99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Love Your Life


__ADS_3

Tok tok tok


Ada yang mengetuk pintu rumah Ismail. Kemudian ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Lho, Ibu Maria? Ada apa?"


"Nak Ismail, Apa kau sudah makan malam?"


"Umm, belum Bu. Saya baru tiba di rumah."


"Kalau begitu, datang ke rumah ibu ya."


"Oh, baiklah. Tapi saya mau sholat Isya dulu, Bu."


"Iya, silahkan. Ibu tunggu di rumah ya!"


Ismail mengangguk. Kebingungan. Lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Beberapa menit kemudian, Ismail datang ke rumah Ibu Maria.


"Silahkan duduk Nak Ismail." ucap ibu Maria.


"Iya, Bu. Terima kasih. Oh ya, Cecil belum pulang, Bu?"


"Belum. Tadi sehabis dari makam Tasya Cecil memberi kabar kalau pengacaranya menelepon, katanya ada hal yang mau dibicarakan. Perceraian mereka sudah selesai. Tapi masih ada saja hal yang harus diurus."


Ismail hanya terdiam. Dan mencoba mendengarkan cerita Ibu Maria.


"Kadang ibu sedih melihat Cecil harus bernasib seperti ini. Dosa apa yang dia lakukan dimasa lalu, hingga dia harus mengalami ini." Ibu Maria menundukkan kepalanya, air matanya hampir tumpah.


Ibu Maria berusaha bersikap tegar.


"Oh ya, mulai sekarang, datanglah kemari dan makan disini." Ibu Maria mengganti topik pembicaraan.


"Hah?!" Ismail membuka mulutnya cukup lebar.


"Anggap saja ini sebagai bonus, karena Nak Ismail sudah mau menyewa rumah ibu. Nak Ismail suka makanan apa? Akan ibu masakkan makanan kesukaan Nak Ismail."


Ismail tersenyum kikuk. "Tidak usah, Bu. Saya takut merepotkan Ibu, dan juga tidak enak hati."


"Tak enak hati dengan siapa? Tetangga?"


Ismail kembali tersenyum kikuk.


"Nak, dulu Cecilia memang masih punya suami. Tapi sekarang, dia sendiri. Jadi, tidak usah pedulikan omongan orang lain. Ibu sudah menganggap Nak Ismail seperti putra ibu sendiri."


"Baiklah, bu. Saya akan jadi putra yang baik untuk Ibu." Ismail tersenyum lebar.


.


.


Sementara itu, seorang wanita paruh baya mendekati makam Tasya. Berdiri di sebelah makam, kemudian jongkok dan berlutut. Menaburkan bunga di atas makam Tasya.


"Ternyata... Kau kehilangan putrimu juga, sepertiku. Malang sekali nasibmu, Nak. Kau masih sangat kecil saat meregang nyawa."

__ADS_1


Wanita itu mengelus tanah makam Tasya dan berkata kembali.


"Benar! Manusia akan memetik hasil dari apa yang sudah dia tanam. Orang tuamu menanam luka, maka hasil yang mereka dapat, juga luka."


Wanita itu kembali berdiri, dan meninggalkan makam Tasya.


...***...


Dua bulan berlalu,


Kehidupan Cecilia mulai kembali normal. Meskipun masih saja ada tetangga yang memicingkan mata saat melihatnya. Maklum, masyarakat kita masih memandang sebelah mata status janda karena bercerai. Ada beberapa juga yang masih bergosip soal Cecilia. Namun tak dihiraukan olehnya.


Cecilia masih datang berkonsultasi dengan Dokter Diana seminggu sekali. Dokter Diana orang yang hangat, usianya sekitar 40 tahunan, tapi masih kelihatan muda dan cantik.


Hari ini jadwal Cecil bertemu dengan Dokter Diana. Sebelum konsultasi, Cecil mengikuti kelas yoga. Yoga banyak membantu Cecil untuk lebih tenang, rileks, dan sabar.


Entah kebetulan atau disengaja, hari itu Ismail juga datang untuk berkonsultasi tentang kasus yang sedang ditanganinya dengan Dokter Diana.


"Kamu datang kesini untuk konsultasi soal kasus atau--? Bertemu dengan seseorang?" tanya dokter Diana sambil menggoda Ismail.


"Aku mau konsultasi tentang kasusku, Dok. Tapi---Aku juga mau menanyakan perkembangan Cecilia. Bagaimana keadaan Cecilia sekarang?" Ismail menjawab dengan tersenyum malu.


"Seperti yang kamu lihat. Cecilia sudah lebih baik. Dia mengikuti kelasku dengan sangat baik. Semoga setelah ini, dia bisa menemukan orang yang bisa membuatnya selalu tersenyum." Dokter Diana melirik Ismail.


Ismail mengalihkan pandangannya ke segala sudut di ruangan dokter Diana.


"Tidak perlu merasa malu. Kamu harus tetap bersemangat."


"Semangat? Semangat untuk apa, Dok?"


"Lho? Aku kesini mau konsultasi, Dok. Serius!!"


"Ish, itu hanya alasan ke dua kamu datang kesini. Alasan sebenarnya kan---?"


"I-iya. Baiklah. Aku mengaku. Aku memang ingin menanyakan perkembangan Cecilia selama 2 bulan ini. Sudah, itu saja."


"Iya baiklah. Mana dokumenmu? Aku pelajari dulu. Dan--- Sebaiknya kamu jangan menyerah. Disaat-saat seperti ini, Cecilia butuh dukungan dari orang-orang disekitarnya."


"Jangan salah paham tentang hubunganku dan Cecil. Kami hanya berteman."


"Kamu tidak mau mengungkapkan perasaanmu padanya? She's free now. You just go for her."


"Apa maksud Dokter? Aku dan Cecil hanya berteman, Dok. Teman!! Dan Aku tidak mau merusak hubungan pertemanan kami. Untuk saat ini, lebih baik begini saja dulu."


"Oke! Fine! Good luck for you."


"Oh ya, dimana Cecilia, Dok?"


"Dia sedang mengikuti kelas yoga di ruang sebelah. Setelah selesai dia akan menuju kemari."


"Selamat sore, Dokter." suara Cecilia membuat kedua orang yang berada diruangan Dokter Diana agak terkejut.


"Itu dia Cecil, Juk!" Dokter Diana terbiasa mengejek Ismail dengan memanggilnya Juki, nama belakang Ismail.


"Hai." sapa Ismail kikuk.

__ADS_1


"Hai juga. Kau sedang disini juga? Konsultasi ke dokter Diana atau?"


"Konsultasi soal kasus." Ismail mengangkat berkas yang ada dimeja seraya memberitahu Cecil.


"Oh begitu. Lalu bagaimana denganku?"


"Ismail sudah selesai. Dia hanya mengantar berkas saja. Akan kupelajari dulu, Juki!" Dokter Diana memberi kode pada Ismail untuk segera keluar dari ruangannya.


.


.


Satu jam kemudian, Cecilia keluar dari ruangan Dokter Diana. Dan hari sudah mulai gelap. Dilihatnya Ismail sedang duduk di kursi ruang tunggu.


"Lho? Kamu masih disini?"


"Iya. Aku sengaja menunggumu selesai konsultasi. Bagaimana hasil hari ini?"


"Good. Terima kasih sudah mengenalkanku pada Dokter Diana. Dia orang yang sangat baik."


"Tidak perlu berterimakasih. Oh ya, apa kau sudah makan?"


"Belum."


"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? Tadi aku sudah ijin pada Ibu kalau kita akan makan malam diluar. Aku tahu tempat makan yang enak di daerah ini."


"Baiklah."


...***...


"Menurutmu, jika aku mengurus toko roti juga, bagaimana? Aku kasihan pada Ibu. Dia selalu mengurus semuanya sendirian." tanya Cecil pada Ismail saat sedang meminum teh bersama di teras rumah.


"Ide yang bagus. Tapi kamu masih bekerja, apa bisa membagi waktumu?"


"Bisa jika ada niat dari dalam hati." Cecilia tersenyum.


"Sudah berapa lama ibumu mengurus toko roti sendirian?"


"Sejak Ayah meninggal. Ibu mengurus semuanya sendiri. Aku sadar, banyak waktuku yang terbuang bersama ibu. Ibu sibuk di toko, mencari uang, agar aku tak putus kuliah meskipun Ibu tahu biaya kuliah diluar negeri tidaklah murah. Kemudian setelah aku lulus dan bekerja, aku juga jadi sibuk dan tak ada waktu untuk bersama ibu. Setelah itu aku menikah dan pindah dari sini, jarak diantara kami jadi semakin jauh saja. Karena banyak hal berubah."


"Jadi, kamu ingin memulai semuanya dari awal lagi?"


"Iya, begitulah. Dokter Diana bilang, sudah saatnya aku melakukan hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Waktu itu aku sendiri bingung. Hal apa yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Setelah kupikir-pikir, ternyata aku jarang menghabiskan waktu bersama ibu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga baruku. Jadi, mulai sekarang, aku akan menyibukkan diri di toko roti bersama ibu." Cecilia tersenyum sangat lebar.


"Baguslah kalau begitu. Terus semangat!!! Mbak Cecil!!"


"Apa kau bilang? Kenapa memanggilku 'mbak'?!" Cecil menggelitik perut Ismail dengan jarinya.


"Ampun!!! Aku minta maaf!"


Cecilia tersenyum kecil, kemudian tawa mereka berduapun pecah memenuhi seisi teras depan rumah Ibu Maria.


...💟💟💟...


Bersambung~~~

__ADS_1


__ADS_2