Rangga akhirnya turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur. Rangga menghampiri Cecilia dan memeluknya dari belakang.
"Hai sayang, lagi masak apa?" Ucap Rangga menggoda.
"Rangga... Jangan begini, tidak enak 'kan ada bu Siti disini..."
"Tidak apa 'kan Bu? Kita 'kan sudah sah jadi suami istri." Rangga makin mengeratkan pelukannya ke pinggang Cecilia.
Bu Siti hanya tersenyum melihat tingkah pengantin baru ini. Rangga mencium pipi Cecilia kemudian melenggang ke meja makan karena dilihatnya Papa dan Mamanya sedang menuju meja makan.
Impian Rangga adalah bisa sarapan pagi bersama dengan keluarga lengkapnya. Ada Papa, Mama, dan adiknya. Dan aku senang karena bisa mewujudkan impian suamiku. Meskipun sekarang, keluarganya sudah bertambah dengan adanya anggota baru.
.
.
.
Ting tong
"Itu pasti Umi Isma, biar aku saja yang membuka pintunya." Cecilia segera beranjak dari dapur menuju ke pintu depan.
Dilihatnya Umi Isma datang bersama Abah Farid dengan membawa sebuah bingkisan ditangannya.
"Umi, Abah, silahkan masuk. Semua sudah menunggu."
Semua berkumpul di meja makan dan siap untuk menyantap hidangan yang sedari tadi kumasak. Ada tawa bahagia yang kulihat di wajah Rangga. Setelah lebih dari 20 tahun, ia tak pernah merasakan kehangatan seperti hari ini.
.
.
.
Ternyata benar apa yang orang bilang, bahagia itu sederhana. Hanya dengan menyantap sarapan bersama keluarga tercinta, itu sudah jadi kebahagiaan tiada tara. Dan aku sangat bahagia karena bisa mewujudkannya.
...πππ...
Cecilia sedang sibuk di kafenya saat tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Cil, bisa datang kemari?" Suara Radit terdengar cemas.
"Ada apa, Dit?"
"Nadine dan Amel akan melahirkan. Mereka butuh kamu disini, sekarang!!"
"Hah? Melahirkan? Kamu dimana? Aku kesana sekarang, aku akan minta ijin dulu pada Rangga."
"Baiklah. Terima kasih banyak Cil"
Kemudian Cecilia menghubungi Rangga.
"Apa maksudnya? Mereka mau melahirkan kenapa meminta kamu datang? Bukankah mereka punya suami yang bisa mendampingi mereka saat melahirkan?Β Kenapa harus kamu sih?" Ungkap Rangga sedikit kesal.
"Aku tidak tahu, Ga. Aku rasa aku harus kesana. Boleh 'kan?"
"Hmm ya sudah. Hati-hati menyetirnya. Love you..."
Cecilia bergegas menuju rumah sakit tempat Nadine dan Amel akan melahirkan. Seperti yang sudah Cecil duga, karena mereka melahirkan bersama, maka mereka di tempatkan di satu ruang bersalin yang sama.
Ada dua ranjang yang ditempati Nadine dan Amel, lalu Cecil berada di tengahnya untuk menyemangati kedua sahabatnya melahirkan.
Tangan Cecil di cengkeram kuat oleh kedua sahabatnya. Mereka masih berusaha untuk mengejan.
Di sela kesibukannya menyemangati kedua sahabatnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tertera nama Hana disana. Cecilia meminta ijin untuk berpindah ke pojok ruangan.
..."Iya Han, ada apa?" Tanya Cecil datar....
"Mbak... Kamu sedang sibuk?" Suara Hana terdengar cemas.
"Iya, aku sangat sibuk, karena hari ini kedua sahabatku akan melahirkan. Ada apa kamu menelepon, bukankah kalian sedang bulan madu?"
.......
.......
.......
Yap, Ismail dan Hana baru saja menikah, dan kini sedang ber-honeymoon ria. Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya mereka bisa menikah. Seorang polisi ternyata tidak begitu mudah untuk menikah. Ada yang namanya nikah kantor. Dan beberapa prosedur sebelum akhirnya resmi menikah secara agama dan hukum.
.......
.......
.......
"Mbak... Aku takut..."
"Takut? Takut apa?"
"Hari apa?"
"Hari itu... Mbak...."
"Itu apa? Come on Han, aku sedang sibuk!"
"Umm, yang dilakukan pasangan suami istri... Aku rasa dia akan melakukannya sekarang..."
"Apa?" Cecilia memutar bola matanya.
" Ya Allah... Itu...?? Takut apanya? Santai saja, jangan tegang, jangan panik. Kamu pasti bisa melewatinya. Oke?!"
"Tapi, Mbak...."
"Ini masih sore, Han. Mungkin dia hanya akan melakukan pemanasan saja..."
Mereka tak pergi ke luar negeri. Hanya beberapa hari di kota Jogjakarta. Ismail tak bisa berlama-lama cuti.
"Hah? Pemanasan? Pemanasan apa Mbak?" suara Hana mulai panik.
"Sayang... Apa yang kamu lakukan disini?" Terdengar suara pria di telepon. Itu pasti Ismail.
"Mas... Aaahhh... Jangan Mas... Geli..."
Cecilia membulatkan matanya.
Apa-apaan mereka? Mereka akan melakukan adegan 21+ dengan telepon masih tersambung? Sungguh menyebalkan!! Cecilia mengumpat dalam hati.
"Berikan teleponnya padaku... Sini..."
Hana menyerahkan ponselnya pada Ismail.
"Hai, Cil... Apa kabar? Maaf ya mengganggu..."
"Dasar kau! Aku yang harusnya mengucapkan itu. Apa kau meledekku, huh?" Cecil mulai menaikkan nada bicaranya.
"Tidak, Cil. Jangan marah..."
"Aahh maaaass, aaahhh, hentikan maass..."
Dan sekali lagi Cecilia mendengar desahan Hana. Itu membuatnya kesal. Namun tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Sayang... Lain kali jangan menelepon Cecilia lagi ya. Aku takut nanti dia cemburu. Oke?"
"Apa katamu?!? Awas kau Ismail kalau pulang nanti!!!"
Tut tut tut tut tut (sambungan telepon terputus)
"ARRRGGGHHH!!! Dasar menyebalkan!!Astaghfirullahaladziiimm, istighfar Cecil... Istighfar..." Cecilia mengelus dadanya.
"Cecil!!! Kamu sedang apa? Cepat kemari!!! Sakit sekali rasanya!!" panggil Amel.
"Iya Amel sayang... Sorry... Aku kesitu sekarang!!"
"Aaahhh, aku tidak sanggup lagi, Cil... sakit, Cil!!!" Nadine mulai meracau.
"Sabar, Nad. Kamu pasti bisa. Atur nafas dengan baik. Bukannya waktu itu aku sudah bilang, jangan terlalu banyak minum es, nanti bayimu besar dan susah keluar. Itu yang orang tua jaman dulu bilang."
"Aaarrrrgggghhh, persetan dengan orang tua jaman dulu, bodo amaaatttt!!!" Kini giliran Amel yang meracau.
"Astaghfirullahaladzim, Amel... jangan bicara begitu. Kamu sedang berjuang antara hidup dan mati. Kalian sabar ya, ayo terus, atur nafas, dan mulai mengejan."
"AARRRRGGGGHHHHH!!!!" Teriak mereka bersama.
Setelah berjuang selama hampir satu jam, akhirnya lahirlah dua bayi mungil yang berbeda jenis kelamin. Amel melahirkan bayi perempuan, sedang Nadine melahirkan bayi laki-laki.
Setelah dari ruang bersalin, Nadine dan Amel dipindahkan ke kamar VVIP yang cukup besar hingga bisa menampung dua pasien sekaligus.
Cecilia menimang bayi milik Amel, dan Rangga menimang bayi milik Nadine.
"Mereka sangat lucu ya," ucap Cecilia yang di iyakan oleh Rangga.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka ketika sudah besar?" Celetuk Amel.
"Tidak! tidak! Aku tidak mau menjodohkan anakku hanya untuk memperluas koneksi bisnis," balas Radit.
"Kalian ini orang tua macam apa! Mereka 'kan masih bayi, tidak pantas jika membicarakan soal perjodohan." Lerai Cecilia.
"Ehem!! Sebaiknya kalian memiliki bayi kalian sendiri. Jadi biar tambah ramai saat kita berkumpul," ujar Nadine sambil melirik Cecilia.
"Insha Allah, doakan secepatnya kita bisa menyusul kalian." Balas Cecil sambil tersenyum menatap Rangga.
...πππ...
Disuatu tempat yang jauh dari keramaian suasana kota, seorang lelaki sedang mengajar murid-muridnya di depan kelas.
Pria itu masih terlihat tampan meski hanya memakai kemeja putih lengan pendek dan celana panjang kain berwarna hitam.
Lelaki berkacamata itu sangat menikmati hidupnya setahun belakangan. Ia tak lagi hidup dengan hingar bingar dunia hiburan dan juga politik.
Tak ada yang mengenalinya disini, dan itu membuatnya nyaman serta tenang. Namun hatinya masih gelisah karena setahun ini, ia tak bisa bersama dengan istri dan anaknya.
"Pak Alvian!!" Panggil seseorang yang dikenalnya sebagai pemilik sekolah.
Alvian bekerja sebagai guru di sebuah sekolah terpencil yang masih jarang anak-anak bersekolah. Ia menjadi relawan disana, dan dibayar seadanya hanya dengan bahan makanan pokok sehari-hari.
"Iya, Pak. Ada apa?" Sahut Alvian.
"Ada seseorang yang mencari bapak."
"Eh, siapa?"
Alvian mengikuti arah Pak Heru, si pemilik sekolah ke sebuah ruang tamu di rumahnya.
"Silahkan masuk!" Ucap Pak Heru.
Alvian terkejut melihat siapa yang datang menemuinya.
"Mas..." suara lembut Nayla menyapa Alvian.
"Nayla?!" Alvian berjalan kearahnya dan langsung memeluk tubuh Nayla.
Nayla menangis terisak dipelukan Alvian, suami yang sudah lama ia rindukan. Mereka menangis bersama dalam keheningan.
"Aku sudah mengampuni kalian." Sebuah suara membuat Alvian dan Nayla menghadap kearahnya.
"Mbak Arini?" Ucap Alvian lirih.
"Kalian sudah menebus dosa kalian, jadi sekarang kalian harus hidup dengan baik."
"Bagaimana dengan Alif?" Tanya Alvian yang juga merindukan putranya.
"Dia ada disini!" Jawab Arini.
Seorang anak berusia hampir dua tahun menghampiri Alvian dan Nayla.
"Alif..." Nayla langsung memeluk putranya itu. Diciuminya pipi Alif dengan masih menyisakan isakan tangis.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih karena sudah mempertemukan kami kembali..."
Arini tersenyum dan membalikkan badan meninggalkan tiga orang yang sedang melepas kerinduan.
...πππππ...
__ADS_1
Thank U for readingπππ
extra part masih ada, stay tunedπ