
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
-Alvian PoV-
Aku merasa ada yang tidak beres disini. Dilihat dari sikap
Amel tadi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Cecilia. Amel sangatlah dekat
dengan Cecil, pasti Cecil sudah bercerita tentang masalahnya kepada Amel.
Cecilia… entah kenapa aku masih selalu memikirkanmu. Ya
Tuhan, apa karena aku banyak menorehkan luka padanya? Makanya aku ingin bisa
mengobati luka itu hingga sembuh, meski itu sudah tidak mungkin.
Usai bekerja, aku kembali menuju ke kafe Cecilia. Aku
berharap bisa bertemu dengannya. Ada hal yang ingin kusampaikan padanya. Semoga
ini bisa menolong dirinya untuk menyelesaikan masalahnya saat ini.
Aku mulai memasuki kafe. Kulihat Cecilia termenung di ruang
kerjanya. Dari wajahnya, aku tahu jika ia menyimpan beban yang cukup berat. Aku
amat iba padanya. Dan secara tidak sengaja, pandangan kami bertemu. Aku
tersenyum kearahnya. Dan ternyata ia menyambut kedatanganku.
Cecilia bersedia menemuiku dan kami pun duduk berhadapan.
Suasana kafe agak sepi karena ini bukan akhir minggu. Aku dan Cecil duduk di
meja yang pernah kami tempati beberapa waktu lalu.
“Apa kabarmu, Cil?” tanyaku.
“Seperti yang kamu lihat, Mas.” Ia menjawab tanpa menatap
kearahku. Dia memang sangat menjaga pandangannya setelah berhijrah.
“Cil, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyaku dengan sangat
hati-hati. Aku sangat takut Cecil bersikap dingin lagi padaku seperti kemarin.
“Mas… Apa aku bisa mempercayaimu?” tanyanya dengan mata
sendunya.
Aku cukup terkejut karena Cecil seaakan putus asa. Apa
banyak orang yang menyudutkannya? Apa tidak ada orang yang mendukungnya?
“Tentu saja. Aku selalu bisa menjadi temanmu, Cil.”
Cecilia tersenyum dan memulai ceritanya. Aku tidak percaya
jika dia mengambil keputusan yang berat seperti itu. kenapa dia selalu rela
menyakiti dirinya sendiri dan bersikap seolah hatinya baik-baik saja? Aku tidak
suka sikap Cecil yang seperti ini. dia memang wanita yang baik. Tapi bukan
berarti dia harus mengorbankan hatinya hanya untuk menyenangkan orang-orang
disekitarnya.
Dan kurasa semua orang tidak ada yang mendukungnya kali ini.
bahkan aku pun tidak suka dengan keputusannya ini. tapi, aku harus bersikap
biasa agar Cecil tidak juga menjauhiku. Dia pasti sudah menderita selama ini.
“Cil…” Aku menyodorkan sebuah selebaran padanya. Iya, inilah
tujuanku menemuinya. Aku ingin membantunya. Tapi bukan dengan cara menyetujui
rencananya yang ingin mencari istri muda untuk Rangga.
“Apa ini, Mas?”
__ADS_1
“Itu adalah selebaran pengobatan alternatif. Namanya Ceu
Nanah. Dia seorang terapis. Tempatnya ada di daerah Bandung. Aku mohon kau
mencobanya dulu. Dengar, aku bukan tidak menyukai rencanamu. Tapi, kau sudah
lihat sendiri apa akibat dari rencanamu itu. tidak ada yang setuju dengan rencanamu.
Apa kau akan hidup seperti ini? terus mendapatkan perlakuan dingin dari
orang-orang disekitarmu?”
Cecilia hanya diam. Ya Tuhan, semoga dia bisa menerima saran
dariku. Semoga dia tidak membenciku.
“Aku melakukan ini sebagai sahabatmu. Atau jika kau tidak
suka dengan sebutan sahabat, maka… Anggap saja aku orang asing yang hanya ingin
memberi solusi. Bukankah terkadang orang-orang lebih suka mendengar dari orang
asing?”
Cecilia menatapku. Lalu secercah senyum tersungging di
wajahnya. “Terima kasih, Mas.”
“Jika kau ingin pergi kesana, aku bisa mengantarmu kesana.”
“Tidak perlu… Sekali lagi terima kasih.”
Saat kami sedang berbincang, ponsel Cecilia berbunyi.
Sepertinya sebuah panggilan penting. Aku segera undur diri dan berpamitan
padanya. Aku tersenyum puas sudah berhasil menemui Cecilia. Semoga saja ia mau
menerima saran dariku.
.
.
.
.
Aku mendapat panggilan dari ibuku. Sudah bisa kuduga, ia
pasti memintaku untuk datang ke rumahnya. Tanpa menunggu kafe tutup, aku segera
berpamitan pada Rani. Aku menuju mobilku dan melajukannya dengan kecepatan
sedang. Sejenak kuingat pertemuanku dengan Mas Alvian tadi. Entah kenapa aku
merasa nyaman dengannya.
Dia seperti orang yang berbeda. Meski ide darinya juga belum
bisa kuterima, tapi paling tidak, dia tidak menghakimiku seperti yang lain. Dan
kali ini, sepertinya aku akan mendapat wejangan lagi dari ibuku. Aku harus
menyiapkan hatiku untuk menerima semua kalimat dari ibu.
Aku tiba di rumah ibuku. Aku menghela nafas terlebih dulu
sebelum memasuki rumah. Aku mengedarkan pandangan dan melihat ibuku sedang
menonton televisi. Jam segini adalah jamnya sinetron yang sedang booming di
salah satu stasiun TV.
“Ibu…” sapaku sambil menggamit tangan kanan ibuku dan
mencium punggung tangannya.
“Kau sudah datang?” ibu langsung mematikan TV dan menyuruhku
duduk.
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada ibumu ini?” Tanya
ibu dengan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
“Eh? Maksud ibu?”
Ibu akhirnya berdiri dan menuju meja makan. Ibu mengambil
air putih lalu meminumnya. Aku mengikuti ibu ke meja makan.
“Kau bahkan tidak bicara apapun pada ibumu setelah hari itu.
Kau anggap aku ini apa, huh?”
“Ibu… bukan begitu…”
“Sejak kapan kau dekat dengan ibu mertuamu? Dia bahkan sudah
tahu semuanya. Dan aku? Aku adalah ibumu dan kau tidak menceritakan apapun
padaku. Bahkan yang berada jauh disana pun sudah mengetahuinya.”
“Ibu… ibu ‘kan tahu jika aku dekat dengan Umi Isma. Aku
tidak menceritakan hal ini padanya, tapi dia yang lebih dulu mendatangiku.”
Ibu memijat pelipisnya. “Dan dia setuju jika putranya
menikahi anak tirinya?”
“Tidak. Umi Isma menentangnya.”
“Lantas kenapa kau masih ingin tetap melakukan ini? Kau ini
sangat keras kepala.”
Aku mulai menitikkan air mata. “Bisa tidak kalian mengerti
apa yang aku rasakan saat ini? Apa kalian bisa memahamiku?” ucapku dengan
terisak.
“Apa kalian tahu bagaimana rasanya tidak bisa membahagiakan
orang-orang yang kita sayangi? Kenapa kalian hanya melihat dari satu sisi saja?
Bagaimana denganku? Aku menderita sendiri. Aku mengalami semua ini sendiri dan
kalian seolah-olah menyalahkanku hanya karena aku memiliki sebuah rencana yang
janggal. Dan kalian juga tetap menyalahkanku karena aku tidak bisa memberikan
keturunan pada keluarga ini. Apa ibu tahu bagaimana perasaanku? Sedikit saja
ibu merasakan apa yang kurasakan saat ini…”
Aku berusaha tegar. Aku menyeka air mataku. Aku tidak bisa
menjadi lemah sekarang.
Ibu kembali memijat pelipisnya. Aku tidak tahu apa yang ibu
pikirkan saat ini.
“Di saat begini aku jadi merindukan sosok putraku yang jauh
disana. Ah, Ismail… Andai saja kau ada disini. Kau pasti bisa menyembuhkan luka
hati ibu…”
Ibu lalu masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan
merindukan Ismail. Aku tersenyum getir mendengar kalimat ibu. Aku mengerjapkan
mataku berkali-kali.
“Ibu, aku akan pergi setelah merebahkan tubuhku sejenak di
kamarku.” Teriakku didepan kamar ibu. Tidak ada jawaban dari dalam. Aku tahu
aku akan sendiri lagi sekarang.
Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang dikamarku. Setelah beberapa
menit, aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak mau ketika Rangga pulang dan aku
tidak ada disana.
#bersambung…
__ADS_1