
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
-Rangga PoV-
Aku merasa bersalah pada Cecilia. Aku sudah mengabaikan dia
dan tidak melihat kearahnya. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku hanya tidak suka dengan
caranya yang memintaku untuk menikah lagi. Apa itu adalah sebuah solusi? Itu
hanya akan menyakitinya dan juga diriku. Juga Rosida. Apa ada seorang wanita
yang ingin jadi istri kedua?
Mungkin ada. Tapi aku tidak akan tega melakukan itu pada
wanitaku. Aku tahu Cecil pasti menderita selama ini. Bagaimana dia menerima
kenyataan jika dirinya tidak bisa memiliki keturunan dan tidak bisa memberiku
keturunan.
Aku pulang ke rumah dan melihat mobil Cecil sudah berada di
rumah. Aku menghela nafas sebelum memasuki rumah kami. Ada rasa sesak di hatiku
saat melihatnya nanti.
Kuedarkan pandangan ke seluruh bagian rumah. Tidak ada Cecil
disana. Aku menuju kamar kami. Dan benar saja, Cecil sudah terlelap di tempat
tidur kami. Aku menatapnya dalam diam. Ada rasa tidak tega melihatnya tertidur
dengan damai seperti itu.
Aku memilih membersihkan diri terlebih dahulu kemudian ikut
bersama Cecil menuju alam mimpi. Kupandangi wajahnya yang terlelap. Ada raut
kesedihan disana. Aku bisa melihatnya. Aku membelai rambtnya yang ternyata
makin panjang. Aku tidak terlalu memperhatikannya karena ia selalu menutupnya
dengan hijab.
Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tidak memperhatikan istriku?
Aku begitu sibuk di kantor. Dan tidak tahu jika dia menyimpan banyak luka
dihatinya. Tak terasa buliran bening mengalir dari sudut mataku. Aku menangis
dalam diam sambil memandangi wajah wanita yang amat kucintai.
Ya, aku selalu berkata jika aku mencintainya. Tapi kenapa
kini aku menyakitinya? Sungguh tidak adil jika hanya dirinya yang disalahkan
dalam semua hal ini. mungkin saja ini adalah kesalahanku juga. Usai lelah
menangis, aku pun ikut larut dan terpejam. Tubuhku sudah amat lelah. Selamat
tidur, sayangku. Cecilia, aku mencintaimu…
Keesokan paginya, aku melihat senyum itu menghiasi wajahnya.
Meski hati ini terasa tersentil melihat senyum itu. tapi aku juga tidak kuasa
untuk membalas senyum itu. maafkan aku, Cecilia.
“Mas, sarapan dulu.” Ucapnya.
“Hmm.” Aku hanya membalas dengan dehaman.
__ADS_1
Dia tetap telaten melayaniku. Dia mengambil makanan dan
menyajikannya di depanku. Raut kesedihan masih tergambar di wajah ayunya. Apa
yang harus kulakukan? Aku takut dia akan membahas soal pernikahan lagi jika aku
bicara sekarang. Untuk saat ini aku harus meninggikan egoku. Hingga aku
mendapatkan satu kepastian.
Siang harinya, aku mengosongkan jadwalku dan pergi ke suatu
tempat. Sejak pagi aku mencari informasi tentang seorang dokter pria di bidang
reproduksi pria. Aku mendapat satu nama. Namanya dokter Oki. Ya, dia pria.
Tidak mungkin juga aku berkonsultasi dengan dokter wanita.
Aku menggoyangkan kakiku untuk mengusir rasa panikku. Baru
pertama kali aku datang ke tempat seperti ini. tentu saja selama ini aku tidak
pernah meragukan keperkasaanku. Nyatanya aku selalu bermain cantik diatas
ranjang. Cecil juga puas dengan permainanku. Tapi, ada satu hal yang harus
kupastikan lebih lanjut.
“Tuan Rangga Adi Putra.” Panggil seorang perawat.
“Iya.” Jawabku.
“Silahkan masuk ke ruang periksa.” Ucap perawat itu lagi.
Aku mengangguk dan mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk.
Dokter Oki menyambutku dengan ramah. Aku duduk berhadapan
dengannya dengan rasa tidak karuan.
“Kalau boleh saya tahu, ada keluhan apa bapak berkonsultasi
“Umm, begini, Dok.” Aku menyerahkan selembar kertas hasil
lab milik Cecilia.
Dokter Oki membacanya lalu menganggukkan kepalanya. “Jadi,
istri anda di vonis tidak akan bisa memiliki keturunan.”
“Iya, dok. Yang ingin saya tahu adalah… mungkin saja saya
juga…” Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku.
Dokter Oki mengangguk tanda memahami perasaanku. “Jadi, anda
ingin tahu apakah anda juga memiliki kondisi yang sama atau tidak?”
“Iya, dok. Selama ini masyarakat kita selalu memandang jika
wanita tidak bisa memiliki keturunan adalah karena si wanita yang mandul. Tapi sangat
jarang menyalahkan si pria.”
“Tapi dengan hasil tes ini…”
“Itu sudah sepuluh tahun lalu, Dok. Saya takut jika
sebenarnya sayalah yang bermasalah. Jadi, tolong periksa saya, Dok.” Ujarku mengesampingkan
egoku dan rasa maluku.
“Baiklah. Mari ikut saya.”
Usai diperiksa, aku keluar dari klinik itu. Dokter bilang
jika hasilnya bisa didapat sekitar beberapa hari lagi. Aku menghela nafas
__ADS_1
panjang dan menuju mobilku. Sebuah panggilan dari Danny masuk kedalam ponselku.
Aku segera kembali ke kantor. Beberapa rapat penting sudah menungguku.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat konfirmasi dari klinik
Dokter Oki. Aku memantapkan diriku jika memang hasilnya buruk. Aku tidak mau
orang-orang menyalahkan Cecil untuk sesuatu yang ternyata karena kondisiku.
Seperti biasa aku menggerakkan kakiku untuk mengusir
ketegangan. Aku menunggu dokter Oki mengambil hasil tesku beberapa hari lalu. Aku
berdo’a semoga hasilnya tidak seperti yang kutakutkan.
Dokter Oki kembali duduk di hadapanku. “Terima kasih sudah
menunggu, Pak Rangga.”
Aku mengangguk. Dokter Oki mulai membuka kertas hasil lab
milikku. Ia mengernyitkan dahi. Lalu menghembuskan nafas perlahan. Ya Tuhan, ada
apa ini?
“Pak Rangga… Saya akan membacakan hasil lab anda. Mohon maaf,
Pak. Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan. Bapak dinyatakan memiliki
tingkat kesuburan yang rendah. Sehingga bapak sulit memiliki keturunan.”
CTAAAARRRRRR!!!!
Aku bagai tersambar petir di siang hari. Jadi memang benar
inilah kenyataannya. Aku mematung. Kakiku terasa amat lemas.
“Tapi bapak tenang saja. Kualitas sprma bisa diperbaiki
dengan beberapa suplemen yang mengandung asam folat dan seng. Pasalnya, nutrisi ini dapat meningkatkan
jumlah sprmayang memiliki tanda tidak subur. Namun, jika asam
folat atau seng dikonsumsi secara terpisah atau tidak dikombinasikan, maka
tidak ada dampak yang signifikan dari produksi sp*rma. Bapak juga harus
menjaga gaya hidup bapak dengan tidak terlalu stress dan menjaga pola makan. Saya
akan tuliskan apa saja makanan yang baik untuk meningkatkan kesuburan bapak. Juga
suplemen yang bisa bapak beli di apotek kami.”
Aku merasa semua kalimat dokter Oki
terasa mengawang di angkasa. Aku berjalan gontai menuju mobilku di parkiran
klinik. Aku duduk di dalam mobil cukup lama. Aku tidak mengindahkan panggilan
dari Danny yang entah sudah berapa kali.
Aku menelungkupkan kepalaku di
kemudi mobil. Apa seorang pria tidak boleh menangis? Tentu saja boleh bukan? Aku
juga manusia. Aku punya tingkat kesabaran yang juga layaknya manusia lain.
Aku menangis meraung-raung meratapi
nasibku. Ternyata semua ini bukan hanya salahmu, Cil. Ini adalah salahku juga. Aku
yang bersalah. Maafkan aku, Cecilia… Maafkan aku, cintaku…
#bersambung
*mamak mewek pas bikin part ini.
__ADS_1
ditemani lagu sedih milik IU tambah mewek, hiks hiks. Sabar yah, Rangga,
Cecilia… pasti akan ada jalan terbaik untuk kalian…