99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
EXTRA PART : THE LETTER


__ADS_3

...Sebelum ke detik-detik part terakhir di cerita ini. Kuberi extra part untuk kalian....


...Dan kuucapkan banyak terima kasih untuk semua dukungan pembaca kepada author. Terima kasih yang sudah membaca hingga kisah ini hampir tamat😒...


...semoga apa yang kutulis ini bisa menghibur kalian di masa pandemi ini dan dibulan puasa ini. mohon maaf apabila masih banyak kekurangan disana dan disiniπŸ™...


...Tetap jaga kesehatan kalian semua yak πŸ’Ÿ...


...salam sayang,...


...-sadromanceauthor-...


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Setelah kepergian Rangga ke New York, kediaman Adi Jaya mulai terasa sepi. Rumah yang baru-baru ini penuh dengan pertengkaran adik-kakak antara Sheila dan Rangga kini mulai sunyi seperti dulu saat hanya dihuni oleh Rangga.


Setiap hari Ibu Siti rajin membersihkan kamar Rangga. Membuka jendela balkon, mengganti sprei dan juga pengharum ruangan. Meja kerja Rangga juga sudah mulai berdebu. Meja itu tak luput dari perhatian Ibu Siti. Ia selalu membersihkan dan merapikan barang-barang diatas meja kerja Rangga


Tak sengaja ia melihat dua buah amplop di dalam laci. Namun ia tak tahu apa isinya. Dibuka sedikit isi amplop itu. Seperti sebuah surat.


"Jangan-jangan ini surat dari Mas Rangga yang sengaja dia tinggalkan untuk Tuan Adi." batin Ibu Siti.


Ibu Sitipun meneliti kedua amplop surat itu, dan benar saja tertulis 'Untuk Papa', dan 'Untuk Umi' di bagian belakang amplop.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ibu Siti langsung menyerahkan surat itu padaΒ  tuan besarnya.


...***...


Dear Papa,


Saat Papa membaca surat ini, mungkin aku sudah tak bersama Papa lagi. Aku sudah pergi ke New York untuk menyelamatkan perusahaan kita. Perusahaan yang Papa bangun dengan kerja keras dan keringat tanpa lelah.


Papa... Aku ingin Papa tahu, kalau aku sangat bangga pada Papa. Aku sangat menyayangi Papa. Entah Papa tahu atau tidak perasaanku itu.


Pa... Meski aku sudah tak pantas untuk membahasnya lagi. Aku hanya ingin Papa tahu. Tolong jangan menyalahkan Cecilia atas apa yang terjadi padaku. Dia tidak bersalah. Justru aku menjadi lebih baik setelah mengenalnya.


Dia wanita yang baik, Pa. Terlepas dari masalalunya yang pernah bercerai. Dia tidak pernah membenci Papa, meskipun Papa sudah menyakitinya. Papa sudah membuatnya pergi jauh dari orang-orang yang dia sayangi.


Cecilia sudah banyak mengajariku tentang arti hidup. Dia juga mengajariku cinta. Aku yang berhati dingin, sekarang bisa merasakan cinta dan kasih sayang. Dia juga yang membantuku untuk memaafkan. Membantuku untuk bisa menerima Tante Sandra sebagai ibuku.


Aku tidak berharap Papa menyetujui hubungan kami. Karena akupun tak berharap bisa bersama dengannya lagi. Aku hanya ingin Papa tidak membencinya. Aku ingin Papa menghapus hal buruk tentangnya, karena dia memang tak buruk.


Terakhir, aku ingin Papa berusaha untuk sembuh. Jangan lupa nasihat dari dokter. Jangan telat meminum obat. Agar saat aku kembali nanti, aku bisa melihat Papaku yang gagah seperti dulu. Papa yang selalu jadi idolaku.


Terima kasih karena selalu mendukungku dan melindungiku. Sekarang, giliranku yang harus melindungi Papa dan keluarga kita, juga perusahaan.


Aku menyayangimu...


Salam, Putramu

__ADS_1


-Rangga-


...***...


Air mata Adi Jaya mengalir deras. Ia merasa bersalah pada putra kesayangannya itu. Didekapnya dengan erat surat dari sang putra.


"Maafkan Papa, Nak! Maafkan Papa!" hanya itu yang bisa Adi Jaya katakan dalam tangisnya.


Sandra menguatkan suaminya dengan memeluknya erat. Meski bertahun-tahun hidup dalam kebencian Rangga, Sandra yakin jika suatu saat putra sambungnya itu bisa menerima dirinya meski bukan sebagai ibu. Dan terbukti Rangga banyak berubah setelah bersama Cecilia. Sandra tahu itu. Cintanya pada Cecilia begitu besar. Dan ia berharap, saat Rangga kembali, ia bisa berjuang untuk meraih kebahagiaan bersama Cecil.


...***...


Danny bertolak ke kota Jogja untuk menyampaikan surat dari Rangga pada Isma. Setelah Rangga pergi, Isma dan Farid kembali ke Jogja untuk mengurus pondok pesantren yang beberapa bulan ini mereka tinggalkan.


Baru saja surat itu Isma terima, ia sudah menangis terharu. Ia menyesal betapa hanya sebentar waktu yang dia miliki bersama Rangga sebelum akhirnya Rangga pergi. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Rangga. Namun semua hal tak selalu berjalan dengan keinginan kita. Selalu ada campur tangan Tuhan dalam setiap kehidupan manusia.


Dan Isma pun membesarkan hatinya untuk membaca surat yang ditinggalkan Rangga untuknya.


...***...


Teruntuk Umi...


Umi... Meski jarak dan waktu pernah memisahkan kita selama 20 tahun. Selama itu pula aku tak pernah melupakanmu. Aku pernah mengira kalau aku membencimu. Tapi ternyata aku salah. Aku tidak membencimu, aku menyayangimu. Begitulah yang Cecilia katakan padaku.


Umi, ingin rasanya aku menghabiskan lebih banyak waktu denganmu, tapi aku masih belum mampu melakukannya. Karena ada hal yang harus kulakukan untuk saat ini.


Andai saja Umi tahu, bertahun-tahun aku merindukanmu. Merindukan tidur dipangkuanmu. Mendengarkan dongeng yang kau bacakan untukku.


Umi, doakan selalu putramu ini. Putramu yang banyak kehilangan arah. Masih butuh bimbingan darimu.


Jangan lupa jaga kesehatanmu selalu. Agar saat aku pulang nanti, aku masih melihat senyum yang indah di wajahmu.


Di negeri orang, aku pasti akan merindukanmu. Maaf jika nanti aku tak sempat menghubungimu. Karena aku takut akan semakin merindukanmu dan ingin kembali.


Umi tahu 'kan, aku anak yang tak mudah menyerah. Aku tidak akan kembali sebelum semua benar-benar selesai.


Kini, aku hanya perlu do'a darimu. Dan aku akan baik-baik saja disana.


Titip salam untuk Abah. Semoga beliau selalu sehat.


Aku sayang padamu, Umi... Terima kasih karena selalu mendo'akanku dari jauh.


Salam sayang, putramu


-Rangga-


...***...


Seperti halnya Adi Jaya, Isma juga menangis harus memeluk kertas bertuliskan tulisan tangan putranya itu.

__ADS_1


Rosida segera memeluk Uminya dan menenangkannya.


Dan setiap hari, dibacanya surat dari Rangga tanpa rasa bosan. Selalu teriring do'a yang khusyuk yang ia kirimkan untuk putranya itu.


...***...


"Danny, apa Rangga tidak menitipkan surat untuk Cecilia?" Tanya Radit.


"Entahlah. Ibu Siti bilang hanya menemukan dua amplop."


"Hmm, harusnya dia menulis surat juga untuk Cecil. Itu akan membuat Cecil tetap setia menunggu Rangga hingga dia kembali nanti."


"Aku yakin jika Tuhan memang menakdirkan mereka untuk bersama. Maka cinta mereka tetap tidak akan pudar meski terhalang jarak dan waktu."


"Bijak sekali kamu, Dan..."


Radit menepuk bahu Danny dan menerawang jauh ke langit biru.


Ia berharap kabar sahabatnya disana baik-baik saja.


...***...


Untuk Cecilia,


Maaf karena aku tak bisa menulis kata-kata manis untukmu. Aku hanya ingin meminta maaf karena aku pergi tanpa berpamitan denganmu.


Entah kapan aku akan kembali. Satu hal yang perlu kau tahu, aku selalu menyimpanmu didalam hatiku.


Dan aku berharap, kaupun begitu. Saat aku kembali, aku ingin bisa melihat senyummu yang indah.


Kaulah wanita pertama yang mampu menggetarkan hatiku. Meskipun aku bukan yang pertama untukmu. Tapi, aku akan mencintaimu sampai akhir waktu nanti.


Jaga dirimu baik-baik dan jaga hubunganmu dengan ibumu. Salam untuknya dariku.


Dari yang mencintaimu,


-Rangga-


.


.


Itulah isi surat yang Rangga tulis untuk Cecilia namun tak pernah sampai kepadanya.


Rangga menyimpan sendiri surat itu. Hingga suatu saat nanti, ia akan memberikannya langsung kepada Cecilia.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯kalian tahu betapa nyeseknya setelah kubaca ulang part ini.

__ADS_1


See you in the next ending chapter😘😘


__ADS_2