99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
RESTART


__ADS_3

Aku berusaha memahami semuanya. Memahami takdir yang akan Tuhan tuliskan untukku. Mungkin kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Tapi yang jelas, untuk saat ini, aku ingin memulai semuanya kembali. Semua kisah yang aku tulis denganmu, ingin kulanjutkan. Agar menjadi sebuah kenangan yang berharga. . .


...💟💟💟...


"Pagi Bu Siti..." sapa Danny pada asisten rumah tangga Rangga.


"Pagi Mas Danny, sudah sarapan belum? Mari ikut sarapan disini saja!"


"Terima kasih, Bu. Aku sudah makan di rumah. Kak Rangga mana? Biasanya jam segini dia sudah siap."


"Ada apa kau mencariku?" Rangga turun dari lantai atas rumahnya.


"Ini masih pagi kau sudah berisik di rumah orang!"


"Apa masalahnya? Rumah ini adalah rumah keduaku. Iya kan, Bu Siti?"


"Terserah kau saja! Ayo berangkat! Oh ya, Bu. Kotak makanku sudah disiapkan? Berikan pada Danny biar dia yang bawa."


"Baik, Mas Rangga. Ini untuk Mas Danny sudah Ibu siapkan juga."


"Asik! Aku dapat bagian juga. Terima kasih banyak, Bu."


...***...


-Gedung AJ Foods-


Rangga dan Danny sedang berada di dalam lift menuju ke ruangan Rangga.


Danny mengarahkan hidungnya ke tubuh Rangga.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rangga risih.


"Ada apa dengan Kakak hari ini? Wangi sekali!"


"Memangnya aku setiap hari tidak wangi?"


"Bukan begitu. Hanya saja hari ini nampak berbeda. Kakak memakai satu botol parfum ya?"


"Dasar kau!" Jitak Rangga ke kepala Danny.


Sesampainya di ruangan Rangga, ternyata Nadine sudah menunggu kedatangan Rangga.


"Selamat pagi, Rangga." sapa Nadine dengan senyum manisnya.


"Selamat Pagi Bu Nadine." Danny bersemangat menjawab, karena Rangga hanya diam.


"Kau sudah sarapan? Aku membuatkan bekal untukmu, bagaimana kalau kita makan bersama?"


"Aku udah sarapan, iya kan Dan?" jawab Rangga dengan memberikan kode pada Danny.


"I-iya, Bu. Pak Rangga sudah sarapan tadi dirumah." jawab Danny dengan menggaruk tengkuknya.


"Oh begitu. Baiklah, kita makan siang saja nanti. Aku permisi." Nadine pergi meninggalkan Rangga dan Danny dengan raut wajah yang sudah berubah 180 derajat.


"Kenapa kakak berbohong? Lihat itu! Sepertinya Bu Nadine kecewa pada kakak."


"Sudah jangan membahas soal Nadine lagi. Ini masih pagi tapi kedatangannya membuat semangatku hilang." gerutu Rangga.

__ADS_1


"Jangan bicara begitu soal Bu Nadine. Dia adalah calon istri kakak. Ingat itu, Kak!"


"................"


...***...


Suasana hati Cecil sedang bahagia, dan dia selalu tersenyum ceria pada semua orang yang ditemuinya.


Tanpa sadar ada orang yang memperhatikannya dari jauh. Rangga sedang menatap ke arah Cecil dari kejauhan. Ia memegangi dadanya.


"Berdebar!" ucapnya sambil senyam-senyum sendiri.


"Apanya yang berdebar, Pak?"


Rangga terkejut dan langsung salah tingkah. "Kamu Dan!!! Aku pikir siapa?! Sialan kau!!"


"Maaf Pak. Lagipula apa yang bapak lakukan disini? Sudah baca jadwal dari aku? Hari ini jadwal bapak sangat padat." Danny mengingatkan.


Rangga memukul perut Danny pelan. "Sudah kubilang jangan memanggilku bapak jika tak ada karyawan lain. Aku masih muda dan belum jadi bapak! Aku sudah baca jadwal dari kamu. Makanya aku kesini dulu agar tambah bersemangat." Rangga berjalan meninggalkan Danny yang masih bingung dengan kalimat terakhir Rangga.


...***...


Hari ini berlalu begitu cepat. Cecil sudah tidak sabar menunggu Alvian datang menjemputnya. Mereka sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan mereka. Dan hari ini Alvian yang mengantar jemput Cecil ke kantor.


Alvian sudah sampai di tempat parkir basement. Cecil mencarinya.


"Cecil!" Alvian melambaikan tangan.


Cecilia berjalan menghampiri Alvian. Dan akhirnya mereka bertemu. Alvian memeluk Cecil. Cecil tersenyum dengan bahagia. Alvian membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Cecil masuk. Momen yang sudah lama tidak terjadi. Lalu mobil Alvian melaju keluar gedung AJ Foods.


"Wah! Mereka adalah pasangan yang serasi." Komentar Danny.


Rangga hanya terdiam. "Ayo pulang! Hari ini cukup melelahkan. Aku ingin tidur cepat malam ini." Rangga masuk ke dalam mobil.


"Sejak kapan dia punya kebiasaan tidur cepat?" Gumam Danny.


Sepanjang perjalanan Rangga hanya diam. Danny dan Herman saling bertatapan. Merekapun tidak berani berkata apa-apa. Mereka tak mau membuat mood Rangga jadi tambah buruk.


...***...


-Rumah Alvian dan Cecil-


Berdua mereka memasuki rumah dengan tawa yang cukup riang dan keras. Entah apa yang mereka bicarakan selama perjalanan pulang. Nayla menyambut mereka berdua.


"Lho? Mas Alvian dan Mbak Cecil kenapa bisa pulang bersama?" tanya Nayla heran.


"Iya Nay. Kebetulan mobil aku sedang di bengkel. Jadi Mas Alvian yang menjemputku. Dimana Tasya, Nay?"


"Ada di kamarnya, Mbak."


Cecilia menghambur ke kamar Tasya.


Nayla cukup bingung dengan keadaan Alvian dan Cecil yang tiba-tiba harmonis. Namun dia juga senang karena bisa melihat mereka akur kembali.


"Aku masuk ke kamar dulu. Rasanya ingin langsung mandi dan berganti baju." Pamit Alvian.


"Iya, Mas." Nayla tak bicara apapun lagi dan hanya memandangi mereka berdua dengan tatapan tak biasa.

__ADS_1


...***...


-Kantor Alvian, keesokan harinya-


"Al, ini jadwalmu untuk hari ini." Shasha memberikan secarik kertas pada Alvian.


Alvian membacanya. "Oh ya, Sha. Mulai hari ini tolong kurangi jadwalku."


Shasha memandang Alvian dengan tatapan aneh. "Kenapa?"


"Jadi begini. Aku dan Cecil sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan kami. Dan aku ingin, dalam satu hari kerja aku tidak terlalu sibuk. Baik di dunia entertainment maupun dunia politik. Aku ingin ada waktu untuk keluarga dalam satu hari kerja, tidak hanya akhir pekan saja."


Shasha cukup terkejut.


"Syukurlah kalau kalian ingin memperbaiki hubungan kalian. Soal jadwal, kau tenang saja! Aku akan mengaturnya untukmu. Jadi, ini adalah rencanamu selama ini? Kau selalu membawa Cecil pergi usai sidang perceraian kalian."


"Aku sadar jika selama ini aku bersalah pada Cecil dan Tasya. Andai saja aku menolak surat wasiat itu----pasti tidak akan jadi begini."


"Lalu sekarang kau menyesal sudah menikahi Nayla?"


Alvian menatap Shasha dengan tatapan bingung.


"Entahlah, Sha. Saat ini yang terpenting adalah bisa membuat Cecil tersenyum bahagia seperti dulu. Itu saja."


...***...


-Kantor Bima Antara-


Cecil datang menemui Bima setelah pekerjaannya selesai. Ia melihat Bima masih sibuk dengan tumpukan berkas perceraian di atas mejanya.


"Kau sedang sibuk?" tanya Cecil.


"Lumayan. Ada apa datang kemari? Kenapa tidak menghubungiku dahulu?"


"Selesaikan dulu pekerjaanmu. Setelah itu kita bicara."


Bima menatap Cecil tajam.


"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bima.


Cecil tersenyum penuh arti.


"Apa arti dari senyummu itu?"


"Baiklah! Akan kukatakan sekarang saja! Aku----tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang tepat atau tidak. Tapi---aku dan Mas Alvian---?"


"Kalian apa? Kau membuatku makin penasaran, Cil."


"Kami memutuskan untuk berbaikan. Maksudku, Mas Alvian ingin memperbaiki hubungan kami."


"Kau serius? Aku turut bahagia untukmu, Cil." Bima menghampiri Cecil dan memeluknya.


"Terima kasih."


...💟💟💟...


tobe continued------

__ADS_1


__ADS_2