99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Runaway


__ADS_3

*Cecilia POV*


Aku berusaha tetap tenang setelah kejadian penemuan alat tes kehamilan beberapa hari lalu. Aku bersikap seolah tak terjadi apapun. Nayla dan Mas Alvian makin akrab. Nayla yang dulu begitu canggung berhadapan denganku dan Mas Alvian, sekarang bersikap lebih terbuka dan ceria.


Aku sudah memastikan, kalau testpack itu adalah milik Nayla. Karena Neneng bilang, itu bukan miliknya. Dan aku tahu Neneng berkata jujur.


Baiklah, untuk saat ini. Aku hanya akan menunggu. Menunggu Nayla berkata jujur. Sudah terlalu banyak hal yang kamu tutupi, Nay. Tolong sekarang jujurlah. Pintaku dalam hati.


...***...


Tok tok tok


"Cil, ini aku Radit. Boleh aku masuk?"


Radit mengetuk pintu ruangan Cecil, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Amel bilang Cecil belum keluar kantor untuk istirahat. Kenapa tidak ada jawaban? Cil? Aku masuk ya!"


Radit memutuskan untuk masuk tanpa menunggu persetujuan dari Cecil.


Cecil terlihat masih sibuk di depan komputernya.


"Sepertinya kamu sangat sibuk, sampai tidak mendengar aku mengetuk pintu dari tadi."


"Eh, Radit? Maaf aku tidak dengar kamu ketuk pintu. Ada apa?"


"Aku ingin mengajakmu makan siang. Amel bilang kau belum keluar kantor dari tadi. Ini sudah lewat dari jam istirahat kantor, Cil. Kita harus memanfaatkan jam istirahat dengan baik. Toh si Rangga itu memberi kita waktu satu jam untuk beristirahat. Benar kan?"


"Kau tidak sopan! Jangan memanggil Pak Rangga hanya dengan namanya saja!"


"Kenapa kau membelanya? Dia itu hanya berbeda usia beberapa tahun saja dengan kita. Tidak perlu terlalu formal padanya."


"Kau ini!!!"


Cecilia tertawa. Raditya memang selalu bisa menghibur di saat yang tepat. Meskipun kadang cara bicaranya terkesan urakan, tapi Cecil menyukainya. Dia teman yang baik, dan akan selalu begitu.


Dulu saat SMA, Cecilia pindah sekolah karena ikut ayahnya dipindah kerja ke luar kota. Disekolah yang baru, dia bertemu Radit dan Nadine. Dan akhirnya mereka bertiga bersahabat. Meskipun akhirnya persahabatan mereka berakhir karena ada kesalahpahaman diantara Cecil dan Nadine.


"Cil, jika kau ada masalah. Kau bisa cerita padaku."


Cecilia berhenti mengetik sejenak. "Apa maksudmu?"


"Jangan memendam semuanya sendiri. Kau bisa mengandalkan aku. Seperti dulu."

__ADS_1


Cecilia terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi dia ingin menceritakan semua kegundahannya.


Tapi, disisi lain, ini adalah masalah rumah tangganya. Dan Cecil tahu, tidak baik mengumbar masalah rumah tangga di depan orang lain.


"Tidak ada yang perlu di ceritakan. Aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku hanya sangat sibuk. Itu saja!"


"Kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu?"


Cecilia mengangguk. "Terima kasih atas perhatianmu. Tapi aku memang baik-baik saja." Dia akhiri pembicaraan dengan Radit dengan senyum di wajahnya.


...***...


Satu bulan telah berlalu sejak Cecil menemukan alat tes kehamilan dirumahnya. Dia menunggu ada yang mau bicara jujur di hadapannya. Namun semua tetap bungkam. Nayla ataupun Alvian.


Keadaan Nayla makin hari makin terlihat, jika dia memang sedang hamil. Dia mengalami mual dan muntah di pagi hari. Nafsu makannya pun mulai menurun. Ingin sekali Cecil mencecar mereka berdua. Tapi Cecil menahan diri.


Suatu malam, dia memergoki Alvian dan Nayla baru pulang dari rumah sakit. Cecil tahu karena dia sempat menguping pembicaraan Alvian dan Nayla. Tentu saja hal itu membuat amarah Cecil membuncah. Namun tetap ditahannya.


Kenapa mereka masih tidak mau mengaku? Sudah jelas jika mereka menyembunyikan sesuatu. Mau sampai kapan mereka menutupi kehamilan Nayla?


Berhari-hari dia bertarung dengan ego dalam dirinya sendiri. Ingin sekali dia bertanya pada Alvian. Namun dia masih belum siap mendengar jawaban dari Alvian.


Ya, Cecilia takut jika memang benar Alvian sudah menduakan cintanya. Alvian sudah berjanji akan memperbaiki hubungan mereka. Namun apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang pernah diucapkannya dulu.


...***...


Malam itu, saat Nayla dan Alvian sedang makan malam, Cecilia malah sibuk merapikan barang-barangnya. Keputusannya sudah bulat, dia ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Dia ingin menyendiri. Hatinya yang berusaha tegar kini sudah rapuh. Tak kunjung ada kejujuran yang dia dapat dari suami dan madunya.


"Mas--- Aku mau pamit."


Cecilia yang menghampiri Alvian dengan membawa tas besar, sontak membuat Alvian terkejut.


"Kau mau pergi kemana?"


"Aku rasa aku sudah tidak sanggup lagi tinggal disini. Aku mau pergi sementara waktu. Menenangkan diri."


Alvian dan Nayla beranjak dari tempat duduknya.


"Apa maksudmu? Jangan membuatku bingung!"


"Bingung?" Cecil menyeringai.


"Harusnya aku yang bingung, Mas. Aku bingung bagaimana lagi aku harus menghadapi kebohongan kalian."

__ADS_1


"Kebohongan apa? Bicara yang jelas!"


"Ini!" Cecil menunjukkan alat tes kehamilan yang dia temukan.


"Ini punyamu, bukan?" Cecil menunjuk ke arah Nayla.


Nayla membelalakkan matanya. Dia hanya terdiam.


"Aku menunggu kalian untuk bicara jujur padaku."


"Tolong jangan seperti ini! Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik." Alvian mulai melunak.


"Jadi benar jika Nayla hamil? Dan itu adalah anakmu, Mas?"


Alvian diam. Cecilia berteriak dan menangis. Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Kebisuan Alvian sudah merupakan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otaknya.


"Kenapa, Mas? Kenapa kau melakukan ini? Kau bilang mau memperbaiki semuanya. Kau bilang kita akan memulai semua dari awal. Apa ini awal dari kisah yang kau maksud?"


Cecilia menangis sejadinya. Dia tidak terima jika harus dikhianati dengan cara seperti ini. Meski sebenarnya, Cecil sudah terkhianati sejak dulu. Tapi kepercayaannya pada Alvian membuatnya sangat yakin jika Alvian tidak akan berbuat macam-macam dengan Nayla. Terutama yang berhubungan dengan hubungan suami istri.


"Anak kita baru kemarin meninggal. Bagaimana bisa kau tega melakukan ini padaku? Kenapa?!" Cecil berteriak pada Alvian.


"Cukup Cecil!!!" Alvianpun mulai menunjukkan amarahnya.


Cecil menghampiri Nayla. Menatapnya dengan lekat. "Kenapa kau mengkhianatiku? Kenapa Nay? Kau bilang tidak akan merebut mas Alvian dariku, tapi kenapa sekarang kau melakukan ini? Kenapa?!" Cecilia menggoyang-goyangkan tubuh Nayla. Namun Nayla bergeming.


Alvian menyeret Cecilia menjauh dari Nayla. Dia tak mau terjadi sesuatu pada Nayla.


"Hentikan semuanya Cecil! Jangan menyalahkan Nayla. Nayla adalah istriku juga. Jadi dia berhak mendapatkan haknya sebagai istri. Kau seharusnya jangan bersikap egois dengan selalu menyalahkan Nayla. Karena dia juga punya hak yang sama sepertimu."


Cecilia tersenyum menyeringai. "Egois? Aku egois?"


"Iya. Kau tidak pernah berubah. Kau egois! Selalu menganggap dirimu benar dan orang lain salah. Dari dulu sampai sekarang. Kau selalu begitu!"


"Iya, aku memang egois. Aku selalu memikirkan diriku sendiri. Karena itu, sebaiknya aku pergi dari sini. Dengan begitu kalian akan lebih berbahagia tanpa aku."


Cecilia melangkahkan kakinya dan membawa tasnya keluar dari rumah. Nayla memohon pada Alvian untuk menahan Cecilia agar tidak pergi. Namun Alvian enggan melakukannya.


"Biarkan saja dia pergi, Nay. Biarkan dia menenangkan diri dulu. Aku tahu sifat Cecilia." Alvianpun melangkah pergi memunggungi Cecilia.


...💟💟💟...


tobe continued......

__ADS_1


#And----the complicated things are started....


__ADS_2