99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Sang Penolong


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


-Di tempat berbeda-


Ponsel Abah Farid berbunyi. Ia mencari tempat yang agak sepi untuk mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Abah. Maaf mengganggu. Ada yang harus saya sampaikan."


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


"Putra Umi Isma, Rangga, dia menyewa beberapa detektif untuk menemukan Umi. Sepertinya mereka hampir berhasil. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Pak Adi Jaya mengetahui hal tersebut, dan akan menghalangi pencarian terhadap Umi. Apa yang harus saya lakukan Abah?"


"Jangan sampai pencarian itu gagal. Kamu harus melindungi para detektif itu. Dan juga, lindungi Cecilia dan keluarganya. Pasti Adi Jaya akan mengincar Cecilia juga. Pastikan mereka aman."


"Baik, Bah. Kami akan memastikan detektif dan Cecilia aman. Kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Abah Farid mengepalkan tangannya.


"Adi Jaya, dari dulu kamu masih tidak berubah. Selalu melakukan segala cara untuk mencapai tujuanmu. Kali ini, aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Anna lagi. Aku akan pastikan Rangga bertemu kembali dengan Anna."


...***...


Ismail memarkirkan mobilnya dipelataran rumah. Ia tak langsung masuk ke rumah, tapi ia mendekati dua orang pria yang terlihat mengawasi rumah Maria.


Siapa dua orang itu? Batin Ismail. Ia mengendap-endap agar dua orang itu tak mengetahui keberadaannya.


Ismail berhasil mencengkeram kedua orang itu dari belakang. Ia memegang kerah jaket mereka.


"Siapa kalian? Kenapa kalian mengawasi rumah ibu Maria?"


"Jangan sakiti kami. Kami bukan orang jahat. Kami hanya di perintah untuk menjaga Cecilia dan ibunya."


"Menjaga? Siapa yang menyuruh kalian?"


"Itu... Kami tidak bisa memberitahu."


"Jangan bercanda! Kalian tahu siapa saya? Saya adalah anggota polisi!"


"A-apa? Anggota polisi? Maaf Pak, kami bukan penjahat. Kami hanya menjaga Cecilia. Itu benar, Pak!"


"Kalau begitu katakan siapa yang menyuruh kalian?"


"A-abah Farid, Pak."


"Abah Farid?" Ismail mengerutkan alisnya. Nama itu tak asing ditelinga Ismail.


"Lalu untuk apa kalian mengawasi rumah Cecilia? Apa ada yang akan berbuat jahat padanya? Kalian jangan cemas, aku tinggal disebelah rumah Cecil. Aku juga akan menjaganya."


"Kami tidak tahu apa akan ada yang mencelakai Cecil atau tidak. Yang jelas kami hanya diperintah untuk menjaganya agar tidak ada yang berbuat jahat padanya."


Ismail melepaskan kedua pria tersebut.


"Lain kali jangan terlalu dekat jika kalian ingin mengawasi. Cecil bisa saja curiga. Dan kalian akan gagal menjaganya."


"Baik, Pak. Maafkan kami."


Kedua pria itupun pergi dari hadapan Ismail. Ismail semakin tak mengerti dengan situasi yang terjadi.


Apa dia harus bertanya pada Cecil? Rasanya tidak. Cecil akan menolak jika tahu dirinya sedang diawasi. Ismail pun memutuskan akan ikut mengawasi dan menjaga Cecilia juga ibunya.


...***...


Ponsel Radit terus berdering sedari tadi. Radit meminta Bonny agar menyerahkan ponsel miliknya. Radit tahu jika itu pasti panggilan dari pak detektif. Radit yakin kalau mereka sudah berhasil menemukan ibu kandung Rangga.


Bonny merasa telinganya mau pecah karena terus mendengar nada berisik dari ponsel Radit. Bonny akan mematikan ponsel Radit, namun berhasil di cegah oleh Radit. Radit kembali memohon agar ponselnya dikembalikan.


"Siapa yang menghubungi Mas Radit terus menerus? Apa aku perlu mengangkatnya?"

__ADS_1


"Berikan padaku, Bon! Kumohon!" sekali lagi Radit memohon.


"Tinggal beberapa menit lagi sebelum Mas Radit dikeluarkan dari ruang isolasi. Jadi, bersabarlah. Sebentar lagi Mas Radit bisa menggunakan handphone Mas Radit kembali. Akan kulihat siapa yang menghubungi Mas Radit."


"Jangan, Bon. Kamu tidak perlu tahu tentang itu!"


"Detektif? Apa yang Mas Radit sedang lakukan sampai-sampai Mas Radit berhubungan dengan detektif?"


"Bukan urusanmu!"


"Mas Radit tidak melakukan hal aneh 'kan? Mas sudah menyadari kesalahan Mas atau belum? Mas tahu 'kan kenapa Mas Radit sampai ada di sel isolasi seperti ini?"


Radit menarik nafas kasar.


"Aku paham resikonya. Dan aku tidak akan menyerah."


"Meski nyawa Mas Radit jadi taruhannya? Jangan gila, Mas! Ini yang Tuan Tony takutkan. Makanya beliau lebih memilih untuk menghukum Mas sebelum orang lain bertindak lebih fatal dari ini."


"Kamu tidak akan mengerti, Bon!"


"Apa Mas Radit mengerti perasaan Tuan Tony?"


Sebuah pesan masuk di ponsel Radit. Dan masih dari pak detektif.


^^^"Mas... Kenapa tidak angkat panggilan dari saya? Bagaimana ini? Apa saya menghubungi Mas Rangga saja? Kami ada di pondok pesantren Al hikmah. Ini tempat yang sama seperti kemarin kami menemukan Cecilia."^^^


Bonny mengetik pesan balasan untuk pak detektif.


"Beritahu Rangga saja. Biar dia yang akan mengurus sisanya." (pesan terkirim).


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mengetik apa di ponselku?"


Radit terlihat cemas. Dia tidak mau kalau rencananya jadi berantakan.


"Mas Radit tenang saja. Semuanya sudah berakhir sekarang." Bonny melirik jam tangannya.


"Waktu hukuman sudah selesai. Tolong buka kunci gemboknya."


"Baik, Pak!"


Radit membaca pesan singkat yang dikirim oleh pak detektif.


"Sial!!! Kenapa kamu balas untuk menghubungi Rangga?" Radit bergegas pergi.


Radit meraih kunci mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya tak terkontrol sekarang. Dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


"Itu artinya selama ini ibu kandung Rangga tinggal bersama Cecilia saat di Jogja. Dan bisa saja Cecilia sudah tahu kebenaran mengenai ini. Sial!!! Kenapa Cecil diam saja selama ini?"


Radit menuju komplek Masjid Al Iman. Ia mendapat pesan kalau Anna sedang mengadakan acara disana. Radit harus lebih dulu tiba disana sebelum Rangga.


Namun kenyataannya,


Ranggalah yang lebih dulu sampai disana. Rangga berdiri terpaku melihat sosok ibu kandungnya.


Dia masih bisa mengenali wanita itu meski sekarang wanita itu sudah menutup auratnya.


Kaki dan tangannya bergetar hebat mengetahui saat ini dia bisa bertemu lagi dengan ibu kandungnya setelah 20 tahun.


Tetapi ada sorot berbeda di mata Rangga. Ia tak langsung memanggil wanita itu yang sudah dekat di depan mata. Karena wanita itu sedang bersama dengan seorang wanita muda lainnya. Dan sayangnya, wanita muda itu adalah seseorang yang Rangga kenal, yaitu Cecilia.


Mereka berdua nampak sedang asyik mengobrol di tengah kerumunan orang yang datang untuk mengikuti kajian tabligh akbar.


Bibir Rangga bergetar saat dia akhirnya memanggil wanita itu.


"Ma-ma....."


Suara Rangga memang tak terdengar langsung oleh si wanita. Namun entah mengapa wanita itu tiba-tiba menoleh ke arah Rangga.


Matanya membulat mendapati sosok pria muda di depannya yang adalah putranya sendiri.


"Rangga...." wanita itu berucap lirih.


Wanita itu berjalan mendekati Rangga. Namun Rangga malah menjauhkan langkahnya dari wanita itu.

__ADS_1


"Jadi... Selama ini kalian sudah saling mengenal?" ucap Rangga bernada sarkastik.


"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini, Cecilia... Kamu menyembunyikan kebenaran ini dariku..."


"Rangga... Tunggu dulu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ini..." suara Cecilia tercekat.


"Cukup! Aku tak perlu penjelasan dari kamu. Aku sudah cukup paham dengan semua ini."


Rangga pun melangkah pergi. Padahal ia sangat ingin bertemu dengan ibu kandungnya. Entah kenapa Rangga malah meninggalkannya begitu saja. Ada rasa dikhianati dalam hati Rangga.


Cecilia hanya diam memandangi kepergian Rangga. Umi Isma terisak melihat putra tercintanya pergi. Cecilia memeluk lengan Umi Isma.


Abah Farid yang melihat semua kejadian itu, lalu menghampiri mereka.


"Sebaiknya kita temui Rangga di kediamannya. Kita bicarakan ini dengan baik-baik."


Umi Isma mengangguk.


"Ini semua salah Umi, Bah. Andai saja Umi lebih berani bertemu dengan Rangga... Maafkan mama, nak! Maafkan mama..."


.


.


.


Rangga mengendarai mobilnya dalam kecepatan penuh. Otaknya sedang tak jernih. Ia melajukan mobilnya entah kemana. Ia ingin menenangkan diri dulu. Masih belum bisa ia terima kalau selama ini Cecilia menyembunyikan fakta tentang ibu kandungnya.


Apa yang sebenarnya Rangga rasakan? Apa dia kecewa? Tentu saja. Kecewa pada siapa? Mamanya? Atau Cecilia? Atau mereka berdua?


.


.


.


Radit berkeliling kawasan masjid Al Iman. Ia bertanya kesana kemari tentang keberadaan Umi Isma alias Anna.


Ia putus asa. Jangan-jangan Rangga sudah bertemu mamanya. Lalu dimana mereka sekarang?


Sekali lagi Radit bertanya pada panitia penyelenggara acara. Benar saja, Umi Isma dan suaminya, sudah tak ada disana. Mereka sudah pergi bersama Khumaira.


DEG.


Radit mengenal nama itu. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Cecilia.


"Halo, Cil. Kamu dimana?"


"Radit... Tolong cepat kemari... Rangga, Dit..." suara Cecilia terdengar panik.


"Ada apa dengan Rangga?" Radit ikut panik.


"Dia menghilang..."


"A-apa?!?" Radit terbelalak.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


.......


.......


...Bersambung...


.......


.......


*Ternyata Abah Farid punya kuasa yg besar juga ya, gak kalah sama Adi Jaya😁😁


*Kira2 Rangga kabur kemana ya?😡tambah ruwed ya gaess ceritanyaπŸ˜…πŸ˜…


*Sabar yes, cerita ini hampir mencapai ending πŸ˜€

__ADS_1


Terima kasih yg sudah memberi dukungan kepada author, kaliaaaann ruaaaarrrr biasaaaaah 😍😍😍


__ADS_2