99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Bukan Milikmu


__ADS_3

Kabar hubungan Rangga dan Cecil menyebar dengan cepat. Sheila, adik Rangga yang selama ini tinggal di Amerika, juga mendengar kabar tentang kakaknya yang sudah memiliki tambatan hati.


Tak ada yang tahu jika selama ini, Sheila selalu memantau kegiatan Kakaknya melalui Danny.


Sheila tak terima jika kakaknya memilih wanita seperti Cecil yang sudah pernah menikah dan bercerai.


Ia juga mendengar jika mamanya mendukung hubungan antara Rangga dan Cecil. Dengan cepat ia segera menghubungi Sandra, mamanya.


"Halo, Ma! Apa yang Mama lakukan?" Suara Sheila terdengar marah.


"Ada apa Sheila? Kenapa kau bicara kasar pada Mama?"


"Kenapa Mama menyetujui hubungan Kak Rangga dan perempuan itu? Mama tahu 'kan kalau perempuan itu sudah pernah menikah dan bercerai?"


"Sheila!!! Apa yang kau katakan? Jangan bicara tidak sopan pada Mama."


"Aku tahu Mama hanya ingin diakui oleh Kak Rangga. Iya 'kan? Itu sebabnya Mama menyetujui hubungan mereka. Sampai kapanpun aku tidak akan setuju Kak Rangga berhubungan dengan wanita itu!"


"Jadi kau punya mata-mata disini, huh? Siapa dia? Cepat katakan pada Mama!"


"Itu tidak penting aku mengetahuinya dari siapa. Yang jelas aku tidak suka dengan sikap Mama yang seperti ini. Sebaiknya mama berhenti. Sebelum Papa mengetahui semua ini."


Sheila menutup sambungan telepon. Sandra mencoba mengatur nafasnya. Baru kali ini putri semata wayangnya terdengar sangat marah. Dan ini hanya karena dirinya yang menyetujui hubungan Rangga dan Cecil.


"Vivi!!!" panggil Sandra.


"Iya, Bu Presdir. Ada yang bisa saya bantu?"


"Cepat cari tahu dari mana Sheila tahu tentang ini!!" titah Sandra pada Vivi.


"Baik, Bu. Saya akan segera mencari tahu." Vivi berpamitan dan segera berlalu dari hadapan Sandra.


.


.


Tak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa Dannylah yang sudah membocorkan hubungan Rangga dan Cecil pada Sheila.


Sandra segera menemui Danny.


"Apa kabarmu, Danny?" tanya Sandra berbasa-basi.


"Baik, Bu Presdir. Ada apa Ibu ingin bertemu dengan saya?"


"Apa saja yang kau katakan pada Sheila hingga dia sampai berani memarahi saya?" Sandra langsung menyatakan maksudnya.


"Eh?" Danny terkejut mendengar pertanyaan Sandra.

__ADS_1


"Tolong jangan pengaruhi Sheila. Dia masih terlalu muda untuk memahami semua ini. Apa kau mengerti?"


"Maaf, tapi saya pikir Sheila akan ikut senang jika mendengar kabar tentang kakaknya."


"Itu menurutmu. Dia tidak seperti yang kau kira. Dia masih labil. Sebaiknya setelah ini, jangan beritahukan apapun padanya. Mengerti?"


"Baik, Bu. Maafkan saya karena sudah membuat kesalahan."


"Tidak apa-apa. Kau adalah orang kepercayaan Rangga. Jadi, kuharap kau benar-benar menjaga kepercayaan yang Rangga berikan padamu."


Danny hanya membalas dengan anggukan sebelum akhirnya Sandra pergi meninggalkannya.


Danny merasa bersalah pada Rangga dan terutama pada Cecil. Dia merutuki dirinya sendiri yang selalu menceritakan semua hal tentang Rangga pada Sheila.


...πŸ’Ÿ...


Beberapa hari kemudian,


"Cecil, bisa bicara sebentar?" ucap Hendi, asisten Pak Presdir menemui Cecilia.


"Ada masalah apa?" tanya Cecil bingung.


"Pak Presdir ingin bertemu denganmu."


"Apa?" Cecil membelalakkan mata.


"Iya, baiklah." jawab Cecil ragu. Namun ia tetap mengikuti kemana langkah Hendi membawanya.


Benak Cecil terasa campur aduk tak karuan. Ada apa Pak Presdir ingin menemuinya? Bermacam spekulasi berputar-putar diotaknya.


.


.


Sampailah dia di suatu tempat. Dia hanya mengikuti Hendi yang akan mengantarnya menuju Presdir.


Sebuah ruangan pribadi di sebuah gedung yang mirip dengan apartemen. Cecilia masuk mengikuti arahan Hendi.


Disana ia melihat Pak Presdir sudah duduk menunggunya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Semoga bukan sesuatu yang buruk. Harapnya.


"Sudah datang rupanya. Silahkan duduk Cecilia." Pak Adi Jaya menyambut kedatangan Cecil.


Cecilia duduk berhadapan dengan Pak Presdir. Tangannya mulai berkeringat dingin.


"Ayahmu adalah pekerja yang hebat. Karyawan terbaik yang pernah saya miliki. Dan saya tidak mengira jika dia memiliki seorang putri yang menuruni kemampuannya. Saya sangat senang, karena kau bersedia bekerja di perusahaan saya untuk meneruskan ayahmu. Terlebih lagi, kau berhasil menjadi salah satu karyawan terbaik selama bertahun-tahun. Saya sangat menghargai kerja kerasmu. Tetapi ... bukan berarti karena kau menganggap dirimu berprestasi, kau bisa berbuat sesuka hatimu. Termasuk mencoba mengambil hati Rangga, putraku."


Pak Presdir menatap Cecilia dengan sinis. Cecilia berusaha memberanikan diri untuk menatap Pak Presdir balik.

__ADS_1


"Jangan berharap lebih Cecilia. Rangga bukan milikmu. Dia milikku! Saya membesarkannya untuk menjadi pewarisΒ grup AJ kelak. Saya tidak ingin dia tersandung kerikil kecil yang akan membuatnya goyah seperti ini."


"Saya mencintai Rangga ..." Cecil memberanikan diri membuka suara. "Saya bukan kerikil kecil untuknya. Saya akan tetap mendukung karirnya apapun yang terjadi."


"Cukup! Saya tidak ingin mendengarnya! Cinta? Jangan bercanda Cecilia. Orang-orang akan bergosip buruk jika mengetahui Rangga memilih wanita yang pernah bercerai sepertimu. Kau tahu 'kan Rangga memiliki banyak penggemar. Apa kau rela Rangga di olok-olok oleh penggemarnya hanya karena dirimu? Itukah yang kau sebut cinta? Tidak Cecil, itu bukan cinta."


Pak Presdir menyesap teh yang ada di depannya. "Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Hendi!"


"Iya, Pak."


Hendi menyerahkan sebuah kertas cek pada Pak Presdir. Dan langsung disodorkannya pada Cecil.


"Tinggalkan Rangga dan pergilah sejauh mungkin dari kehidupannya. Dengan uang ini kau bisa hidup dengan tenang tanpa khawatir kekurangan. Cek itu berisi lima milyar. Itu sudah cukup, 'kan? Atau masih kurang?"


"Apa maksud bapak? Bapak ingin menjual anak bapak? Saya mencintai Rangga dengan tulus. Saya tidak membutuhkan uang bapak."


"Ah benar sekali. Kau tidak butuh uang. Karena kau sudah mendapatkan harta yang cukup banyak dari mantan suamimu."


Sekali lagi Hendi menyerahkan sesuatu pada Pak Presdir. Sebuah amplop berwarna coklat. Pak Presdir menyodorkannya lagi pada Cecil.


"Bukalah!" perintah Pak Presdir.


Cecil mengambil amplop coklat itu dan mulai membukanya. Berisi beberapa lembar foto, tepatnya ada tiga foto yang menghadap terbalik.


Ia menatap Pak Presdir sebelum membalik foto-foto itu.


"Silahkan kau lihat!"


Cecilia terkejut melihat foto pertama.


"Mas Wendy?" batinnya. Wendy adalah suami Amel, sahabat Cecil. Dengan hati yang sudah tak karuan rasanya, Cecil membuka foto kedua.


"Hah??" Cecil menutup mulutnya. Itu foto Ismail, sahabat sekaligus tetangganya.


Dan yang ketiga, ia tak ingin membukanya. Tapi ia harus melakukannya karena ia harus tahu foto siapa lagi yang ada disana. Dengan berat hati ia membalik foto ke tiga.


"Ibu??!" Cecilia menatap tajam pada Pak Presdir yang tersenyum sinis kepadanya.


"Silahkan kau pilih, mana yang akan kau selamatkan? Kau hanya bisa memilih salah satu dari mereka."


Mata Cecilia mulai berkaca-kaca. Air matanya sudah membendung di pelupuk mata. Dia menatap foto-foto itu satu persatu.


"Mas Wendy ... Ismail ... Ibu ... " Butiran bening itupun akhirnya terjatuh di pipi Cecilia.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Bersambung,,,

__ADS_1


*Siapakah yang akan dipilih oleh Cecilia?!


__ADS_2