99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Jawaban Pernyataan Cinta


__ADS_3

Suasana canggung terjadi saat Rangga bertanya kembali mengenai jawaban Cecilia soal pernyataan yang Rangga ungkapkan padanya.


"Jadi... Bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan?" tanya Rangga ragu.


"Umm, apa harus di jawab sekarang Pak? Bukannya bapak kemarin bilang, tidak usah terburu-buru untuk menjawabnya."


"Ah, iya ya! Saya lupa. Tapi--- Bukankah lebih cepat menjawab akan lebih baik." timpal Rangga.


Cecilia berpikir sejenak. "Ini bukan mimpi. Ini nyata!!" Cecilia menutup matanya.


"Sebenarnya... Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak saya, Pak. Tapi... Karena ini masih jam kantor, sebaiknya kita bicara setelah jam pulang kantor saja. Bagaimana, Pak?"


"Oh begitu. Iya, baiklah. Kamu silahkan tentukan tempatnya."


"Chocolatte Lover. Disana saja."


"Baiklah."


...***...


Chocolatte Lover Cafe


Rangga dan Cecil duduk berhadapan. Suasana canggung terus berlanjut. Masih belum ada yang memulai pembicaraan.


Setelah pesanan mereka tiba. Barulah Cecil memulai kalimatnya.


"Maaf, Pak. Sebenarnya... Saya masih agak bingung dengan pernyataan bapak kemarin. Apa maksud bapak? Bapak punya perasaan terhadap saya atau... Bagaimana?"


"Umm, saya tahu kamu pasti terkejut dengan pernyataan saya kemarin. Tapi, saya benar-benar serius. Dengan ucapan saya kemarin"


Cecilia terdiam sejenak. "Bukankah bapak sudah bertunangan dengan Bu Nadine?"


"Tunangan? Dengan Nadine?" Rangga tertawa kecil. "Kamu dengar dari mana?"

__ADS_1


"Semua orang juga tahu. Kalau bapak adalah calon suami Bu Nadine."


"Tapi aku tidak mencintainya, Cecil. Kami hanya... Dijodohkan. Pernikahan bisnis. Kamu tahu kan? Dan saya... Tidak pernah menerima Nadine sebagai calon istri saya. Saya... Hanya menganggapnya sebagai adik. Itu saja."


"Tapi itu akan menyakiti hati Bu Nadine. Harusnya bapak bisa lebih tegas jika memang bapak tidak menerima perjodohan itu."


"Saya tahu. Urusan Nadine, saya akan mengurusnya. Kamu tenang saja. Saat ini saya ingin membicarakan soal----kita."


"Kita?? Saya sudah bilang saya belum bisa memutuskan apa-apa. Banyak yang masih mengganjal dihati saya."


"Kalau begitu, katakan"


Cecilia menatap Rangga. "Sejak kapan bapak kenal dengan Mas Alvian?"


Rangga tersenyum kecil. "Saya tidak mengenalnya. Kami hanya... Tidak sengaja saling mengenal. Dan itu semua karena kamu."


"Jadi bapak melakukan ini karena Mas Alvian? Karena dia menitipkan saya pada bapak?"


"Menitipkan? Memangnya kamu barang yang bisa dititipkan kepada orang lain?"


"Cecil---" Rangga menatap Cecil dalam. "Alvian? Dia? Dia ternyata peka terhadap perasaanku. Makanya dia berkata begitu."


"Maksud bapak?"


"Dari awal Alvian sudah tahu, kalau saya menyimpan rasa untuk kamu..."


"Kenapa? Kenapa harus saya?"


"Karena... Kamu adalah satu-satunya wanita, yang berani tak acuh terhadap saya."


"Apa? Kapan saya bersikap tak acuh pada bapak? Bukannya bapak yang selalu bersikap sinis pada saya?"


"Sepuluh tahun yang lalu. Saat saya mengajar kuliah umum untuk adik kelas saya, ada satu gadis yang tak pernah menatap saya saat saya mengajar. Gadis itu juga tak seperti teman-temannya yang lain, yang mendekati saya karena ingin berkenalan lebih jauh. Dia selalu menjaga jarak dengan saya. Saya tahu, dia pasti kesal dengan saya karena saya pernah menabraknya di jalan setapak kampus. Saya jadi merasa tak enak, dan ingin meminta maaf agar dia tidak kesal lagi dengan saya. Namun, saya tak punya kesempatan itu. Jadi, setelah 10 tahun berlalu, saya harap gadis itu mau memaafkan saya. Cecilia... Maukah kamu memaafkan saya? Atas perbuatan yang dulu pernah saya lakukan ke kamu?"

__ADS_1


Cecilia tertegun. Dia bingung harus menjawab apa. Dia menatap Rangga. Ada kejujuran di mata Rangga. Dia tidak berbohong.


"Jadi--Bapak masih ingat kejadian 10 tahun lalu itu? Bagaimana bisa? Bukankah bapak bilang jika tidak ada manusia yang bisa mengingat hingga selama itu?"


"Karena kamu berbeda. Makanya... Saya masih mengingat itu. Setelah kejadian itu, saya berharap bisa bertemu kamu lagi, dan meminta maaf dengan benar."


"Kenapa bapak harus berbohong?"


"Karena... Saya tahu selama bertahun-tahun ini, kamu menganggap saya bukanlah pria yang baik. Saya dingin, sombong, dan tidak menghargai orang lain. Benar kan?"


Cecilia kembali tertegun.


"Sebenarnya saya terkejut, saat tahu kalau kamu ternyata bekerja di AJ Foods. Saya pikir akan sulit untuk bertemu kamu lagi, tapi nyatanya tidak. Walaupun akhirnya saya kecewa, karena kamu ternyata sudah menikah."


Cecilia tertunduk. Dia tak sanggup menatap Rangga. Selama ini dia salah menilai Rangga.


"Mungkin kamu pikir saya tidak waras. Tapi saya tidak berbohong soal perasaan saya. Awalnya saya ingin melupakan kamu, karena kamu sudah bersuami. Tapi saat tahu pernikahanmu bermasalah, saya... Berpikir kalau mungkin saja saya masih punya kesempatan. Maaf, bukan berarti saya senang dengan perpisahanmu. Saya berharap kamu bisa hidup bahagia dengan Alvian. Karena itu takdir kalian. Tapi... Semenjak saya melihatmu menangis di kafe ini hari itu, saya merasakan getaran itu mulai kembali. Saya tidak tahan melihat wanita menangis."


Cecilia terus tertegun dan hanya bisa diam.


.


.


Malam itu, Cecilia termenung didalam kamarnya. Ingatannya terus tertuju pada semua cerita Rangga. Ia tak pernah menyangka bahwa Rangga benar menyimpan rasa untuknya. Ia merasa bersalah karena selama ini menganggap Rangga bukan pria yang baik.


"Maafkan aku, Pak Rangga..." Cecilia membenamkan kepalanya kedalam bantal.


Bayangan Rangga muncul perlahan di pikiran Cecil. Selalu terngiang ditelinganya saat Rangga mengucapkan,


"Saya akan buktikan padamu, jika saya serius dengan ucapan saya. Saya tidak akan menutupinya lagi...."


...******...

__ADS_1


...(bersambung)...


__ADS_2