99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Alvian vs Rangga (2)


__ADS_3

*Alvian PoV*


Sudah dua minggu berlalu sejak kepergian Cecil. Aku bodoh. Terlalu bodoh. Aku bagai anak kecil yang penurut. Cih, aku benci diriku sendiri. Aku tak bisa mempertahankan apa yang kupunya. Dari dulu sampai sekarang.


Aku marah pada diriku sendiri. Aku lemah. Hatiku berontak, tapi akalku tak bisa menolak. Maafkan aku Cecilia. Hanya ini saja yang bisa kulakukan untukmu.


Tolong benci aku saja, Cil. Aku pantas dibenci. Jangan biarkan dirimu terus menderita disini. Aku tahu kamu tak bahagia. Aku ingin kamu bisa tersenyum seperti dulu lagi. Tertawa seperti saat kita pertama kali bertemu.


Aku ingin membuatmu bahagia. Tapi kenyataannya, aku hanya membawa air mata untukmu.


Satu hal yang saat ini bisa kulakukan untukmu.


Aku akan membuatmu terbang bebas seperti dulu. Rentangkan sayapmu, Cil. Kamu berhak bahagia.


...***...


"Kamu yakin mau melakukan ini, Al?"


"Yakin, Bim."


"Bagaimana dengan Cecil?"


"Nanti kamu urus saja. Dia pasti akan menghubungimu."


"Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Mendengarnya saja sudah membuatku pusing. Kenapa kamu selalu menuruti perintah kakakmu? Apa kamu tidak punya harga diri sebagai pria?"


"Kamu tidak akan mengerti, Bim. Di keluarga seperti inilah aku dibesarkan. Bukan saatnya untuk memilih jika sudah menyangkut nama baik keluarga."


"Lakukan apa yang menurutmu benar, Al. Aku tidak akan paham meski kamu jelaskan."


"Terima kasih, Bim. Kamu adalah sahabat yang baik. Dari dulu hingga sekarang."


Aku menutup sambungan teleponku dengan Bima. Aku menghela nafas. Pikiranku sedang tak sinkron dengan hatiku.


Aku merindukanmu, Cil. Tapi aku tak bisa menemuimu, ataupun menghubungimu. Untuk saat ini, biarkan seperti ini dulu.


Biarkan hatimu sembuh dahulu.


...***...


*Rangga PoV*


Datanglah ke sebuah lapangan olahraga di daerah X, pukul 5 sore hari ini.


Tertanda: Alvian Arifin.


Itu adalah kalimat pesan singkat yang tertera dilayar ponselku. Alvian? Mau bertemu denganku. Ada apa ini? Apa dia mau berkelahi denganku lagi? Atau dia sedang ada masalah lagi dengan Cecil?


Apa aku harus bertanya pada Cecil? Suaminya masih waras atau tidak? Kalau Alvian sedang tidak waras, aku pasti akan dihajarnya lagi.


Akhir-akhir ini, aku tidak melihat hal yang aneh pada Cecil. Dia bekerja seperti biasa. Bahkan kinerjanya melebihi target yang aku inginkan. Sepertinya rumah tangga mereka sudah baik-baik saja.


Ah, sudahlah. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Mungkin saja Alvian meminta untuk jadi kawanku. Bisa jadi.

__ADS_1


"Danny..."


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Kosongkan jadwalku setelah pukul lima sore. Aku ada urusan. Penting!"


"Hah? Oh iya, Kak. Beres!!" Danny mengacungkan jempolnya.


...***...


Pukul lima sore, Rangga sampai di tempat yang sudah di tentukan oleh Alvian. Rangga tidak asing dengan tempat itu. Karena dia sesekali melewati jalanan itu.


Rangga turun dari mobilnya. Melihat sekeliling taman yang biasa dijadikan anak-anak remaja untuk berolahraga.


Dilihatnya Alvian sedang bermain bola basket. Sendirian. Rangga melangkah mendekati Alvian.


Alvian berhenti memainkan bola saat tahu Rangga datang.


"Terimakasih karena sudah bersedia datang."


"Ada urusan apa menyuruh saya kemari? Kita kan bukan teman, berkenalanpun belum."


"Kalau begitu mari kita berkenalan. Saya Alvian. Anda?" Alvian mengulurkan tangan.


Rangga tersenyum menyeringai. "Cih, apa maksud Anda?"


"Anda bilang ingin berkenalan. Ya sudah, kita kenalan."


"Anda bisa bermain bola basket?"


Rangga tertegun. "Basket? Dulu saat masih kuliah, saya pernah bermain basket."


"Oke, kalau begitu ayo kita bertanding!" Alvian langsung melempar bola pada Rangga.


Dan hebatnya, Rangga refleks menangkap si bola dengan kedua tangannya.


"Tangkapan yang bagus. Ring belakang saya, adalah punya saya, yang belakang Anda, itu milik Anda. Siapa yang banyak memasukkan bola ke ring milik lawan, dia lah pemenangnya."


"Oke, siapa takut!" Rangga melepas jasnya, dan menggulung lengan kemeja panjangnya. Melangkah maju dengan memantulkan bola di tangannya.


Alvian dan Rangga saling beradu berebut bola. Untuk menit-menit pertama, Rangga menguasai permainan. Tak sia-sia dulu dia sering bermain basket waktu kuliah. Rangga nampak menikmati permainan, sampai tak sadar kalau Alvian juga tak kalah lihai dengan dirinya. Alvian merebut bola dari tangan Rangga.


"Sialan kamu, Al..!" umpat Rangga.


Alvian berhasil memasukkan satu persatu bola kedalam ring milik Rangga.


Alvian tertawa puas melihat Rangga yang mulai kelelahan. Rangga kehabisan nafas. Sudah lama dia tak berolahraga berat seperti ini.


"Stop! Stop! Saya menyerah, Al. Saya sudah tidak kuat lagi." Rangga terduduk lemas dipinggir lapangan.


Alvian tertawa. Dan menyodorkan botol air mineral pada Rangga.


"Terima kasih." Rangga langsung meminum habis air mineral didalam botol.

__ADS_1


"Anda sepertinya sudah mempersiapkan semuanya. Sampai bawa air mineral segala."


"Tentu saja. Saya yang mengundang Anda kesini. Anda adalah tamu saya. Jadi saya harus memperlakukan Anda dengan baik."


"Itu artinya harusnya Anda mengalah tadi. Bukankah saya tamu disini!!"


"Maaf. Saya tidak bermaksud mengalahkan Anda. Lagipula, Anda sudah menang meski tidak bertanding."


"Maksud Anda?"


"Saya tahu, dari awal saya melihat Anda bersama Cecil. Ada sesuatu yang Anda rasakan terhadap Cecil."


"Tunggu-tunggu!! Jadi ini tentang Cecil? Anda mengundang saya kemari karena Cecil?"


"Saya minta maaf soal waktu itu. Saya pernah memukul Anda. Saya cemburu dengan Anda. Saya tahu Anda menyukai Cecil. Maka dari itu, saya bisa yakin untuk melepas Cecilia."


"Saya tidak mengerti apa maksud Anda. Anda adalah suami Cecilia. Kenapa Anda bicara begini?"


"Yang Anda katakan waktu itu adalah benar. Saya bukan suami yang baik. Saya selalu menyakiti Cecil. Selalu membuat dia sedih, menangis. Saya tidak bisa membahagiakan Cecilia."


"Anda masih waras? Jika Anda tidak bisa membuat Cecil bahagia, kenapa menikahinya? Saya sama sekali tak mengerti dengan pemikiran Anda. Kita ini baru kenal, dan Anda tidak tahu siapa saya, kenapa Anda bicara seperti ini? Jangan bertindak gila, Alvian!!"


"Mungkin Anda bisa bilang jika saya gila. Saya jadi gila karena selalu menyakiti wanita yang saya cintai. Saya memang sudah tidak waras, Rangga. Makanya, saya ingin menitipkan Cecil pada Anda. Saya yakin Anda bisa membuat Cecil bahagia."


Rangga tertawa lepas. "Anda aktor yang hebat, Alvian. Anda pikir Cecilia itu barang? Yang bisa seenaknya Anda titipkan? Dia adalah istri Anda!"


"Saya tahu Anda menyukai Cecil, bukan? Tidak mungkin Anda tak punya rasa apapun pada Cecil. Anda selalu membantu dia disaat saya selalu menyakitinya."


Rangga berpikir sejenak. Pikirannya mulai melayang. Apa yang dikatakan Alvian ada benarnya. Pertama kali dia melihat Cecil menangis di cafe.


Rangga datang dan menawarkan sapu tangan untuk mengusap air mata Cecil.


Lalu saat Tasya mengalami kecelakaan. Rangga juga yang mengantarkan Cecil ke rumah sakit.


Dan puncaknya, saat Cecil pergi dari rumah. Rangga juga yang menolongnya untuk mendapat tempat berteduh.


"Itu semua hanya kebetulan." Jawab Rangga. "Saya hanya menolongnya. Itu saja!"


"Tidak ada yang namanya kebetulan, Rangga. Semua sudah ditulis dalam takdir. Anda hanya belum mau mengakuinya saja."


"Anda mencintai Cecil atau tidak?"


Alvian tersenyum. "Ada kalanya, kita tidak bisa menekan ego kita untuk kebahagiaan kita sendiri. Saya mencintai Cecil dengan cara saya sendiri. Jadi, jangan samakan rasa cinta tiap orang dengan pemikiran yang sama."


Rangga bingung dengan pemahaman Alvian tentang cinta. Rangga memutuskan pamit pada Alvian dan tidak menanggapi lagi ucapan Alvian.


"Senang bertemu dengan Anda, Pak Rangga Adi Putra." Alvian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rangga. Ranggapun menyambutnya.


Hari sudah mulai gelap. Rangga meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. 


Sedangkan Alvian, ada satu hal lagi yang harus dia lakukan.


...💟💟💟...

__ADS_1


__ADS_2