
*Cecilia PoV*
Hari ini aku melihat putriku sudah terbujur kaku. Orang-orang datang silih berganti menyalamiku, memelukku sambil menangis. Apa yang terjadi? Aku sendiri juga bingung. Aku hanya diam terpaku melihat tingkah mereka. Tubuhku seakan tak punya ruh lagi. Air mataku sudah kering. Sudah semalaman aku menangis. Sekarang biarlah mereka yang datang yang menangisi kepergian putriku.
Apa?! Putriku sudah meninggal? Aku masih belum percaya itu. Baru saja kemarin dia bilang ingin pergi ke taman bermain. Matanya berbinar saat aku menyetujui keinginannya. Lalu kenapa sekarang dia pergi? Tinggal 3 hari lagi menuju akhir pekan. Mama janji akan pergi kesana bersamamu, Nak. Kenapa kau pergi secepat ini? Ini tidak adil. Kenapa harus aku yang kehilangan putriku? Kenapa bukan orang lain saja? Aku tidak tahan lagi. Tubuhku terasa berat.
BRUUUUKKKK
Aku ambruk kembali. Untuk kesekian kalinya aku tak sadarkan diri.
...***...
*Rangga PoV*
Hari ini aku dan beberapa karyawan kantor datang berkunjung ke rumah Cecil. Selama perjalanan aku hanya diam. Aku tahu benar apa yang terjadi kemarin. Aku yang mengantarnya ke rumah sakit. Dan juga... perdebatan kecilku dengan Alvian.
Aku sudah mengatakan hal yang sangat aneh. Kenapa juga aku sampai bicara akan merebut Cecil dari Alvian?
Aku terbawa emosi saja saat itu. Karena melihat Cecil diperlakukan tidak adil. Dan aku juga harus mencari tahu siapa perempuan bernama Nayla itu.
Tiba dirumah Cecil, rumah nya sudah ramai oleh para tetangga yang ikut berbela sungkawa. Rumahnya cukup besar dan bisa dikatakan rumah mewah. Yah, Alvian itu kan public figure, tidak mungkin juga dia memiliki rumah yang kecil.
Aku tak melihat Cecil. Hanya perempuan bernama Nayla yang diam terduduk di sebelah jenazah Tasya.
Aku masih penasaran dengan wanita ini. Kuedarkan pandanganku melihat-lihat sekeliling rumah itu. Kuamati satu persatu foto keluarga yang tergantung di dinding. Tapi tidak ada foto Nayla disitu. Siapa dia? Kenapa yang menerima ucapan bela sungkawa adalah Nayla, bukan Cecil.
Aku mendengar ada tetangga mereka yang berkata jika Cecil jatuh pingsan. Sudah yang kesekian kalinya. Makanya dia hanya beristirahat dikamar. Aku mendesah panjang. Tentu saja Cecil sangat syok. Ibu mana yang sanggup kehilangan anaknya.
Sayup-sayup terdengar ada pelayat yang datang dengan suara teriakan dari arah depan rumah. Dia mulai memasuki rumah. Dan langsung menuju ke arah Nayla. Dia seorang wanita paruh baya usia sekitar 50 tahunan. Nayla langsung bangun dari duduknya. Wanita itu langsung menampar Nayla. Sontak membuat para pelayat lain berbisik-bisik.
"Ini semua pasti gara-gara kau, iya kan? Kau yang sudah membuat cucuku meninggal!!" Ucap si wanita.
Oh, jadi dia adalah neneknya Tasya.
"Dari awal kau datang dikehidupan rumah tangga putriku, aku sudah tahu jika kau pasti ingin menghancurkan semuanya. Kau sudah merebut suami putriku, dan sekarang kau merebut nyawa putrinya juga. Dasar pelakor!!!"
__ADS_1
Apaaa? Pelakor? Tunggu dulu!! Nayla ini adalah pelakor? Aku bingung. Begitu juga dengan dengan semua pelayat yang ada disini.
Wanita itu adalah ibu dari Cecil. Dan dia baru datang sekarang. Bukankah seharusnya kerabat harus dihubungi lebih dulu apabila terjadi musibah?
Alvian kemudian datang. Dia meminta ibu mertuanya untuk tenang. Tidak enak dengan para pelayat katanya. Ibu itu masih tidak terima dengan perlakuan Alvian terhadapnya.
"Bisa-bisanya kau tidak mengabari ibu jika terjadi sesuatu pada Tasya? Kau tidak menganggap ibu sebagai neneknya Tasya, huh? Ibu malah tahu dari orang lain."
"Maafkan aku, Bu. Aku harap ibu mengerti. Kemarin keadaan sangat kacau. Cecil juga beberapa kali pingsan. Tolong ibu jangan membuat keributan disini. Kami semua sedang berduka."
"Kau pikir ibu tidak sedih? Tasya itu cucu ibu satu-satunya. Dan pelakor ini sudah membuat Tasya meninggal."
Ya Tuhan, aku benar-benar seperti menonton adegan di sinetron. Ingin rasanya ikut berbicara. Tapi pasti akan menambah masalah baru disini. Ternyata hal ini yang coba ditutupi oleh Cecil.
"Ibu tolong jangan menyebut Nayla dengan sebutan itu. Nayla selama ini sudah ikut menjaga Tasya juga. Dan ibu tolong jangan berteriak disini. Ayo sebaiknya ibu masuk untuk menemui Cecil."
"Bagus sekali! Kau membela si pelakor ini terus! Ibu sengaja berteriak disini biar semua orang tahu, jika wanita ini, adalah istri muda kau."
Aku memijat keningku. Rasanya ikut pening melihat adegan yang seperti sinetron ini. Dan perdebatan mereka berakhir, saat seorang pria paruh baya menenangkan ibu mertua Alvian. Yang diketahui pria itu adalah kakaknya Alvian.
"Kak...." ucapnya lirih.
Aku meliriknya sebentar. "Kenapa?" Jawabku malas.
"Aku perhatikan, kakak terus diam sedari tadi. Apa kakak sebenarnya sudah tahu tentang masalah di rumah Bu Cecil tadi?"
Aku melirik tajam ke arah Danny. Tanda bahwa aku tidak suka dengan pertanyaan yang dia ajukan. Yah, aku memang tidak sepenuhnya tahu. Tapi aku menaruh curiga. Dan ternyata kecurigaanku itu benar. Berarti selama ini, Cecil bersedih karena hal itu. Yap, bisa jadi. Wanita mana yang tahan jika diduakan.
Ah, pernikahan itu sangat rumit. Makanya aku belum mau menikah meski usiaku sudah menginjak kepala tiga.
...***...
Sementara itu, Radit, Hana dan Amel berada dalam satu mobil. Mereka bertiga juga ikut tertegun mendengar kenyataan yang dibeberkan oleh ibu Cecilia.
Mereka baru tahu jika selama ini Cecil menyembunyikan pernikahan kedua Alvian. Radit yang mengemudikan mobil, hanya bisa diam seribu bahasa. Dia ikut syok mendengar kenyataan ini.
__ADS_1
Sementara Amel mengingat-ingat kembali sikap aneh Cecil sekitar satu tahun yang lalu.
.
.
*Flashback*
"Cil, apa yang sedang kau lakukan? Tautan apa yanh sedang kau baca? Sepertinya sangat seru sampai kau tidak mendengar aku memanggilmu."
Amel merebut tablet pintar dari tangan Cecilia dan membaca hasil pencarian Cecilia.
"Poligami? Untuk apa kau membaca tentang poligami?"
Cecil segera merebut kembali tablet pintarnya. "Bu-bukan apa-apa. Aku hanya----ingin tahu saja. Aku adalah seorang mualaf, jadi aku tidak tahu banyak mengenai hal ini."
"Oh!! Kupikir karena Alvian ingin berpoligami. Kau tenang saja, pria seperti suami kita tidak akan pernah melakukan poligami. Percayalah padaku!!"
Cecilia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Amel.
.
.
.
"Aku bari ingat, saat itu aku melihat Cecilia sedang membaca artikel tentang poligami di tabnya. Aku pikir dia hanya ingin tahu saja karena dia seorang mualaf. Tapi ternyata, Alvian memang melakukan poligami." Amel memeluk Hana.
"Sungguh malang nasib Cecilia. Dia harus membagi suaminya dengan wanita lain." Amel menangis sambil memeluk Hana.
Pikiran Radit ikut melayang. Dia hanya menatap kedepan jalan. Wanita yang masih dia sayangi itu, ternyata memikul beban yang cukup berat. Selama ini Radit mengira, kemurungan Cecilia hanya karena beban pekerjaan saja. Namun ternyata ia salah. Cecilia menyimpan rahasia besar di balik semua senyumannya.
...💟💟💟...
tobe continued....
__ADS_1