
Cecilia PoV
Aku menyusuri jalanan kota dengan air mata yang terus mengalir. Kuyakinkan diriku kalau semua ini hanyalah mimpi. Semua yang terjadi hari ini adalah mimpi buruk. Dan aku akan segera terbangun dari mimpi ini.
Tapi tidak, aku tidak bermimpi. Aku mengalami semua ini. Nyata. Aku sudah resmi berpisah dengan Mas Alvian mulai hari ini. Cinta pertamaku, aku merelakannya pergi untuk bersama cinta pertamanya.
Terdengar aneh memang. Namun sudah kupikirkan dengan matang. Aku sudah berdoa berhari-hari, agar tidak mengambil keputusan yang salah. Dan inilah keputusanku.
...***...
Sesampainya dirumah, ibu sudah menungguku di teras rumah ditemani Ismail. Ibu pasti cemas, karena aku belum juga pulang sampai larut malam begini. Aku tidak sanggup bertemu denganmu, ibu.
Aku berjalan melewati ibu dan Ismail. Aku langsung masuk ke kamarku. Membenamkan diriku ke atas bantal. Maafkan aku, ibu. Aku belum siap bertemu siapapun saat ini. Biarkan aku sendiri.
"Sebaiknya ibu istirahat. Ini sudah larut malam. Saya juga harus ke kantor lagi." Pamit Ismail pada ibu Maria.
"Terimakasih banyak Nak Ismail. Maafkan sikap Cecil ya."
"Ya, Bu tidak apa."
...***...
Hari pertama. Aku masih kacau. Setelah terbangun dari tidur. Aku hanya terus terdiam. Aku tidak ke kantor hari ini dan beberapa hari kedepan. Aku sudah meminta ijin pada Pak Rangga.
Ibu membawakan aku sarapan. Namun belum kusentuh. Aku tidak nafsu makan. Tak ada selera. Biasanya ibu akan mengomel tiap kali aku tak mau makan. Tapi sekarang ibu hanya diam.
Hari kedua. Masih sama. Aku tetap berdiam diri dikamar. Sesekali keluar untuk mandi dan buang hajat saja. Ibu selalu membawakan aku makanan. Hanya kucicip sedikit. Saat malam hari, entah kenapa aku selalu menangis. Mungkin aku masih belum bisa menerima perpisahan ini. Meski aku sendiri yang memutuskan untuk berpisah.
Hari ketiga. Ibu menghampiriku ke kamar. Menyisir rambutku yang berantakan. Mataku mulai menghitam. Aku kembali kacau. Sama seperti dulu, saat Tasya pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Kudengar ibu sesenggukan saat menyisir rambutku. Tak terasa mataku juga ikut memanas. Aku juga meneteskan air mata. Maafkan aku ibu... Maafkan anakmu ini. Aku hanya terlihat kuat diluar, tapi didalam aku begitu terluka.
...***...
Ismail PoV
Hari ke empat. Ibu Maria datang padaku sambil menangis. Aku bingung. Ini pasti karena Cecilia, putrinya. Sudah berhari-hari Cecil tak keluar kamar. Keadaannya kacau. Begitu cerita Ibu Maria. Aku bisa apa? Aku ingin berbuat sesuatu, tapi apakah bisa?
__ADS_1
"Ibu harus bagaimana Nak Ismail? Ibu tidak tahan melihat Cecilia begitu menderita." Ibu Maria bercerita padaku dengan berlinang air mata.
Aku tak tega melihat ibu Maria terus bersedih. Hanya aku orang terdekat yang dia punya. Ibu Maria pasti bingung mau bercerita pada siapa selain aku.
Aku sangat ingin membantu. Namun Cecilia bukan tipe orang yang mudah menerima bantuan. Dia tidak suka kalau ada yang ikut campur masalahnya. Tapi aku juga tidak tega melihat ibu Maria bersedih begini. Aku harus memikirkan sebuah cara.
Malam itu, kulihat Cecilia keluar dari kamarnya. Dia berdiri diteras rumah. Syukurlah dia sudah mau keluar. Aku kasihan melihat keadaannya. Badannya terlihat sangat kurus. Ditambah lagi, dia memakai kaos yang longgar. Membuat tubuhnya semakin kecil saja.
Cecilia memandang langit. Memandang bintang. Yah, itu yang selalu dia lakukan saat sedang bersedih. Tiba-tiba saja dia menoleh ke arahku, sontak aku langsung menghindar. Jangan sampai dia tahu kalau aku memperhatikan dia secara diam-diam. Jantungku berdegup kencang. Bagaimana kalau dia tahu? Dia pasti akan marah padaku. Aku harus memikirkan cara yang tepat untuk membuatnya tersenyum lagi.
Hari kelima. Kutemukan cara yang bagus untuk bisa membuat Cecilia sekedar tersenyum meski sedikit. Malam ini akan aku coba.
Malampun tiba, aku menunggu Cecilia keluar dari rumah. Ada sedikit keraguan dihatiku. Bagaimana kalau dia tak suka dengan sikapku ini? Aku mengacak-acak rambutku. Tak berapa lama kulihat Cecilia keluar dari rumah. Berdiri terpaku dan menatap langit.
"Tidak perlu sembunyi. Keluarlah Ismail." Suara itu mengagetkanku. Ternyata keberadaanku sudah diketahui olehnya.
"Eh? I-iya." jawabku dengan harap-harap cemas. "Ini ada sesuatu untukmu." Aku memperlihatkan bungkusan yang sedari tadi kupegang. "Kita makan bersama!" Ajakku.
Tak kusangka Cecilia berjalan mendekat.
"Apa ini? Pizza?" Kulihat sorot mata sembabnya berbinar.
"Benarkah? Tempat itu memang menjual pizza terenak."
Cecilia mengambil sepotong pizza dan melahapnya. Dia terlihat seperti orang yang sudah tak makan berhari-hari.
"Hati-hati makannya, nanti tersedak."
Cecilia tersenyum dengan mulut yang penuh dengan pizza.
"Bagaimana kabarmu? Apa baik-baik saja? Kamu kelihatan sangat kurus." Tanyaku dengan hati-hati.
Cecilia menghentikan makannya dan menatapku. Ada lingkaran hitam terbentuk dibawah matanya. Dia pasti menangis sepanjang malam selama beberapa hari ini.
"A-aku tak akan berkomentar apapun. Serius!! Karena aku sendiri tidak tahu seperti apa rasanya patah hati. Tolong jangan marah!" Sudah bisa dipastikan kalau mukaku sudah merah padam karena sangat takut Cecilia akan marah.
__ADS_1
Cecilia menatapku heran. Lalu dia malah tertawa.
"Hahahhahahaha."
Apa ini? Kenapa dia malah tertawa? Apa ada yang salah dengan yang aku katakan?
"Maaf maaf... Aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Tapi, tadi itu sangatlah lucu."
Cecilia kembali tertawa. Syukurlah karena dia sudah mau tertawa hanya karena hal kecil seperti ini.
"Terimakasih untuk pizzanya." Cecilia tersenyum kembali.
Aku senang sekali, karena dia sudah mau kembali tersenyum.
...***...
Dia adalah Ismail, lelaki tampan perwira polisi yang menyewa rumah disebelah rumah ibuku. Aku mengenalnya saat Tasya putriku mengalami kecelakaan dan meninggal.
Dia pria yang baik. Sikapnya selalu dewasa dalam menghadapi sebuah masalah. Aku mengaguminya. Sebagai tetangga dan sahabat. Kalau ditanya apa suatu saat nanti bisa jatuh cinta padanya atau tidak, aku belum bisa menjawabnya. Yang pasti saat ini, aku nyaman bersamanya sebagai teman. Itu saja.
...πππ...
Bersambung------
*Assalamu'alaikum semua...
Akhirnya kulanjut juga untuk season ke dua sambil tetap merevisi beberapa part di season satu.
Menurutku----menulis itu,,,ada gampangnya ada susahnya. Mengembangkan sebuah imajinasi didalam otak dan menuangkannya dalam tulisan.
Tapi, aku tetap menikmati setiap prosesnya karena aku menyukainya.
Terimakasih untuk dukungan kalian semua
Wassalamu'alaikum,
__ADS_1
Β©pinkanmiliar
2021