99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 – Bagian 20


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta


Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.


*Happy Reading*


-Alvian PoV-


Aku merasa ada yang tidak beres disini. Dilihat dari sikap


Amel tadi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Cecilia. Amel sangatlah dekat


dengan Cecil, pasti Cecil sudah bercerita tentang masalahnya kepada Amel.


Cecilia… entah kenapa aku masih selalu memikirkanmu. Ya


Tuhan, apa karena aku banyak menorehkan luka padanya? Makanya aku ingin bisa


mengobati luka itu hingga sembuh, meski itu sudah tidak mungkin.


Usai bekerja, aku kembali menuju ke kafe Cecilia. Aku


berharap bisa bertemu dengannya. Ada hal yang ingin kusampaikan padanya. Semoga


ini bisa menolong dirinya untuk menyelesaikan masalahnya saat ini.


Aku mulai memasuki kafe. Kulihat Cecilia termenung di ruang


kerjanya. Dari wajahnya, aku tahu jika ia menyimpan beban yang cukup berat. Aku


amat iba padanya. Dan secara tidak sengaja, pandangan kami bertemu. Aku


tersenyum kearahnya. Dan ternyata ia menyambut kedatanganku.


Cecilia bersedia menemuiku dan kami pun duduk berhadapan.


Suasana kafe agak sepi karena ini bukan akhir minggu. Aku dan Cecil duduk di


meja yang pernah kami tempati beberapa waktu lalu.


“Apa kabarmu, Cil?” tanyaku.


“Seperti yang kamu lihat, Mas.” Ia menjawab tanpa menatap


kearahku. Dia memang sangat menjaga pandangannya setelah berhijrah.


“Cil, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyaku dengan sangat


hati-hati. Aku sangat takut Cecil bersikap dingin lagi padaku seperti kemarin.


“Mas… Apa aku bisa mempercayaimu?” tanyanya dengan mata


sendunya.


Aku cukup terkejut karena Cecil seaakan putus asa. Apa


banyak orang yang menyudutkannya? Apa tidak ada orang yang mendukungnya?


“Tentu saja. Aku selalu bisa menjadi temanmu, Cil.”


Cecilia tersenyum dan memulai ceritanya. Aku tidak percaya


jika dia mengambil keputusan yang berat seperti itu. kenapa dia selalu rela


menyakiti dirinya sendiri dan bersikap seolah hatinya baik-baik saja? Aku tidak


suka sikap Cecil yang seperti ini. dia memang wanita yang baik. Tapi bukan


berarti dia harus mengorbankan hatinya hanya untuk menyenangkan orang-orang


disekitarnya.


Dan kurasa semua orang tidak ada yang mendukungnya kali ini.


bahkan aku pun tidak suka dengan keputusannya ini. tapi, aku harus bersikap


biasa agar Cecil tidak juga menjauhiku. Dia pasti sudah menderita selama ini.


“Cil…” Aku menyodorkan sebuah selebaran padanya. Iya, inilah


tujuanku menemuinya. Aku ingin membantunya. Tapi bukan dengan cara menyetujui


rencananya yang ingin mencari istri muda untuk Rangga.


“Apa ini, Mas?”

__ADS_1


“Itu adalah selebaran pengobatan alternatif. Namanya Ceu


Nanah. Dia seorang terapis. Tempatnya ada di daerah Bandung. Aku mohon kau


mencobanya dulu. Dengar, aku bukan tidak menyukai rencanamu. Tapi, kau sudah


lihat sendiri apa akibat dari rencanamu itu. tidak ada yang setuju dengan rencanamu.


Apa kau akan hidup seperti ini? terus mendapatkan perlakuan dingin dari


orang-orang disekitarmu?”


Cecilia hanya diam. Ya Tuhan, semoga dia bisa menerima saran


dariku. Semoga dia tidak membenciku.


“Aku melakukan ini sebagai sahabatmu. Atau jika kau tidak


suka dengan sebutan sahabat, maka… Anggap saja aku orang asing yang hanya ingin


memberi solusi. Bukankah terkadang orang-orang lebih suka mendengar dari orang


asing?”


Cecilia menatapku. Lalu secercah senyum tersungging di


wajahnya.  “Terima kasih, Mas.”


“Jika kau ingin pergi kesana, aku bisa mengantarmu kesana.”


“Tidak perlu… Sekali lagi terima kasih.”


Saat kami sedang berbincang, ponsel Cecilia berbunyi.


Sepertinya sebuah panggilan penting. Aku segera undur diri dan berpamitan


padanya. Aku tersenyum puas sudah berhasil menemui Cecilia. Semoga saja ia mau


menerima saran dariku.


.


.


.


.


Aku mendapat panggilan dari ibuku. Sudah bisa kuduga, ia


pasti memintaku untuk datang ke rumahnya. Tanpa menunggu kafe tutup, aku segera


berpamitan pada Rani. Aku menuju mobilku dan melajukannya dengan kecepatan


sedang. Sejenak kuingat pertemuanku dengan Mas Alvian tadi. Entah kenapa aku


merasa nyaman dengannya.


Dia seperti orang yang berbeda. Meski ide darinya juga belum


bisa kuterima, tapi paling tidak, dia tidak menghakimiku seperti yang lain. Dan


kali ini, sepertinya aku akan mendapat wejangan lagi dari ibuku. Aku harus


menyiapkan hatiku untuk menerima semua kalimat dari ibu.


Aku tiba di rumah ibuku. Aku menghela nafas terlebih dulu


sebelum memasuki rumah. Aku mengedarkan pandangan dan melihat ibuku sedang


menonton televisi. Jam segini adalah jamnya sinetron yang sedang booming di


salah satu stasiun TV.


“Ibu…” sapaku sambil menggamit tangan kanan ibuku dan


mencium punggung tangannya.


“Kau sudah datang?” ibu langsung mematikan TV dan menyuruhku


duduk.


“Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada ibumu ini?” Tanya


ibu dengan melipat kedua tangannya.

__ADS_1


“Eh? Maksud ibu?”


Ibu akhirnya berdiri dan menuju meja makan. Ibu mengambil


air putih lalu meminumnya. Aku mengikuti ibu ke meja makan.


“Kau bahkan tidak bicara apapun pada ibumu setelah hari itu.


Kau anggap aku ini apa, huh?”


“Ibu… bukan begitu…”


“Sejak kapan kau dekat dengan ibu mertuamu? Dia bahkan sudah


tahu semuanya. Dan aku? Aku adalah ibumu dan kau tidak menceritakan apapun


padaku. Bahkan yang berada jauh disana pun sudah mengetahuinya.”


“Ibu… ibu ‘kan tahu jika aku dekat dengan Umi Isma. Aku


tidak menceritakan hal ini padanya, tapi dia yang lebih dulu mendatangiku.”


Ibu memijat pelipisnya. “Dan dia setuju jika putranya


menikahi anak tirinya?”


“Tidak. Umi Isma menentangnya.”


“Lantas kenapa kau masih ingin tetap melakukan ini? Kau ini


sangat keras kepala.”


Aku mulai menitikkan air mata. “Bisa tidak kalian mengerti


apa yang aku rasakan saat ini? Apa kalian bisa memahamiku?” ucapku dengan


terisak.


“Apa kalian tahu bagaimana rasanya tidak bisa membahagiakan


orang-orang yang kita sayangi? Kenapa kalian hanya melihat dari satu sisi saja?


Bagaimana denganku? Aku menderita sendiri. Aku mengalami semua ini sendiri dan


kalian seolah-olah menyalahkanku hanya karena aku memiliki sebuah rencana yang


janggal. Dan kalian juga tetap menyalahkanku karena aku tidak bisa memberikan


keturunan pada keluarga ini. Apa ibu tahu bagaimana perasaanku? Sedikit saja


ibu merasakan apa yang kurasakan saat ini…”


Aku berusaha tegar. Aku menyeka air mataku. Aku tidak bisa


menjadi lemah sekarang.


Ibu kembali memijat pelipisnya. Aku tidak tahu apa yang ibu


pikirkan saat ini.


“Di saat begini aku jadi merindukan sosok putraku yang jauh


disana. Ah, Ismail… Andai saja kau ada disini. Kau pasti bisa menyembuhkan luka


hati ibu…”


Ibu lalu masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan


merindukan Ismail. Aku tersenyum getir mendengar kalimat ibu. Aku mengerjapkan


mataku berkali-kali.


“Ibu, aku akan pergi setelah merebahkan tubuhku sejenak di


kamarku.” Teriakku didepan kamar ibu. Tidak ada jawaban dari dalam. Aku tahu


aku akan sendiri lagi sekarang.


Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang dikamarku. Setelah beberapa


menit, aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak mau ketika Rangga pulang dan aku


tidak ada disana.


#bersambung…

__ADS_1


__ADS_2