99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Keputusan Cecilia


__ADS_3

Alvian langsung bertolak ke kota Solo saat tahu kakaknya, Arif di rawat dirumah sakit karena serangan jantung.


Alvian merasa sangat bersalah karena sudah melukai hati kakaknya.


Sepanjang perjalanan dia terus mengumpat pada dirinya sendiri. Nayla yang setia mendampinginya terus menenangkan Alvian.


"Ini bukan salah kamu, Mas. Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri. Kita berdoa saja yang terbaik. Semoga Mas Arif tidak kenapa-napa." Nayla terus meyakinkan Alvian untuk tetap tenang.


Sesampainya di rumah sakit, keadaan Arif masih tak sadarkan diri. Sari yang selalu mendampingi juga terus menangis, terlebih saat melihat Alvian datang. Alvian sangat terpukul melihat keadaan kakak iparnya, juga kakaknya. Dia menyesal sudah membuat orang yang disayanginya jadi sakit begini.


Berkali-kali dia meminta maaf pada Sari, berlutut didepannya. Sari meyakinkan kalau ini semua bukan kesalahan Alvian. Kakaknya memang sudah lama memiliki riwayat sakit jantung.


Ya, sama seperti kakaknya dulu, Alif. Dia juga memiliki sakit jantung. Hingga akhirnya meninggal dan membuat Nayla jadi seorang janda.


Alvian berkata pada Sari, kalau dia akan menuruti semua kemauan kakaknya. Yaitu berpisah dengan Cecilia.


"Aku akan menceraikan Cecilia, Mbak. Aku janji. Asalkan Mas Arif bisa sembuh, aku akan melakukan apapun untuknya. Aku sudah pernah kehilangan kakakku, aku tak mau kehilangan lagi, Mbak." Alvian berlutut dihadapan Sari.


Sari masih terus sesenggukan, dan menggelengkan kepalanya. Dia masih belum bisa berkata apa-apa. Sari mengatur nafasnya agar bisa bicara meskipun air matanya masih mengalir.


"Jangan lakukan itu, Al. Kamu jangan menceraikan Cecilia. Tidak perlu menuruti kemauan Masmu. Mbak yakin suatu hari Masmu pasti akan mengerti. Percayalah." Dan tangis mereka bertigapun pecah. Alvian, Sari, dan Nayla.


...***...


"Ini ada titipan dari Alvian." ucap Shasha sambil menyerahkan amplop coklat besar pada Cecil saat mereka bertemu di cafe AJ Foods.


"Apa ini?" Cecil mengernyitkan dahi. Dan langsung membukanya.


"Maafkan aku, Cil. Maafkan Alvian juga. Dia tak bisa menyerahkan surat itu secara langsung. Karena sekarang dia ada di Solo. Kakaknya sedang sakit."


"Surat gugatan perceraian?" Ucap Cecil tak percaya.


"Alvian sudah tanda tangan disitu. Giliranmu yang menandatanganinya. Dan berikan pada Bima untuk diurus." balas Shasha dengan gaya santainya. Shasha memang bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.


Tak terasa butiran bening mengalir di pipi Cecilia. "Terima kasih sudah mengantarkan ini." ucap Cecil berusaha tegar.


"Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak ingin melihat kalian berpisah. Tapi, kamu tahu bagaimana keluarga Alvian. Alvian tak akan bisa membantah perintah kakaknya. Alvian akan segera menemuimu setelah urusannya di Solo selesai. Kuharap kamu bisa sabar menghadapi ini semua. Kalau begitu, aku permisi. Terima kasih atas waktunya." Kemudian Shasha meninggalkan Cecilia yang tetap diam terpaku. Bibirnya bergetar menahan tangis.


Jadi ini keputusan kamu, mas... Baiklah...  Mungkin memang ini yang terbaik. Dan air mata Cecilia makin mengalir deras.


...***...


Cecilia menemui Bima dikantornya usai pulang dari bekerja.


"Apa ini, Cil?" Tanya Bima.


"Kamu buka saja sendiri." Cecilia menjawab dengan ekspresi datar. Dia sebenarnya masih syok. Namun berusaha tegar didepan Bima.


"Surat gugatan cerai? Jadi Alvian serius melakukan ini?"


Bima sebelumnya memang sudah tahu tentang rencana Alvian ini, tapi dia tak mengira kalau akan secepat ini keputusan Alvian.


"Kamu sudah tahu soal ini?" Cecilia menatap Bima dengan penuh selidik.


"I-iya, aku sudah tahu. Beberapa minggu yang lalu, Alvian pernah menghubungiku lewat telepon." Bima menjawab sedikit gugup.


"Jadi, semua yang dia bilang padaku itu bohong. Dia bilang tidak akan menceraikanku."


Bima menghela nafas. Dia melihat ada raut kesedihan yang tersirat di wajah Cecilia.


"Dia bilang dia berubah pikiran setelah bertemu dengan Pak Rangga."


"Rangga? Siapa Rangga?"


"Dia bosku di kantor."


"Sejak kapan Alvian kenal sama bos kamu?"


"Aku juga tak tahu, Bim." Cecilia menghela nafas.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"

__ADS_1


"Tentu saja aku harus menandatangani surat ini juga kan?." dengan cepat Cecil mengambil kertas gugatan itu dari tangan Bima.


Bima terkejut dan merebutnya kembali.


"Jangan melakukan sesuatu karena emosi!"


"Aku tidak emosi, Bim!"


"Kamu sedang emosi, Cil! Hati dan pikiranmu sedang tidak sinkron. Jangan gegabah! Pikirkan dulu dengan baik. Ini hubungan kamu dan Alvian. Kakaknya atau siapapun itu tidak berhak ikut campur urusan kalian."


"Kamu pikir Mas Alvian bisa mengambil keputusannya sendiri? Tidak, Bim. Mas Alvian tidak bisa lepas dari pengaruh kakaknya. Kamu sendiri tahu itu kan?"


"Y-ya tapi tetap saja kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan. Seperti dulu. Kamu tiba-tiba saja menggugat cerai Alvian tanpa alasan yang jelas."


"Alasan aku jelas, Bim!!" Cecilia mulai meninggikan nada suaranya.


"Apa? Kamu pikir aku percaya, kalau kamu ingin pisah dari Alvian karena dia menikahi Nayla? Bukan itu alasan kamu yang sebenarnya kan?"


Cecilia mulai terpojok. "I-iya, memang bukan itu alasannya." Jawab Cecil terbata.


"Kalau begitu apa alasannya? Kamu sudah janji akan mengatakannya padaku. Sekarang ayo katakan!"


"A-aku belum bisa bilang sekarang, Bim."


"Ya sudah. Sebaiknya sekarang kamu pulang. Pikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kalau kamu sudah tenang, kamu datang lagi kesini dan aku akan urus semuanya. Aku janji akan membantumu, apapun keputusanmu nanti."


Cecilia mengangguk. Bima menghampiri Cecil dan memeluknya. "Yang sabar, Cil. Istirahatlah, kamu kelihatan letih."


"Iya, Bim. Terima kasih. Aku pamit dulu ya."


"Hati-hati dijalan."


...***...


Cecilia mengendarai mobilnya dengan pelan. Meskipun hati dan pikirannya sedang gundah logika harus tetap digunakan. Cecil bingung apakah harus langsung pulang dan menceritakan semua pada ibunya, atau dia harus pergi sejenak sebelum menuju rumah. Terbersit satu nama yang bisa membuatnya tenang saat ini, Umi Isma.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Kenapa terlihat lesu?" tanya Umi Isma.


"Syukurlah kalau begitu. Ada apa? Apa ada masalah lagi?"


"Mas Alvian menggugat cerai aku, Umi." Hanya itu yang bisa Cecilia katakan, karena setelahnya hanya tangisan yang terdengar.


Umi Isma memeluknya. Menenangkannya. Dan meminta Cecil untuk mengambil air wudhu, agar pikirannya lebih tenang.


"Bagaimana? Sudah lebih tenang?"


"I-iya Umi. Terima kasih."


"Dengarlah, Nak. Saat kamu memiliki masalah, ingatlah, kalau kamu memiliki Allah yang Maha Segalanya. Serahkanlah semua kepadaNya. Meminta padaNya. Menangis boleh, sedih boleh, karena itulah hakikat manusia. Tapi jangan berlarut-larut. Kesedihan hanya akan membawamu ke hal yang negatif. Berserah dirilah pada Allah, minta petunjukNya. Insha Allah, Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk hidupmu.


Pesan Umi hanya satu, saat kamu merasa bersedih karena kehilangan satu cinta, ingatlah Nak. Kalau Allah memiliki 99 cinta yang luar biasa besar untukmu."


Cecilia kembali meneteskan airmata kemudian memeluk Umi Isma.


"Terima kasih, Umi. Terima kasih."


...***...


Beberapa hari kemudian...


"Bagaimana hubungan kau dengan Nak Alvian?  Sudah berapa minggu dia tak menghubungi kau. Dia juga tidak datang kemari. Kalian baik-baik saja kan?" tanya Maria pada Cecilia saat sedang sarapan bersama.


Cecilia terhenti sejenak. Memikirkan kalimat yang tepat untuk ibunya.


"Kakaknya sedang sakit, Bu. Dirawat dirumah sakit."


"Ya Tuhan. Sakit apa? Kenapa kau tak bilang dari kemarin. Antarkan ibu untuk menjenguknya. Bagaimanapun juga Ibu adalah besan mereka."


"Tidak dirawat disini, Bu. Tapi di Solo."


"Terus kau tidak kesana untuk menjenguknya? Dia itu masih kakak iparmu."

__ADS_1


"Ibu----Sebenarnya----Ada yang mau aku ceritakan pada ibu."


Maria sudah menangkap gelagat aneh pada sikap putrinya akhir-akhir ini.


"Ada apa?" tanya Maria dengan serius.


"Emmm, Mas Alvian... Dia... Mengajukan gugatan cerai, Bu."


Tubuh Maria terasa lemas. Dia sudah merasa kalau putrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Maafkan Cecil, Bu. Cecil baru bisa bilang ke ibu sekarang." tangis Cecilia sudah pecah.


Maria menghampiri putrinya dan memeluknya.


"Sabar, Nak. Sabar..." hanya itu yang bisa Maria katakan.


...***...


*Kantor Pengacara Bima Antara*


"Pikiran kamu sudah tenang, Cil?"


"Iya, Bim. Sudah. Aku sudah memikirkannya dengan matang."


"Apa keputusanmu?"


Cecilia menghela nafas. "Aku akan menandatangani surat gugatan itu."


"Kamu yakin?"


"Iya, Bim."


"Benar-benar yakin?"


"Iya Bim."


"Sudah dipikirkan dengan baik?"


"Iya Bim. Aku bahkan punya penasehat spiritual."


"Wow!!! Hebat kamu Cil."


"Mana suratnya?"


"Sebentar. Apa tidak ada air mata yang menetes?"


"Bim... Aku sudah menangis selama berhari-hari. Apa aku harus menangis lagi sekarang?"


"Kamu terlalu tegar, Cil. Atau... Hanya pura-pura tegar?"


"Cepatlah! Dimana suratnya?"


"Sabar. Aku ambil dulu. Aku simpan di brankas dengan nomor kombinasi yang tidak diketahui olehmu." Bima melenggang pergi menuju ruang brankas.


Cecilia tersenyum simpul. "Kamu pikir aku akan datang kesini tengah malam dan mengambil surat itu. Begitu?"


"Siapa tahu saja! Aku hanya berjaga-jaga." suara Bima dari dalam ruangan brankas.


Bima membawa surat gugatan cerai dari Alvian dengan sangat hati-hati.


"Cepat bawa kemari!!!"


"Sabar!! Ini adalah amanah. Aku harus menjaganya dengan baik."


"Baiklah, Pak Bima. Terserah anda saja."


Bima menyerahkan kertas gugatan pada Cecil dan memberinya bolpoin.


...💟💟💟...


tobe continued....

__ADS_1


*Apa yang kalian lakukan jika ada diposisi Cecilia?😵😵


__ADS_2