
...💟💟💟...
Rangga menuju ke alamat sebuah apartemen yang jauh dari kata mewah, bahkan terkesan kumuh untuk bertemu dengan Radit. Berkali-kali ia menyumpahi Radit yang sudah menyuruhnya untuk datang ke tempat seperti ini.
Sesampainya di kamar yang dituju, Rangga mengetuk pintu. Radit muncul dari balik pintu.
"Masuklah!" ajak Radit.
Rangga mulai memasuki kamar itu dengan langkah ragu.
"Apa kamu sudah gila? Kenapa mengajakku bertemu di tempat kumuh seperti ini?"
"Kumuh? Wah, sorry bro. Tempat ini adalah tempat tinggalku sewaktu aku masih kabur dari Papa."
Glek. Rangga menelan ludah.
"Tempat ini adalah saksi perjuanganku untuk hidup mandiri tanpa harus bergantung pada Papa."
"Sorry, Dit. Aku baru tahu kisah hidupmu yang kelam, sekelam wajahmu!"
"Cih, kamu ini! Masih untung aku mau membantumu, meski kamu masih tetap menyebalkan! Ini adalah tempat rahasia, jadi tidak akan ada yang tahu jika kita bertemu disini. Bahkan tak ada kamera CCTV di gedung ini."
"Oke! Aku minta maaf. Cepat beritahu apa yang detektifmu dapatkan tentang pencarian mamaku."
Radit sudah menyiapkan sebuah laptop dan menghadapkan layarnya ke depan Rangga.
"Ini adalah video rekaman CCTV dari rumah sakit tempat kamu dirawat pas OD kemarin."
Rangga memperhatikan adegan dari rekaman video tersebut.
"Disitu terlihat jika Tante Sandra, sedang bicara dengan seorang wanita."
"Mama...." Gumam Rangga.
Radit melirik ke arah Rangga. "Jadi kamu tahu jika itu adalah mamamu? Kamu yakin?"
"Iya, itu adalah mama."
"Umm, tapi posisi tubuhnya membelakangi kamera. Kamu benar-benar yakin jika itu Tante Anna?"
"Iya aku yakin, Dit. Itu pasti mama. Jadi, selama ini dia mengikuti perkembanganku, Dit. Dia bahkan tahu rumah sakit tempatku dirawat."
Rangga mulai berkaca-kaca. Kerinduan akan sosok ibu, membuatnya tak bisa menahan air matanya.
"Tapi kenapa dia tidak menemuiku, Dit? Kenapa dia malah pergi?"
"Aku masih belum yakin, tapi... sepertinya Tante Sandra yang menyuruh Tante Anna pergi. Mereka berdua panik saat melihatmu datang."
"Jadi... Selama ini Tante Sandra tahu tentang Mama... Tapi dia tidak pernah sekalipun memberitahuku."
"Aku juga minta maaf karena harus melakukan ini. Aku tahu hubunganmu dengan Tante Sandra baru saja membaik. Aku minta kamu jangan bertindak sepihak untuk menghakimi Tante Sandra. Kamu harus dengar penjelasan dari dia dulu..."
Belum sempat Radit menenangkan Rangga, Rangga sudah lebih dulu meninggalkan kamar Radit.
"Hei!!! Rangga!!!! Jangan bertindak gegabah!!"
Teriakan Radit tak digubris oleh Rangga. Rangga tetap berlari pergi.
"Dasar!!! Sudah dibantu, malah main kabur saja! Ckckck, Rangga... Rangga...!!!"
...***...
Rangga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Otaknya tak bisa berpikir jernih sekarang. Kekecewaan yang dirasa pada Sandra membuatnya ingin segera sampai rumah dan menumpahkan emosinya pada Sandra.
CKIIIIIITTTTTTTTT.
Rangga menginjak rem tiba-tiba.
"Tidak! Jika aku ke rumah sekarang dan bertanya pada Tante Sandra... Pasti Papa akan curiga. Dan dia akan menghentikan pencarian mama. Sial!!! Aku harus menahan emosiku dulu. Besok Papa akan ke Jogja. Aku akan tunggu sampai Papa berangkat. Aku harus bisa menahannya. Sabar Rangga! Yang penting aku tahu, jika mama masih hidup. Mama... Sebentar lagi kita akan bertemu..."
Rangga mengusap wajahnya dan mengatur nafasnya.
.
__ADS_1
.
Sementara itu, ponsel Danny terus berdering. Sebuah panggilan dari seseorang.
Hari ini dia pulang lebih awal karena Rangga menyuruhnya untuk pulang. Namun baru saja ingin bersantai dirumah, ponselnya kembali berdering. Dengan malas ia mengangkat telepon yang ternyata dari Sheila.
"Shei... Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu pulang tanpa meminta ijin dari Papamu. Kalau beliau tahu kamu pulang tanpa memberitahunya, kamu bisa dihukum!!"
Sheila, adik Rangga tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan lebih dulu.
"Biarkan saja! Lagipula aku sudah tak suka tinggal di Amerika. Aku mau kuliah disini saja. Oh ya kak, bisa antarkan aku ke suatu tempat?"
"Apa kamu tidak lelah? Kamu 'kan baru turun dari pesawat."
"Tidak! Aku tidak bisa menundanya lagi, Kak! Ayo cepat!!" Sheila menarik tangan Danny keluar dari bandara.
"Kakak tidak membawa mobil?"
"Kamu bilang tidk ada yang boleh tahu soal kedatanganmu. Jadi, mana mungkin aku mampir ke rumahmu untuk mengambil mobil? Kita naik taksi online saja. Aku akan memesannya. Kamu mau kemana memangnya?"
"Hmm, begitu ya. Baiklah. Antarkan aku bertemu dengan wanita yang bernama Cecilia."
"Hah? Apa? Bu Cecil? Mau apa kamu bertemu dengannya?"
"Sudah. Jangan banyak tanya! Aku mau bertemu dengannya! Dan sebagai imbalannya, aku akan bilang ke Kak Rangga supaya Kak Danny bisa dapat mobil dari perusahaan."
"Shei, aku tak butuh mobil!"
"Cepat pesankan taksi online!!! Jangan membantah!!"
Danny menghela nafas sambil mengetik di ponselnya alamat kafe milik Cecilia.
Dan tak lama kemudian, driver taksi online sudah menjemput mereka.
Danny tidak tahu apa yang diinginkan Sheila. Ia hanya berdo'a semoga Sheila tidak melakukan hal-hal yang aneh pada Cecilia.
...***...
"Iya. Kamu siapa ya? Danny?" Cecilia melihat ke arah Danny yang wajahnya pucat pasi.
"Aku Sheila, adiknya Rangga," jawab Sheila datar.
"Oh, pantas wajahmu terlihat tidak asing. Maaf tidak mengenalimu. Aku hanya melihatmu lewat foto di...."
"Jangan berbasa-basi. Aku tidak suka! Aku akan langsung ke intinya saja. Kenapa kamu kembali lagi kesini setelah mencampakkan kakakku? Apa maumu, huh? Apa kamu tahu apa yang sudah terjadi dengan kakakku setelah kamu meninggalkannya? Dia hampir saja meninggal."
"A-apa? Meninggal?"
"Jangan pura-pura bodoh! Apa yang kamu lakukan pada kakakku, tidak akan kumaafkan. Jadi, jangan pernah muncul lagi didepan kakakku. Mengerti??!"
Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakan, Sheila melenggang pergi dari hadapan Cecil. Dan Danny tak bisa berkata apapun. Danny hanya mengekor di belakang Sheila.
Cecilia hanya tertegun mendengar semua kata-kata yang diucapkan Sheila. Kenapa dia sampai mengucapkan hal seperti itu padanya?
.
.
.
Danny dan Sheila tiba di kediaman Adi Jaya. Sheila meminta driver taksi online untuk mengangkut barang-barangnya dari dalam mobil. Setelah semua koper Sheila diturunkan, iapun bersiap memasuki rumahnya.
"Tunggu, Shei!" Danny mencegat Sheila.
"Ada apa kak?"
Selama diperjalanan tak satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.
"Sedari tadi aku diam karena aku tidak mau driver itu mendengar pembicaraan kita."
"Lalu?" Sheila menyilangkan tangannya.
"Jadi kamu memintaku menjemputmu hanya untuk bertemu dengan Bu Cecil? Itu tujuan kamu kembali ke Jakarta? Kamu ingin menumpahkan semua kekesalanmu pada Bu Cecil?"
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Masalah buat Kak Danny?"
"Apa yang kamu lakukan pada Bu Cecil sudah keterlaluan, Shei. Sebaiknya kamu minta maaf padanya."
"What? Minta maaf? Dengar Kak, aku hanya memperingatkannya agar tidak mendekati Kak Rangga lagi. Apa kakak lupa apa yang pernah dia lakukan pada Kak Rangga? Kak Rangga bisa saja meninggal karena over dosis. Dan itu karena siapa? Itu semua karena Cecilia."
"Tapi itu sudah berlalu, Shei."
"Cukup, Kak! Aku tidak mau membencimu hanya karena kamu membela mantan atasanmu itu. Aku juga akan melindungi kakakku." dan Sheilapun berlalu dari hadapan Danny.
...***...
Hari ini Pak Adi Jaya bertolak ke Kota Jogjakarta. Dan seperti yang di prediksi Rangga, bahwa mama tirinya kali ini tidak ikut dengan Papanya. Namun kedatangan Sheila membuat situasi yang berbeda.
"Aku mau kuliah disini saja, Kak." Sheila merajuk pada Rangga.
"Disini juga banyak kampus yang bagus. Aku sudah punya beberapa referensi," lanjut Sheila.
"Shei... Kalau kamu pindah nanti siapa yang menemani Papa dan Mama kamu?"
"Mereka selalu sibuk. Tidak pernah ada waktu buatku. Aku mau disini saja supaya bisa berkumpul dengan kakak. Iya?" Sheila bergelayut manja di lengan Rangga.
Rangga tak tahan dengan tingkah adik kesayangannya itu.
"Baiklah. Akan kakak pertimbangkan. Tapi ingat, jangan bikin masalah disini. Mengerti?"
"Siap kakakku yang tampan..." Sheila melompat kegirangan.
.
.
.
"Bu... Dimana Tante Sandra?" Tanya Rangga pada bu Siti.
"Nyonya ada di kamarnya, Mas."
"Terima kasih, Bu." Rangga berjalan menuju kamar utama milik Papa dan mama tirinya.
Kamar itu tidak dikunci. Rangga melihat Sandra sedang membereskan kamar..
"Rangga... Ayo masuk!" Ajak Sandra ketika melihat Rangga di depan pintu. "Tumben kamu jam segini sudah dirumah?"
Tanpa berkata apapun Rangga menyerahkan sebuah amplop pada Sandra.
"Apa ini?" Tanya Sandra bingung.
"Tante buka saja!" Perintah Rangga.
Sandra terkejut melihat foto-foto yang ada di dalam amplop.
"Ini....?!" Sandra menatap Rangga.
"Itu mama 'kan? Itu mamaku 'kan? Tante bertemu dengannya di rumah sakit tempatku dirawat. Tapi kenapa? Kenapa tante tidak pernah mengatakannya padaku? KENAPA?!?" Rangga mulai menaikkan nada bicaranya.
"Rangga... Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Tante juga baru pertama kali bertemu lagi dengan Mbak Anna setelah sekian lama. Tante tahu, tante salah. Tapi ini semua demi kebaikanmu, Nak! Tolong mengertilah!"
"Dimana dia sekarang? Dimana mamaku, tante? Tante tahu 'kan dia ada dimana?" Rangga mencengkeram tubuh Sandra dan menggoyangkannya.
"Tidak! Tante tidak tahu keberadaan mama kamu. Kami hanya tidak sengaja bertemu saat itu. Percayalah, Rangga! Tante tidak berbohong. Tante minta maaf karena tidak memberitahumu. Tapi tolong percaya pada tante, ini semua demi kamu, Rangga..."
"Aku kecewa pada tante. Selama ini aku pikir tidak ada lagi kebohongan yang tante tutupi. Tapi ternyata..."
Rangga menampakkan kekecewaan yang dalam di wajahnya. Ia tak sanggup lagi menatap Sandra. Dengan langkah gontai Rangga meninggalkan kamar Sandra. Dan Sandrapun berderai air mata.
...💟💟💟...
bersambung dulu gaess,,,
Jangan lupa tinggalkan kenang2an kalian untuk Cecilia 👣👣
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1