99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 24


__ADS_3

Cecilia sudah kembali ke Jakarta, lebih tepatnya ke rumahnya bersama Rangga. Rumah yang terasa sunyi karena kini hanya ada dirinya. Rangga masih dalam perjalanan bisnisnya. Bahkan selama tiga hari ini Rangga belum menghubunginya.


"Apakah aku yang harus menghubunginya lebih dulu?" gumam Cecil sambil melihat layar ponselnya yang menghitam.


Hatinya memang sudah sedikit lega setelah bercerita pada Ismail. Semoga apa yang ia lakukan bukanlah termasuk suatu kesalahan. Sungguh ia hanya ingin sedikit berbagi bebannya agar terasa tidak terlalu berat.


Bahkan ibunya sendiri tidak bisa mendukungnya. Kepada siapa Cecil harus membagi beban jika bukan pada sahabat tercinta?


Sebelum merebahkan diri ke tempat tidur, tak lupa ia meminum ramuan herbal yang ia dapat dari Ceu Nanah. Ia berharap ini adalah jalan dari Tuhan agar dirinya dan Rangga bisa memiliki keturunan.


.


.


-Jogjakarta-


Isma melihat putranya yang terus murung sejak datang ke pondok. Sungguh ia tidak tega melihat putra kesayangannya itu terpuruk lagi seperti itu.


Isma mendekati Rangga dan menepuk bahunya.


"Nak, kita sholat malam bersama yuk!" ajak Isma.


"Ini sudah tengah malam dan kau belum tidur. Bukankah lebih baik jika kau mengambil wudhu dan menghadap pada Sang Khalik. Insha Allah, akan ada jawaban dari kegundahanmu ini." lanjut Isma.


Rangga tersenyum pada Isma. Ia pun mengangguk.


Dan mereka akhirnya bersama-sama dengan para santri melaksanakan sholat Tahajjud bersama. Itu sudah menjadi kegiatan rutin di pondok.


Rangga merasa jiwanya lebih tenang. Sungguh selama ini ia telah melalaikan kegiatan yang menyejukkan hati ini. Ia sudah terlalu lelah dengan duniawi dan sering lupa jika bangun ditengah malam sangatlah menenangkan hati dan jiwa.

__ADS_1


Usai melaksanakan sholat malam, para santri membaca ayat-ayat Al Quran hingga menjelang subuh. Rangga pun ikut larut dalam lantunan ayat-ayat Allah yang syahdu itu.


Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia merasa sangat kecil dihadapan Sang Penciptanya. Bahkan ia sudah terpuruk hanya karena mendapat satu ujian dalam hidupnya. Ia merasa merutuki dirinya sendiri.


Pagi harinya, Isma menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya di bantu Rosida. Isma tersenyum bahagia karena melihat Rangga sudah terlihat berseri-seri. Dengan memakai baju koko, sarung dan peci, wajahnya teramat tampan dan gagah.


"Duh, anak Umi gagahnya..." puji Isma sambil membelai wajah Rangga.


Ada perasaan menggelitik di hati Ros kala melihat Rangga. Perasaannya terhada Rangga memang belum sepenuhnya luntur. Namun sebisa mungkin ia akan menepisnya. Dalam hatinya ia merasa jika ia tidak akan sanggup memiliki suami yang berkekurangan seperti Rangga. Karena menurutnya, sejatinya orang menikah adalah karena untuk memperbanyak keturunan umat Rasul. Dan Rangga kurang dalam hal itu.


"Mas, makanlah dulu. Ini Ros masakkan gudeg khas Jogja." ucap Ros menghampiri Rangga.


"Hmm, terima kasih, Ros. Sepertinya sangat enak." balas Rangga dengan tersenyum. Sikapnya pada Ros kini sudah hangat seperti dulu. Bagaimanapun mereka tetaplah bersaudara, meski hanya tiri.


"Mmm, ini sangat enak, Ros. Bisakah kau buatkan yang banyak untuk oleh-oleh di Jakarta?" ucap Rangga sesaat setelah menyuapkan nasi dan sayur gudeg khas Jogja kedalam mulutnya.


Ros dan Isma saling pandang. "Tentu saja, Mas. Ros akan buatkan untuk oleh-oleh Mbak Cecil dan juga Sheila." jawab Ros.


Rangga makan dengan lahap. Selama ini dia jarang mencicipi makanan manis khas Jogja ini. Karena ia pikir ia tidak suka dengan nangka muda. Tapi ternyata setelah diolah oleh Ros, rasanya sangatlah lezat.


"Pelan-pelan, Mas makannya. Ros tidak akan minta kok." ucap Ros yang akhirnya disambut gelak tawa oleh Isma dan Farid.


.


.


-Bandung-


Sejak bertemu dengan Cecil beberapa hari lalu, Ismail terus memikirkan Cecil yang kini di terpa musibah lagi dan lagi.

__ADS_1


"Kapan kau akan bisa bahagia, Cil? Kenapa hidupmu penuh dengan cobaan?" gumam Ismail.


"Yang namanya hidup itu teh pasti ada saja masalahnya, komandan. Kalau manusia hidup tidak ada masalah, hidupnya datar-datar saja, hidupnya tidak ada seni nya atuh, komandan." sahut Mang Iman yang sedang bebersih di ruangan Ismail.


"Eh, Mang Iman bisa saja." Ismail menggaruk tengkuknya karena ternyata ada yang mendengar suara lirihnya.


"Orang yang selalu ditimpa musibah, itu artinya orang itu disayang sama Allah. Bahkan diberikan harta yang cukup pun itu adalah ujian buat kita. Apakah kita bisa mengelola harta kita di jalan yang baik atau tidak. Begitu yang Mamang dengar saat ikut pengajian, Ndan."


"Terima kasih atas ceramah paginya, Mang."


"Ah, komandan bisa saja. Mamang hanya menyampaikan apa yang diucapkan Pak Ustadz, siapa tahu saja bisa mengurangi beban Komandan. Oh ya, ngomong-ngomong istri komandan teh sedang hamil 'kan ya? Sudah berapa bulan?"


"Sudah masuk 7 bulan, Mang."


"Semoga Neng Hana selalu diberi kesehatan dan dilancarkan proses lahirannya."


"Aamiin, Mang. Terima kasih doanya."


"Kalau begitu, Mamang permisi dulu, Ndan. Mau bersih-bersih di tempat lain."


Ismail mengangguk sopan dan mempersilahkan Mang Iman keluar dari ruangannya. Pandangan matanya menerawang jauh.


"Kuharap apapun yang terjadi denganmu, kamu akan bisa meneguk kebahagiaan suatu hari nanti, Cecilia..." gumam Ismail diiringi senyumnya.


.


.


#Bersambung...

__ADS_1


*Ini ceritanya jadi antara Jakarta-Bandung dan Jogjakarta nih 😁😁


__ADS_2