99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Pembatalan Perjodohan


__ADS_3

...๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ...


Tak kehabisan akal, Nayla terus berusaha menemui teman-teman Cecilia. Hingga akhirnya dia mengingat satu nama. Jimmy Choo.


Nayla mendatangi Jimmy di butiknya. Dia masuk ke dalam butik dan bertanya pada salah satu karyawan.


"Maaf, apa saya bisa bertemu dengan Jaenudin?" tanya Nayla polos.


"Jaenudin?" Si karyawan terlihat bingung.ย  "Jaenudin siapa ya? Disini tidak ada yang bernama Jaenudin."


"Pemilik butik ini, Jaenudin 'kan?"


Si karyawan makin bingung. Lalu memanggil karyawan lain bernama Lolly.


Lolly tahu jika Nayla adalah istri Alvian, pelanggan VIP di butik, jadi dia langsung membawa Nayla ke ruangan Jimmy.


Dan beberapa karyawan akhirnya berbisik-bisik. "Oh, jadi nama asli Pak Bos itu Jaenudin. Hihihi. Nama yang kampungan. Pantas saja dia ganti namanya jadi Jimmy. Agar terlihat lebih keren. Hahaha."


Lolly menuntun Nayla menuju ruang kantor Jimmy.


"Silahkan masuk, Pak Bos ada di dalam."


Nayla mengucapkan terima kasih. Dan Lollypun pergi.


"Nayla?!" Jimmy tersenyum lebar menyambut Nayla. "Ayo silahkan duduk."


Jimmy mempersilahkan. "Ada apa tiba-tiba datang kemari? Perutmu sudah makin besar saja."


Jimmy dan Nayla adalah teman satu sekolah saat SMA. Mereka juga besar di panti asuhan yang sama.


"Jaen ... Maaf kalau aku mengganggu..."


Jimmy merasa risih dengan Nayla yang memanggil nama aslinya.


"Nay, please. Namaku sekarang Jimmy, bukan Jaenudin lagi. Oke?"


"Ah, maaf Jaen. Aku belum terbiasa. Eh, maksudku Jimmy."


"It's okey. Nanti lama-lama juga terbiasa."


Lolly mengetuk pintu dan masuk membawa dua buah cangkir berisi teh.


"Silahkan diminum Nyonya Nayla."


"Terima kasih."


"Baiklah, ada keperluan apa kau datang kemari? Apa kau ingin memesan baju? Atau gaun?"


"Apa kamu tahu dimana Mbak Cecil sekarang?"


GLEK. Jimmy menelan ludah.


"Jadi kau kesini untuk menanyakan tentang Cecil?"


"Iya. Aku tahu kamu dekat dengan Mbak Cecil. Jadi, aku pikir kamu pasti tahu keberadaan Mbak Cecil."


Jimmy tertawa kecil. "Nayla! Nayla! Untuk apa kau mencari Cecilia? Bukankah hidupmu lebih tenang tanpa adanya dia?"


"Ini demi Mas Alvian. Dia masih mencintai Mbak Cecil. Aku ingin menyatukan mereka kembali."


"Nay ... kau ini bodoh atau idiot? Berhenti memikirkan orang lain, pikirkan saja dirimu sendiri. Jika mereka rujuk kembali, bagaimana nasib kamu dan anakmu? Kau tidak berpikir sampai kesana?"


"Aku hanya ingin Mas Alvian bahagia."


"Jangan bodoh! Kamu adalah istri sah Alvian sekarang. Jadi, tidak perlu mencari keberadaan Cecil. Bagus jika dia tidak pernah kembali kesini."


Nayla terperangah dengan pernyataan Jimmy. "Jim ... kamu adalah sahabat Mbak Cecil. Kenapa kamu bicara begitu?"


"Aku memang dekat dengannya, tapi bukan berarti kami bersahabat."


Jimmy meraih kedua bahu Nayla.


"Nayla ... Mulai sekarang, jangan menyebut nama Cecilia lagi. Ini adalah takdir yang baik untukmu. Kamu sudah jadi nyonya Alvian, jadi kamu harus bersikap layaknya seorang nyonya."


Jimmy membawa Nayla menghadap ke cermin besar yang ada diruangannya.


"Lihat penampilanmu! Kamu harus berubah. Kamu harus bergaya elegan dan mewah meskipun kamu sedang hamil."


"Apa itu perlu?"


"Tentu saja. Kamu harus membuat Alvian jatuh cinta lagi padamu, dan melupakan Cecilia. Jangan khawatir, aku akan membantumu." Bujuk Jimmy dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


Naylapun tersenyum bahagia.


...***...


Tok tok tok


Sandra mengetuk pintu ruang Direktur AJ Foods. Dan muncullah Danny dari balik pintu.


"Hai, Dan. Rangga ada di dalam?"


"Ibu Presdir? Iya, Pak Rangga ada di dalam. Silahkan masuk!"


"Terima kasih."


Rangga sedang fokus pada layar komputernya.


"Kamu sedang sibuk?" tanya Sandra.


"Oh, tidak Tante. Silahkan duduk. Danny, tolong bawakan teh untuk Tante Sandra."


"Siap Pak."


Setelah Danny keluar, Sandra memulai perbincangan.


"Kantor baru kamu bagus. Radit memang hebat." Sandra melihat sekeliling ruangan Rangga.


"Iya, aku juga baru tahu jika si urakan itu punya bakat terpendam, hahaha."


Hubungan Rangga dan Sandra sudah membaik. Rangga akhirnya menganggap Sandra sebagai ibu sambungnya, meski dia tetap memanggilnya dengan panggilan "tante".


"Oh ya, ada urusan apa Tante datang kemari?"


Sandra menyerahkan sebuah amplop pada Rangga. "Ini ... harusnya Tante menyerahkannya beberapa bulan lalu, tapi, keadaan tidak memungkinkan. Jadi, baru sekarang tante memberitahukannya padamu."


"Apa ini?"


"Kamu buka saja."


Dengan sedikit keraguan Rangga membuka amplop itu dan membaca isinya. Sebuah surat.


Rangga membaca dengan seksama isi surat itu. Kemudian menghela nafas.


"Iya, Papa kamu juga mendapat surat yang sama sepertimu."


Tak lama, Danny datang membawa secangkir teh untuk Sandra.


"Terima kasih, Danny," ucap Sandra.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu. Silahkan dilanjut obrolannya." Danny tahu ada hal penting yang sedang mereka berdua bicarakan, jadi ia memilih pergi.


Rangga masih terdiam dan pandangannya kosong.


"Rangga ... Apa yang kamu pikirkan? Ini yang kamu inginkan bukan? Kamu bisa bernafas lega sekarang."


Rangga akhirnya tersenyum. "Iya, terima kasih Tante."


"Ya sudah, kalau begitu Tante pamit dulu. Terima kasih tehnya."


"Hati-hati dijalan, Tante."


Setelah Sandra keluar dari ruangan Rangga. Radit tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.


"Tidak biasanya Tante Sandra datang kesini. Ada urusan apa?"


"Kau ini serba ingin tahu semua urusan orang! Lagipula sudah berapa kali kau datang kemari? Apa kau tidak bekerja?"


"Itulah kenapa kantor kita itu bersebelahan, dan terhubung dengan jembatan yang memudahkan kita untuk saling bertemu." Ucap Radit mendramatisir.


"Aku bosan melihat wajahmu!"


"Tenanglah! Nanti juga kau terbiasa hidup berdampingan denganku." Radit mengedipkan matanya.


"Kenapa matamu? Kelilipan debu? Aku sedang sibuk, ada perlu apa datang kemari?"


"Ah iya, aku sampai lupa. Gara-gara Tante Sandra aku jadi melupakan tujuan utamaku kesini. Aku kemari karena ingin memberitahu jika gedung lama AJ Foods sudah laku terjual."


"Hah? Apa kau serius? Kau hebat juga jadi makelar gedung!"


"Ckckckck, ini yang tidak aku suka darimu. Kau selalu memandang rendah diriku."


"Bukan begitu, Dit. Aku hanya merasa selama ini aku telah salah menilaimu."

__ADS_1


"Banyak hal yang belum kau ketahui tentang diriku. Eh, kertas apa yang ada ditanganmu?" Mata Radit tertuju pada kertas di tangan Rangga.


"Umm, ini ... " Rangga ragu untuk menunjukkannya pada Radit. Ia berpikir sejenak.


"Kau adalah sahabatnya, jadi kurasa kau perlu tahu."


Akhirnya Rangga menyerahkan kertas itu pada Radit.


Radit membacanya. Kemudian terdiam.


"Jadi ... Nadine membatalkan perjodohan kalian?"


Rangga mengangguk.


"Dia sangat mencintaimu, Ga. Bagaimana bisa dia membatalkan pertunangan kalian secara tiba-tiba?"


"Surat ini sudah lama dia kirim. Tapi Tante Sandra baru menyerahkannya padaku hari ini."


"Hmmm, aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih melihatmu batal menikah."


"Jangan ada drama! Aku baik-baik saja. Justru aku merasa lebih baik dari sebelumnya."


"Nadine menghilang sejak kau masuk rumah sakit. Dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi."


".............." Rangga tak tahu harus bagaimana menanggapi kepergian Nadine.


"Apa sebaiknya aku mencari Nadine juga?" Radit bergumam.


"Apa kau bilang?" Rangga penasaran dengan ucapan Radit yang terakhir.


Tiba-tiba ponsel Radit berbunyi.


"Sebentar ya, Aku angkat telepon dulu. Halo Pak, bagaimana?" Radit agak menjauh dari Rangga.


"Ada kabar terbaru, Mas."


"Apa itu?"


"Kami menemukan ada jejak perjalanan yang dilakukan Cecilia di bandara. Dia naik pesawat menuju luar kota."


"Oh ya? Bagus! Cari tahu sampai dia ditemukan, Pak."


"Baik, Mas."


"Kabari saya terus perkembangannya."


"Baik, Mas."


Telepon ditutup.


"Siapa yang menghubungimu?" Rangga penasaran.


"Detektif," jawab Radit santai.


"Detektif?" Rangga mengernyitkan dahi.


"Ah, aku lupa memberitahumu. Aku menyewa detektif swasta untuk mencari Cecilia. Karena keadaan perusahaan sudah membaik, kurasa sudah saatnya aku mengurusi urusan yang lain, yaitu mencari Cecilia."


Rangga terkejut lalu terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Radit.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Sampai bertemu lagi, bro."


Raditpun berlalu dari hadapan Rangga. Danny kembali ke ruangan Rangga. Dan melihat Rangga yang berdiri mematung. Namun ia tak berani bertanya apapun.


...๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ...


*Bersambung,,,


*Cecilia akan kembali hadir ya kak,


harap bersabar๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jangan lupa tinggalkan jejak๐Ÿ™


Terima kasih


ยฉpinkanmiliar


*meet me on IG: pinkanhazmi


Fb: pinkan miliar hazmi

__ADS_1


__ADS_2