99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Mengenang Kembali


__ADS_3

Masih ku ingat dengan jelas saat suamiku, Mas Alvian, mendapatkan surat wasiat yang menyatakan dia harus menikahi istri mendiang kakaknya. Saat itu aku sangat syok, dan aku tidak bisa terima kalau suamiku harus menikahi wanita lain. Mas Alvian sampai berlutut di depanku, dia bilang, kalau aku tidak mau dia menikah lagi maka dia tidak akan menuruti isi surat wasiat almarhum kakaknya itu. Hatiku begitu dilema. Desakan demi desakan dari pihak keluarga Mas Alvian, membuatku akhirnya menyadari kalau menjalankan wasiat orang yang sudah meninggal adalah kewajiban bagi yang masih hidup. Aku menyetujui suamiku menikah lagi. . .


Kejadian satu tahun yang lalu itu tiba-tiba terlintas di pikiran Cecil saat sedang menunggu giliran sidang untuk perceraiannya. Yap, dua minggu sudah berlalu dan kini memasuki sidang ke dua.


Cecil mengingat apa yang sudah dia katakan didepan hakim waktu itu. Seketika itu dia merasa jika dirinya sangat bodoh. Semua yang dia katakan hanya alasan belaka. Cecil sendiri tahu jika Alvian menikahi Nayla, dan dia yang mengijinkan mereka menikah.


"Cil, jangan melamun." Suara Bima membuatnya kembali ke alam nyata.


"Eh? Tidak, Bim. Mas Alvian belum datang?"


"Belum, mungkin sebentar lagi. Jangan sampai kau bikin Shasha marah lagi karena menanyakan kenapa Alvian datang terlambat."


Cecil tersenyum. "Iya-iya, tenang saja."


"Cil, jangan menjawab asal di depan hakim. Itu akan membuat hakim berpikir jika kamu mempermainkan hukum. Sebaiknya beri alasan yang logis. Lalu kapan kau akan memberitahuku alasan yang sebenarnya?"


Cecil memandang Bima. Banyak hal yang ingin dia sampaikan pada Bima. Tapi belum saatnya.


"Nanti." Cecil hanya menjawab dengan satu kata.


"Nanti kapan? Kamu membuatku terlihat tidak profesional. Masalah klienku sendiri saja aku tidak tahu. Bagaimana mau menyelesaikannya?" Bima mulai menaikkan nada bicaranya.


"Maaf Bim. Tapi memang belum saatnya aku bicara soal itu. Nanti, sebelum sidang terakhir, aku pasti akan mengatakan semuanya ke kamu."


Bima menatap Cecil dengan sangat tajam. Berharap kalau apa yang dikatakannya adalah janji yang harus ditepati.


"Berjanjilah kau akan menepatinya!"


Cecilia mengangguk.


...❤❤❤...


Persidangan sedang berlangsung dan dengan agenda yang sama, yaitu mediasi. Tentunya pihak majelis hakim berusaha sebaik mungkin agar perceraian bisa dihindari. Namun apalah daya, semua keputusan tetap berada pada masing-masing pihak yang menjalani kehidupan pernikahan tersebut.


Cecil tetap bersikukuh untuk berpisah dengan Alvian. Alasannya masih sama. Dia merasa tidak bisa lagi menerima pernikahan kedua suaminya. Dia lebih baik sendiri dari pada harus hidup dengan wanita lain dikehidupan suaminya.


Itu semua hanya alasan. Dan Bima tahu itu. Tapi sebagai pengacara dia hanya bisa menuruti kehendak kliennya. Bima berharap Cecil benar-benar menepati janjinya untuk menceritakan semua alasannya ingin berpisah.


Sidangpun usai. Alvian dan Cecil keluar ruangan dengan berjalan beriringan.


Alvian menatap Cecil dari samping. Seolah sudah merencanakan sesuatu, Alvian langsung meraih tangan Cecil dan membawanya pergi.


Kali ini Shasha hanya diam. Dia sudah tahu kalau Alvian merencanakan sesuatu lagi seperti waktu itu.


"Mereka mau kemana lagi, Sha?" Tanya Bima.


"Hmm, entahlah. Aku tidak paham dengan isi kepala Alvian."


"Kau adalah manajernya. Setiap hari bersama dengannya. Kenapa kau tak tahu apa rencana Alvian?"


"Kau juga temannya. Apa kau tahu apa yang ada dipikiran Alvian sekarang?" Shasha balik bertanya pada Bima.

__ADS_1


Bima terdiam. Dia mungkin tidak tahu apa yang sebenernya dipikirkan Alvian. Tapi yang jelas, Alvian masih ingin mempertahankan pernikahannya dengan Cecil.


"Ya sudah. Aku harus pergi. Banyak yang harus kuurus karena Alvian membatalkan jadwalnya. Sampai jumpa di persidangan berikutnya." Shasha melenggang pergi meninggalkan Bima.


...❤❤❤...


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Cecil dengan penuh harap-harap cemas.


Alvian membelokkan mobilnya ke sebuah pasaraya.


"Apa yang akan kita lakukan di pasaraya?" Cecil terus bertanya, namun Alvian tidak menjawab.


Alvian memarkirkan mobilnya. "Ayo turun!" ajak Alvian.


"Tapi jelaskan dulu untuk apa kita kesini?" Cecil terus mendesak Alvian.


Alvian menatap Cecil. Lalu meraih tangan Cecil dan membawanya masuk ke dalam pasaraya.


Cecil tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Alvian. Namun dia tetap menuruti keinginan Alvian. Bagaimanapun juga mereka masih sah sebagai suami istri.


Mereka berhenti di salah satu tempat. Bioskop.


"Ayo nonton film!" ajak Alvian.


Cecil terkejut. "Nonton film?"


"Iya. Sudah lama sekali kita tidak menonton film di bioskop. Kau ingin menonton film apa?"


"Oke, akan kubeli dulu tiketnya. Kau tunggu disini!"


Cecil bingung dengan sikap Alvian yang selalu berubah setelah persidangan cerai mereka.


Apa yang sebenarnya Mas Alvian rencanakan?


Dan tak lama kemudian, Alvian datang dengan membawa tiket, juga popcorn dan minuman ditangannya.


"Yuk, kita nonton film komedi." Alvian tersenyum.


...💟💟💟...


Dua jam pun berlalu dengan sangat cepat. Dan selama itu pula Alvian senang karena melihat Cecil tertawa lepas saat menonton film komedi. Dia merasa jika selama ini dia sudah membuat Cecil tertekan. Membuat Cecil jarang tersenyum seperti dulu.


Apa yang sudah aku lakukan pada wanita yang aku cintai ini? Aku seakan membuatnya selalu bersedih dan terluka. Ya Tuhan, tolong maafkan aku... Aku benar-benar tidak ingin kehilangan wanita ini. Tolong luluhkan hatinya agar dia mencabut semua gugatan cerainya padaku...


"Menyenangkan sekali menonton film komedi. Perutku sampai sakit karena tertawa."


"Syukurlah kalau kau menyukainya. Sekarang kita lanjut ke acara selanjutnya." Alvian meraih tangan Cecil untuk kesekian kalinya.


"Kita mau kemana lagi? Hari sudah mulai sore. Kasihan jika Tasya menunggu kita pulang."


Namun Alvian tak menghiraukan perkataan Cecil dan langsung membawanya ke game station yang ada di pasaraya.

__ADS_1


Alvian membeli koin dan mengajak Cecil bermain. Awalnya Cecil menolak, karena merasa itu permainan anak-anak kecil. Tapi Alvian tetap memaksanya untuk bermain. Dan akhirnya Cecil menikmatinya. Hingga lupa waktu.


.


.


Malam pun tiba,


Mereka akhirnya sampai di rumah. Namun mereka masih tetap duduk didalam mobil. Keheningan mulai tercipta. Semua tawa yang mereka keluarkan sedari tadi seakan hilang.


Alvian ingin mengatakan sesuatu namun dia ragu. Sampai akhirnya Cecil yang memulai pembicaraan.


"Terima kasih untuk hari ini, Mas." ucap Cecil.


Alvian tersenyum.


"Hari ini aku bahagia. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua."


Alvian memandang Cecil. "Cil, maafkan aku---"


Cecil membalas tatapan Alvian. Ada begitu banyak kata yang sepertinya ingin dia sampaikan.


"Maaf karena kita harus berakhir seperti ini. Seharusnya aku bisa lebih mengertimu. Aku tidak tahu jika selama ini kau menderita. Aku terlalu egois. Aku terlalu memikirkan perasaanku sendiri."


Cecil mulai berkaca-kaca. Matanya terasa begitu panas sekarang.


"Cil, aku mohon jangan lakukan ini! Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk hubungan kita. Aku tahu aku salah. Aku harusnya tidak segampang itu melakukan semua wasiat Mas Alif. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan kamu. Aku salah, Cil. Tolong maafkan aku!"


"Tolong jangan bicara begitu, Mas. Aku sendiri sudah memikirkan semuanya dengan matang. Aku ikhlas kamu menikah dengan Nayla. Bukan karena desakan dari keluarga kamu, tapi memang dari hati aku sendiri."


Cecil tidak bisa berkata apapun. Karena air matanya mulai jatuh.


"Meski begitu harusnya aku bisa lebih memahami kamu. Mana ada wanita yang mau di poligami? Meski kamu berusaha ikhlas, tapi aku tahu di dalam lubuk hati kamu yang paling dalam, kamu tidak bisa menerima itu semua." Alvian meraih wajah Cecilia, memegang pipinya.


"Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha jadi suami yang lebih baik lagi untukmu, dan juga untuk anak kita, Tasya. Maafkan aku! Aku tidak bisa berpisah denganmu. Mari kita mulai semuanya dari awal."


Alvian menghapus air mata Cecil. Dan mulai mendekatkan bibirnya ke kening Cecil. Lalu menciumnya.


Cecil menatap Alvian dengan sangat dalam. Dia tahu jika hatinya masih sangat mencintai Alvian.


Alvian mengusap bibir Cecil. Bibir itu bergetar karena menahan tangis.


"Aku mencintaimu, Cil. Selalu mencintaimu."


Dan Alvianpun mencium bibir Cecil. Perlahan, namun sangat dalam.


Kerinduan yang sudah lama mereka pendam, akhirnya terobati.


...❤❤❤...


To be continued. . .

__ADS_1


__ADS_2