
...💟💟💟...
Radit berjalan mengendap-endap dari luar butik Jimmy. Ia melihat beberapa orang keluar masuk ke butik Jimmy. Ia memakai kacamata hitam untuk mengelabui pengunjung butik.
Raditpun memasuki butik. Ia berjalan menyusuri baju-baju yang tergantung di etalase. Ada satu etalase yang menarik perhatiannya. Itu adalah etalase barang-barang milik Cecilia. Radit menghampiri etalase itu.
Dilihatnya satu persatu barang disana. Matanya terbelalak. Benar, itu adalah milik Cecilia. Setelan kantor, tas, sepatu, dan gaun malam. Semua itu milik Cecil yang tidak dia bawa.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang penjaga butik pada Radit.
"Eh? Iya Mbak. Ini ... Saya mau beli semua barang-barang ini?" Radit menunjuk pada semua barang Cecil yang sedang dilelang.
"Hah? Semuanya?!" si penjaga butik terperangah. "Tunggu sebentar Pak. Saya akan memanggil supervisor saya."
Si penjaga butik melangkah pergi meninggalkan Radit. Ia menemui Lolly dan membisikkan sesuatu di telinga Lolly.
Setelah beberapa lama menunggu, Radit mendapat jawaban dari sang supervisor. Lolly menghampiri Radit bersama dengan dua orang laki-laki bertubuh kekar yang langsung mencengkeram lengan Radit.
Radit Meronta. "Eh? Apaan nih? Lepaskan saya!!" teriak Radit.
"Bawa dia keluar dari sini, hafalkan wajahnya dan jangan biarkan dia datang kemari lagi!!" perintah Lolly.
Radit terus berteriak dan meronta. Ia diseret keluar dan tak bisa melakukan apapun. Dalam hati ia hanya bisa mengumpat.
"Sial!!! Jadi mereka tahu jika aku sengaja ingin membeli semua barang Cecilia! Aku harus cari cara lain untuk memberi pelajaran pada si Jimmy!"
...***...
Cecilia bertekad untuk mendatangi rumah Alvian. Rumah yang dulu pernah ia tempati bersama Alvian selama beberapa tahun. Ia ingin memastikan tentang berita yang sedang beredar saat ini. Ia tak bisa percaya pada media sebelum membuktikannya sendiri.
Ting Tong
Neneng membukakan pintu. Ia terkejut melihat sosok Cecilia ada dihadapannya. Meskipun sudah berhijab, Neneng masih bisa mengenali wajah Cecilia dengan baik.
"B-bu Cecil?!?" ucap Neneng terbata.
"Hai, Neng. Kamu pasti kaget ya aku tiba-tiba datang kesini. Tenang saja, aku hanya mampir sebentar kesini. Nayla ada?"
"Bu Nayla?? Dia sedang keluar, Bu."
"Oh, sayang sekali."
"Silahkan masuk, Bu Cecil. Ibu mau minum apa?"
"Tidak perlu. Aku kesini hanya untuk mengambil barang-barangku yang belum sempat aku bawa setelah aku pergi. Semuanya masih ada di kamarku 'kan?"
"Hah? Barang-barang? Aah itu ... " Neneng terlihat bingung untuk menjelaskan pada Cecil.
"Katakan jujur padaku, Neng. Apa benar semua barang-barangku di berikan pada Jimmy untuk dilelang?"
"Eh? I-itu ..."
"Jawab, Neng!! Atau aku akan menggeledah sendiri rumah ini!!" Cecil mulai menunjukkan amarahnya dengan menahan air matanya agar tak jatuh.
"Tolong maafkan Neneng, Bu. Neneng tidak tahu apa-apa. Neneng hanya menjalankan perintah saja. Maafkan Neneng, Bu."
Cecilia terduduk lemas. Ia masih tak percaya jika akan mengalami ini semua. Orang yang dia percaya dan banggakan, ternyata menyimpan kebusukan dalam hatinya.
Cecil memukul-mukul dadanya. Ia tak kuasa menahan air matanya. Dengan hati yang hancur ia pergi meninggalkan rumah Alvian dan menuju ke butik Jimmy.
__ADS_1
Dengan berat hati dan mencoba menguatkan diri, Cecilia melangkah masuk ke butik Jimmy.
Ia melihat beberapa orang memilah barang-barang miliknya. Ia menutup mulutnya tak percaya. Air matanya sudah mengucur deras.
Sayup-sayup terdengar suara tawa Jimmy dan seorang wanita yang melangkah mendekat. Cecil mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
Ini adalah kenyataan pahit yang harus dia terima setelah kembali dari pengasingannya. Ia melihat Jimmy berjalan beriringan dengan seseorang yang dia kenal.
"Nayla?!" Cecilia bersuara.
Jimmy dan Nayla menatap Cecil penuh heran dan terkejut.
"Mbak Cecil?!? Ka-kamu? Sudah kembali?" Suara Nayla tercekat.
...***...
"Apaaa??!! Jadi kau ketahuan saat akan membeli semua barang-barang Cecil?"
"I-iya Mel. Sepertinya mereka sudah mengetahui identitasku. Dan mereka pasti mengira jika aku membeli semuanya untuk dikembalikan pada Cecil."
"Jadi, kau membeli semuanya untuk dikembalikan pada Cecil?"
"Tentu saja. Itu adalah barang miliknya. Meskipun Cecil sudah tidak memakainya lagi."
"Aku rasa si Jimmy sudah keterlaluan. Jika dia bisa bermain kasar, maka ... kita juga bisa melakukannya," usul Nadine.
Amel, Hana dan Radit terkejut mendengar saran dari Nadine.
"Main kasar? Kau serius, Nad?" Radit mengernyitkan dahi.
"Aku rasa ide Nadine bagus juga. Supaya si songong itu kena batunya. Apa rencananya, Nad?"
"Hah?!? Serius?!?" Amel, Hana dan Radit terkejut.
Amel berpikir sejenak. "Oke! Aku ikut. Kau, Han?" Amel menatap Hana.
"Hah? A-aku? I-iya, Bu. A-aku ikut juga," jawab Hana ragu.
"Oke, aku senang karena kita kompak!" ucap Radit sumringah.
.
.
.
Beberapa jam sebelum rencana dilakukan,
"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa!"
"Ayo, Bim. Kau adalah pengacara, pasti kau bisa bantu kami," bujuk Amel.
"No! Aku ini pengacara perceraian, bukan pengacara pidana. Apa kalian sudah gila? Kalian ingin melakukan tindak kriminal?"
"Enak saja! Bukan tindak kriminal, hanya sedikit tindakan untuk membuat efek jera," bela Radit.
"Jika bukan tindak kriminal, kenapa kalian butuh bantuan pengacara?"
"Hanya untuk berjaga-jaga saja, Bim. Punya teman pengacara kenapa tidak kita manfaatkan, iya 'kan?" tambah Amel.
__ADS_1
"Terserah kalian! Yang penting jika terjadi sesuatu, aku tidak bisa jadi pengacara kalian!"
...***...
Butik Jimmy dibuat kacau dengan kehadiran ke empat sahabat Cecilia, Amel, Hana, Radit dan Nadine. Mereka mengacak-acak semua barang yang ada di butik.
Yap, ini adalah rencana yang di sarankan oleh Nadine untuk membuat Jimmy jera atas perbuatannya.
"Hentikan!! Apa yang kalian lakukan? Kalian sudah gila?! AMEL!!!" Jimmy berteriak histeris.
Mereka tak mendengarkan teriakan Jimmy dan terus membuat kacau seisi butik. Semua pengunjung yang akan berbelanja di minta keluar oleh mereka.
Para karyawan Jimmy dibuat pusing karena semua barang berserakan dan dirusak.
Radit tak mempedulikan lagi barang-barang milik Cecil, tapi yang jelas, ia akan tetap membuat barang itu tetap aman dan tak tersentuh.
Satu jam setelah kekacauan, Jimmy berhasil menghubungi polisi dan membawa mereka berempat ke kantor polisi.
Jimmy di temani Lolly menceritakan kejadian yang terjadi di butiknya kepada penyidik, dan kerugian apa saja yang dideritanya.
Sementara itu, ke empat sahabat ini menunggu di ruang tunggu untuk proses interogasi. Meski di gelandang ke kantor polisi, tapi mereka puas karena sudah membalas perbuatan Jimmy.
"Eh, sepertinya aku tadi melihat ada Nayla disana. Tapi, kenapa dia tiba-tiba menghilang?" Amel berujar.
"Benarkah? Nayla istri mudanya Alvian, 'kan?" sahut Nadine.
"He'em. Aku curiga jangan-jangan si Jimmy sengaja melindungi Nayla supaya tidak terlibat dengan hal ini. Padahal sebenarnya mereka berdua adalah dalang dari semua ini. Dasar brengsek!"
"Sudahlah, Mel. Jangan terus mengumpat! Kita sedang di kantor polisi. Jangan sampai mereka menghukum kita berempat gara-gara kau banyak mengumpat," Radit melerai.
...***...
Sementara itu,
"Pak Presdir, saya mendapat kabar kalau Cecilia sudah kembali ke Jakarta," lapor Hendi pada Pak Adi Jaya.
"Benarkah? Jadi wanita itu tidak menepati janjinya?" Presdir menunjukkan kemarahannya. "Apa Rangga sudah tahu soal ini?"
"Sepertinya belum, Pak. Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"Awasi terus wanita itu. Jangan sampai lengah. Dan laporkan dengan segera padaku bila ada hal yang mencurigakan."
"Baik, Pak."
...💟💟💟...
.......
.......
.......
...Bersambung...
...thank U for reading my works this far......
...I hope you enjoy it, though it has many mistakes and long story 😀😀...
...dont forget leave a love like comment 😘...
__ADS_1
...thank you...