
Akhirnya setelah menelusuri jalanan kota selama kurang lebih 45 menit, tibalah Rangga dan Cecilia di sebuah tempat yang tak asing untuk mereka berdua.
"Cil? Bangun!! Sudah sampai."
Cecilia sempat terlelap karena tak kuat menahan kantuk. Dan juga sekarang sudah pukul sepuluh malam.
"Hhooaaammm! Kita sudah sampai? Maaf ya aku ketiduran."
Cecilia mengucek matanya untuk bisa kembali sadar ke alam nyata.
"Kita dimana?" tanyanya.
"Kamu tahu ini dimana." Rangga tersenyum.
"Ini kan? Pabrik AJ Foods? Kenapa kita kesini?" Cecilia masih belum sadar apa yang terjadi.
"Aku memang ingin membawamu kemari. Ayo masuk!" Rangga meraih jemari Cecilia dan membawanya masuk ke dalam pabrik.
Pabrik sudah sepi. Semua pekerja sudah pulang. Kecuali beberapa penjaga malam yang selalu siap menjaga keamanan pabrik.
AJ Foods memiliki pabrik untuk proses produksi yang terpisah dari gedung kantor operasional dan pemasaran. Karena dulu memang modal yang dimiliki Pak Adi alias Papanya Rangga tidak sebanyak seperti sekarang. Menghimpun para pemilik sahampun tak semudah yang dibayangkan.
Jadilah Pak Adi membeli tanah sedikit demi sedikit untuk membangun bisnisnya. Hingga akhirnya bisa memiliki beberapa cabang seperti sekarang. Semua dilalui melalui keringat dan kerja keras tiada henti.
"Apa yang akan kita lakukan disini?"
"Tentu saja berkencan."
"Kencan? Disini?"
"Iya. Ayo kita ke dapur!" Rangga membawa Cecil ke bagian dapur pabrik.
"Apa kau tahu? Apa produk andalan kita saat ini?" tanya Rangga bak seorang bos yang sedang menguji karyawannya.
"Produk andalan saat ini? Frozen food?"
"Yap, benar sekali. Dan kamu tahu siapa yang memberikan ide itu untuk pertama kali?"
"Siapa?"
"Aku. Kau tahu kenapa? Karena saat aku masih tinggal di Amerika, aku melihat orang-orang disana setiap hari selalu dikejar waktu. Dan kadang mereka sering melewatkan jam makan mereka karena begitu sibuknya. Dari situlah, aku ingin menciptakan makanan praktis tapi tetap bergizi. Yaitu dengan membuat frozen food ini. Ada beberapa menu praktis yang bisa kita santap meskipun kita sedang sibuk bekerja."
Rangga mengambil beberapa bahan makanan. "Apa kau tahu kalau aku berusaha keras untuk membuat menu makanan sehat sendiri? Aku mengembangkan beberapa menu hingga akhirnya jadi menu andalan frozen food kita."
__ADS_1
Cecilia mendengarkan dengan seksama. Dia kagum dengan semua hal yang dijelaskan oleh Rangga.
"Jadi, sekarang kita akan mencoba membuatnya. Maksudku, aku. Aku yang akan membuatkannya untukmu." Rangga mengambil apron atau celemek masak dan memakainya.
"Apa? Kau mau membuat apa?" Cecilia terkejut melihat penampilan Rangga dengan memakai apron. Penampilannya makin mempesona bak seorang chef.
"Makanan kesukaanmu."
"Kau serius? Apa kau bisa memasak?"
"Sssstt!! Dilarang berkomentar sebelum semuanya selesai."
Cecilia tertawa melihat tingkah Rangga. Ia tak percaya jika kekasihnya ini adalah orang dibalik ide-ide produk andalan AJ Foods. Ia bangga pada Rangga. Ternyata begitu banyak hal tak terduga didalam diri Rangga. Selama ini, Cecil benar-benar salah menilai Rangga.
.
.
*Beberapa menit kemudian,
"Tada!!! Sudah jadi. Pizza tuna sosis mozarella spesial untuk cintaku, Cecilia."
"Wow! Terima kasih, Rangga. Sepertinya sangat enak. Dari aromanya sudah bisa ditebak jika ini pasti enak."
"Iya. Aku sangat tidak menyangka. Apa aku boleh mencobanya?"
"Tentu saja boleh. Aku membuatkannya khusus untukmu."
"Terima kasih banyak. Aku jadi terharu." Cecilia memeluk Rangga.
"Ayo dimakan."
"Mmm, ini sangat enak. Kau hebat! Aku habiskan ya."
"Habiskan saja! Aku senang jika kau menyukainya."
"Aku sangat menyukainya." Cecilia tersenyum dengan mulut penuh pizza.
"Aku banyak belajar dari Mama..."
"Eh? Mama?"
Seketika suasana hening. Cecilia terhentak karena Rangga tiba-tiba menyebutkan soal mamanya. Dia sudah mendapat peringatan dari Amel untuk tidak membahas masalah keluarga Rangga.
__ADS_1
Ada sedikit raut kesedihan di mata Rangga. "Aku... Tidak punya banyak kenangan dengan Mama. Tapi... Aku selalu ingat saat dia mengajariku memasak."
Cecilia menghentikan mengunyah makanannya.
"Papa membangun bisnis ini, karena mama selalu menyemangatinya. Dan Mama yang selalu memberikan ide pada Papa. Karena mama suka memasak, makanya tercetus ide untuk membuat usaha makanan."
"Rangga jika kau tidak ingin menceritakannya maka----"
"Tidak, Cil. Sudah saatnya kamu tahu tentang keluargaku."
".........."
"Mama pergi meninggalkan rumah saat aku berusia 12 tahun. Saat itu yang aku tahu, Mama pergi karena ada Tante Sandra yang datang ke kehidupan kami. Dia hamil besar saat datang ke rumah kami. Yang aku tahu, Papa sudah menikahinya tanpa sepengetahuan Mama. Makanya Mama marah lalu pergi."
"........" Cecilia merangkul bahu Rangga.
"Tapi... Setelah aku mulai dewasa. Aku mulai berpikir, kenapa Mama tidak membawaku? Kenapa dia hanya pergi sendiri? Sesakit apapun hati Mama, harusnya dia ingat kalau dia memiliki aku. Putranya. Dia tidak perlu merasa sendirian. Tapi sepertinya Mama memang tidak ingin aku ikut bersamanya. Makanya, sejak saat itu, aku mulai melupakan Mama, dan menumpahkan semua kesalahan pada Tante Sandra. Aku membencinya sampai sekarang. Dia sudah merusak kebahagiaan keluargaku."
"Rangga...."
"Meski aku membencinya, tapi aku tidak bisa membenci Sheila. Dia adalah adikku. Dan dia tidak bersalah. Justru aku sangat menyayanginya, dan selalu melindunginya. Aku tidak ingin orang-orang tahu tentang Sheila. Aku takut orang-orang akan menghujatnya."
"Apa kamu tahu dimana Mama kamu sekarang?"
"Tidak. Aku juga sudah tidak peduli padanya. Untuk apa aku tahu dimana dia sekarang?"
"Jangan begitu. Kamu tidak pernah tahu apa yang Mama kamu rasakan. Siapa tahu di suatu tempat di dunia ini, dia adalah orang yang selalu mendoakanmu. Hingga kamu bisa sukses seperti sekarang."
"Mendoakanku? Yang benar saja. Mana ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya? Bahkan setelah 20 tahun berlalu, dia tidak pernah sekalipun muncul didepanku."
".........."
"Maaf. Aku jadi membuatmu ikut bersedih."
"Tidak. Itulah gunanya kita punya pasangan. Kita bisa menceritakan apapun pada pasangan kita, berbagi suka dan juga duka. Aku senang karena kamu mempercayaiku."
"Terima kasih, karena sudah mau mendengar ceritaku. Kencan kita... Jadi rusak."
"Tidak. Siapa bilang rusak? Justru aku senang dengan kencan ini. Dan juga aku bahagia.. Rangga... Mulai sekarang... Jangan menyimpannya sendirian. Berbagilah denganku. Ada aku disini..."
"Terima kasih, Cecilia. Aku mencintaimu..." Rangga memeluk Cecilia.
"Aku juga mencintaimu... "
__ADS_1
...💟💟💟...