
...πππ...
-Stasiun Kota-
"Apa?!? Papa dan Mama melamar Cecil? Yang benar saja?" Ismail uring-uringan saat tahu apa yang sudah dilakukan oleh orang tuanya.
"Iya, tapi di tolak oleh ibunya Cecil..." jawab Mama lesu.
"Papa dan Mama kenapa tidak menanyakan hal ini dulu padaku? Kenapa langsung melamar begitu? Aku harus bagaimana jika nanti bertemu dengan Cecil? Situasinya pasti canggung." Ismail mengacak-acak rambutnya.
"Maaf... Mama pikir itu bisa membantu kamu supaya lebih dekat dengan Cecil. Tapi ternyata malah jadi begini. Dan alasannya pun terlihat dibuat-buat oleh Bu Maria. Kenapa dia merendahkan putrinya sendiri di depan orang lain? Bukankah seharusnya orang tua membanggakan anaknya di depan orang ya. Dia benar-benar aneh!"
"Sudah, Ma. Jangan bicara begitu. Ibu Maria beralasan begitu karena dia tidak mau membuat kita kecewa, dengan status putrinya yang sudah pernah menikah. Papa rasa, Papa bisa memahami perasaan ibu Maria."
"Sudah dong, jangan membahas masalah ini terus. Aku mohon, untuk masalah pribadiku, aku sendiri yang akan memutuskannya. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Oke?! Oh ya, Keretanya akan segera berangkat. Mama dan Papa sebaiknya segera naik. Jika bulan depan aku dapat cuti dari kantor, aku pasti akan pulang ke Bandung."
"Baiklah... Ya sudah, kami pamit dulu ya. Kamu jaga kesehatan selalu. Sering-seringlah menelepon Mama."
"Iya, Ma... Kalian juga jaga kesehatan. Papa juga ya." Ismail memeluk kedua orangtuanya.
...***...
"Bagaimana ini, Bu? Apa kita bisa menghadapi Ismail setelah kita menolak lamarannya?" Kata Cecil penuh kecemasan.
"Tak perlu cemas. Dia adalah putra ibu juga. Dan akan tetap begitu. Ibu akan meneleponnya dan memintanya untuk tetap makan malam disini."
Maria mengambil ponselnya dan menelepon Ismail. Tersambung. Dan Ismailpun mengangkatnya.
"Nah, ibu bilang juga apa. Dia bersedia untuk datang kemari. Sudahlah, kau jangan cemas berlebihan. Sini kau, bantu ibu untuk siapkan makan malam."
Ibu bersikap biasa saja. Seperti tidak ada yang terjadi. Tapi aku? Aku tidak bisa begitu. Aku merasa tidak enak pada Ismail dan keluarganya. Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang akan kukatakan kalau bertemu dengannya?!
...***...
Tok... Tok... Tok....
"Nah, itu pasti Ismail. Sana kau buka pintu."
Dan Cecilpun berjalan lemas menuju pintu depan.
Kriiiiiiieeeeettttt
"Assalamu'alaikum ... " ucap Ismail.
"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk Ismail."Β Suasana canggung mulai terjadi.
"Ini aku bawakan buah untuk ibu..." Ismail menyerahkan satu kantong plastik berisi buah apel.
"Ah iya, terima kasih. Umm, aku... Aku minta maaf ya, soal ..." Cecilia bingung merangkai kata-kata yang pas untuk Ismail.
"Tidak apa, Cil. Bukan salah kamu. Orang tuaku saja yang terlalu berlebihan. Seharusnya mereka berdiskusi dulu denganku. Jadi, aku 'kan bisa mempersiapkan diri," balas Ismail nampak tegar.
"Eh? Jadi, kau baik-baik saja?"
"Tentu saja. Jangan khawatir. Oh ya, Cil. Kalau misalnya aku sendiri yang melamar dan bukan orang tuaku, apa kamu... Akan tetap menolaknya?"
"Hah? Kamu...? Melamarku?"
"Kamu akan menerimanya?"
"Aku... Tidak tahu. Mungkin aku harus beristikharah dulu." Jawab Cecil ragu.
Ismailpun tersenyum. "Kalau begitu lakukanlah."
__ADS_1
"Eh?"
"Lakukanlah Sholat Istikharah. Agar kau merasa lebih yakin."
".................."
"Setelah kau beristikharah dan kau tidak menemukanku dalam do'amu, maka ... Aku akan menerima dengan lapang dada. Bagaimana?"
"Baiklah. Itu akan adil untukmu. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Apa?"
"Kamu... Kenapa memilihku? Aku ini 'kan... Tidak cantik. Wajahku biasa saja."
"Memang benar, kamu tidak cantik. Dibandingkan dengan teman-teman wanitaku di kepolisian, kamu itu kalah jauh."
"Apa?! Kalah jauh kau bilang!!!" Cecil merasa kesal mendengarnya.
Ismail mendekatkan wajahnya ke arah Cecil, dan membuat Cecil seketika mundur untuk menghindari Ismail.
"Kamu memang tidak cantik, tapi hatimu cantik. Itu yang aku suka." Dan Ismailpun melenggang masuk ke dalam rumah.
Entah Ismail menyadarinya atau tidak, wajah Cecil seketika berubah bersemu merah setelah mendengar pernyataan itu dari Ismail. Cecil sangat malu sekarang. Iapun menutup wajahnya dengan kerudungnya.
...***...
-Cecilia PoV-
Beberapa hari telah berlalu, sejak orang tua Ismail secara tiba-tiba menemui ibuku dan melamarku.
Aku tahu kalau Ismail memang punya perasaan terhadapku. Tapi aku selalu menepis itu semua dan menganggap kami hanyalah teman. Dan itu memang benar. Aku hanya menganggapnya teman baikku.
Dia sudah banyak membantuku dan ibu. Dia lelaki baik. Dan aku tidak mau membuatnya bersedih dengan keputusan yang gegabah.
Semoga saja nanti malam aku bisa mendapat petunjuk tentang siapa harus aku pilih untuk mendampingiku.
"Ya Allah, jika Engkau memiliki 99 cinta untukku di hari akhir nanti, maka kumohon, berikan aku satu cinta saja di dunia, yang akan menemaniku hingga akhir hayatku..."
Aku mulai memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi.
.
.
.
Entah sadar atau tidak, aku seperti sedang berjalan di padang rumput yang luas. Tak ada siapapun disana. Hanya aku sendiri.
Aku menyukai tempat itu. Tempatnya sangat tenang dan membuatku tak memiliki beban apapun.
Aku ingin hidup disini selamanya. Tapi ... Aku kesepian. Aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku disini.
Kulangkahkan kakiku semakin jauh menjelajah. Samar-samar kulihat ada seseorang yang sedang berjalan ke arahku.
Aku juga berjalan mendekat kepadanya. Hingga tak tersadar jika ada akar panjang yang menghalangi jalan.
Aku tersandung. Lalu jatuh tersungkur. Aku merintih kesakitan.
Sosok itu sudah semakin mendekat ke arahku. Sosok itu memakai pakaian serba putih.
Ketika aku masih sibuk memegangi kakiku yang kesakitan, sosok itu mengulurkan tangannya padaku.
Wajahnya tak begitu jelas kulihat karena sinar matahari membuat mataku silau. Aku menyambut uluran tangan darinya. Dan dia membantuku berdiri.
__ADS_1
.
.
"Astaghfirullahaladzim..." Mimpi yang sama lagi. Pikirku.
"Siapa sosok itu? Kenapa sampai sekarang aku tak bisa melihatnya dengan jelas?" Gumamku.
.
.
.
"Jika kau masih tidak yakin dengan sosok itu, maka jangan dulu memberi keputusan."
Aku memutuskan menemui Umi Isma. Beruntung dia sedang berkunjung ke Jakarta.
"Tapi, Umi ... Aku merasa tak enak hati pada Ismail. Sudah berhari-hari aku menggantungnya."
"Kalau begitu tanyakan pada hatimu."
"Eh?"
"Atau sebenarnya ... Kau masih mengharap bahwa sosok itu adalah Rangga?"
"Umi, kenapa tiba-tiba membahas soal Rangga?" Aku menundukkan wajahku.
"Ya sudah. Umi tidak akan mencampuri urusan hatimu, Khumaira. Apapun keputusanmu, Umi akan mendukungmu."
"Terima kasih banyak, Umi."
...***...
Malam ini Cecilia menunggu Ismail pulang dari kantornya. Sudah saatnya ia memberikan jawaban atas do'a istikharahnya.
Cecil menunggu dengan gugup di teras rumah. Untuk permohonan Ismail yang ini, Cecil sengaja tak memberitahu ibunya. Karena ia tahu jika ibunya pasti tidak akan setuju.
"Ismail?" sapa Cecil ketika Ismail memasuki halaman rumah dengan motornya.
Cecil memberikan waktu pada Ismail untuk mengganti baju terlebih dahulu.
Tak lama Ismail menghampiri Cecil dan duduk di kursi teras.
"Apa kau sengaja menungguku?" Tanya Ismail berusaha datar.
"Ismail, maaf jika aku mengganggu waktumu."
"Tidak. Aku senang kau menyambutku pulang."
"Maaf, Ismail. Aku ... Tetap tidak bisa menerima lamaranmu."
...πππ...
bersambung,,,,
πmohon maap, Cecil tidak bisa menerima lamaran Ismail.
Dia masih memikiki Ikatan Takdir dengan seseorang yg masih belum tahu siapa sosok itu.
...πππ...
jangan lupa tinggalkan jejak πΎπΎ
__ADS_1
terima kasih ππ