
Dua minggu kemudian
*Cecilia POV*
Aku melihat diriku sendiri di cermin. Wajahku lusuh, kusut, dan sangat kacau. Sudah dua minggu berlalu sejak kepergian putriku, Tasya. Tidak!! Aku tidak boleh begini. Aku tidak boleh kembali kedalam diriku yang dulu. Aku yang dulu sudahlah mati. Aku harus kembali pada diriku yang sekarang.
Aku akan pergi ke kantor lagi. Meski semua orang sudah tahu dengan apa yang terjadi padaku dan Mas Alvian. Aku akan menghadapi semuanya.
Mas Alvian menatapku dengan tatapan aneh. Aku tahu dia terkejut. Karena aku memutuskan untuk kembali bekerja.
"Kamu yakin kamu baik-baik saja, Cil?"
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja. Lagipula aku sudah bosan berada dirumah. Aku akan bekerja kembali mulai hari ini."
"Lalu bagaimana dengan teman-temanmu yang---"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasi semuanya." Aku menunjukkan senyum terbaikku pada Mas Alvian.
Dia memelukku. Dan meminta maaf padaku. Kurasa sudah ribuan kali dia meminta maaf padaku. Entah apa yang ada dipikirannya.
.
.
.
Aku melangkah masuk ke gedung AJ Foods. Rasanya seperti sudah lama sekali aku tak kesini.
Suasana terasa sedikit aneh. Beberapa orang berbisik-bisik saat aku berjalan.
Ah, aku tak mau hiraukan mereka. Aku adalah Cecilia. Dan aku adalah wanita yang tegar. Kulihat Amel berlari kearahku. Dan langsung memelukku. Yah, aku sudah tahu dia pasti akan begini. Bukannya malah menghiburku, malah dia yang menangis sesenggukan.
"Aku baik-baik saja, Mel. Kenapa kau yang menangis? Aku tidak apa-apa. Kau harusnya menghiburku, bukan malah kau yang menangis." Aku tersenyum padanya.
Amel menghapus air matanya. "Maaf, Cil. Selama ini aku tidak pernah tahu jika kau menyimpan beban yang cukup berat."
"Tidak apa-apa, Mel. Aku sudah baik-baik saja. Oh ya, Danny bilang hari ini ada rapat. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Pasti Pak Rangga sudah menunggu."
Lebih baik aku segera pergi. Karena Amel pasti akan bertanya banyak hal padaku terutama tentang Mas Alvian dan Nayla.
__ADS_1
.
.
Di ruang rapat, aku melihat Pak Rangga yang sangat terkejut dengan kehadiranku. Aku memang belum memberitahunya kalau aku akan kembali bekerja hari ini.
Aku hanya berkomunikasi dengan Danny. Aku merasa Pak Rangga sudah banyak membantu soal Tasya kemarin. Jadi sebaiknya aku tidak membuatnya lebih khawatir lagi.
"Kamu? Kamu sudah mulai bekerja?"
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Karena saya tidak memberitahu bapak terlebih dahulu. Jika hari ini saya mulai bekerja lagi. Tapi saya sudah berkomunikasi dengan Danny. Sekali lagi saya minta maaf." Aku membungkukkan badan dihadapan Pak Rangga.
Dengan raut wajah bingung dia menjawab. "Y-ya sudah. Kamu silahkan duduk. Sebentar lagi klien kita akan datang."
"Terima kasih banyak, Pak."
...***...
Aku masih melihat tatapan-tatapan aneh yang memandangku. Aku tidak peduli. Bukan mereka yang menjalani semua ini. Kenapa mereka harus ikut repot dengan semua masalahku?
Aku berpapasan dengan Nadine usai keluar dari ruang rapat. Dia menatapku lekat. Tatapan matanya tajam seperti biasa. Yang aku dengar, jika Nadine tidak ikut datang untuk melayat di pemakaman Tasya. Aku masih memakluminya. Karena dia memang belum bisa memaafkanku.
Dia mendatangiku. Dengan nada datar dan sinisnya dia bicara padaku.
Aku tersenyum. "Tidak apa, Nad. Cukup doanya saja."
"Tentang yang dibicarakan oleh orang-orang kantor, apa benar jika suamimu memiliki istri muda?"
Aku tersenyum kembali. "Jadi kau sudah mendengarnya? Apapun masalah yang sedang kuhadapi, aku tidak akan membawa masalah itu kedalam kantor. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu."
Aku bergegas melenggang pergi. Namun Nadine kembali mengucapkan beberapa kata padaku.
"Harusnya kau sadar. Jika apa yang terjadi denganmu, adalah balasan dari apa yang sudah kau lakukan di masa lalu. Semoga kau bisa menghadapi cobaan ini." Nadine tersenyum menyeringai, dan malah dia yang akhirnya meninggalkanku yang bergeming. Aku mengepalkan tanganku. Sesaat aku merasa sangat sesak.
"Cil? Kau tidak apa-apa?" Suara Radit membuyarkanku.
Aku menatapnya nanar, lalu menyunggingkan senyumku padanya. "Iya, tidak apa-apa."
"Aku tadi melihatmu bicara dengan Nadine. Apa yang kalian bicarakan? Dia tidak bicara yang aneh-aneh kan?"
__ADS_1
"Tidak. Dia hanya mengucapkan bela sungkawa."
Lalu tiba-tiba ponselku berbunyi. Nomor tak dikenal. Aku mengangkatnya. Dari kantor polisi.
...***...
Sesampainya di kantor polisi, aku bertemu dengan seorang penyidik kepolisian. Dia masih muda, usianya pasti tak beda jauh denganku. Dia memperkenalkan diri.
Namanya Ismail Marzuki. Sejenak aku agak terkejut. Namanya tak asing di telingaku. Ah, seperti nama sebuah jalan raya dan juga sebuah taman.
Aku bertanya padanya, ada hal apa aku di panggil kemari. Dia bilang, jika dia menemukan bukti lain dari kecelakaan Tasya. Aku membelalakkan mataku.
"Ada saksi yang mengirimkan video tentang kecelakaan yang terjadi pada putri ibu hari itu. Video itu terekam dari kamera pengawas yang dipasang saksi di mobil pribadinya." Jelas pak Ismail.
"Saksi tersebut tidak mau disebutkan namanya, karena dia takut, jika terseret lebih dalam kedalam kasus ini. Jadi beliau hanya menitipkan kaset rekamannya saja kepada kami. Mari saya antar, saya akan tunjukkan videonya pada ibu. Apakah ibu siap untuk melihatnya?"
Aku mengangguk ragu. Aku melihat adegan demi adegan dimana hari itu Tasya mengalami kecelakaan. Dan aku melihat fakta tak terduga yang tak pernah aku sangka sebelumnya.
Aku berusaha menenangkan diriku. Tubuhku serasa akan ambruk kembali. Tidak!! Aku harus kuat. Aku harus bisa menghadapi ini semua.
Pak Ismail memberiku segelas air putih. Dia tahu jika aku syok melihat video tadi. Aku meminumnya perlahan.
"Ibu sudah tenang?" Tanya Pak Ismail yang dipanggil 'Ndan oleh teman-temannya.
Aku mengangguk. "Lalu.... apa kalian punya bukti lain?"
"Kami sudah mencari selembar surat yang dimaksud dalam video tadi, tapi kami tidak menemukannya. Mungkin sudah terbawa angin, atau sudah dibawa mobil pengangkut sampah. Barangkali Anda bisa membantu kami dengan mencari tahu tentang surat itu. Sekecil apapun petunjuk dari ibu, itu bisa membantu penyelidikan."
"Pak, apa Anda sudah memberitahu suami saya?"
"Belum, Bu. Karena tadi manajernya bilang jika Pak Alvian sangat sibuk."
"Jangan hubungi dia!" Teriakku tiba-tiba. Sontak membuat Ismail dan timnya terkejut. "Biar saya saja yang akan mencari tahu."
"Ba-baiklah."
"Jadi menurut Anda, jika saya bisa menemukan bukti lain, ada indikasi kalau ada orang lain yang terlibat dalam kecelakaan anak saya? Dan bisa jadi ini bukan kecelakaan biasa?"
"Bisa jadi, Bu. Tapi kami belum bisa menyimpulkan lebih dalam. Kami harus menemukan bukti yang kuat lebih dulu. Kami akan menyelidiki kembali kasus ini. Dan kami akan mencari tahu dari orang-orang yang ditemui putri ibu hari itu."
__ADS_1
Aku memandang menerawang jauh. Ada perasaan tak tenang berkecamuk dihatiku. Ada hal yang disembunyikan oleh Nayla, dan juga Mas Alvian. Firasatku berkata demikian.
...💟💟💟...