99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Urutan Mengubah Hubungan(1)


__ADS_3

9 Tahun yang Lalu,


"Terima kasih sudah berbelanja di Maria's bakery. Jangan lupa datang kembali."


Setelah lulus kuliah aku memutuskan untuk membantu di toko roti milik ibu sebagai kasir. Awalnya ibu kurang setuju, karena beliau sudah bekerja keras membiayai kuliahku di luar negeri, malah aku berakhir sebagai kasir di toko roti miliknya.


"ini hanya sementara, Bu. Sampai aku dapat panggilan kerja. Ibu jangan khawatir."


Ibuku bukan tipe orang yang sabar. Kita yang harus sabar menghadapinya.


"Lagipula mana ada setelah lulus kuliah langsung dapat kerja? Semua butuh proses, Bu. Aku yakin sebentar lagi aku dapat panggilan kerja. Ibu tenang saja!"


"Terserah kau saja! Ibu mau belanja dulu ke swalayan. Mau beli bahan-bahan untuk toko. Kamu jaga toko dulu ya."


"Siap, Bu. Serahkan semua padaku."


Toko roti kami hanya mempekerjakan 2 orang karyawan saja. Maklum, Ibu harus berhemat untuk membiayai kuliah dan kehidupan sehari-hariku di luar negeri.


"Selamat datang, silakan berbelanja di Maria's bakery." Seorang pria menghampiriku di meja kasir.


"Mbak..."


"Iya, mas. Ada yang bisa dibantu?"


"Ada roti lapis?"


"Oh ada Mas. Ada diujung kanan sana."


"Terima kasih."


Di dalam ruangan seperti ini, pria itu masih memakai kaca mata hitamnya. Aneh sekali menurutku. Setelah mengambil roti lapis lalu dia menghampiriku lagi di meja kasir.


"Sudah Mas? Hanya ini saja?"


Dia hanya mengambil satu bungkus roti lapis atau sandwich.


"Iya, Mbak. Tersisa satu sandwich. Kalau masih ada banyak, saya akan beli semuanya."


"Hah? Oh begitu. Iya Maaf, Mas. Berarti sudah habis roti lapisnya. Total nya 5000 rupiah, Mas"


"Sebentar, Mbak." pria itu merogoh sakunya. Cukup lama dia mencari uang di dalam sakunya. Yang ternyata tidak ada. Lalu dia membuka tas ransel dipunggungnya.


"Mbak, maaf. Saya ternyata tidak bawa uang. Eh, maksud saya... Saya belum mengambil uang tunai. Bayar pakai kartu bisa, Mbak?"


"Hah?" Aku melongo melihat tingkah aneh pria ini. Hanya lima ribu rupiah dan dia tak memilikinya. Jangan-jangan dia ingin menipuku!


"Maaf, mas. Disini tidak bisa pakai kartu."


"Oh, begitu ya. Bagaimana ini?"


"Maaf, Mas. Agar saya tidak curiga, bisakah Mas membuka kacamata Mas? Lagipula ini didalam ruangan. Sangat aneh jika memakai kacamata hitam. Siapa tahu setelah melepas kacamata, Mas jadi bisa menemukan uang disaku celana Mas."


"Tapi-----Saya tidak bisa melepasnya, Mbak."


"Kenapa? Hanya tinggal melepasnya saja, apa susahnya? Atau saya akan telepon polisi! Mas sangat mencurigakan!"


"Ja-Jangan, Mbak!! Saya bukan orang jahat. Sumpah!!!"


Aku mengamati dengan teliti setiap inci pria ini. "Sepertinya wajah Mas tidak asing. Jika dilihat-lihat, Mas mirip dengan seseorang."


"Siapa?"


"Benar kan tebakanku!!! Mas Alvian!! Iya kan?"


"Sstt!!! Jangan berteriak! Iya ini saya, Alvian." Akhirnya dia membuka kacamatanya juga.


"Jadi benar ini adalah Mas Alvian? Apa Mas masih ingat dengan saya? Kita pernah bertemu saat dulu di New York. Mas membantu saya menemukan buku saya yang terjatuh."


"Ah, aku ingat! Kamu adalah gadis berkacamata itu. Kamu langsung mengenaliku dengan cepat. Kamu orang yang sangat teliti."


"Hehehe, iya, aku yang mengenali Mas Alvian dengan sekali lihat. Namaku Cecilia." Aku mengulurkan tanganku. "Oh iya, rotinya Mas bawa saja. Tidak perlu membayar."


"Eh?"


"Tidak apa. Bawa saja rotinya. Mas bisa membayar jika datang lagi kemari. Tapi Mas harus membeli roti yang banyak sebagai gantinya."


"Serius? Terima kasih banyak. Aku janji akan sering datang kesini. Karena roti sandwich disini adalah yang terenak dari semua roti yang pernah kumakan. Kalau begitu aku permisi dulu. Masih ada pengambilan gambar di lokasi syuting."


"oh, iya Mas. Hati-hati dijalan. Jangan lupa datang lagi!"

__ADS_1


Dan itu menjadi pertemuan keduaku dengan Mas Alvian. Dari situlah, semua kisah kami bermula. Meski kisah itu, sekarang telah kandas.


.


.


.


.


*Masa Sekarang,


"Cil! Cecil!! Bangun! Sudah sampai."


"Eh? Hoaaammm, sudah sampai mana?"


"Rumah kamu lah."


"Hoaammm, aku ketiduran lagi ya?"


"Tidak apa-apa. Setelah ini kau langsung tidur."


"He'em."


"Oh ya, apa aku perlu berpamitan dengan ibumu?"


"Tidak perlu. Sepertinya ibu sudah tidur."


"Begitu ya."


"Terima kasih untuk kencan hari ini. Aku sangat bahagia."


"Sama-sama."


"Hati-hati menyetirnya."


Cecilia memasuki rumah dengan berjalan pelan. Dia takut membangunkan ibunya. Dia berjalan ke meja makan, mengambil gelas dan menuangkan air ke dalam gelas.


"Kau sudah pulang?"


"Uhuk... Uhuk..." Cecilia tersedak saat sedang meminum airnya.


"Kau pikir ibu bisa tidur, saat putri ibu masih belum pulang, huh?"


"Aku sudah dewasa, Bu."


"Meskipun kau sudah dewasa, selama ibu masih hidup kau tetap putri kecil ibu. Paham kau? Dari mana saja kau tadi? Pergi kemana kau dengan si Rangga?"


"Hoaam, aku mengantuk, Bu. Besok pagi saja akan kuceritakan. Selamat malam." Cecilia melenggang pergi menuju ke kamarnya.


.


.


Keesokan harinya,


Seperti biasa Cecilia dan ibunya juga Ismail sarapan bersama. Suasana masih hening. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar merdu memenuhi ruangan.


"Nak Ismail, hari ini kau libur?"


"Eh? Iya Bu. Hari ini aku libur."


"Baguslah, kalau begitu gunakan waktumu untuk beristirahat."


"Iya, Bu."


"Selesaikan makan kalian. Ibu akan langsung ke toko setelah selesai dari gereja." Ibu melenggang pergi tanpa berpamitan pada Cecilia.


Ismail melihat ada gelagat aneh pada Cecilia. "Kamu belum berbaikan dengan ibu?"


"Entahlah. Aku tak mau bertengkar dengan Ibu. Makanya lebih baik aku diam. Benar kan?"


"Cil... Jangan begitu. Ibu hanya khawatir padamu. Makanya dia bersikap begitu. Coba pahami perasaan ibu. Dia hanya memilikimu. Dia pasti sedih jika kamu bersikap begini padanya."


"Kan sekarang ada kamu. Ibu lebih suka bicara denganmu dari pada denganku."


"Cecil... Aku mohon padamu. Jangan bertengkar dengan ibu. Coba dengarkan apa yang ibu inginkan. Dia hanya mencemaskanmu. Percayalah!"


"Eh eh, mau kemana kau?" Cecil mencegat Ismail yang akan beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Aku mau istirahat. Seperti kata ibu." Ismail tersenyum lalu pergi meninggalkan Cecil sendiri di meja makan.


...***...


Kembali ke 9 tahun yang lalu...


Setelah mengenal Mas Alvian selama beberapa bulan, aku merasa sudah saatnya aku mengenalkan Mas Alvian pada ibu.


"Kenalkan, Bu, ini Mas Alvian..."


"Alvian? Dia... Bukankah dia selebriti yang sedang terkenal itu?"


"iya, Bu. Saya Alvian Arifin. Saya bekerja di industri hiburan." Mas Alvian mencium punggung tangan Ibu.


Aku pikir semua akan sesuai dengan harapanku. Aku pikir ibu akan menyukai Mas Alvian.


Namun ternyata, semua terasa sulit. Ditambah kami yang berbeda keyakinan.


Hampir tiap hari aku berdebat dengan ibu. Ibu tetap menentangku meskipun Mas Alvian selalu bersikap baik pada ibu. Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku dan Mas Alvian tetap berjuang untuk cinta kami.


Sampai akhirnya ibu luluh, dan memberikan restunya pada kami. Meski itu terpaksa. Aku tahu ibu terpaksa. Karena ibu hanya ingin aku bahagia. Dan kebahagiaanku adalah bersama Mas Alvian.


.


.


.


*Masa Sekarang,


"Kau tidak pergi keluar seharian ini?" tanya ibu saat sudah kembali ke rumah.


"Tidak. Ibu bilang aku harus istirahat."


BUGH. Satu pukulan mendarat di punggung Cecilia.


"Aduh!!" Cecilia merintih.


"Ibu bilang itu buat Ismail, bukan buat kau."


"Ibu... Aku juga putri ibu. Jadi aku juga akan menuruti apa kata ibu."


"Apa? Sejak kapan kau menuruti kata ibu? Kau selalu saja membantah."


"Maka dari itu, mulai sekarang aku akan mendengarkan Ibu."


"Dasar anak nakal!!" Ibu melayangkan tangannya kembali ke arah Cecil. Namun tak sampai hati ibu memukul Cecil lagi.


"Apa kau yakin mau mendengarkan ibumu?"


"Ho'oh. Aku yakin. Aku akan mendengarkan apa yang ibu mau, baru setelah itu aku... Aku... Akan memberitahu keinginanku."


Ibu menghela nafas. "Cecil... Kau putri ibu satu-satunya. Cuma kau yang ibu punya didunia ini."


"ibu.... " Cecilia mulai berkaca-kaca.


"Apa kau bahagia, Nak? Apa kau bahagia bersama Rangga?"


"Ibu... "


"Dulu.. Ibu tidak sempat bertanya padamu. Saat kau terus mempertahankan hubunganmu dengan Alvian. Mungkin itu adalah kesalahan ibu. Makanya sekarang... Kau jadi seperti ini." Ibu meneteskan airmata.


"Ibu..."


"Dengar, Nak. Ibu hanya ingin kau bahagia. Itu saja. Kalau kau bahagia bersama Rangga, maka ibu akan merestuinya."


"Ibu... Hiks... Hikss."


"Beberapa hari ini ibu berpikir. Seseorang harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiannya sendiri. Kau... Belum berusaha apapun. Jadi, jangan berhenti. Meski nanti badai akan menghadangmu, jangan pernah menyerah. Mengerti?"


"Iya, Bu... Hiks... Hiks... Aku mengerti. Maafkan aku, Bu... Maaf... Hiks... Hiks..." Cecilia memeluk Ibunya.


"Berjanjilah, kau akan bahagia."


"Ibu.... Terima kasih... Terima kasih ibu..."


...*****...


Bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2