99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Belajar Move On


__ADS_3

Setelah insiden beberapa waktu lalu di kantor AJ Foods, kini semua mulai kembali normal. Aku sangat berterimakasih pada Pak Rangga yang sudah membantuku mengurus para wartawan. Entah apa yang sudah dilakukannya.


Namun setelah hari itu tak ada lagi wartawan yang datang ke kantor. Dan postingan di akun gosip itu juga telah hilang.


Pak Rangga ternyata memiliki kekuasaan besar diluar bayanganku. Aku bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik.


Lalu bagaimana dengan Mas Alvian? ApaΒ kabarnya setelah wartawan mengetahui semuanya?


Kudengar, satu hari setelah postingan tentang perpisahan kami di akun gosip menjadi viral, Mas Alvian melakukan klarifikasi didepan awak media bersama Nayla. Dia mengenalkan Nayla sebagai istri sahnya sekarang.


Aku tahu dari Amel yang memang pecinta tayangan infotainment. Aku tak mau menanggapi tentang berita itu. Karena Nayla adalah istri sah Mas Alvian sekarang.


Banyak penggemar yang kecewa pada Mas Alvian. Mereka menyayangkan karena tokoh idola mereka ternyata melakukan hal yang tak terduga yaitu berpoligami, hingga bercerai. Kudengar karir keartisannya mulai meredup.


Masalah itu, sudah bukan urusanku lagi. Biarkan Mas Alvian membereskan masalahnya sendiri bersama para penggemarnya.


Aku harus fokus pada kehidupanku yang sekarang. Aku akan menunjukkan pada Pak Rangga, kalau kinerjaku tak berkurang sama sekali meskipun aku sedang menghadapi masalah.


.


.


.


Aku belajar untuk menatap masa depanku. Meski dulu aku selalu mengira kalau masa depanku adalah bersama Mas Alvian. Tapi nyatanya, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan.


Manusia hidup hanya mengikuti takdir. Mereka bisa berencana apapun. Tapi Tuhanlah yang menentukan semuanya.


Akan kumulai hari-hariku dengan senyuman, canda tawa bersama sahabat, dan semangat untuk bekerja.


...πŸ’Ÿ...


Satu bulan kemudian,


"Orang-orang itu tidak datang lagi, bukan?" tanya Pak Rangga saat aku ke ruangannya untuk menyerahkan laporan mingguan.


"Hah?"


Aku berpikir sejenak untuk mencerna apa maksud pertanyaan Pak Rangga. "Maksud bapak wartawan-wartawan itu?"


"Apa saya akan bertanya soal hal lain?" Rangga menatap Cecil tajam.


"Maaf jika saya kurang paham dengan pertanyaan bapak. Mereka sudah tidak datang lagi. Ini semua berkat bapak. Saya amat berterimakasih."


"Baguslah kalau begitu. Kamu tidak perlu sungkan. Karena semua terjadi di wilayah perusahaan, maka saya yang harus bertanggung jawab."


"Sekali lagi terima kasih, Pak."


"Ini, laporan kamu. Saya suka dengan kinerja kamu. Tingkatkan terus!"


"Terima kasih, Pak. Saya janji saya akan bekerja lebih baik lagi. Saya permisi."


Tak lupa kusunggingkan senyum di wajahku sebelum aku meninggalkan ruangan Pak Rangga.


.


.


.

__ADS_1


Ponselku berdering. Dari Shasha. Ada apa dia menghubungiku? Kuangkat panggilan darinya. Shasha bilang dia sedang berada di kantor AJ Foods dan menungguku di cafe


Kuputuskan untuk menemuinya.


"Hari ini kau punya waktu? Alvian ingin bertemu denganmu." ujar Shasha singkat begitu aku duduk berhadapan dengannya di cafe.


"Ada urusan apa Mas Alvian ingin bertemu?" tanyaku dengan mengerutkan dahi.


"Ada hal penting yang harus dia sampaikan."


Aku berpikir sejenak.


"Baiklah. Dimana aku harus menemuinya? Aku akan kesana setelah pekerjaanku selesai."


"Akan kutunggu sampai kau selesai bekerja."


"Apa?"


"Aku kesini untuk menjemputmu dan membawamu ke tempat Alvian."


Aku mulai kesal sekarang.


"Tidak perlu! Aku bisa kesana sendiri! Beritahukan saja dimana alamatnya! Kau tenang saja! Aku pasti akan datang." jawabku dengan penuh penekanan.


"Oke! Akan kukirim alamatnya lewat pesan singkat. Terima kasih atas waktunya. Aku permisi!"


Shasha beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kantor AJ Foods. Kulihat ia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel. Ia menghubungi seseorang. Pasti Mas Alvian!


Apa lagi yang ingin Mas Alvian bicarakan denganku? Bukankah dia sudah hidup bahagia bersama Nayla? Untuk apa mencariku?


...πŸ’Ÿ...


Shasha mengirimiku sebuah pesan singkat yang isinya sebuah alamat. Sudah kuduga tempat itu adalah taman olahraga.Tempat kami menghabiskan waktu saat masih bersama.dulu.


Aku menghampirinya.


"Akhirnya kau datang juga." sapanya padaku sambil meneguk botol air mineral ditangannya.


"Untuk apa kau meminta Shasha menjemputku di kantor?"


"Aku hanya takut kau tak mau datang. Itu saja."


"Aku pasti datang, Mas."


Aku langsung memposisikan diriku duduk di pinggir lapangan.


"Benarkah? Syukurlah karena kau tetap mau datang. Bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat." jawabku sekenanya.


"Kau kelihatan baik-baik saja."


Ya, Mas. Aku baik-baik saja sekarang. Tapi kemarin? Apa kau tahu, Mas? Aku sampai harus datang ke psikiater tig kali dalam seminggu. Ismail mengenalkanku dengan kenalannya yang psikiater di kepolisian. Ismail menyarankanku untuk menemui seorang psikiater, agar aku lebih bisa mengontrol diriku dan tak terus bersedih. Aku pernah kacau saat kehilangan Tasya, jadi aku harus tahu diri, kalau aku tak boleh seperti itu lagi. Aku harus kuat. Aku harus tegar. Sabar. Tersenyum. Tertawa. Jangan menangis lagi Cecilia. Itulah yang selalu dikatakan Dokter Diana padaku saat aku datang berkonsultasi.


"Cil? Kenapa diam?" tatapan mas Alvian terasa masih sama seperti saat dia masih menjadi suamiku.


Tenang Cil! Tenangkan dirimu! Jangan berpikir macam-macam. Dia sudah bukan milikmu lagi.


"Ah, tidak ada apa-apa. Shasha bilang ada yang ingin kamu bicarakan. Tentang apa?" jawabku datar menutupi kegugupanku.

__ADS_1


Kemudian Mas Alvian duduk disampingku.


"Aku ingin meminta maaf, Cil. Aku tahu kau sudah tidak mau dengar permintaan maaf lagi dariku. Tapi kali ini, kumohon dengarlah!"


Aku menatap Mas Alvian yang duduk disampingku. Tidak bisa kupungkiri aku masih mencintainya.


"Ini semua salahku! Andai aku bisa belajar seperti Nabi, yang bisa adil kepada istri-istrinya. Pasti kamu tidak akan bersedih dan meninggalkan rumah."


Ada nada penyesalan dalam suaranya.


"Tapi inilah aku. Aku bukan Nabi. Aku tidak bisa mempertahankanmu untuk tetap disisiku. Maafkan aku, Cil. Pada akhirnya, aku hanya melukai hati kalian berdua."


Sudah satu bulan berlalu, Mas. Apa kau masih bersedih dengan perpisahan kita? Apa kau menyesali semua ini?


"Aku juga bukan Khadijah ataupun Aisyah. Aku tidak bisa setegar mereka. Aku tidak sesabar mereka. Aku juga minta maaf, Mas." kini giliranku bicara.


"Dan sebaiknya, kita tidak perlu bertemu lagi seperti ini."


"Kenapa? Apa kau membenciku? Apa kita tidak bisa berteman?"


"Karena aku harus belajar move on dari kamu, Mas. Aku akan memulai kembali hidupku, dan melupakanmu."


"Oh, begitu ya."


"Aku rasa aku tidak bisa berteman denganmu. Menjaga silaturahmi itu penting. Tapi tidak dengan cara bertemu diam-diam seperti ini. Aku tidak enak hati pada Nayla. Dia adalah istri sahmu sekarang."


Mas Alvian tertawa kecil. Apa maksud dari tawanya itu?


"Aku mengerti. Aku tidak akan jadi temanmu. Kau tenang saja! Sudah waktunya aku melepasmu untuk orang lain."


"Orang lain? Apa maksudmu?"


"Kau harus membuka hatimu untuk seseorang, Cecil. Rangga, misalnya. Dia menyukaimu. Aku harap kau bisa menerima perasaannya."


"Apa maksudmu? Kau ingin mengatur hidupku? Kenapa membawa nama Pak Rangga dalam masalah kita, Mas?"


"Dia mengakui perasaannya padamu di depanku ketika dia mengantarmu ke rumah sakit di hari kecelakaan yang menimpa Tasya."


Aku mulai tak mengerti dengan semua pembicaraan Mas Alvian.


"Jadi kau memintaku datang hanya untuk mengatakan ini? Aku rasa aku sudah salah sangka terhadapmu. Tidak seharusnya aku datang kesini."


Aku segera beranjak dari tempatku duduk dan berdiri. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan Mas Alvian. Aku mulai kesal.


"Tunggu, Cil!"


Mas Alvian meraih tanganku.


"Aku minta maaf."


Kutatap dalam manik hitam miliknya. Tatapannya masih sama, seakan dia masih mencintaiku.


Apa memang dia masih mencintaiku? Ya Tuhan!!! Kenapa aku jadi bimbang? Mataku Mulai berkaca-kaca.


Tidak! Kau harus kuat, Cecilia! Dia bukan milikmu lagi. Kumohon jangan menangis!


Perlahan kulepas genggaman tangan Mas Alvian. Lalu kupalingkan wajahku dan berjalan menjauh darinya.


Aku berharap ini benar-benar pertemuan terakhirku dengan Mas Alvian. Roda kehidupan akan terus berjalan. Dan aku akan memulai hidupku kembali.

__ADS_1


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


bersambung~


__ADS_2