
*Alvian PoV*
Aku tahu kalau aku bisa mengandalkan Mas Arif. Esok harinya, dia langsung terbang ke Jakarta bersama Mbak Sari.
Aku menjemputnya di bandara. Dan langsung menuju ke kantor polisi.
Tetap saja polisi tidak mengijinkan kami bertemu Nayla, karena Nayla masih diruang interogasi.
Aku berdiskusi dengan Mas Arif dan juga pengacara. Satu-satunya cara agar Nayla bisa keluar adalah Nayla bicara jujur pada penyidik, itu menurut pengacara.
Namun Pak Adnan, pengacara yang kusewa yang beberapa kali menemui Nayla mengatakan, kalau Nayla masih belum mau bicara apapun.
Aku menyalahkan diriku sendiri. Mbak Sari berusaha menenangkanku. Dan Mas Arif kembali berdiskusi dengan Pak Adnan.
"Ada satu cara agar Bu Nayla bisa terbebas dari semua ini." Ucap Pak Adnan.
"Apa itu?" Tanya Mas Arif antusias.
"Pak Alvian, sebaiknya Anda meminta maaf pada Bu Cecil, dan memintanya agar semua masalah ini diselesaikan dengan kekeluargaan. Kita bermediasi saja."
"Aku sudah bicara dengan Cecil, Pak. Tapi tidak ada hasilnya, Cecil tetap ingin kasus ini dilanjutkan."
"Biar Mas saja yang bicara padanya." Mas Arif menatapku dengan tajam. Aku tahu kalau dia marah.
Maafkan aku, Cil. Aku harus melibatkan Mas Arif dalam masalah ini.
...***...
"Cecilia!!!!" Teriak mas Arif begitu sampai dirumah.
Cecil turun dari lantai atas. Raut wajahnya langsung berubah begitu melihat Mas Arif. Dia menatapku dengan tajam juga. Seakan mengisyaratkan kenapa aku harus memanggil kakakku kesini karena masalah ini?
"Ada apa, Mas? Kapan kalian datang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Cecil berbasa-basi.
"Berani sekali kamu melaporkan Nayla atas kecelakaan anak kamu itu, huh?! Cepat cabut tuntutannya atau kamu akan menyesal nanti!!" Dan Mas Arif menjawab tanpa berbasa-basi.
"Jadi Mas Arif sudah tahu semuanya?" Cecil melirik kearahku.
"Kamu itu tak punya hak untuk melaporkan Nayla. Anak kamu itu meninggal karena tertabrak truk, dan sopirnya juga sudah dipenjara. Besok kamu harus mencabut tuntutan itu!!!"
Kulihat tangan Cecil mengepal, dia juga sangat marah. Sama seperti Mas Arif.
"Kamu pikir dengan melaporkan Nayla kamu sudah jadi ibu yang baik? Kamu lupa siapa yang sudah merawat anak kamu selama satu tahun ini? Mengantarnya ke sekolah, membantunya mengerjakan PR, menemaninya bermain di saat kamu sibuk bekerja. Kamu lupa semua itu??!! Ditambah lagi, dengan apa yang sudah ibu kamu lakukan terhadap Nayla. Ibu kamu menyebutnya dengan kata-kata yang tidak pantas didepan para pelayat. Menurutmu, bagaimana perasaan Nayla saat itu?" Suara Mas Arif terdengar hampir diseluruh ruangan rumah.
"A-aku tidak bermaksud begitu, Mas. A-aku melakukan ini karena ada sesuatu yang Nayla tutupi di hari kecelakaan itu." Suara Cecil mulai bergetar.
"Kita bisa membicarakan semua ini secara kekeluargaan. Bukan dengan cara seperti ini. Ya sudah, pokoknya Mas tak mau tahu, kamu harus segera mencabut tuntutan itu. Jangan sampai berita ini menyebar luas dan membuat keluarga kita malu." Mas Arif melenggang pergi meninggalkan Cecil yang masih diam terpaku.
Aku mendekati Cecil. Mengelus punggungnya. Dia menatapku sinis. Aku tahu dia marah padaku.
__ADS_1
"Berapa usia kamu, Mas? Sudah setua ini kamu masih mengadu. Seperti anak kecil. Ini urusan keluarga kita. Kenapa kamu harus melibatkan kakakmu?"
"Cil, maafkan aku. Aku tak bermaksud memojokkanmu. Aku hanya tak mau masalah ini semakin berlarut-larut."
"Kalau dari awal kalian jujur padaku. Semua ini tidak akan terjadi, Mas. Harusnya kamu bisa berpikir sebelum kamu bertindak." Cecil pun berlalu dari hadapanku.
Aku mengusap wajahku. Semoga saja Cecil bersedia mencabut tuntutannya.
...***...
*Cecilia PoV*
Aku tetap bekerja seperti biasa. Aku tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Mas Arif.
Aku memang sedikit takut padanya. Karena dari awal dia memang tidak menyukaiku. Dan selama bertahun-tahun pun dia tetap tidak bisa menerimaku jadi bagian dari keluarganya. Aku menarik napas panjang sebelum aku keluar dari kamarku.
Kulihat rumah tampak sepi. Apa mereka sudah pergi? Aku bertemu Neneng dan bertanya padanya. Benar saja, menurut Neneng mereka semua pergi pagi-pagi sekali. Aku bernapas lega karena tak harus menemui mereka dulu.
Saat jam makan siang, Pak Ismail menghubungiku. Dia memintaku segera ke kantor polisi. Dia bilang kalau Mas Arif sudah ada disana dari pagi.
Sudah kuduga, mereka pasti menemui Nayla. Aku segera meminta ijin pada Hana. Dan memintanya untuk menyampaikan pada Pak Rangga.
Sesampainya di kantor polisi, aku melihat tatapan Mas Arif yang tajam padaku. Pasti dia akan mencecarku lagi seperti semalam. Dia berjalan ke arahku.
"Kamu belum mencabut tuntutannya?" Suaranya lirih namun penuh tekanan.
"Belum, Mas. Kenapa memangnya?" Tanyaku sok berani.
Mbak Sari mendekatiku. Dia adalah istri mas Arif, dan kakak ipar Mas Alvian. Dia adalah orang yang selalu mendukungku.
"Maafkan sikap Mas Arif ya, Cil. Dia tidak bermaksud memojokkan kamu. Dia hanya merasa punya tanggung jawab atas Nayla. Begitu juga Alvian. Mereka berdua sudah janji pada almarhum Alif untuk menjaga Nayla. Makanya mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Nayla." Suara mbak Sari lembut dan menenangkan.
"Lebih baik, kamu turuti apa yang diinginkan Mas Arif. Jangan sampai nanti dia berbuat hal yang nekat. Kamu tahu kan peringai kakak ipar kamu?" Mbak Sari menatapku iba. Dia ingin keadilan untukku. Tapi di satu sisi dia juga tak mau aku terluka.
Kalau aku melanjutkan kasus ini, Mas Arif akan melakukan hal diluar batas. Di saat begini, aku harus mengesampingkan egoku.
...***...
*Ismail PoV*
Wanita ini datang ke kantorku. Dengan tatapan matanya yang seakan kosong. Aku melihat sorot matanya penuh dengan beban dihati.
"Saya ingin mencabut tuntutan saya atas kasus kecelakaan anak saya. Saya ingin menyelesaikan masalah ini dengan mediasi dan kekeluargaan."
Aku terperanjat. Dia bicara dengan sangat tenang dan datar. Aku tahu dia terpaksa mengatakan ini.
"Apa Anda yakin? Kemarin bukannya Anda sendiri yang bersikeras untuk memproses kasus ini. Kenapa tiba-tib-----"
"Saya ingin membatalkannya. Itu saja! Tolong cepat urus pencabutan tuntutannya!" Dia mulai menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
Aku menghela nafas. Aku yakin ada sesuatu yang dia tutupi. "Ada pihak-pihak yang memojokkan Anda. Apa itu benar?"
Dia menatapku tajam. "Bukan urusan Anda! Sebaiknya Anda cepat urus saja!"
Aku memberikannya selembar kertas yang sudah kuketik rapi.
"Dimana saya harus tanda tangan?" Aku menunjukkan kolom yang bertuliskan namanya. "Sudah kan? Apa Nayla akan segera dibebaskan?"
"Akan kami proses dulu, Nyonya. Semua butuh waktu."
Nyonya? Sejak kapan aku memanggilnya begitu. Dia tampak tidak nyaman dengan panggilan itu. Kenapa aku sangat gugup bicara dengannya?
Kulihat dia pergi dari ruanganku. Dan aku tak menyadarinya. Aku segera berlari menyusulnya.
"Tunggu, Nyonya!!" Aku meraih tangannya. Sontak dia kaget dan langsung menepisnya.
"Ada apa lagi? Urusan saya sudah selesai disini." Dia tampak melipat tangannya ke depan dada.
"Maaf Nyonya. Tapi.... apakah Anda yakin dengan keputusan yang Anda buat ini? Tolong pikirkan sekali lagi Nyonya. Saya yakin pasti ada pihak yang memaksa Anda melakukan ini. Iya kan? Saya tahu kalau Anda terpaksa."
Dia menatapku dengan sangat tajam dan tak suka dengan pernyataanku.
"Saya sudah bilang jangan ikut campur!! Ini bukan urusan Anda Bapak Ismail Marzuki!!"
"Anda harus percaya kalau kami akan memberikan keadilan untuk anak Anda. Tolong Nyonya, pikirkan sekali lagi!"
"Saya sudah menandatangani surat yang Anda buat tadi. Kenapa sekarang Anda bersikeras agar saya meneruskannya? Anda jangan konyol!! Jangan mentang-mentang Anda polisi Anda bisa bertindak seenaknya. Saya permisi!!"
Aku terus mengumpati diriku sendiri. Aku benar-benar bodoh. Harusnya aku tak membiarkan dia begitu gampang mencabut tuntutannya.
Romi yang melihatku langsung menegurku. Tidak biasanya aku bersikap begini. Entah kenapa aku tidak mau jika Nyonya Cecilia mencabut tuntutannya semudah itu.
Aku tahu dia mendapat tekanan dari keluarga suaminya. Tunggu dulu! Kenapa keluarga suaminya begitu membela wanita bernama Nayla itu? Aku mengacak-acak rambutku.
"Wah!! Sepertinya sang pangeran kita sedang galau berat." Dokter Herning tiba-tiba masuk ke ruanganku. Dia adalah dokter forensik disini.
Romi menyenggol tangan dokter Herning. Memberitahu kalau bukan saatnya dia menggodaku.
"Kenapa? Kamu pasti bingung kan, kenapa keluarga sang selebriti itu begitu membela wanita bernama Nayla itu?"
Aku membulatkan mataku. Darimana dia tahu kalau aku sedang memikirkan soal itu.
"Mbak? Kamu? Kamu tahu sesuatu soal ini?"
"Tentu saja. Semua orang sedang membicarakan ini. Kemari! Akan kubisikkan sesuatu." Mbak Herning membisikkan sesuatu di telingaku.
Aku terkejut. Ya, memang sudah bisa ditebak. Ada yang aneh dalam kasus ini.
Aku semakin membulatkan tekadku. Aku akan berusaha meyakinkan Nyonya Cecilia agar dia tetap melanjutkan kasus ini.
__ADS_1
...💟💟💟...