
Alvian dan Cecil saling diam selama perjalanan menuju pulang usai memeriksakan kandungan Cecil di rumah sakit. Permintaan Alif yang ingin memanggil Cecil dengan sebutan 'mama' nyatanya membuat Cecil dan Alvian saling canggung.
Alif amat bahagia karena ia akan mendapat adik perempuan. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan jika janin yang dikandung Cecil berjenis kelamin perempuan.
Tiba di rumah, mereka bertiga disambut oleh Arini yang sudah menunggu sedari tadi. Ia langsung memerintahkan baby sitter untuk membawa Alif bermain.
"Ada yang harus mbak bicarakan dengan kalian." ucap Arini.
Alvian dan Cecil saling pandang. Kemudian mereka duduk bersama di ruang kerja Arini.
"Ada apa, Mbak?" tanya Alvian.
Arini menatap Alvian dan Cecil bergantian.
"Apa kau tahu bagaimana kabar Nayla saat ini?" ucap Arini.
Wajah Alvian berubah kesal saat mendengar nama Nayla.
"Aku sudah tak punya hubungan apapun dengannya, jadi..."
"Tapi bagaimanapun juga Nayla adalah ibu kandung Alif."
"Memangnya apa yang terjadi dengan Nayla, Mbak?" Cecil ikut bertanya.
Arini menghela nafas. "Nayla di temukan oleh seorang aktifis ODGJ. Mereka memiliki komunitas untuk membantu orang-orang dengan gangguan jiwa yang terlantar di jalanan dan membawanya kembali ke tengah-tengah keluarga mereka."
"Astaghfirullahaladzim. Jadi maksud Mbak Arini, Nayla mengalami gangguan jiwa?" Cecil amat terkejut mendengar kabar tentang Nayla.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mbak? Aku dan Nayla sudah bercerai." ujar Alvian.
"Nayla tetaplah bagian dari keluarga kita, Alvian. Dia adalah putri Arif, adikku."
Alvian terdiam.
"Aku akan menghubungi aktivis yang menemukan Nayla dan memintanya untuk membawa Nayla ke kota ini. Atau kita bisa menempatkan Nayla di rumah sakit jiwa di Magelang."
Alvian masih terdiam.
"Mungkin ini adalah balasan untuk Nayla karena dia selalu menyakiti Cecil. Tapi sebagai seorang saudara, kita tetap harus membantunya." lanjut Arini.
Cecil tak menjawab karena merasa jika ini bukanlah wilayahnya untuk bicara.
"Baiklah. Terserah mbak Arini saja." jawab Alvian pada akhirnya.
...***...
Alvian menguatkan hatinya untuk melihat kondisi mantan istrinya itu. Jujur ia tak mendengar kabar Nayla setelah perceraian mereka. Ia pun tak tahu jika Nayla mengalami depresi hingga harus mengalami gangguan jiwa.
Cecil pun ingin bertemu dengan Nayla. Bagaimana pun juga Cecil sudah memaafkan semua kesalahan Nayla meski kini ia harus berpisah dengan ayah dari bayi yang dikandungnya.
Alvian menatap sebuah ruangan yang di isi oleh Nayla didalamnya. Ia melihat tatapan Nayla yang kosong dan hanya menatap ke depan.
Alvian menghampiri Nayla.
"Nayla..." panggilnya.
__ADS_1
Sosok Nayla tidak merespon sedikitpun panggilan Alvian. Namun secara tak terduga Nayla menoleh kearah Alvian yang dibatasi oleh jeruji besi.
Tatapan mata mereka bertemu. Alvian menatap Nayla dengan iba. Sungguh ia tak menyangka jika wanita yang pernah mengisi hatinya itu kini terpuruk dalam jeruji besi rumah sakit jiwa.
"Mas Alvian..."
Nayla ternyata masih mengenali Alvian.
"Hah?!" Alvian tercengang mendengar namanya disebut.
"Kamu mengenali aku, Nay?"
Sosok Nayla berlari dan memegangi jeruji besi yang memisahkan mereka.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku... Maafkan aku... Tolong maafkan aku..." teriak Nayla yang membuat Cecil dan Arini mendengar suara Nayla.
Segera Cecil dan Arini menghampiri Alvian. Mereka tertegun melihat kondisi Nayla dengan rambut acak-acakan dan mata yang menghitam. Nayla bersimpuh memohon maaf pada Alvian. Namun Alvian tak merespon apapun saking terkejutnya.
Netra Nayla kemudian tertuju pada sosok Cecil yang berperut buncit.
"Mbak Cecil..."
Nayla juga mengenali Cecilia. Kembali Nayla mengucap kata maaf pada Cecilia. Hati Cecil miris melihat Nayla yang kacau dengan terus meracau.
Cecil menutup mulutnya kemudian berjalan mundur meninggalkan ruang itu. Ia tak sanggup melihat kondisi Nayla lebih dari ini. Meski semua adalah hukuman atas apa yang diperbuatnya di masa lalu. Tetap saja Cecil masih punya hati dan tak tega dengan apa yang menimpa Nayla.
...***...
__ADS_1
#bersambung
"setiap perbuatan, entah itu buruk ataupun baik. Akan selalu ada karma yang mengikutinya."