
Apa yang kau lakukan, dibelakangku?
...Mengapa tak kau tunjukkan dihadapanku?"...
...(Dibelakangku by Peterpan)...
...πππ...
Keesokan harinya, Sari sudah mulai tenang. Dan dia berencana untuk bicara hanya dengan Cecilia saja. Namun, bukan hanya Cecilia yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Sari, tetapi Maria juga menekan Sari untuk menceritakan semuanya.
"Aku sudah mengijinkanmu untuk tinggal sementara disini. Jadi, ceritakan yang sebenarnya terjadi pada kami. Kenapa kau sampai pergi dari rumah? Apa kau bertengkar dengan suamimu? Karena masalah apa kau bertengkar dengan suamimu?"
Maria memberondong Sari dengan bermacam pertanyaan. Tentu saja, Maria sangat penasaran apa yang terjadi pada Sari.
"Ibu... Jangan menanyakan banyak hal seperti itu. Biarkan Mbak Sari tenang dulu, agar dia bisa bicara." bela Cecilia.
"Tidak apa, Cil. Aku yang salah karena tiba-tiba datang kemari," balas Sari.
"Jadi benar, kalau kau bertengkar dengan suamimu?"
"Ibu!!" Cecilia memberi kode untuk tidak menekan Sari.
Dan Saripun mulai menceritakan kisahnya.
"Sebelumnya aku minta maaf pada Cecilia dan juga Ibu Maria, karena sudah merepotkan kalian. Juga, aku mengucapkan terima kasih sudah diberi tempat untuk menginap. Aku tidak tahu harus memulai bicara dari mana. Ini terlalu mendadak untukku, dan membuatku syok."
Maria dan Cecilia mendengarkan dengan seksama.
"Aku mengenal suamiku sudah lebih dari 20 tahun, tapi aku tidak mengira kalau dia akan menyakitiku seperti ini. Meski kami tidak memiliki anak, aku selalu yakin jika dia mencintaiku dengan tulus. Aku tidak menyangka kalau selama ini dia menyembunyikan sebuah rahasia besar."
Sari mulai meneteskan air mata. Cecilia memberikan kertas tisu pada Sari.
"Suamiku ... Dia... Memiliki seorang anak dari wanita lain."
"A-apa? Anak?" Maria dan Cecil sangat terkejut.
"Iya. Dia mengatakannya sendiri saat sedang menggendong Alif. Dia bilang, Alif adalah cucunya."
"Siapa Alif?" Tanya Maria.
"Itu nama anak Alvian yang lahir beberapa waktu lalu. Mereka sepakat menamainya seperti nama mendiang kakak Alvian."
"Oh." Cecil dan Maria kompak menjawab.
"Kalau Alif adalah cucu Mas Arif, itu berarti... Anak Mas Arif adalah... Nayla??!!" Duga Cecil.
Sari tak dapat berkata-kata lagi dan hanya bisa menangis. Cecilia memeluk Sari dan menenangkannya.
"Tapi Mbak... Kalau benar Nayla adalah anak Mas Arif. Bagaimana mungkin Nayla menikah dengan Mas Alvian? Mereka 'kan masih sedarah."
"Benar juga. Mereka paman dan keponakan. Orang gila mana yang akan menikahkan putrinya dengan pamannya sendiri?" Maria ikut berpendapat.
"Ibu!!" Sekali lagi Cecil memberikan kode pada ibunya.
"Apa Mbak Sari sudah memeriksanya? Atau menanyakannya langsung pada Mas Arif?"
"Belum. Tanpa harus memeriksa pun, aku yakin kalau Nayla memang putri suamiku."
"Tapi Mbak... Masih banyak yang mengganjal kalau memang Nayla adalah anak Mas Arif. Dalam kepercayaan kita, tidak diperbolehkan pernikahan masih sedarah."
Sari menggenggam tangan Cecil.
"Cecil... Ada satu hal yang belum kamu tahu tentang Alvian..."
"Eh?" Cecilia mengernyitkan dahi.
"Alvian... Bukan adik kandung Mas Arif... Dia hanya sekandung dengan Alif."
__ADS_1
"Heh? Apa?" Cecilia sangat terkejut. Dia melepas genggaman tangannya dari tangan Sari.
"Maafkan aku, Cil. Selama ini kami menyembunyikan kebenaran ini dari kamu."
"Lalu... Siapa orang tua kandung Mas Alvian?" Mata Cecilia mulai memerah. Entah ia marah, atau ingin menangis.
"Alif kecil datang ke panti asuhan bersama Alvian yang masih bayi. Aku tidak tahu siapa dan dimana orang tua mereka. Semua itu terjadi sebelum aku menikah dengan Mas Arif. Yang kudengar dari Mas Arif adalah ayah mertuaku menyukai mereka, kemudian dia memutuskan untuk mengadopsi mereka berdua juga memberikan nama belakangnya untuk mereka. Maafkan aku, Cil... Aku tidak pernah memberitahumu karena aku sudah berjanji. Tolong maafkan aku..." Sari memohon pengampunan dari Cecil.
"Astaga!!! Jadi selama ini, putriku menikahi anak yatim piatu?! Ya Tuhan!!! Kenyataan apalagi ini?! Kebohongan apa lagi yang keluarga mereka sembunyikan?" Seru Maria mulai kesal.
Dan setelahnya suasana tiba-tiba menjadi hening. Tak ada lagi yang bersuara. Tak ada juga deraian air mata.
Cecilia hanya terdiam bak patung. Pikirannya entah melayang kemana.
Drrrttttt drrrrrttttt drrrrtttttt
Ponsel Cecilia bergetar. Ada yang menghubunginya. Dilihatnya nama yang tertera di ponsel.
"Mas Alvian....?" gumam Cecilia.
"Siapa yang menelepon? Kenapa tak kau angkat?" tanya Maria.
Cecilia menunjukkan layar ponselnya pada Sari. "Apa aku harus menjawabnya?"
Sari menganggukkan kepala. Dan Cecilpun mengangkat panggilan telepon dari Alvian.
"Halo! Cecil..."
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Maaf mengganggu. Ada yang ingin kutanyakan..."
"Soal Mbak Sari?"
"Eh? Jadi kamu sudah tahu?"
.
.
.
"Benar, Mas. Mbak Sari ada bersama Cecil," ucap Alvian pada Arif.
"Benarkah? Kenapa dari sekian banyak tempat disini, dia harus ke tempat Cecil?" Arif merasa kesal.
"Jadi bagaimana, Mas?"
"Tentu saja kita harus menjemputnya. Dia memang tidak punya kenalan di Jakarta, tapi kenapa harus Cecilia?" Arif memijat keningnya.
"Kita kesana sekarang, Al..! Aku tidak mau Sari bicara macam-macam pada Cecil...!"
.
.
.
"Lalu... Apa Mas Alvian tahu soal kebenaran ini?" tanya Cecil dengan tatapan kosong.
"Kami memberitahunya saat dia menginjak remaja, tepatnya setelah Alvian lulus SMA. Kami benar-benar minta maaf, Bu, Cecil..."
"Astaga! Kalian begitu tega pada putriku." Maria memegangi dadanya yang kian sesak.
"Tapi sekarang hubungan mereka sudah berakhir. Jadi untuk apa kami mengetahui yang sebenarnya. Dengar Sari, apa kau tahu konsep karma?"
"Eh?" Sari nampak bingung.
__ADS_1
"Setiap perbuatan ada karma yang mengikutinya, entah itu buruk atau baik. Putriku, sudah menebus dosa-dosanya. Jadi, giliran kalian yang harus menebus semuanya sekarang..."
Dan Cecilia hanya bisa terdiam. Ia membiarkan ibunya terus mengumpati Alvian dan keluarganya.
Mungkin inilah yang disebut dengan karma... Ucap Cecil dalam hati.
...***...
Tak lama kemudian, Alvian datang bersama Arif. Situasi cukup menegangkan dengan raut wajah memerah karena amarah.
Arif memberi salam pada Maria.
"Terima kasih, karena sudah mengijinkan istriku tinggal disini sementara waktu. Maaf sudah merepotkan. Bu, mari kita pulang..." ajak Arif pada Sari.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, Pak."
"Apa itu?"
"Apa benar Nayla adalah putrimu?"
"Kita akan bicarakan hal itu dirumah. Ayo pulang!"
"Tidak! Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang!"
"Tapi... Ini masalah keluarga kita. Orang lain tidak perlu mengetahuinya."
"Cecilia bukanlah orang lain. Selama ini aku menganggapnya sebagai keluarga. Jadi, sampai kapanpun dia akan tetap jadi keluarga!"
Arif mengalah. "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menjawabnya disini."
Sari meremas tangannya. Ia bersiap untuk mendengar yang terburuk.
"Memang benar, Nayla adalah putriku..."
Sari terduduk lemas. Air matanya kini mengalir kembali.
"Bagaimana bisa kamu mengkhianati aku, Pak?"
"Maaf, Bu. Aku sendiri juga tidak pernah tahu kalau Larasati hamil. Dia tak pernah memberitahuku. Aku mengetahuinya setelah kita menikah."
"Kita memang menikah karena dijodohkan. Tapi aku tak menyangka kalau kamu tega melakukan ini padaku."
"Maafkan aku... Aku benar-benar minta maaf. Dan juga... Cecilia..."
Arif melirik ke arah Cecil, namun Cecil memalingkan wajahnya.
"Jadi inilah alasannya kau tidak pernah bersikap baik pada putriku. Darah memang lebih kental daripada air. Aku tidak pernah menyangka kalau keluarga terhormat macam kalian, mampu menyembunyikan rahasia besar selama bertahun-tahun." Maria tak bisa menahan diri untuk tak berkomentar.
Setelah keadaan mereda, Arif menghampiri Sari dan memeluknya. Lalu memapahnya menuju mobil. Ia akan membawa Sari pulang.
Alvian menatap Cecil yang sedari tadi hanya terdiam. Ingin rasanya bicara dengan Cecil, namun ini bukan waktu yang tepat.
Cecil hanya bisa menghela nafasnya.
Lalu sedetik kemudian, seakan ada suara tak kasat mata yang membisikkan sesuatu ke telinga Cecilia.
Dari awal, kamu sudah melihat kalau ada yang aneh dengan keluarga Alvian. Mereka selalu membela Nayla dan menyalahkan semua kepadamu. Dan ternyata benar, Nayla adalah bagian dari keluarga mereka yang berharga. Sedangkan kamu... Kamu hanya orang lain yang kebetulan menjadi istri untuk Alvian... Kamu hanya orang asing, Cecilia. Malang sekali nasibmu, Cil... Semoga kamu kuat menerima kenyataan ini...
...πππ...
Bersambung,,,,,,
*itu adalah suara syaiton, Cil. Jangan dengarkan π π
jangan lupa tinggalkan jejak yah shay πΎπΎ
terima kasih πππ
__ADS_1