
...πππ...
Hal yang sudah kau tinggalkan jauh. Terkadang sulit jika ingin diraih kembali. Maka, saat ada kesempatan untuk bisa mengulang kembali, tak ada salahnya kalau kita mencoba. Teruslah mencoba hingga kau lelah dan tak mampu mencoba lagi.
.
.
.
Malam hari setelah ia mendengar bahwa Rangga sudah kembali, dalam tidurnya Cecilia bermimpi. Entah mimpi atau bukan, tapi ini seperti melanjutkan mimpi yang pernah ia rasakan beberapa waktu lalu.
Cecilia berada di padang rumput hijau yang luas. Namun tak ada siapapun disana. Ia mencari-cari seseorang untuk menemaninya tinggal disana.
Cecilia melihat seperti seseorang berada di padang hijau itu juga. Cecilia menghampirinya.
Dipanggilnya sosok yang berpakaian serba putih itu. Orang itu menoleh ke arah suara Cecil. Orang itupun menghampiri Cecil.
Orang itu tersenyum pada Cecil sambil mengulurkan tangannya. Cecilia membulatkan matanya ketika ternyata ia mengenali sosok itu.
DEG. Jantungnya serasa akan berhenti.
"Rangga..."
Cecilia terbangun dari tidurnya. Dan mengucap beristighfar.
"Astaghfirullahaladzim, apa itu tadi? Kenapa ada Rangga disana?"
Cecilia mengusap keringatnya.
Apakah ini pertanda dariMu Ya Rabb? Apa aku harus mengejar cintaku kembali? Satu cinta yang akan kubawa hingga akhir hayatku?
...***...
Beberapa hari kemudian,
Cecilia mencari waktu yang tepat untuk meminta ijin dari Ibunya. Ia ingin melamar pekerjaan di perusahaan Rangga yang baru. Yap, ia sudah memantapkan hati untuk mengikuti petunjuk mimpinya. Selama ini akhirnya ia mendapat jawaban dari do'a-do'anya.
Dan kini, Cecil tak mau mengambil keputusan tanpa persetujuan ibunya. Cecilia sudah cukup banyak belajar, meski keinginanmu begitu kuat, namun saat orang tua tak memberikan ridhonya, tetap saja semua akan sia-sia. Dan ia tak mau begitu. Pengalaman berharga yang terjadi di kehidupannya, mengajarkan itu. Ia banyak membantah ibunya di masa lalu. Namun sekarang, ia tak ingin begitu.
"Ibu... Ada yang ingin aku bicarakan..."
Meski keraguan memenuhi hatinya, namun sudah tak ada waktu lagi.
"Ada apa? Kenapa sikapmu tak seperti biasanya? Apa ada yang penting?"
"Umm, anu bu... Begini... Aku..."
"Ya ampun!!! Kau ini orang Batak, kenapa mau bicara saja kau lambat, huh?" Ibu Maria mulai tak sabar melihat tingkah Cecil kali ini.
"Ibu... Aku tak bisa seperti ibu. Mungkin aku lebih dominan mewarisi sifat ayah yang orang Jawa..." bela Cecilia.
"Ya ampun, kau ini!!!" Ibu Maria hampir melayangkan tangannya untuk memukul Cecil seperti biasa.
"Ya sudah, pelan-pelan saja bicaranya. Akan ibu dengarkan."
"Aku... Ingin melamar pekerjaan di perusahaan Rangga. Apa ibu mengijinkan?"
Ibu Maria terkejut. "Kau bertanya pada ibumu soal begini?"
Cecilia mengangguk.
"Kau selalu melakukan semua sesuai keinginanmu, untuk apa kau bertanya sekarang, huh? Kalau kau mau lakukan ya sudah lakukan saja. Tidak perlu bertanya pada ibumu!" Ibu Maria mengeraskan suaranya.
"Ibu... Maafkan aku... Selama ini aku tidak pernah jadi anak yang penurut. Maka dari itu, aku sekarang... Ingin semua yang aku lakukan adalah atas seijin ibu..." Cecilia menunduk pasrah.
Ibu Maria menghembuskan nafas kasar. "Apa kau tahu bagaimana perasaan ibu? Ibu hanya ingin kau bahagia. Ibu ingin kau menjalani hidupmu dengan baik." Ibu Maria mulai melunak.
"Ibu...." Cecilia berkaca-kaca.
"Kalau ini bisa membuatmu bahagia, kenapa ibu harus melarangmu... Lakukanlah! Kalau kau memang masih mencintai Rangga, maka kejarlah dia. Tapi... Jika dia tidak bisa menerimamu, maka kau harus menerimanya. Kau mengerti?"
"Iya, bu... Terima kasih karena telah bersabar denganku..."
"Kau putri ibu satu-satunya. Ibu hanya tidak mau kau terluka lagi."
"Tidak! Kali ini aku akan benar-benar berjuang."
Ibu Maria membelai puncak kepala putrinya yang tertutup hijab. Kemudian memeluknya.
...***...
Sore itu Cecilia berkunjung ke makamΒ ayahnya. Ia ingin bercerita tentang ibunya yang sekarang mulai sependapat dengannya. Ia bahagia karena akhirnya Ibunya merestui hal yang akan dilakukannya.
Setelah berkunjung ke makam ayahnya, Cecilia mengunjungi makam Tasya. Ada kerinduan akan sosok putri kecilnya.
__ADS_1
Apa kamu bahagia disana, nak? Maafkan Mama tidak bisa menjagamu dengan baik. Kelak kita akan bertemu kembali di surgaNya. Insha Allah...
Dan terakhir, ia berkunjung ke makam Ivana Lee.
Ternyata Cecil tak sendiri, ada orang lain yang lebih dulu datang ke makam Ivana. Dan orang itu masih bersimpuh di makam Ivana.
Cecilia berjalan mendekat, dan terkejut setelah tahu siapa orang itu.
"Jimmy...?!?"
Sipemilik nama menoleh saat Cecil memanggil namanya.
"Cecil... Kamu kesini juga?"
"Hu'um. Setiap minggu aku datang kesini. Kau sendiri? Aku dengar kau tinggal di luar negeri sekarang."
"Iya. Akhirnya aku benar-benar ingin belajar fashion dengan serius. Makanya, aku sekarang tinggal di Paris."
Cecilia tersenyum. "Syukurlah kalau kamuΒ serius ingin menjadi desainer."
"Aku pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Jadi, aku ingin menebus semua dosa yang telah kulakukan. Terima kasih karena sudah menyadarkan aku untuk kembali ke jalan yang benar. Maaf ya, jika selama ini aku bersikap buruk kepadamu."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting, kita tahu bagaimana cara memperbaikinya."
Senja di hari itu, berakhir dengan senyuman bahagia antara Cecilia dan juga Jimmy. Tak ada lagi kebencian, tak ada lagi dendam. Semua sudah saling memaafkan.
...***...
Cecilia bersiap berangkat untuk wawancara di perusahaan baru milik AJ Grup. Kaki dan tangannya mulai gemetar. Ia takut kalau wawancaranya akan gagal. Apalagi untuk ukuran usia, ia hampir mencapai batas usia maksimum di ketentuan lamaran pekerjaan ini.
Wawancara dilakukan di gedung baru milik AJ Grup. Cecilia mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung. Dilihatnya sudah banyak pelamar yang mengantri untuk melakukan sesi wawancara.
Berkali-kali ia berdoa dalam hati agar wawancaranya berjalan dengan lancar. Ia pun mengisi daftar hadir, dan mengambil nomor antrian. Kemudian dipersilahkan duduk bersama pelamar lain.
Tiba-tiba terdengar riuh suara para wanita berteriak histeris. Cecilia penasaran dengan apa yang terjadi. Ternyata sosok yang mereka tunggu akhirnya tiba. Rangga Adi Putra mulai memasuki gedung.
Rangga berjalan dengan tegapnya melewati barisan para pelamar yang terkagum-kagum melihat ketampanan fisiknya. Begitupun Cecilia. Ia pun terpana melihat sosok Rangga yang sudah satu tahun ini tak dilihatnya.
Namun dengan cepat Cecilia mengucap kalimat Istighfar. Ia harus membawa diri karena penampilannya sekarang tak seperti dulu lagi.
Sekilas mata Cecil dan Rangga bertemu. Degup jantung Cecilia berdetak kencang ketika Rangga juga menatap ke arahnya. Namun dengan cepat Rangga memalingkan wajah dan kembali melangkah. Cecilia agak kecewa dengan sikap Rangga yang seakan tak mau menatapnya lebih lama.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, kini tibalah giliran Cecilia memasuki ruang wawancara. Ia berjalan cukup jauh untuk menuju tempat wawancaranya. Ada sedikit keanehan disini. Tapi, Ia tetap mengikuti seorang panitia yang menunjukkan arahnya.
"Silahkan masuk. Sudah ditunggu didalam."
Cecilia memandang pintu itu dengan ragu. Setelah mengucap basmallah, Cecilpun mengetuk pintu dengan hati-hati.
"Masuk...!!!" terdengar suara Rangga mempersilahkannya masuk.
Cecilia memegang knop pintu, membukanya, dan masuk ke ruangan itu. Dilihatnya Rangga sedang asyik membaca dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.
Satu menit, dua menit, hingga lima menit berlalu. Namun Rangga masih sibuk dengan pekerjaannya. Cecilia mulai emosi dengan sikap Rangga yang seakan tak melihatnya ada disana.
"Pak... Maaf... Bukankah kita akan melakukan sesi wawancara ya? Kenapa bapak masih sibuk dengan pekerjaan bapak?" Tanya Cecil dengan berani.
"Tunggu sebentar! Kamu taruh saja berkasnya di atas sini."
Cecilia melangkah maju dan menyerahkan berkas-berkas lamaran kerjanya di meja Rangga.
Tanpa sengaja Rangga mendongak menatap Cecil. Cecilia terkesiap karena tiba-tiba saja Rangga menoleh kearahnya.
"Siapa nama Anda?" tanya Rangga dingin.
"Eh?" Cecilia tergagap karena tiba-tiba saja Rangga bertanya soal namanya.
"Khumaira... Khumaira Wijaya," jawab Cecil.
Cecilia memutuskan untuk mengganti nama di dokumen kependudukannya menjadi Khumaira. Dengan tetap menyematkan nama belakang ayahnya dibelakang namanya.
"Baiklah, Khumaira. Apa kelebihan Anda dibanding pelamar yang lain sehingga saya harus menerima Anda di perusahaan ini?"
"Saya seorang pekerja keras. Dan saya memiliki prestasi yang bagus di perusahaan tempat saya bekerja dulu. Saya berhasil menduduki posisi manajer setelah tiga tahun bekerja, dan tahun-tahun setelahnya saya berhasil menjadi manajer terbaik setiap tahun."
"Dulu Anda bekerja dimana?" Rangga bertanya seolah-olah dia memang sedang mewawancarai Cecilia.
"AJ Foods. Saya pernah bekerja di AJ Foods."
"Benarkah? Tapi setahu saya tidak ada manajer bernama Khumaira di AJ Foods selama 10 tahun terakhir. Anda mengarang cerita?"
"Eh? Itu karena saya mengganti nama saya, Pak."
"Oh begitu. Baiklah, Khumaira. Saya suka dengan kepercayaan diri anda. Tapi... Mohon maaf, saya tidak bisa menerima Anda bekerja disini."
"Hah? Ke-kenapa? Saya punya kualifikasi yang bagus, Pak. Kenapa saya tidak diterima?" Cecilia syok mendengar pernyataan Rangga.
__ADS_1
"Anda mau tahu alasannya?" Rangga berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Cecilia.
Cecilia terlihat sangat kecewa dengan sikap Rangga. Air matanya hampir saja jatuh. Ia sudah sangat yakin akan diterima bekerja, tapi ternyata Rangga berkata lain.
"Nona Khumaira, saya bertanya pada Anda. Anda ingin tahu alasannya?"
"I-iya. Saya ingin tahu apa alasan bapak tidak bisa menerima saya," jawab Cecil memberanikan diri menatap Rangga.
"Saya tidak bisa menerima kamu bekerja disini, karena saya takut saya akan jatuh cinta lagi kepada kamu..."
Cecilia membulatkan matanya sempurna.
Apa maksudnya? Kenapa dia bicara begitu?
Mata mereka beradu. Cecilia mencari kebenaran dibalik ucapan Rangga. Cecil merasa Rangga hanya mempermainkannya.
"A-apa maksud bapak?" Cecilia akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang ada dibenaknya.
"Kamu dengar 'kan apa yang saya katakan tadi. Saya tidak bisa menerima kamu bekerja disini, karena saya takut saya akan jatuh cinta lagi kepada kamu..."
Cecilia menundukkan kepalanya. Ia tak mau berlama-lama bertatapan dengan Rangga.
Rangga tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil mengerjai Cecilia.
"Maaf ya, jika harus ada drama seperti ini."
Cecilia kembali mendongak.
"Cecilia... Aku tidak bisa menerima kamu bekerja disini, karena kamu itu harusnya bukan jadi karyawan aku, tapi jadi istriku, dan juga jadi ibu untuk anak-anakku." Rangga kembali menjelaskan.
Wajah Cecilia seketika berubah bersemu merah. Ia sangat malu Rangga mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa hanya diam? Jawablah! Kamu bersedia 'kan menjadi istriku?"
Lamaran macam apa ini? Batin Cecil berseru.
Cecilia mencoba menatap wajah Rangga. Wajah yang ia rindukan selama satu tahun ini.
"Iya, aku bersedia, " jawab Cecil sambil tersipu malu.
Rangga tersenyum bahagia. Ceciliapun membalas senyuman itu dengan tawa bahagia. Degup jantungnya sudah mulai teratur setelah mendengar pernyataan Rangga barusan.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain di gedung yang sama.
Nadine, Amel, Radit dan Danny mengawasi gerak gerik Rangga dan Cecilia melalui kamera tersembunyi yang sudah mereka siapkan.
Mereka bersorak gembira ketika mendengar Cecilia menerima lamaran Rangga. Meski lamaran Rangga cukup sederhana, tanpa adanya berpegangan tangan, berpelukan apalagi berciuman, tapi momen itu menjadi momen yang cukup mengharukan untuk para sahabat mereka berdua.
"Ya ampun!!! Lamaran macam apa itu? Baru kali ini aku melihat lamaran model seperti begitu." Gerutu Amel.
"Ya sudahlah, Mel. Biarkan saja. Yang penting 'kan mereka bahagia," ucap Nadine.
"Kak Rangga 'kan memang begitu. Dia bukan tipe orang yang romantis," tambah Danny.
Kemudian mereka berempat tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan.
Dua minggu kemudian, Rangga dan Cecilia melangsungkan pernikahan. Bukan pernikahan mewah seperti pernikahan Cecil yang dulu.
Yang ia inginkan sekarang adalah pernikahan penuh khidmat yang akan membawanya kepada Sakinah, Mawaddah, Warohmah hingga nafas terakhir ia hidup di dunia.
...πππ...
...Kau lebih dari sekedar bintang-bintang,...
...Kau lebih dari sekedar sang rembulan,...
...Bagiku kau ratu penguasa isi hatiku...
...Kau lebih dari sekedar bintang-bintang...
...Kau lebih dari sekedar sang rembulan,...
...Kupastikan aku selalu ada untukmu...
...(Lebih dari bintang, Lyla)...
...*T A M A T*...
__ADS_1
(Terima kasih yg sudah bersedia membaca karya saya ini. masih ada extra part dan epilog yg akan kusisipkan setelah ini π)
Jangan lupa tinggalkan kenang2an untuk Cecilia dan Ranggaππ