99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Insiden Hari Itu...


__ADS_3

Radit masih penasaran dengan apa yang terjadi antara Cecil dan Nadine beberapa hari kemarin. Radit menemui Nadine. Dan seperti biasa Nadine selalu bersikap dingin padanya.


"Untuk apa kau menemuiku lagi?" Nadine bertanya dengan sinis.


"Apa yang kau lakukan pada Cecil waktu itu?"


"Aku tak melakukan apapun padanya. Apa dia terluka? Tidak kan? Sudahlah, aku sibuk. Aku malas berurusan denganmu dan Cecil."


Radit mencegat Nadine. "Aku bisa terima jika kau belum memaafkan Cecil. Tapi jika kau melakukan sesuatu padanya, kau akan berhadapan denganku! Ingat itu, Nadine!"


"Terserah saja!"


"Nadine!!! Aku belum selesai bicara!! Nadine!!!"


Nadine tetap tak menggubris Radit dan melenggang pergi. Radit mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tak paham dengan isi kepala Nadine.


...***...


Di sekolah, Tasya bertanya pada teman dekatnya tentang surat yang dia temukan. Namun, temannya tak ada yang paham dengan maksud dari surat tersebut. Mereka mengusulkan pada Tasya untuk bertanya pada ibu guru saja. Pasti beliau lebih tahu.


Dan Tasya benar-benar melakukan itu. Dia bertanya pada Bu Fanya, guru kelasnya.


Bu Fanya bingung harus memberikan jawaban apa. Karena beliau tahu, saat dia memberi tahu yang sebenarnya, pasti Tasya akan syok dan sedih setelah mengetahui apa yang terjadi dengan orang tuanya. Bu Fanya mencoba menjelaskan dengan hati-hati pada Tasya.


"Tasya, kamu dapat dari mana surat ini?" Tanya bu Fanya.


"Tasya tidak sengaja menemukannya di ruang kerja papa, Bu Guru."


"Sayang, bukankah tidak baik, mengambil barang tanpa seijin orang yang punya? Tasya tahu itu bukan?"


Tasya terdiam. Dia mulai merasa bersalah karena mengambil barang bukan miliknya.


"Dengarkan ibu. Apa yang ada di dalam amplop ini, adalah urusan orang dewasa. Jadi, sebaiknya Tasya tidak perlu tahu. Dan menurut ibu, sebaiknya Tasya kembalikan lagi amplop ini ke tempatnya. Ibu guru yakin, suatu saat pasti ada orang dewasa yang akan menjelaskan semuanya pada Tasya. Dan Tasya harus menunggu itu." Bu Fanya tersenyum lalu memeluk Tasya. Dia merasa iba pada muridnya itu.


...***...


*Jam pulang sekolah Tasya*

__ADS_1


Seperti biasa Nayla menjemput Tasya dan menunggu di depan gerbang sekolah. Nayla tersenyum dan melambaikan tangan saat Tasya keluar. Namun Tasya tak merespon. Tasya tertunduk lesu. Nayla bingung apa yang terjadi dengannya.


Saat Tasya sudah di depan Nayla, dia mulai bertanya.


"Sayang, ada apa? Kenapa lesu? Apa Bu Guru memarahimu?" Nayla bertanya.


Tasya menggeleng.


"Apa kau dapat nilai jelek di ujianmu?" Nayla bertanya lagi.


Tasya menggeleng lagi.


"Lantas ada apa? Kenapa wajah cantikmu ditekuk begitu? Bagaimana jika kita membeli es krim? Kau suka es krim kan?" Rayu Nayla.


Tasya menggeleng lagi. Lalu membuka tasnya, dan memberikan amplop coklat pada Nayla.


Nayla bingung. "Apa ini, sayang?"


Betapa terkejutnya Nayla saat membaca kop di amplop itu.


Nayla bingung harus menjawab apa. "Kamu.... dapat ini dari mana, sayang?"


"Tasya tidak sengaja menemukan ini di ruang kerja papa. Tante pasti tahu ini surat apa. Tasya sudah bertanya pada teman-teman tapi tidak ada yang tahu. Bu Guru bilang, ini urusan orang dewasa. Dan Tasya tidak boleh tahu. Kenapa begitu, Tante? Bukankah Tasya adalah anak mama dan papa. Kenapa tidak boleh tahu?"


Nayla jadi salah tingkah karena Tasya mendesaknya untuk menjelaskan semuanya.


Bagaimana mungkin aku menjelaskan semuanya pada Tasya? Dan bukankah Mas Alvian dan mbak Cecil sudah berbaikan?ย  Harusnya Mas Alvian membuang surat panggilan itu. Kenapa masih ada di ruang kerjanya?


"Tante.....!! Jawab! Tante tahu kan ini apa? Apa itu cerai, Tante? Apa papa dan mama akan berpisah? Apa itu benar, Tante? Papa dan mama akhir-akhir ini sering bertengkar. Apa itu sebabnya mereka mau bercerai? Tante...!!! Jangan diam saja! Tante pasti tahu sesuatu, iya kan?" Tasya mulai menangis.


Nayla mencoba menenangkan Tasya. Namun tidak berhasil. Tasya marah. Marah pada Nayla. Nayla mencoba menjelaskan.


Kini Nayla pun ikut berurai air mata. Dia sedih karena Tasya mengetahui semuanya. Nayla berlutut di depan Tasya dan memeluknya. Namun Tasya memberontak. Dia malah berlari. Berlari menjauhi Nayla. Nayla mengejarnya. Namun,


BRAAAAAAAAKKKKKKK !!!!!


Sebuah truk besar menabrak Tasya.

__ADS_1


...***...


Cecilia masih berkutat dengan pekerjaannya. Di depan komputernya. Banyak yang harus di urus karena klien menyetujui kontrak dengan AJ Foods.


Drrrrtttttt drrrrrtttttt drrrrtttt


Ponsel Cecil bergetar. Dari Alvian. Cecil mengangkatnya. Wajahnya pucat pasi setelah menjawab telepon dari Alvian. Tubuhnya lemas, serasa tak bernyawa.


Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Dia meraih kunci mobilnya. Berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Dia berjalan sempoyongan. Tak terarah.


Saat sedang menuju basement, dia berpapasan dengan Rangga. Rangga melihat ada yang aneh dengan gelagat Cecil. Rangga mencegatnya.


"Cecil.... ada apa? Kamu tidak apa-apa?" tanya Rangga sambil memegangi kedua pundak Cecil.


"Pak... Saya ijin keluar sebentar..." Suara Cecil bergetar.


"Kau mau kemana dengan kondisimu yang begini?"


Cecil hanya menangis. "Ta...tasyaa Pak... Tasyaaa......!!"


Rangga makin bingung. "Ada apa dengan Tasya?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rangga, Cecil berlalu dari hadapan Rangga. Rangga mengikuti Cecil dari belakang. Dia takut terjadi sesuatu pada Cecil.


Cecil menekan kunci mobilnya. Dan ingin masuk kedalam mobil. Rangga mencegahnya.


"Cil, kamu tidak mungkin menyetir dalam keadaan begini...! Sini biar saya saja!" Rangga merebut kunci mobil dari tangan Cecil. Dan Menuntun Cecil duduk di dalam mobil.


"Kamu tenang dulu. Nanti dijalan ceritakan pelan-pelan pada saya apa yang terjadi. Saya akan mengantarmu!"


Rangga yang tadinya ingin bersikap dingin kembali pada Cecil. Sekarang mulai melemah. Dia memang tidak bisa melihat seorang perempuan menangis.


Aaaaaaahhhhh, hanya sebatas ini saja kekuatanmu Rangga...!! Ternyata kamu begitu lemah, saatย berhadapan dengan situasi begini. Kamu tidak bisa menjauh dari Cecilia.


...๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ...


tobe continued. . .

__ADS_1


__ADS_2